
20 menit yang Risda butuhkan untuk kembali ke villa tempat keluarga Sukmajaya, hingga dia membola saat langkahnya sudah berada 5 meter dari tempat tujuan. Villa itu terbakar, kericuhan, teriakan pun menguar dari tempat ini. Hingga dia tersadar.
"Di mana suami dan mama mertua saya." jerit Risda meraung-raung dan tak lama penglihatannya pun menjadi gelap dan dia tidak ingat apa-apa lagi.
Kepulan asap dan kobaran api besar menjadi pendaran cahaya kuning keemasan dan meluluh lantakan 3 villa. Satu villa Sukmajaya dan 2 villa yang berada di samping kiri dan kanannya.
Tak kurang 10 mobil pemadam kebakaran di turunkan untuk memadamkan si jago merah yang semakin ganasnya dalam menunjukkan aksinya di tambah tiupan angin yang kencang seakan menambah semangatnya untuk membakar dan menghanguskan daerah sekitar.
Mobil ambulans yang berjaga pun kebanyakan menangani orang yang syok dan luka bakar kecil, karena saat api mulai berkobar kebanyakan dari mereka sedang beraktivitas di luar dan sebagian lagi berkumpul di ruang depan sehingga mereka dapat mengevakuasi diri dan keluarga di tempat yang agak jauh dari kobaran api itu.
Risda yang pingsan langsung di tangani oleh petugas medis, tak lama kemudian wanita itu pun sadar dan langsung menanyakan di mana Verry dan Gilda.
"Maksud ibu, Verry Sukmajaya dan Gilda Brataseno? Mereka berdua sudah di bawa ke rumah sakit, tadi waktu kejadian villa kalian terbakar itu mereka berdua langsung lompat dari jendela. Sehingga membuat ibu Gilda terkilir kakinya sementara pak Verry terluka di dahi." penjelasan petugas medis itu membuat Risda lega sekaligus cemas.
Dimanakah putri suaminya berada, mengapa petugas medis ini hanya menjelaskan tentang kondisi dari sang suami dan mertua perempuannya. Risda bertanya dalam hati.
"Terima kasih atas informasinya dok." ucap Risda sembari meringis akibat rasa pusing yang masih melanda.
"Istirahat sebentar Bu, kalau masih pusing. Jangan di paksa untuk pergi ke rumah sakit sekarang." Risda mengurungkan niatnya karena melihat tatapan dokter wanita yang seakan memerintah.
"Maaf dok, apa anak kecil yang berada di dalam villa itu selamat?" akhirnya karena tidak kuat menahan rasa penasarannya, Risda pun mengajukan pertanyaan.
"Anak kecil apa. Saat api kami datang, sama sekali tidak ada suara anak kecil yang meminta tolong." perkataan sang dokter membuat Risda semakin pusing. Apakah putri suaminya sudah meninggal ataukah masih hidup?
***
Sementara itu di keluarga Atmadja, Jorgie membawa pulang Jorgie Camelia yang masih menangis karena sang cucu di culik orang. Jorgie menenangkan sang ibu dan berjanji bahwa Jeniffer akan ditemukan secepatnya.
"Ma, tenang dulu. Jorgie telepon papa dulu sekarang." ucap Jorgie sambil menenangkan hati sang ibu.
"Gimana mama bisa tenang, kalau Jeniffer belum di temukan. Lagipula siapa yang bermusuhan dengan keluarga kita?" ucap Camelia dengan getir.
__ADS_1
"Makanya mama tenang dulu, kita tunggu papa pulang baru kita akan bertindak." bujuk Jorgie kembali.
Setengah jam kemudian Stanley pun tiba di rumah, disambut dengan raungan sang istri yang meratapi nasib sang cucu yang hilang entah ke mana. Sementara itu Georgi langsung menyalakan laptopnya dan mengetik tombol pada layar keyboard-nya.
"Pa, ma. Duduk dulu Jorgie akan jelaskan rencananya. Sebenarnya sejak Jeniffer bersekolah, Jorgie sudah memasang alat pelacak di sepatunya. Karena jujur saja saat melihat anak itu Jorgie merasa Ci Mey hidup kembali. Jorgie takut suatu saat keluarga Sukmajaya merasa terancam akan kemiripan Jeni dan Ci Mey." tutur Jorgie dengan perlahan.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu nak?" tanya Stanley dengan bingung.
"Sejujurnya Jorgie juga tidak tahu, hanya perasaan Jorgie yang mengatakannya." desah Jorgie dengan helaan nafas berat.
"Dan melihat arah GPS yang mengarah ke Puncak, membuat Jorgie yakin bahwa Sukmajaya berada di balik menghilangnya Jeni saat ini."
"Kalau begitu cepat kita susul Jeni dan bawa pulang." pinta Camelia dengan masih terisak.
"Ma, kalau mau ikut yang pertama. Mama jangan nangis." ujar Jorgie sambil mengacungkan jari telunjuk kanannya dan Camelia mengangguk tanda menyetujuinya.
"Yang kedua, mama makan selama di mobil kalau ga mau membuang-buang waktu." lanjutnya kembali sembari mengeluarkan hari tengah yang bersisian dengan jari telunjuk.
"Iya mama akan diam di mobil. Sekarang ayo kita jalan."
"Tunggu, papa lagi nunggu pak Kardi soalnya papa udah ga kuat nyetir lama-lama dan jarak jauh." perkataan Stanley menerbitkan omelan dari Camelia yang beranggapan bahwa sang suami tidak sigap.
"Nah itu pak Kardinya udah datang, ayo kita pergi selamatin Jeniffer." pekik Jorgie memutus percakapan yang akan menjurus kepada pertengkaran di antara keduanya.
Jorgie yang sudah menelepon teman-teman polisi, setuju untuk memberikan titik GPS dari Jeniffer yang akan memudahkan pencarian dari keponakannya. Karena hari sudah semakin sore, mereka terjebak kemacetan sebelum memasuki pintu tol.
Sesuai kesepakatan awal antara Camelia dan Jorgie, wanita itu hanya menunggu di mobil bersama dengan Stanley. Jorgie akhirnya membuat keputusan biar orang muda yang akan menyelesaikan masalah ini, para orang tua cukup duduk manis saja.
"Gie, ini bukannya villa milik Sukmajaya?" tanya salah satu teman polisi Jorgie.
"Iya dan ayah kandungnya Jeniffer keponakan gua." kata Jorgie menahan amarah.
__ADS_1
Tidak puaskah keluarga Sukmajaya sudah membuat kakak perempuan nya meninggal, mengapa sekarang keluarga itu juga seperti ingin menyiapkan Jeniffer. Jorgie tidak habis pikir dengan apa yang telah menjadi kepercayaan turun menurun yang jelas-jelas salah dalam keluarga Sukmajaya.
"Lah, kalau bokap kandungnya yang bawa ini bukan penculikan namanya." ceplos seorang yang lain ikut merasa bingung.
"Masalahnya keluarga Sukmajaya sudah membuang Jeniffer saat kakak gua meninggal, apa menurut lu masuk akal kalau bokapnya Jeniffer kabur dan membius nyokap gua.
"Oh, kalau itu masalahnya gua paham kenapa lu cemas keluarga Sukmajaya membawa Jeniffer. Apa mungkin mereka mau menyingkirkan keponakan elu?" tanya teman Jorgie kembali.
"Itu yang gua takutkan maka dari itu gua memasang GPS pada sepatu dan jam tangan keponakan gua." ujar Jorgie menghela nafas panjang.
"Ekh apaan itu, sepertinya ada api dari villa Sukmajaya." pekik teman polisi Jorgie.
"Ya Tuhan cepat selamatkan keponakan gua." pinta Jorgie dengan berteriak.
"Segera hubungi pemadam kebakaran dan evakuasi masyarakat setempat minimalkan korban jiwa." perintah salah satu dari teman Jodie yang ternyata adalah ketua polisi itu.
"Jorgie itu bukannya Verry Sukmajaya dan ibunya Gilda Brataseno." pekik teman Jorgie sembari menunjuk kedua orang yang baru saja melompati jendela villa yang sudah setengah terbakar.
"Iya itu benar mereka, selamatkan ponakan gua." teriakan misterius Jorgie tak lama terdengar sehingga dia harus ditenangkan oleh seorang teman polisinya.
"Iya tenang ya. Gua bakal selamati ponakan lu." setelah berujar itu, pria yang memiliki perawatan pegat itu langsung menerjang memasuki rumah yang sudah di lalap si jago merah.
"Armand, jangan nekat. Ingat istri lu yang sedang hamil 4 bulan." teriakan demi teriakan terlontar demi mencegah polisi bernama Armand itu untuk kembali keluar namun lelaki itu seakan menulikan pendengaran dan mencari Jeniffer.
Jorgie dan yang lain menanti dengan cemas akan kedua orang yang masih terjebak dalam rumah itu, menit demi menit rasanya seperti seabad hingga sebuah suara teriakan menyadarkan semua pria yang ada di situ.
Armand berhasil membawa tubuh Jeniffer yang sudah pingsan dengan luka bakar yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya. Namun kelegaan itu harus berganti dengan pilu karena setelah membawa Jeniffer tepat di depan Jorgie, lelaki itu langsung tumbang tak sadarkan diri.
Armand dan Jeniffer segera di larikan ke rumah sakit yang terdekat dari lokasi kejadian. Sayangnya tepat memasuki unit IGD, Armand di nyatakan meninggal karena terlalu banyak menghirup gas monoksida dan luka bakar 80% yang di alami olehnya.
Sementara Jeniffer baru siuman pada esok harinya dan seakan melupakan kejadian yang telah di alaminya pada hari kemarin. Para dokter menyatakan bahwa gadis itu hanya syock dan tidak mengalami luka yang serius. Namun para dokter itu lengah karena 'Jeniffer' berakting sangat bagus, sehingga gadis itu luput dari pemeriksaan dokter spesialis kejiwaan.
__ADS_1
Baik keluarga Sukmajaya dan Atmadja tidak tahu jika seorang monster berwujud manusia telah di bangkitkan akibat kejadian penculikan itu.