
Jeniffer merasa segar pikirannya saat berjalan-jalan sejenak di dalam mall, mengganti tatanan rambut dan mewarnainya. Karina sudah berjanji tidak akan memberitahu sang nenek akan perubahan warna rambutnya. Biarkan Camelia tahu sendiri nantinya, yang pasti bukan dalam waktu dekat ini.
Ternyata menghabiskan waktu berdua bersama teman sang nenek yang merupakan ibu dari pujaan hatinya sangat menyenangkan untuk Jeniffer. Dan Jessi juga tidak merecoki dirinya dengan tiba-tiba mengambil alih pikiran Jeniffer.
"Jeni, itu ada caffe yang lagi hits kata Joseph. Ayo kita beli minuman dingin atau hangat, tadi Ai udah janji kan sama kamu." mata gadis itu langsung melebar saat mendengar kata caffe hits. Dia akan mengambil beberapa swafoto dengan spot yang bagus dan menggunggah nya di medsosnya.
"Ayo, Jeni sudah tidak sabar ingin mencoba es cappucino. Pasti seger banget di tenggorokan di hari yang panas ini." ucapnya sambil menggandeng tangan Karina.
Namun baru saja gadis itu akan melangkah ke dalam caffe tersebut, kedua netra hitamnya menangkap tampilan orang-orang yang sangat di kenalnya. Siapa lagi kalau bukan anak dan istri sang ayah. Edward dan Risda tidak menyadari kehadirannya karena keduanya sedang menenteng beberapa kantung belanjaan dan berbicara dengan amat serius.
'Jeni, kita mulai pembalasan dendam kita. Itu ada Edward dan istri pria bang*at itu.' ucapan Jessi langsung bergema di pikirkan Jeniffer.
'Bagaimana dengan Ai Karina, masa kita tinggalin sendiri?' tanya Jeniffer dengan ragu.
'Please Jeni, tadi juga kita ketemu juga lagi sendiri ya. Ya harusnya ga masalah kita tinggal sendiri lagi.' ucap Jessi menyindir.
'Tapi, aku udah janji mau nemenin Ai Karina loh pas di salon tadi.' kata Jeniffer kembali.
'Jeni, kita bakal ketemu lagi sama wanita tadi pas Aqiu lo nikah. Ayolah, sekarang ada yang lebih penting daripada mengejar cinta lo itu.' kata Jessi yang tak bisa terbantahkan oleh Jeniffer.
"Ai, aku permisi dulu. Baru ingat ada janji sama teman sebentar lagi."
"Ya sebenarnya Ai masih ingin jalan-jalan lebih lama sama kamu. Cuma kalau kamu sudah ada janji ya apa boleh buat. Toh nanti kita bakal ketemu pas Aqiu kamu dan Aster nikah." ucap Karina maklum.
"Kalau begitu, aku pamit dulu ya.Ai." ucap Jeniffer setelah itu berlalu dari hadapan Karina.
'Dari sini biar gua yang ambil alih. Sepertinya sudah lama juga gua ga keluar ya.' Jessi pun melakukan apa yang diucapkan olehnya.
__ADS_1
Pribadi kedua Jessi tersenyum sinis saat melihat Risda dan Edward yang berjalan tepat di depanny. Sengaja Jessi tidak memanggil kedua orang yang dibenci olehnya selain itu belum waktunya bagi dia atau Jennifer muncul ke permukaan dan diketahui oleh keluarga Sukmajaya.
'Wah lihat apa yang dibeli anak manja itu. Seru juga kalau gua sedikit bermain-main dengan dia.' ucap Jessi dalam hatinya.
'Sekarang rencana kamu apaan, Jes?' tanya Jeniffer yang masih belum tertidur penuh.
'Lo nggak perlu tahu itu biar aja menjadi urusan gua sekarang lebih baik lo tidur saja." ucap Jessi ultimatum dan Jeniffer pun mengikutinya.
****
'Sepertinya seru kalau gua masukin mainan kayak kodok dan ular karet. Pasti salah satu antara mereka akan menjerit histeris.' ucap Jessi yang memang menyuruh Jeniffer untuk membawa kedua mainan yang terbuat dari karet itu.
Dengan gerakan tidak kentara Jessi mengikuti Risda dan Edward serta mencegah dirinya ketahuan oleh kedua orang itu. Saat Edward perpisahan dari sang ibu dengan cepat Jessie melangkah ke arah sang adik tiri dan menabraknya hingga barang-barang belanjaan pemuda itu berceceran di lantai.
Jessi yang memang mempunyai lihat licik kepada Edward berpura-pura membantu sang adik tiri sembari mau memasukkan ular dan kodok mainan yang terbuat dari karet di salah satu kantung belanjaan Edward. Dengan cepat gadis itu melakukan tanpa adanya kontak mata diantara keduanya dan setelah usai membereskan belanjaan Edward yang tercecer, gadis itu langsung kabur begitu saja.
"Mama cariin di mana-mana ternyata kamu di sini, memangnya ada apa sih sampai kamu lama sekali." Edward tersentak saat mendengar suara sang ibu yang membuyarkan lamunannya.
"Tadi ada yang nabrak bahu Edward, cewek mah. Anehnya cewek itu yang juga nolongin Edward beresin belanjaan ini tapi setelah itu dia kabur dan Edward tidak sempat bertanya siapa namanya." sunggutnya saat menceritakan kejadian itu kepada Risda.
"Mungkin ceweknya lagi buru-buru,makanya dia langsung gerak cepat tentuin beresin belanjaan kamu dan pergi begitu saja."
"Tapi Edward terasa pernah melihat bayangan itu mah cuman lupa di mana." lagi, pemuda itu menyemburkan kekesalannya.
"Ya kalau lupa berarti cewek itu nggak terlalu penting buat kamu buktinya aja kamu sampai lupa begini." Edward mencebikkan bibirnya dengar perkataan dari Risda.
"Ah mama mah begitu Edward jadi males ceritanya sama mama, giliran serius mama malah bercanda giliran bercanda mama malah serius." omel Edward kepada sang ibu.
__ADS_1
"Terus mama mesti ngapain, Mama aja nggak tahu Bukan itu cewek kayak bagaimana. Mendingan kita pulang sekarang sudah semakin sore Mama mau coba resep masakan baru yang ada di YouTube nih." sekarang Risda yang mengoceh kepada sang putra.
"Cuma dari postur badannya, cewek itu mungil putih dan rambutnya panjang. Ekh iya ada tanda hitam bulet di pundak kanannya. Eits jangan mama bilang Edward yang ngintip ya. Itu cewe pakw baju model Sabrina atasannya, jadi Edward bisa lihat."
Risda tersentak saat Edward mengatakan tanda bulat hitam di pundak kanan, mengapa pikirannya langsung menuju kepada putri dari sang suami Jeniffer yang sempat akan di lenyapkan oleh keluarga Sukmajaya saat usia gadis itu berumur 7 tahun.
'Ah, pikiran negatif lo Risda. Banyak yang punya tanda bulat hitam di pundak kanannya bukan hanya anak itu doang kan.' ucap Risda di dalam hatinya.
***
Risda dan Edward pun tiba di rumah, setelah seharian berpencar diri untuk mencari baju, tas dan sepatu yang inginkan keduanya. Setelah selesai mandi, Edward mulai membuka tas dari barang-barang yang dibelinya tadi, pada tas pertama dan dua tidak ada masalah hingga begitu dia membuka tas ketiga dan mengeluarkan isinya pemuda itu tersentak dan berteriak dengan kencang.
"Tolong ada ular." teriaknya dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.
"Risda yang baru akan beristirahat pun sampai tergopoh-gopo menghampiri kamar sang putra dan matanya pun terbelalak serta mulutnya menganga saat melihat penampakan dari ular berwarna hijau itu.
"Ma ada ular." ucap Edward lirih, pemuda itu amat membenci, tepatnya takut akan binatang melata itu sebab pada waktu usianya 6 tahun, dirinya pernah tergigit dan terlilit oleh ular. Saat yang sama di saat Verry, Gilda dan Risda menyekap Jeniffer di dalam villa.
Risda menghela nafas berat dan melangkah menuju ular yang baru disadari olehnya adalah mainan karet, karena penasaran wanita itu mengeluarkan sisa dari seluruh belanjaan ke atas lantai dan kembali matanya melotot saat melihat mainan kodok yang terbuat dari karet ikut terjatuh diantaranya disertai dengan sebuah pesan yang ditulis dengan tinta merah di secarik kertas.
*Bagaimana hadiahnya, suka tidak? Kalau tidak suka akan gua kasih yang lebih dari ini. Kalau suka juga tetep akan gua kasih. Jadi tunggu kado selanjutnya dari gua ya.
form JJ*
Risda hanya mematung saat membacanya pesan yang tegas akan ancaman itu. Benaknya bertanya siapa yang tega melakukan hal ini kepada Edward dan siapa pula JJ itu.
"Ma, Edward takut." ucapan Edward kembali membuat Risda tersadar, dengan cepat dia memeluk sang putra dan menenangkannya sampai Edward tertidur.
__ADS_1
Karena lelah, lama Risda pun terlelap menyusul sang putra yang sudah terlebih dahulu menjemput mimpi. Perkara teror ini akan wanita itu pikirkan nanti saja.