Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
82. Mencoba kabur


__ADS_3

"Sudah Joseph, kamu jangan terbawa emosi. Bagaimana bisa kamu menyelenggarakan Jeniffer kalau kamu marah-marah terus?" tegur Karina saat melihat sang putra mulai tidak terkendali.


Joseph hanya mengangguk saat mendengar perkataan dari sang ibu dan mulai memusatkan perhatiannya kepada layar laptopnya. Benar juga dia harus berpikir tenang di saat situasi seperti ini.


Sementara Verry hanya menatap nanar pemuda yang dia yakini sangat mencintai sang putri. Edward sudah mulai tenang setelah Karina membujuknya.


'Dasar mitos sia*lan, gara-gara hal itu aku telah menghancurkan keluargaku,' rutuk Verry di dalam hatinya.


"Posisi Jeniffer ada di kota Cikarang!" pekikan Joseph membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Tunggu apalagi, cepat kita selamatkan Jeniffer," ucap Verry dengan antusias.


"Saya akan beri tahu keberadaan Jeniffer sama keluarganya. Kita tidak dapat bertindak sendirian," Verry merasa hatinya berdenyut nyeri saat mendengar Joseph mengatakan keluarga. Ah, pasti tidak ada pria yang sebodoh dirinya di muka bumi ini.


"Iya keputusan kamu tepat, kita membutuhkan banyak orang untuk menyelamatkan gadis malang itu," timpal Karina yang sedari tadi berdiam diri.


***


Awalnya Jorgie yang paling menolak keras keberadaan mantan kakak iparnya di rumah sang mertua, tapi Karina meyakinkannya jika Verry sudah menyesali segala perbuatannya di masa lalu.


Stanley dan Camelia hanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa terhadap pria yang sudah menghancurkan hidup putri mereka. Tapi mengingat jika menyelamatkan Jeniffer adalah prioritas utama prioritas utama saat ini membuat mereka mengesampingkan perasaan marah dan kecewa yang berkecamuk di dalam dada.


Semua orang mempersiapkan operasi penyelamatan Jeniffer. Bahkan Jorgie yang sebenarnya tidak mau melibatkan teman-teman polisinya karena insiden terbunuhnya Armand, terpaksa meminta bantuan mereka.


Belajar dari pengalaman 9 tahun yang lalu, semuanya waspada agar tidak menimbulkan korban nyawa dari pihak manapun. Joseph yang sangat mengkhawatirkan kekasihnya terus ditenangkan oleh James yang akhirnya meliburkan restorannya sampai Jeniffer berhasil diselamatkan.


Para wanita tidak diperbolehkan untuk ikut ke Cikarang dan hanya menunggu di rumah. Aster juga ikut membantu melacak keberadaan Jeniffer meskipun melalui jarak jauh.


"Papa tahu kamu cemas, tapi seperti yang selalu Mama kamu bilang, tetap berpikir tenang agar kamu dapat melacak keberadaan Jeniffer," ucap James yang sedang menyetir.


"Iya Pa," sahut Joseph dengan lirih masih menatap layar tabletnya.


"Tapi Papa percaya Jeniffer adalah gadis yang kuat, buktinya saja dia telah berhasil lolos dari maut pada waktu kecil," ujar James.


"Iya Pa, Joseph juga berharap gitu, tapi bagaimana jika Jessi yang keluar saat ini? Kita tahu sendiri seberapa gilanya pribadi kedua Jeniffer itu,"


Tidak ada yang berkata lagi setelahnya, suasana tegang langsung melingkupi mobil James. Sama halnya dengan suasana yang terjadi di mobil Verry yang berkendara bersama Edward. Pria itu mengikuti arah yang diberikan oleh sang putra yang berkomunikasi dengan Joseph.


"Pa, kenapa Amah sampai menyekap Ci Jeni ke Cikarang?" tanya Edward yang cemas memikirkan nasib sang Kakak.

__ADS_1


"Papa juga enggak tahu, Nak, mungkin saja itu markas dari para pria suruhan Amah," jawab Verry dengan lirih.


"Pa, Edward takut kalau Jessi yang malah muncul," ucapan Edward sontak saja membuat Verry menoleh sebentar dan menuntut penjelasan.


Edward akhirnya menceritakan apa yang terjadi dengannya di Salatiga saat Jessi membawanya kabur dan bagaimana ancamannya saat Joseph menemukan mereka berdua. mendengar hal itu membuat hati Verry semakin berdenyut nyeri. Dia sadar mungkin saja yang membuatnya memiliki kepribadian ganda adalah dirinya sendiri.


"Kalau begitu semoga saja para pria berbadan tegap itu tidak apa-apa kalau seandainya Jessi yang beneran keluar," ujar Verry yang langsung mengingat saat Jeniffer kecil membakar villa mereka.


***


"Pa, mungkin setelah ini Jeniffer harus kita sekolahkan jauh dari kota ini, Jeniffer akan berada dalam bahaya jika masih berdekatan dengan keluarga ayah kandungnya," kata Jorgie yang sedang menyetir.


"Iya, Gie, Papa setuju. Kita harus sekolahkan Jeniffer di luar kota atau luar negeri sekalian," ucap Stanley dengan mengepalkan tangannya.


"Ya Pa, sekarang kita sudah dekat dengan tujuan. Papa ntar tunggu di mobil sama Papa James aja," titah Jorgie.


Ketiga mobil yang beriringan di tambah 3 mobil polisi tentu saja menimbulkan keheranan bagi warga sekitar meskipun mobil polisi itu tidak membunyikan sirinenya. Dalam hati mereka ada gerangan apa yang terjadi? Narkoba? *******? Pemalsuan uang?


"Jorgie, di sini benar posisinya?" tanya rekan polisi Jorgie.


"Menurut titik yang diberikan oleh Joseph sih benar," jawab Jorgie yang menatap bangunan ruko lantai 4 yang tidak terawat itu.


"Kalau begitu kita berpencar dan masuk secara diam-diam, kalian berempat tunggu di sini saja dulu," kata rekan polisi Jorgie kepada ketiga pria dewasa dan 1 remaja pria itu.


"Edward, kamu tunggu di sini sama Jorgie dah Joseph, ya?" ucap Verry kepada sang putra dengan berbisik.


"Papa mau masuk ke dalam?" tanya Edward dengan nada khawatir.


"Iya, Papa akan masuk dan menyelamatkan Jeniffer, meskipun ini hal yang berbahaya," Verry menatap nanar sang putra.


"Kenapa Pa? Bukankah dari awal Papa tidak menginginkan anak perempuan pertama. Tapi sekarang sikap Papa seakan Papa dapat berkorban apa saja demi Ci Jeniffer?" tanya Edward dengan nada tertahan.


"Papa menyesali semuanya sekarang dan anggap saja ini sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah yang telah menelantarkan anaknya. Edward," Edward terdiam tapi dia yakin Verry masih akan meneruskan kalimatnya.


"Jadikan kesalahan Papa sebagai pelajaran berharga untuk kamu. Kamu pasti nanti akan jadi seorang Papa yang hebat untuk anak-anak kamu dibandingkan Papa," Edward terkesiap saat mendengar perkataan Verry seakan sang ayah sedang mengucapkan salam terakhir untuknya.


"Papaaaa!" saat tersadar Verry sudah menerobos masuk ke dalam ruko itu dan membuat Jorgie dan Joseph terkejut.


"Ada apa, Ed?" tanya Jorgie saat melihat pemuda itu menangis.

__ADS_1


"Papa menerobos masuk ke dalam untuk menyelamatkan Ci Jeni," Jorgie terkesiap saat mendengarnya.


Apa Verry ingin mengantarkan nyawanya ke dalam sana? Meskipun Jorgie yakin jika Gilda tidak akan membiarkan putranya dalam bahaya tetap saja tindakan Verry ini sangat nekad.


***


Verry menyusuri setiap ruangan di ruko kosong itu dengan menajamkan penglihatan dan pendengarannya. Di mana rekan polisi Jorgie berada? Bukankah mereka berdua yang masuk terlebih dahulu kenapa jejak keberadaan mereka tidak ditemukan olehnya.


Beralih ke lantai 2 barulah Verry mendengar sayup-sayup orang yang sedang berbicara dan dia mengendap perlahan untuk mengetahui siapa gerangan yang berbicara.


"Keluarga gadis itu rupanya kaya sampai pakai polisi untuk menyelamatkan dia. Untungnya bos besar sudah memperkirakan ini dan memberikan mereka gas bius. Jadi semua polisi to*ol itu sudah kita kumpulkan dalam satu ruangan," Verry tersentak saat mendengar perkataan itu dengan cepat dia menggigit bibir agar tidak menimbulkan suara.


"Iya kalau enggak kaya mana mungkin kulit wajah dan tubuhnya semulus itu. Bagaimana kalau malam ini kita cicipi dia," ucap seorang lagi membuat Verry mengepalkan tangan kuat.


'Jadi semua polisi itu sudah dilumpuhkan rupanya. Jeniffer tunggu Papa, Nak,' ucap Verry dalam hatinya yang langsung mengabari Edward kondisi yang sebenarnya terjadi.


"Ma, maaf jika aku harus melawan Mama. Aku tidak tega melihat anakku akan menjadi korban kebejatan para pria itu," gumam Verry sambil menyelinap ke lantai 3. Kedua pria yang sedang berbicara itu terlihat lengah sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitar.


Verry mulai menyusuri lantai 3 ini dan melihat sebuah ruangan tertutup. Pria itu berasumsi jika ruangan itulah tempat Jeniffer disekap. Dengan perlahan dia mendorong pintu yang untungnya tidak terkunci itu.


Kemarahan Verry menggelegak saat mendapati salah seorang dari pria berbadan tegap itu berusaha untuk menjamah tubuh Jeniffer yang sedang meronta ditengah tangan dan mulutnya yang terikat.


"Jangan jual mahal gitu ah, nikmati aja sentuhan gua," Makin panaslah hati Verry saat mendengar nada penuh lece*an itu.


"Si*lan! Cepat menjauh dari tubuh putriku!" umpat Verry sambil menendang pria itu hingga terjengkang.


Jeniffer memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari jeratan tali yang membelit tangannya. Setelah terlepas gadis itu mengeluarkan suara yang membuat kedua pria yang sedang beradu jotos itu terkejut.


"Wah, lihat siapa yang datang, lama tidak berjumpa Papaku tersayang," Verry yakin jika ini nada suara yang didengarnya 9 tahun yang lalu.


"Apakah kamu Jessi?" tanya Verry setelah meneguk salivanya.


"Ah, sudah tahu rupanya, Papa sebenarnya tidak perlu repot-repot untuk menghajar pria breng*ek ini karena gua udah punya cara balas perbuatan menjijikkan dia kepada Jeniffer," ucap Jessi kembali dengan nada dingin.


Jessi berjalan menuju ke arah pria yang baru saja mele*ehkannya dan langsung menendang alat vitalnya yang membuat pria itu terkapar tak berdaya.


Rupanya keributan itu memancing para teman pria itu untuk memasuki ruangan itu dan semua terkejut saat melihat Jeniffer yang sudah terbebas dari ikatannya serta Verry yang berada di samping gadis itu.


"Dasar si*al, mau ke mana lo gadis nakal?" ucap seorang pria yang akan merangsek maju.

__ADS_1


Verry otomatis maju melindungi sang putri sambil berpikir bagaimana cara untuk mereka berdua lari dari sana. Saat menoleh pria itu melihat jendela yang terbuka dan berkata kepada Jeniffer untuk kabur dari sana.


__ADS_2