
"Hmmm dari tadi gua penasaran deh. Tadi pagi sama siang lo berbeda. Apakah lo ini punya rahasia?" pertanyaan Leo membuat Jessi terkesiap. Apakah mungkin pemuda ini mengetahui rahasianya.
"Ngaco aja lo, kalau masih ngantuk mending tidur aja sana." ucap Jessi mencoba mengelak, dia harus keluar dari situasi canggung ini.
"Serius gua nggak ngantuk tuh, tadi pagi gua juga udah minum kopi." sambil menampilkan senyum menyebalkan di mata Jessi.
"Udah deh, sekarang minggir! Gua mau beli minuman dingin ngerti banget sih gue tuh haus dan ngantuk." sentak Jessi sambil mendorong tubuh jangkung Leo yang menghadang jalannya.
"Kalau gua ga mau." sahut Leo lagi dan Jessi makin membenci pemuda itu yang masih berdiri kokoh. Jangankan terdorong, bergerak saja tidak padahal Jessi sudah mengerahkan segala tenaganya.
"Sinting!" umpat Jessi lalu menendang keras betis kiri Leo yang mengaduh karena tidak siap.
Jessie memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari Leo, mungkin sebaiknya dia melompati pagar sekolah untuk membeli minuman dingin karena dia tahu pemuda bertubuh jangkung itu masih mengawasinya. Jadi lebih baik menghindar untuk selamanya.
'Jessi, apa itu cowo yang kemarin itu? Yang kamu bilang menyebalkan?' suara Jeniffer yang tiba-tiba muncul dari pikiran Jessi mengejutkannya.
'Iya dia cowo menyebalkan itu. Dan lebih baik lo juga menghindar dari dia.' Jessi mengingatkan Jeniffer
'Siapa namanya?' tanya Jeniffer kembali.
'Kemarin gua denger si bocah dan temennya manggil Leo. Ya udah tidur lagi sana bentar lagi, gua mau lompat pager ntar yang ada lo kaget.'
'Jangan bolos tapi ya?' ucap Jeniffer kembali.
'Ga, ini karena si cowok sengak itu. Dia kayak curiga gitu kita ini pribadi yang berbeda.' ucap Jessi sambil mengambil aba-aba untuk melompati pagar yang memiliki tinggi 3 meter itu.
"Jeniffer Sukmajaya, sedang apa kamu disana!" Jessi membelalakkan mata saat mendengar Mister Alvin, sang guru BK sedang memandangi dirinya dengan sorot mata tajam.
"Latihan buat olahraga besok Mister." ucap Jessi yang sudah terduduk atas pagar itu layaknya seekor kucing.
"Jeniffer Sukmajaya, cepat turun!" perintah Mister Alvin kembali.
"Tunggu Mister, saya turun dulu." ucap Jessi, namun entah mengapa Jeniffer tiba-tiba terbangun dan dia langsung merasakan ngeri saat berada di tempat setinggi itu.
"Jeniffer, kenapa bengong. Cepat turun." ucap Mister Alvin mulai tidak sabar.
"Mister, kaki saya tiba-tiba keram, tolongin saya turunnya" pekik Jeniffer setengah berteriak.
"Jeniffer jangan bercanda kamu. Tadi kamu lancar-lancar aja tuh naiknya kenapa sekarang pas mau turun jadi kram?" meskipun masih emosi Mister Alvin merasa panik luar biasa di dalam hatinya.
"Saya ga becanda Mister." kembali Jeniffer berucap kali ini dengan disertai isak tangis yang keras. Dasar Jessi sialan, kenapa mesti tidur saat ada di tengah pagar kayak gini. Sunggut Jeniffer dalam hatinya.
"Ya sudah kamu tunggu dulu, saya cari bantuan."
__ADS_1
"Misteerrrr Alvin. Jangan tinggalin saya sendirian." ucap Jeniffer dengan tergugu.
"Terus bagaimana saya bisa tolongin kamu kalau saya ga minta bantuan. Kita di sini cuma berdua Jeniffer." bujuk guru berusia 35 tahun itu.
"Ya mana saya tahu, pokoknya Mister jangan tinggalin saya." balas Jeniffer dengan berteriak.
"Kamu ini, tunggu saya telepon dulu." kata Mister Alvin sambil mengambil smartphonenya.
"Mister Alvin ada apa ini?" sebuah suara tiba-tiba mengejutkan guru itu dan saat dia menoleh Mister Alvin merasa lega luar biasa.
"Leo dan Andri bisa tolongin Jeniffer turun dari sana?" tanyanya sambil menunjuk ke arah tempat Jeniffer sedang terduduk dan semakin lemas.
"Astaga Jeniffer!" pekik Leo terkejut, dengan segera dia memanjat pagar dan menggapai gadis yang semakin merasa lemas.
"Jeniffer pegang tangan gua." ucap Leo yang sudah berada di depan Jeniffer yang tidak memberikan reaksi apapun.
"Jeniffer pegang tangan gua." ulang Leo sekali lagi, namun gadis itu tetap tidak bereaksi.
"Jeniffer, oh ****! Dia ga mendengar suara gua. Andri, lo siap-siap di bawah. Gua akan bawa turun Jeniffer dengan lompat." Teriak Leo dan Andri menangkap aba-aba dari temannya itu.
"Oke, Leo. Mister sebaiknya juga standby biar bagaimanapun ini dua orang yang turun. Jadi mesti dia orang juga yang nangkep." Mister Andri pun mengangguk saat mendengar kalimat Andri.
Leo langsung meraih pinggang ramping Jeniffer dan mendekapnya. Sekarang dia harus memperhitungkan agar keduanya tidak celaka.
3...2...1
Brukkk
Keduanya pun mendarat dengan mulus, akan tetapi saat Leo akan berdiri dia meringis kesakitan.
"Leo, kaki lo terkilir sepertinya. Sekarang biar gua yang gendong Jeniffer oke, biar Mister Alvin yang akan memapah lo ke UKS." Leo menurut saja saat sang teman mengambil alih tubuh Jeniffer dari dekapannya. Ada rasa tidak rela sebenarnya, cuma dalam situasi ini dia harus memakluminya.
"Astaga Jeniffer mukanya pucat sekali dan dia pingsan. Yo." sentak Andri saat Jeniffer sudah berada didalam gendongannya.
"Yang bener! Cepat bawa Jeniffer ke UKS. Kalau perlu lari." ucap Leo dengan nada panik. Andri langsung berlari meninggalkan Leo dan Mister Alvin.
"Jeniffer itu pacar kamu?" tanya Mister Alvin saat Andri sudah tidak terlihat lagi.
"Bukan Mister. Jeniffer marah-marah terus setiap ketemu." jawab Leo menahan sakit, UKS sebenarnya dekat kenapa rasanya jadi jauh sekali jaraknya.
"Kirain, soalnya kamu itu perhatian banget sama Jeniffer." Mister Alvin membantu Leo berjalan.
"Habis Jeniffer lucu Mister, saya kan jadi pengen godain dia. Ekh bukan godain yang niat buruk Mister."
__ADS_1
"Ya saya tahu, kalau kamu suka jangan dibuat marah. Ntar dia berpaling ke cowo yang buat dia nyaman loh."
"Mister curhat?" tanya Leo dengan nada mengejek.
"Dasar kamu ini, ga di rumah ga di sekolah sering banget isengin saya." sahut Mister Alvin dengan gemas melihat anak dari sang kakak lelakinya itu.
"Habis Asuk mukanya menggoda untuk di isengin." ucapan Leo membuat Alvin tersenyum
"Tapi Asuk serius, kalau suka sama Jeniffer jangan kamu buat marah. Lakukan PDKT secara gentle."
"Mirror please. Mister aja sampai sekarang belum nikah. Amah sering curhat ke mama kalau pas ke rumah." sindir Leo kembali.
"Nikah mah gampang, ya sudah ceweknya yang terkesan belum ada. Oh iya kaki kamu bagaimana, bukannya 3 hari lagi ada pertandingan basket melawan sekolah Harapan Bangsa. Kamu sepertinya tidak dapat bertanding dalam waktu 1 Minggu."
Leo tersentak dengan kenyataan itu, benar juga bagaimana dia dapat melupakan pertandingan penting itu. Tapi melihat muka Jeniffer yang semakin pucat seakan menghilangkan kewarasannya. Bagaimana ya keadaan gadis itu sekarang.
"Tidak apa-apa Mister. Ini kesalahan saya yang tidak hati-hati, jadi saya mesti menerima akibat dari setiap perbuatan saya."
"Kamu itu udah mulai bucin sepertinya." Mister Alvin pun menggelegar.
"Mister, tunggu saja nanti aku bilangin Amah baru tahu rasa." ancam Leo.
"Dih bocah mainnya ngancem. Nah kita udah sampe UKS, kamu juga dapat melihat keadaan Jeniffer."
"Yo, Jeniffer belum sadar juga sepertinya syok juga." ucap Andri saat melihat kedua orang itu memasuki UKS.
"Memang gimana kejadiannya Mister sampai Jeniffer bisa nyangsang di pager kayak kucing?" tanya Andri penasaran.
"Saya juga ga tahu, yang pasti pas awal dia lompat pagar itu masih ga apa-apa. Pas saya tegur untuk turun dia juga masih jawab akan turun. Setelah itu seperti yang kalian lihat Jeniffer sudah lemas di atas pagar. Dia juga bilang kakinya kram." keduanya langsung mengangguk saat Mister Alvin menyelesaikan ucapannya.
"Nah itulah yang buat saya seneng godain dia Mister. Jeniffer itu cewek yang unik." ceplos Leo membuat Andri terkejut.
"Astaga temen gue, akhirnya ngerasain jatuh cinta juga." pekik Andri dengan wajah terkejut.
"Iya keponakan saya ternyata ga kulkas juga sama cewek." timpal Mister Alvin.
"Kalau kalian bertiga di UKS cuma buat berisik mending keluar aja." ucapan seorang perempuan membuat ketiganya langsung terdiam.
"Saya kan terkilir kakinya, dokter. Masa mesti keluar juga." ucap Leo mengurai senyum bodoh.
"Kecuali kamu, sini saya lihat dulu kakinya."
"Aduh ini bengkak parah. Kamu ngapain sih bisa sampai terluka gini?" omel dokter wanita itu sambil memeriksa kaki Leo yang memang membengkak.
__ADS_1
"Karena cinta Dok, makanya saya rela terluka begini."
Sepertinya memang cinta dapat membuat seseorang yang bodoh menjadi pintar dan yang pintar menjadi bodoh. Termasuk Leo contohnya.