
'Tunggu anak tercinta kalian sakit jiwa baru gua akan perlahan menghancurkan kalian. Keluarga bang*at Sukmajaya.' tekad Jessi dengan semangat membara.
Bahkan saking semangatnya Jessi, semangkuk bakso rasanya tidak cukup untuk mengenyangkan perut Jeniffer. Karena itu dia memutuskan untuk memesan seporsi batagor.
'Enak sekali batagornya apalagi pakai saus sambal yang banyak.' ucapnya sambil mencocokkan sepotong batagor itu ke dalam cairan merah yang kental itu. Disaat itulah pikiran Jessi menyamakan saus itu dengan darah, tak lama kemudian seringai sinis nan menakutkan muncul dari wajah cantiknya.
'Bagaimana kalau kita nikmati dahulu saja penderitaan bocah culun itu?' tanya Jessi kepada Jeniffer yang sepertinya baru 'terbangun'.
'Memangnya mau diapain anak itu?' tanya Jeniffer yang tak sadar jika pribadi keduanya itu telah memasukkan makanan cukup banyak makanan ke dalam lambungnya.
'Kalau itu percayakan sama gua, tapi ada syaratnya. Gua minta 12 jam sehari agar dapat keluar, sumpek juga di rumah.' ucap Jessi mulai melancarkan taktiknya.
'12 jam sehari! Yang bener aja lo, kapan gua tidurnya!" Sentak Jeniffer dengan penuh kemarahan.
"Chil out girls, maksud gua saat sekolah seperti ini. Saat sudah di rumah ya gua akan kembali ke dalam.' ucap Jessi menenangkan Jeniffer yang mulai mengamuk itu.
'Lagian gua ini pinter ya, Jeni sayang. Jangan lupa siapa yang selalu ngerjain ulangan, tugas, ujian akhir sampai tes masuk sekolah ini. Itu gua!" ucapan Jessi yang telak membuatnya bungkam.
Curang sekali pribadi keduanya ini mengambil otaknya yang cerdas saat Jessi tercipta. Sunggutnya dalam hati.
'Oke deal! Begitu sampai rumah langsung balik ke 'dalam'. ujar Jeniffer akhirnya menyetujui permintaan Jessi.
'Gitu dong Jeni sayang kalau gini kan kita sama-sama enak.' ucap Jessi kembali.
__ADS_1
'Sekarang lo mendingan tidur aja dulu biar badan kita nggak terlalu capek rasanya.' Jeniffer pun mengangguk dan melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Jessi.
"Tania! Sekarang kamu percaya kan kalau bukan aku yang menginginkan hadiah itu." Jessi sontak saya langsung menegakkan tubuh mencari sumber suara.
Dia memindai keadaan sekeliling di mana gerangan sang adik tiri dan gadis yang menjadi gebetannya itu berada. Senyum sinis langsung mengembang di wajahnya. Dengan cepat Desi menghabiskan batagor dan menandaskan es teh yang berada di gelasnya itu. Jessi segera mengikuti kedua muda-mudi itu yang sedang menuju ke tempat penjual minuman dingin.
"Please Tania! Aku juga dapat kiriman tangan dan kaki dari plastik itu bahkan aku dapat boneka santet." ucap Edward dengan memelas.
"Justru karena itulah gua nggak mau lagi deket sama lu ini baru sekedar kiriman tangan dan kaki plastik serta ular mainan. kalau besok besoknya tangan dan kaki itu beneran serta ularnya hidup bagaimana!? Bagaimana!?" ucap Tania tidak santai, dia merasakan ngeri saat mendengar kehebohan bahwa Edward juga mendapatkan hadiah yang serupa.
Hadiah itu seakan menjadi tanda bahwa dia tidak boleh menjalin hubungan dengan Edward kalau mau keselamatan ditinyanya terjamin. Apakah pemuda ini tidak mengetahui tanda yang dikirimkan oleh si peneror.
"Huffftt. Cukup Edward! Lebih baik elo nggak usah lagi berhubungan sama gua, cari saja gadis lain yang lebih kuat mentalnya daripada gua." putus Tania akhirnya.
"Tania, apa kamu ga suka sama gua?" tanya dokter Edward masih belum dapat merelakan Tania.
"Ga tuh! Lagian jalan hidup gua masih panjang, gua ga mau mati konyol saat ini." ucap Tania dengan nada dingin dan setelah itu pergi meninggalkan Edward yang kini menjadi bahan tontonan dari seluruh penghuni kantin.
Jessi cukup puas saat melihat keadaan Edward yang menggenaskan. Wajah tampannya kini seakan seperti orang idiot yang tidak mengerti apa-apa, namun bagi Jessi itu belum cukup setidaknya sang adik tiri harus jauh lebih menggenaskan daripada saat ini. Pikir Jessi lagi.
Kasak kusuk pun tak lama terdengar, semua membicarakan perihal Edward yang menerima teror dan dicampakkan oleh gadis pujaannya. Benar-benar sungguh hari yang penuh dengan derita dan kesialan bagi kebanyakan orang-orang.
Jessi melihat seorang murid perempuan yang sedang kesusahan membawa beberapa gelas jus. Dengan cepat otaknya merencanakan niat licik. Gadis itu menuju ke tempat penjual minuman dan membeli sebuah minuman ion dalam kaleng. Gadis itu berjalan santai sambil bersenandung pelan. Tangan kanannya melempar dan menangkap kaleng minuman itu layaknya sedang bermain bola bekel.
__ADS_1
GOTCHA
Senyuman miring diberikan oleh Jessi saat melihat targetnya. Dengan cepat dia berjalan dan menabrakkan bahunya dengan keras kepada seorang murid perempuan yang sedang membawa beberapa gelas jus itu.
BRAAAAK
"Aduh!"
"Shitt."
Sebuah teriakan dan umpatan terdengar dari dua mulut yang berbeda. Yang tentunya salah satunya bukan berasal dari Jessi, setelah dengan sengaja menabrakkan bahunya ke tangan gadis itu. Keduanya langsung terjatuh. Dan minuman kaleng yang sudah dibuka oleh Jessi dan beberapa gelas jus itu tumpah mengenai seragam Edward yang akhirnya mengumpat.
"Mata lo ke mana sih gua segede ini ga kelihatan." Jessi berpura-pura membentak murid perempuan yang sekarang sedang mengkerut ketakutan.
Ringisan pun masih keluar dari bibirnya, nampaknya posisi jatuhnya sangat keras. Jessi masih dapat melihatnya sedang menahan kesakitan. Namun apa peduli Jessi? Baginya melihat Edward basah kuyup layaknya kucing tercebur dalam empang itu sudah menambah rasa bahagianya.
"Maaf kak, aku ga lihat kalau kakak ada di samping." ujar gadis itu sambil menahan tangisannya, air matanya pun sudah menggenang di pelupuk mata.
"Memangnya maaf dapat hilangin rasa sakit yang udah gua alami!" bentak Jessi kembali dengan mata melotot.
Sementara Edward yang sudah sangat kebasahan tidak tahu harus berbuat apa. Padahal di sini dia korbannya loh. Tapi kenapa rasanya Jeniffer yang merasa paling menjadi korban dengan membentak-bentak gadis teman seangkatannya itu. Apakah Jeniffer tidak melihat kalau wajah gadis itu sudah memucat pasi akibat bentakan dan makian yang dilontarkan olehnya?
"Jeniffer Sukmajaya, Rachel Adinata dan kamu Edward Sukmajaya! Bisa jelaskan apa yang terjadi? Kenapa Jeniffer marah-marah dan baju Edward basah semua?" beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Mister Alvin menghentikan Omelan Jessi kepada murid perempuan yang ternyata bernama Rachel.
__ADS_1
Edward pun terkejut saat mengetahui nama belakang dari Jeniffer yang juga sama dengannya yaitu Sukmajaya. Apa ini? Bukannya kata mama pemilik nama Sukmajaya dapat dihitung dan saling mengenal. Tapi kenapa dia tidak mengenal Jeniffer sebagai pemilik nama Sukmajaya. Ada yang aneh sepertinya di sini dan ini sepertinya berhubungan dengan kebencian Jeniffer kepada. Pikir Edward.