Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
23. Jessi bertindak sendiri


__ADS_3

Suasana di restoran Padang pun serasa menjadi di restoran bintang 5 bagi hati Jeniffer yang sedang di landa kasmaran itu. Apa jadinya ya jika mereka berdua memang makan di restoran Bintang 5 sungguhan, mungkin Jeniffer merasa seperti layaknya di negeri dongeng.


"Syukurlah kalau akhirnya kamu menikmati makanannya, soalnya saya lihat kamu di awal tadi tidak nyaman." Jeniffer bak melayang ke langit saat Joseph berbicara.


"Iya sekarang aku sepertinya mau minuman dingin om." ucap Jeniffer mencari alasan agar dapat berlama-lama dengan Joseph.


"Memangnya es teh yang kamu minum itu kurang dingin" tanya Joseph bingung.


"Maksudnya mau yang seger dan manis selain dingin. Es teh mah cuma berasa dingin dan manis aja segeranya ga." tampaknya Jeniffer akan semakin mahir membuat alasan untuk berduaan dengan Joseph.


"Bagaimana kalau kita beli gelato saja, sepertinya itu akan memuaskan keinginan kamu untuk yang manis segar dan dingin." ucap Joseph setelah berpikir beberapa saat.


"Boleh deh om, mumpung belum magrib juga. Phopho marah kalau aku belum sampai di rumah jam segitu." jawaban Jeniffer membuat Joseph tersenyum.


"Baik kalau gitu kita berangkat sekarang, kebetulan jaraknya lumayan jauh. Oh ya saya hari ini naik motor. Tidak masalah kan?"


Tentu saja tidak bagi Jeniffer, dalam hatinya dia sudah membayangkan akan memeluk pinggang Joseph dengan erat dengan dalih takut terjatuh.


'Singkirkan pikiran me*um lo itu, kita harus segera pulang sekarang. Besok kita akan memulai rencana kita. Jangan hanya karena kebucinan lo akan menggagalkan rencana kita.' sentak Jessi yang rupanya sedari tadi sudah muak dengan tingkah laku Jeniffer.


'Jessi jangan muncul tiba-tiba, kamu itu ngagetin aku.' rajuk Jeniffer pada pribadi keduanya itu.


'Sekarang kita pulang.' ajak Jessi dengan nada marah.


"Kenapa mesti pulang sekarang, aku ini lagi berduaan loh sama Om Joseph. Ini kesempatan langka buat aku. Pokoknya aku mau maka gelato dulu sama om Joseph.' tolak Jeniffer.


'Oh Jeniffer, apakah cowok ini lebih penting daripada rencana balas dendam kita!' hardik Jessi dengan penuh murka.


'Please Jessi, tidak perlu kamu ingatkan aku juga sudah ingat bahwa tujuan kita adalah balas dendam kepada keluarga papa tapi tolonglah dia sekali ini saja biarkan aku pergi dengan om Joseph.' bujuk Jeniffer.


Tadinya Jessi tidak mau dan berniat untuk mengambil alih pikiran Jeniffer tapi seketika dia ingat bahwa Jennifer masih berada dengan Joseph dan pria itu dapat memanggil kembali kesadaran Jeniffer, mungkin lebih baik menuruti permintaan Jeniffer saat ini sambil dia akan pikirkan cara untuk mengontrol tubuh ini sepenuhnya.


'Oke, hanya beli gelato terus pulang.' kata Jessi akhirnya.


'Terima kasih Jessi, you are the best.'


"Ayo cepat naik, ntar keburu sore. Tidak apa-apa kan jika saya agak ngebut bawa motornya." perkataan Joseph memutuskan komunikasi antara Jeniffer dengan Jessi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Om, kebetulan kadang-kadang di ajak ngebut juga sama Aqiu Jorgie." Joseph hanya mengangguk saat mendengar perkataan gadis itu.


Seperti yang dikatakan oleh Joseph, pria itu membawa motornya dengan kekuatan kencang membuat Jessi sempat mengambil alih sejenak tubuh Jeniffer. Kalau untuk yang satu ini Jessi sepertinya sepakat dengan Joseph yaitu senang mengebut.


"Kita sudah sudah sampai, ini kedai gelatonya. Mau rasa apa?" tanya Joseph menghentikan motornya.


"Wah bagus banget kedainya, aku mau foto dulu sebentar om sebelum pesan." ucap Jeniffer dengan riang melupakan niatnya untuk tidak membuka smartphone-nya jika sedang membeli makanan ataupun minuman.


Joseph hanya tersenyum saat melihat tingkah laku dari keponakan dari calon kakak iparnya itu, dalam hatinya Joseph bertanya apakah dia akan sering bertemu dengan gadis itu.


"Jangan lama-lama foto selfie-nya. Itu antrian sudah mulai dikit." tegur Joseph.


"Beres om." jawab Jeniffer dengan tangan kanan membentuk sikap hormat.


"Enak kan gelatonya?" tanya Joseph ketika keduanya sudah duduk. Hembusan angin dari pendingin udara menghilangkan rasa panas dari tubuh Jeniffer.


"Enak om, ga terlalu manja juga rasanya." jawabnya sambil menyendokkan gelato rasa bluberi ke dalam mulutnya.


"Kalau enak habiskan. Nanti kita bungkus buat orang rumah juga. Buat Akhung dan phopho sama papa dan mama saya."


"Biar calon pengantin itu beli sendiri. Kamu ga tahu apa kalau mereka baru habis dari sini?" Jeniffer langsung menggelengkan kepalanya.


"Koq om tahu Aqiu dan Qiume udang dari sini?"tanya Jeniffer bingung.


"Kamu udah manggil kak Aster Qiume aja. Ya barusan kakak saya wa kalau lagi pengen makan gelato jadi pergi dah tuh mereka bertiga sama David." Jeniffer langsung membentuk mulutnya "O" sebagai tanda dia mengerti.


"Cepat makannya, sudah jam 5 lewat, biar ga terjebak macet dan sebelum magrib udah sampai rumah kamu."


"Ekh, aku bisa pulang sendirian om, ga usah diantar. Ntar ngerepotin." ucap Jeniffer malu-malu tapi mau juga.


"Tidak apa-apa, lagian kamu sebentar lagi juga akan menjadi keponakan kak Aster. itu artinya kamu otomatis akan jadi keponakan saya." Huh, tidak bisakah Joseph tidak mengatakan keponakan lagi kepadanya. Sunggutnya dalam hati.


'Lo dengar itu Jeni sayang, cowo ini cuma anggap lo KEPONAKAN. Ke-po-na-kan. Jadi ga usah mimpi bakal jadian sama dia." ejek Jeniffer membuat Jeniffer berang


'Fine, kamu yang keluar sekarang. Aku bete sama kamu.' Jessi pun menyeringai senang, setidaknya dia punya satu cara untuk menyadarkan Jeniffer agar tidak terlalu bucin kepada Joseph.


"Jeniffer ayo cepat kita pulang."

__ADS_1


"Iya, Jo. Om." hampir saja Jessi kelepasan menyebutkan nama pria itu secara langsung.


***


Bahkan sampai hari berganti Jeniffer pun belum terbangun dalam 'tidur'nya. Seakan gadis itu sudah nyaman berada di dalam sana. Tapi itu tidak menjadi masalah untuk Jessi karena hari ini dia akan kembali mengerjai Edward. Bukankah baik untuk nya jika Jennifer tidak terbangun dan mengacaukan rencananya.


Jessi menatap dengan sinis kepada Edward yang sedang bermain bola basket dengan teman-teman sekelasnya. Pribadi kedua Jeniffer itu dengan cepat berpikir apa yang dia harus lakukan untuk ko meneror Edward tanpa ketahuan yang lain.


Saat melihat beberapa anggota cheerleader yang sedang berlatih tiba-tiba pikiran liciknya menemukan ide. Dengan cepat dia menuju ke arah kantin dan membeli segelas jus buah naga. Tak lupa sebelumnya gadis itu menuju loker Edward, terkunci tapi itu tidak menjadi masalah dengan kekuatan jepit rambut Jessi berhasil membukanya dan meletakkan pesan penuh ancaman yang memakai memakai lipstik berwarna merah menyala. Tidak lupa 4 buah tikus mainan dari karet yang telah di celupkan ke dalam jus berwarna merah itu.


Bahkan seragam Edward pun telah dia siramkan jus itu, lengket dan pastinya tidak akan hilang nodanya meski sudah di cuci. Membayangkan itu membuat Jessi tersenyum.


"Sekarang kita mulai lagi permainan ini." gumam Jessi sambil kembali ke lapangan outdoor itu.


Dengan gerakan yang tak ketara, Jessi berjalan menuju ke arah Edward yang sedang beristirahat, pakaian olahraganya pun sudah dipenuhi oleh keringat.


Brakkkk


Jessi sengaja menabrakkan dirinya menuju salah satu dari teman Edward yang sedang berdiri, posisinya yang dekat dengan sang adik tiri memuluskan rencanakannya. Botol air yang sedang di pegangnya pun terjatuh dan mengenai tubuh Edward. Membasahi seluruh kepala Edward.


"Kak, hati-hati kalau jalan. Masa badan segini gede kakak tabrak juga." omel teman Edward.


"Hei, hati-hati dong kalau jalan. Ga lihat apa gua jadi basah." bentak Edward.


"Oh cuma basah ini kan? Bukan yang lain." ucap Jessi membuat Edward seketika membeku. Bahkan sang teman juga ikut heran akan kelakuannya.


Pikiran Edward langsung melayang ke arah masa SMP nya yang menyebalkan karena perbuatan dari gadis yang sedang menyeringai sinis ini.


"Eh, ga apa-apa kak. Maaf." Edward pun merutuki apa yang dikatakan olehnya. Padahal tinggi gadis itu tidak berubah, Tapi mengapa aura intimidasi semakin kuat daripada sewaktu mereka di SMP, Jeniffer yang sekarang 'berbahaya'. Alarm otaknya langsung memberikan peringatan.


"Makanya punya badan jangan gede-gede, jadinya ngalangin jalan." cibir Jeniffer.


"Bukan karena badan mereka yang gede, tapi lo yang sengaja cari jalan sempit."sebuah suara mengalihkan perhatian ketiga orang itu.


Seorang pemuda berkulit gelap akibat sering terpapar sinar matahari dengan tinggi badan menjulang pun menyapa penglihatan Jessi.


'Huh, siapa lagi ini orang?' tanya Jessi dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2