Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
55. Pelarian Jessi dan Edward


__ADS_3

Di dalam sebuah bis yang menuju luar kota nampak ada sepasang remaja yang sedang berdebat, keduanya adalah Jessi dan Edward yang sudah berganti seragam dengan pakaian biasa yang entah didapatkan gadis itu dari mana.


Edward yang merasa takut dengan tingkah laku sang kakak akhirnya diam saja sambil mencari cara untuk bebas dari cengkraman gadis ini. Jessi mengambil semua smartphonenya dan uang yang ada dalam saku celananya. Bahkan Jessi tak segan-segan untuk melukai Edward bola keinginannya tidak terpenuhi.


Sebenarnya bisa saja dia berteriak agar gadis itu di ringkus namun melihat barang bawaan dari Jeniffer membuat dia urung melakukan hal itu, beneran bom air mata, tikus dan ular mainan uang yang Edward yakini sudah dimodifikasi. Bukan tidak mungkin gadis itu akan membahayakan seisi penumpang di bis yang Edward tidak tahu menuju ke mana.


"Kak, sebenarnya kita mau pergi ke mana? Apa kakak tidak takut akan membahayakan nyawa kakak dengan membawa barang-barang seperti itu?" tanya Edward dengan panik.


"Enggak usah banyak tanya, ikut aja," ucap Jessi sambil berdecak kesal.


"Ya tentu aku harus tanya ke mana Kakak membawa aku pergi, bukan tidak mungkin Kakak akan membawa kita berdua ke neraka," sindir Edward yang hanya ditanggapi oleh tawa kencang oleh Jessi.


"Ini lebih mengasyikkan dari neraka, paling tidak km keluarga ban*sat itu harus merasakan apa yang Jeniffer rasakan," ucap Jessi dengan berdesis.


Edward menangkap kilat kemarahan yang amat besar dalam netra hitam itu membuat pemuda itu bergidik ngeri karena ini bukanlah Jeniffer yang biasa. Ada apakah dengan Jeniffer sehingga dapat bertingkah seperti orang lain.


"Memangnya apa salah keluarga Sukmajaya sama Kakak?" tanya Edward berusaha mengorek informasi.


Jessi lantas tertawa kencang hingga perhatian seluruh penumpang bis tertuju pada mereka. Edward mengangguk sambil mengurai senyum meminta maaf karena sudah mengganggu ketenangan para penumpang.


"Lo tanya apa kesalahan keluarga Sukmajaya sama Jeniffer, banyak dan tidak akan habis dalam satu buku jika gua mencatatnya," ucap Jessi sambil menatap tajam mata Edward.


"Maksud Kakak apa. Bukankah kita ini satu keluarga?" tanya Edward yang mulai menciut nyalinya.


"Keluarga yang membuang anak perempuan hanya karena menginginkan anak pertamanya adalah seorang laki-laki. Begitu maksud lo?" tanya Jessi yang mulai meledak-ledak kemarahannya.


"Seorang suami yang pada akhirnya membuat sang istri meminum sebotol pil obat tidur karena merasa depresi akan kelakuan dari keluarga ban*sat itu," pekik Jessi dengan nada tertahan sebab dia sadar bahwa mereka masih berada di dalam bis.

__ADS_1


Untungnya dia sudah mempersiapkan ini sejak lama, memanfaatkan Jeniffer yang sedang tertidur atau lengah, dia melakukan hal gila yang bahkan orang dewasa tidak akan terpikirkan. Melakukan balapan liar, diam-diam menyelidiki situs pasar gelap yang menyediakan berbagai barang ilegal dan berbahaya lantas membeli dan menjualnya kembali.


Dan hasil yang sudah diraih olehnya bukan angka main-main, setidaknya sejak memasuki bangku SMP Jessi sudah melakukannya. Jumlah angka Rp 888.000.000,- tentunya bukan angka yang kecil.


Jessi sudah membayangkan dia akan pergi sejauh mungkin setelah menghancurkan keluarga Sukmajaya. Dan hari ini pembalasan dendam di mulai dari Edward yang menatapnya dengan raut wajah penuh ketakutan. Masa bodo dengan semua orang yang memperdulikan Jeniffer.


"Apa itu cerita mengenai Mama Kakak?" tanya Edward yang mulai merasa malu menyandang nama Sukmajaya dibelakang namanya.


"Tentu saja itu cerita tentang Mamanya Jeniffer, memang lo pikir siapa? Penjual gorengan!?" sindir Jessi kepada sang adik tiri.


"Kalau memang seperti itu, aku bersedia akan mengikuti Kakak kemanapun juga," Jessi tersenyum saat mendengar perkataan Edward yang mengandung nada kepasrahan itu.


"Nah begitu dong, Adikku sayang. Sekarang lebih baik lo diam saja nikmati saja pemandangan di luar bis ini," ucap Jessi lalu memejamkan mata...


"Jangan berpikir kabur saat gua lengah," ucap Jessi dengan nada dingin membuat bulu kuduk Edward berdiri.


"Tidak akan, Kakak tidur saja. Kakak kelihatan lelah," ucap Edward yang mulai merasa ada yang aneh dengan gadis yang disampingnya ini.


Apa maksudnya dia memanggil dirinya Jeniffer, seakan-akan yang berkata itu bukanlah Jeniffer yang asli. Apa pula maksudnya dengan tidur selamanya? Batin Edward bertanya-tanya.


Dan bayangan drama Korea tentang orang dengan 7 kepribadian pun terlintas dalam benaknya. Dia mengingat-ingat alur dari drama itu dari awal pertengahan hingga akhirnya. Ciri-cirinya yang ditunjukkan oleh Jeniffer sama persis, apakah yang berada dengannya sekarang adalah pribadi yang lain dari Jeniffer? Ah, apapun itu, Edward harus memastikannya sendiri setelah gadis ini terbangun.


***


Jessi terbangun saat bunyi azan yang terdengar jelas dari smartphone seorang penumpang. Setelah meminum beberapa teguk air dia merasa segar kembali lalu gadis itu menoleh ke arah samping kirinya dan tersenyum sinis, Edward sedang tertidur rupanya.


Supir bis mengatakan bahwa bis akan berhenti selama 30 menit untuk solat, istirahat dan makan. Karena keduanya tidak menunaikan ibadah tersebut maka Jessi memutuskan untuk mencari restoran atau gerai fast food di sekitar rest area ini.

__ADS_1


Matanya memancarkan kilat senang saat mendapati gambar dari seorang kakek tua yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. Karena dia dia segera memanggil Edward untuk mengikuti langkah kakinya.


"Pesen yang lo mau, tenang aja gua ga akan membiarkan Ade gua ini kelaparan," ucap Jessi dengan mengulas senyum manis namun mengerikan dalam pandangan mata Edward.


Sepertinya untuk selera makan, Jessi dan Edward memiliki cita rasa yang sama. Keduanya kompak memesan 1 paket komplit yang berisi 2 potong ayam, 1 buah nasi, 1 buah hamburger dengan tambahan es krim dan sebotol air mineral dingin.


"Kakak enggak takut gemuk makan berminyak dan berlemak seperti ini?" tanya Edward memulai percakapan.


Paling tidak mereka akan terus bersama untuk waktu yang tidak akan dapat ditentukan. Jadi Edward akan berusaha memecah kecanggungan yang tercipta diantara keduanya.


"Gua semua masuk, cuma Jeniffer aja yang kadang takut gemuk jadi jaga makan. Padahal badan kurus begitu, cuma makan segini mah enggak akan buat gemuk," Edward lagi-lagi tertegun saat gadis yang berada di depannya menyebutkan Jeniffer seakan mereka adalah pribadi yang berbeda.


"Terus kalau Kakak sendiri sukanya apa?" tanya Edward mulai menebar umpan berharap gadis cantik ini tidak sadar.


"Gua suka semua makanan berlemak dan berminyak, santan dan sejenisnya," ucap Jessi yang sedang mencocolkan potongan daging ayam ke dalam saus sambal.


"Wah berarti selera kita sama Kak," sahut Edward setenang mungkin, sebenarnya dia kurang menyukai santai namun nampaknya dalam beberapa waktu ini makanan itu akan menyapa lambungnya.


"Oke, berarti ntar malam kita makan nasi uduk atau lontong sayur. Tenang saja Jessi tidak akan membuat lo kelaparan," ucapnya sambil menepuk dada dengan tangan kirinya.


'Ah jadi yang sedang berada denganku ini Jessi, terus kemana Jeniffer?' tanya Edward dalam hatinya.


"Memang kita mau ke mana Kak?" tanya Edward yang mulai merasa perjalanannya kali ini tiada berujung.


"Ke Papua," sahut Jessi santai.


"Kakak sinting!" umpat Edward, sementara Jessi hanya tertawa.

__ADS_1


"Iya itu julukan gua dari Jeniffer," sahut Jessi kembali.


Edward semakin memucat di tempatnya, apakah ucapan gadis ini benar ataukah hanya sekedar gurauan saja?


__ADS_2