
Jeniffer hanya mematung saat Jessi mengatakan kalimat yang menohok itu. Dalam hatinya dia mengakui apa yang di ucapkan oleh pribadi keduanya itu mengenai sang ayah adalah 100% benar.
Pria itu tidak segan-segan untuk menyingkirkan dirinya saat usianya masih berusia 7 tahun waktu itu, hanya karena ketakutannya mengenal wajahnya yang sangat menyerupai mendiang sang ibu.
Flashback on
Jeniffer yang sudah sadar ketika Verry berbincang dengan Gilda dan dari percakapan itu, bocah itu menangkap bahwa pria yang dia yakini adalah sosok ayah kandungnya yang di akui oleh Stanley, Camelia dan Jorgie sedang bekerja di luar negeri ada bersama dengan dirinya.
Tadinya Jeniffer senang dapat berjumpa dengan Verry, namun percakapannya yang selanjutnya terjadi membuatnya terkejut. Sang ayah ingin menyingkirkan dirinya karena takut Jeniffer akan membawa musibah bagi keluarga Sukmajaya di masa depan. Rasa marah kecewa sedih dan takut bercampur menjadi satu membuat mental Jeniffer tidak siap dan terlahirlah pribadi Jessi.
Jessi mengikuti apa yang dilakukan oleh Jeniffer yaitu berpura-pura masih tidur sembari mencari cara bagaimana agar dia dapat lepas dari jeratan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Ah, mungkin dengan pura-pura sudah sadar dan menggerakkan tubuh akan menarik perhatian ketiga orang dewasa yang berada samping tempat tidurnya. Pikir Jessi.
"Hemmmppph, hemmmppph, hemmmppph." Jessi sengaja mengeluarkan suara meskipun mulutnya tersumpal kain.
"Verry, lepas ikatan mulut anak itu. Mama risih melihatnya bergerak seperti ular keket." titah Gilda yang langsung di kerjakan oleh Verry.
"Heh, bocah. Enak tidurnya?" tanya Gilda di sertai seringai sinis.
"Di mana ini, cepat pulangkan Jeniffer ke keluarga Atmadja." jawab 'Jeniffer' dengan mata menyalang.
Dia bersumpah akan memberikan wanita tua ini pelajaran yang tidak akan di lupakan olehnya karena sudah bermain-main dengan dirinya. Jessi memindai keadaan ruangan tidur ini untuk mengetahui benda apa saja yang dapat digunakan olehnya untuk membebaskan diri.
"Besar juga nyali kamu, bocah tengik. Sepertinya keluarga Atmadja mengajarkan kamu dengan hebat agar tidak panik dalam situasi mendesak." sindir Gilda yang hanya di balas oleh tatapan tajam bak laser oleh 'Jeniffer'.
"Ya karena darah tidak akan berbohong. Meskipun tidak di akui tetap saja sebagian dari darah ini adalah darah Sukmajaya." jawab 'Jeniffer' dingin membuat Verry dan Gilda tersentak.
Dari sudut matanya Jessi dapat melihat wanita yang lebih muda sedikit dari sang ayah hanya menatapnya dengan curiga namun karena keangkuhan dari Gilda membuatnya tidak berani menyela pembicaraan antara sang mertua dan putri dari suaminya itu.
'Ah, tipe mertua yang mau menang sendiri rupanya.' sinis Jessi dalam hati.
__ADS_1
"Wah, sepertinya keluarga Atmadja tidak menyembunyikan apapun dari gadis sekecil ini rupanya." Gilda berkata dengan nada mencemooh.
"Ha. Aku lapar dan obrolan kosong yang tak berguna ini semakin membuat perutku keroncongan. Cepat belikan Jeniffer makan." perintah 'Jeniffer' dengan nada dingin.
"Anak kurang ajar. Beraninya membalas perkataan orang tua." pekik Gilda.
"Sudahlah ma, kita belikan makanan. Hitung-hitung sebagai tanda perpisahan dari kita." ucap Verry menenangkan Gilda.
Sepeninggal wanita yang bernama Risda, Jessi terus berusaha untuk menyambung agar perdebatan ini tidak berakhir, gadis itu menggoyangkan kedua tangannya yang berada di belakang dengan tidak ketara dengan harapan agar simpul ikatannya mengendur yang akan membebaskan tangannya yang mulai terasa perih akibat terkena gesekan dari tali tambang yang mengikatnya.
Sebisa mungkin Jessi tidak menunjukkan ekspresi kesakitan meskipun tali itu mulai menyayat kulit tangannya dan darah segar pun keluar dari sekeliling kedua pergelangan tangannya. Gotcha! Saat menemukan ikatan simpul yang mulai mengendur, Jessi pun menghela nafas. Biarlah kedua orang ini masih mengira kedua tangannya terikat.
"Mama mau ke toilet dulu." ucap Gilda sambil mengusap kasar wajahnya. Berbicara dengan anak dari wanita sial itu membuat kepalanya merasa sakit.
"Oke, Verry juga mau ke depan. Lagian dia ini terikat, mana mungkin dapat berbuat apa-apa." ucap Verry meremehkan setelah itu beranjak keluar dari kamar tempat dia menyekap sang putri.
Jessi hanya menyeringai sinis saat pintu kamar tertutup, langsung saja gadis kecil itu memanfaatkan keadaan dengan membuka ikatan tali yang menjerat kakinya. Dengan perlahan dia menuju pintu dan menarik pegangannya dan lagi-lagi senyum sinis mengembang dari wajahnya. Pintu itu tidak terkunci dan Jessi pun langsung keluar dari kamar itu.
Di ruangan dapur, entah mengapa Jessi seperti menemukan sebuah pemantik api yang isinya masih penuh serta satu dirigen yang dari aromanya Jessi yakini adalah bensin. Dengan cepat gadis itu membuka tutup dirigen itu dan menuang semua isinya di lantai dan setelah api dari pemantik menyala, Jessi langsung melemparkan benda itu ke atas genangan bensin yang langsung memercikan kebakaran kecil di dapur.
Jessi segera bergegas keluar dari Villa, namun sayangnya pintu depan terkunci sepertinya Risda yang melakukannya saat hendak berangkat untuk membeli makanan bagi mereka semua.
"Sial, kekunci pula. Gimana caranya gua dapat membawa Jeniffer keluar dari tempat ini." sunggutnya sambil menggoyangkan pintu berharap dengan tangannya yang kecil pintu itu akan terbuka.
"Bau asap dari mana ini Verry dan mengapa ruangan ini rasanya panas sekali seakan-akan ada api." sentak Gilda saat keluar dari kamar mandi.
"Memang bau asap, itu lihat dapur kebakaran." Jessi menyahuti omongan dari sang nenek.
"Kamu.. bagaimana bisa kamu melepaskan ikatan itu." tanya Verry dengan mata melotot.
__ADS_1
"Iya bisa dong, anda saja yang ikatnya tidak benar." sahut Jessi kembali membuat kedua orang dewasa itu meradang.
"Dasar anak setan, bisa-bisanya kamu membakar villa ini!" tuding Gilda panik saat melihat lidah api mulai merambat ke arah ruang tamu.
"Berarti anak anda setan dong. Kan saya darah dagingnya pria itu." ucap Jessi sambil menunjuk Verry dengan jari telunjuknya.
"Kamu...kamuu..." Gilda tidak dapat meneruskan perkataannya lagi akibat pasokan oksigen di tempat itu yang mulai menipis, dadanya terasa sangat sesak saat ini.
"Ma, cepat ayo kita keluar dari Villa ini. Tetangga sekitar sudah berteriak dari luar." ucap Verry sambil memecahkan kaca jendela dengan kursi yang ada.
"Dan kamu, tamatlah riwayat kamu hari ini." ucap Verry tanpa rasa kasihan sama sekali membuat api dendam di dalam hati Jessi semakin berkobar. Dia harus keluar dari tempat ini apapun caranya, namun jendela itu terlalu tinggi untuk di raih dan kobaran api pun menghanguskan separuh lebih villa ini.
"Sial, apa ga ada yang bisa gua lakukan untuk membawa Jeniffer keluar dari sini." kembali Jessi mengumpat karena keadaan yang tidak menguntungkan baginya.
'Jessi, kalau hari ini kita mati biarkan saja. Hitung-hitung kita menyusul mama.' ucap Jeniffer tiba-tiba mengejutkan Jessi.
'Tidak, selama nafas gua belum berhenti. Gua ga akan menyerah membawa kita keluar dari sini. Hanya saja jika kita selamat, tolong jangan halangi niat gua untuk balas dendam kepada keluarga Sukmajaya.' ucap Jessi dengan kemarahan yang memuncak.
'Baiklah, jika kita bisa keluar dari sini aku tidak akan menghalangi niat kamu untuk membalas dendam kepada keluarga papa.' kata Jeniffer lagi, dia menyerah akan keinginan pribadi keduanya untuk membalas dendam.
'Good, jadi sekarang bisa tolong diam gua akan membawa kita pergi dari sini.' tukas Jessi membuat Jeniffer terdiam.
Dan sesaat setelahnya, Jessi melihat seseorang pria dewasa menerobos masuk ke villa yang telah terbakar ini membuat senyumnya mengembang lebar.
"Lihat Jeniffer, kita selamat ada orang yang menolong kita." setelah mengucap itu kesadaran Jessi pun terenggut.
Flashback off
'Sudah ingat sekarang? Bagaimana kita dapat keluar dari villa itu sementara teman aqiu lo itu meninggal padahal istrinya sedang hamil.' cibir Jessi semakin membuat Jeniffer terpuruk.
__ADS_1
Mungkin lebih baik, dia mengikuti apa keinginan dari Jessi untuk membalas dendam kepada keluarga sang ayah.