Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
35. Jessi takut dengan Joseph?


__ADS_3

"Om, koq ganteng banget sih." ucap Jeniffer tanpa sadar dan dengan nada manja membuat Joseph memerah karena salah tingkah. Jeniffer yang masih belum ada apa yang diucapkannya hanya menopang dagu dengan tangan kirinya sambil terus memandangi Joseph.


"Saya sudah selesai makannya, terima kasih ini mie instan yang enak." ucap Joseph setelah mempercepat makannya, dia tidak jantungnya semakin berdebar-debar dengan tidak sopannya. Pria itu memutuskan untuk kembali ke kamar Jorgie.


"Taro aja di tempat cuci piring bekas mangkoknya." ucap Jeniffer setelah menghabiskan segelas air.


'Jess, bukankah Om Joseph itu ganteng banget?' Jeniffer mencoba untuk mengajak Jessie berbicara namun nihil pribadi keduanya itu tidak menyangkut sama sekali.


'Aneh, ini sudah dari sejak di rumah Om Joseph dia tidak muncul. Apakah Jessi lagi tidur ya?' tanya Jeniffer dalam hatinya setelah mencoba memanggil Jessi beberapa kali.


'Ya sudahlah, ntar juga dia muncul sendiri. Mendingan gua tidur aja.' ucap Jeniffer dalam hatinya.


***


Joseph yang mendengar pujian dari Jeniffer semakin resah dibuatnya. Padahal dia sering mendapatkan tatapan penuh pujaan dan mendapatkan banyak hadiah dari para gadis sewaktu masih sekolah. Tapi kenapa saat gadis belia ini yang mengatakan dia ganteng. Jantungnya merasa berdebar-debar layaknya anak ABG yang baru saja mendapatkan pujian dari lawan jenis untuk pertama kalinya.


"Oh, Jeniffer. Apa yang harus aku lakukan kepadamu, jika kamu terus menerobos masuk ke dalam hatiku?" tanya Joseph pada dirinya.


"Padahal dia itu keponakan kakak iparku dan iya kami terpaut 8 tahun dia lebih pantas di sebut keponakan daripada kekasih." ucap Joseph lalu menghela nafas panjang. Mungkin karena terlalu banyak berpikir membuat pemuda itu kelelahan dan tak sadar jika mimpi sudah menjemput dirinya.


***


Meskipun Joseph merasa ngantuk dan masih lelah namun saat mengingat dirinya bukan berada di rumahnya membuat pemuda itu lekas membuka matanya dan beranjak bangun dari kasur empuknya. Jam di dinding kamar masih menunjukkan angka 6 pagi, pemuda itu langsung bergegas mandi dan keluar dari kamar Jorgie setelah mandi dan meminjam kemeja dan celana panjang sang kakak ipar. Untunglah untuk soal dalaman, Jorgie masih memiliki stok baru yang belum pernah dipakai.


Di ruang makan sudah ada Stanley yang sedang membaca koran bisnis sembari sarapan di sajikan. Sementara Jorgie belum melihat keberadaan dari Jeniffer, apakah gadis itu belum terbangun. Tanya Joseph dalam hatinya.


"Semalam enak tidurnya, Nak Joseph?" tanya Stanley setelah menyadari keberadaan anak dari besannya.


"Jujur saja saya baru bisa tidur jam 2 pagi, mungkin karena bukan tidur di ranjang sendiri." Joseph memberikan alasan yang paling logis, mana mungkin dia jujur dengan Stanley jika Joseph memikirkan Jeniffer.

__ADS_1


"Oh berarti kamu orang yang tipenya sudah tidur kalau bukan di rumah sendiri,ya." syukurlah Stanley menanggapi perkataannya dengan biasa saja.


"Iya, Shuk. Makanya kalau udah kena traveling, saya yang paling ribet. Kadang jam 3 pagi baru pules kadang malah ga tidur semalaman." ucap Joseph menyambung percakapan.


Tak lama muncullah Jeniffer menggunakan seragam batik dan Joseph baru tersadar bahwa hari ini adalah hari Jumat, melakukan pekerjaan di luar kantor saat mendekati jam Sholat pasti akan membuat kinerja tim terburu-buru. Apa sebaiknya dia undur setelah jam 1 siang saja, ya? Pikirnya kembali di dalam hati.


"Kamu kenapa tumben baru siap jam segini? Biasanya sudah siap dari jam 6 pagi?" tanya Stanley kepada Jeniffer yang baru mendaratkan bokongnya di kursi.


"Begadang nonton drama Korea, jadi ga sadar lupa waktu." jawab Jeniffer sembari menunduk, akhirnya gadis itu tersadar akan perkataan pada Joseph bahwa dia itu ganteng. Memang Jeniffer akui, Joseph itu sangat tampan, tapi mengatakan dengan nada manja membuat gadis itu merasa mirip penggoda.


"Jangan kebanyakan nonton drama, kamu itu sudah kelas 2, sebentar lagi kelas 3 dan persiapan untuk memilih universitas tempat kamu kuliah nantinya.


Mendengar kata kuliah membuat Joseph teringat bahwa dia pernah mengatakan akan menunggu waktu yang siap untuk menikah tidak peduli jika akan menghabiskan waktu 10 tahun, lagipula dia masih berusia 24 tahun masih sangat muda meskipun kemandirian finansialnya tidak perlu diragukan lagi tetap saja membuat Joseph merasa dia belum siap menikah dalam waktu dekat.


"Akhung ini mah, orang Jeniffer ga mau kuliah. Maunya langsung kerja aja atau kalau ada yang lamar mau langsung nikah aja." ucap Jeniffer sembari meneguk segelas susu


"Sembarangan aja kamu kalau ngomong, ga ada abis SMA langsung nikah. Kuliah dan cari kerja dulu, kamu kira nikah itu gampang apa?" ucap Stanley sembari menjitak dahi sang cucu dengan sendok makan membuat Jeniffer meringis sakit.


"Akhung ini ga bisa diajak becanda." ucap Jeniffer sambil mengusap dahinya yang terasa panas.


"Bercandamu itu loh kurang pantas didengar, apalagi ada Joseph. Apa kamu ga malu sama adik ipar Aqiu kamu." ujar Stanley sambil mendelikkan matanya.


Joseph merasa bingung, apakah harus melerai perdebatan keduanya ataukah harus diam saja. Untunglah tak lama kemudian Camelia datang menyelamatkan situasi yang canggung ini.


Bau harum telur tercium di hidung Joseph dan barulah saat Camelia meletakkan wadah makanan dari bahan plastik itu pemuda itu melihat tampilan nasi goreng yang mengundang rasa laparnya.


"Makan yang banyak, Joseph. Jangan sampai orang tua kamu komplain kami ga memberikan makan sama kamu." Ucap Stanley dengan nada bercanda.


"Makasih Shuk." ucap Joseph lalu memulai makan setelah Stanley mendoakan makanan yang akan mereka berempat santap pagi itu.

__ADS_1


"Jeniffer biar saya yang antar ke sekolah. Sepertinya tempat tujuan saya dekat dengan sekolah Jeniffer." ucap Joseph berdusta, pria itu sengaja ingin mengantarkan Jeniffer untuk membunuh waktu. Tentu saja setelah mengantar gadis itu, Joseph akan pulang dulu ke rumah dan baru berangkat lagi menggunakan motor pada jam 10.


"Ya kalau begitu, kami titip Jeniffer ya. Joseph. Terima kasih sudah mengantarkan dia ke sekolah." ucap Camelia sambil mengembangkan senyum.


'Jess, denger itu. Om Joseph mau nganterin gua ke sekolah.' panggil Jeniffer pada pribadi keduanya namun tetap tidak ada jawaban apapun dari Jessi.


'Kemana sih Jessi, masa dari kemarin ga nongol. Rasanya ada yang kurang.' keluh Jeniffer dalam hatinya.


"Jeniffer, ayo kita jalan. Ntar kamu terlambat, ini sudah semakin siang." ucapan Joseph membuyarkan lamunan Jeniffer.


"Ekh, iya. Khung, Pho. Jeniffer pergi dulu." pamitnya.


Jeniffer merasakan perjalanan ke sekolah sangatlah singkat karena gadis itu terus mencuri pandang kepada pria yang berada di balik kemudi itu. Bukannya Joseph tidak menyadarinya, dia sangat tahu namun memilih untuk mengabaikan rasa tidak nyaman itu.


Sekitar 20 menit kemudian, mobil James pun tiba di depan sekolah Jeniffer. Setelah mengucapkan terima kasih, Joseph langsung meninggalkan lingkungan sekolah Jeniffer.


'Enak banget ya, yang kemarin berduaan terus sama pujaan hatinya.' Jeniffer langsung terkejut saat suara Jessi bergema di pikirannya.


'Jessi, kenapa baru muncul. Dari kemarin gua panggil ga nyautin. Sekarang kayak jailankung aja, datang ga dijemput pulang ga diantar.' ocehan Jeniffer langsung membuat Jessi tertawa.


'Gua jujur ga nyaman sama pujaan hati lo, makanya gua ga muncul-muncul.' Jessi menjabarkan alasan yang membuatnya tidak muncul sejak kemarin.


'Ga nyamannya gimana?' tanya Jeniffer bingung.


'Seperti yang gua bilang kemarin-kemarin, aura pria itu kuat dan itu membuat gua ga nyaman. Makanya gua lebih memilih ga muncul saat lo panggil dari kemarin.' jawaban Jessi tetap tidak membuat Jeniffer mengerti.


'Lo ngomong apaan sih, sumpah gua ga ngerti. Ya udahlah ga usah di bahas buat gua puyeng aja.' sahut Jeniffer membuat Jessi berdecak kesal.


'Dasar BUCIN.' umpat Jessi yang tidak dihiraukan oleh Jeniffer.

__ADS_1


__ADS_2