Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
69. Jeniffer yang dirindukan Leo


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Leo gelisah karena sang gadis pujaan tidak masuk sekolah. Ingin bertanya kepada Edward pemuda itu tidak berani karena dia tidak ingin menimbulkan rasa sedih Edward kembali.


Namun rupanya perubahan Leo juga dirasakan oleh teman sekelas dan teman satu klub basketnya. Padahal pertandingan persahabatan antara sekolah Lotus Flower Gold High School dan tim sekolah lawan tinggal menunggu hitungan minggu.


Coach Evan yang merupakan salah satu dari 3 pelatih klub sekolah itu merasa resah dan memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Leo untuk mengetahui apa yang sedang menjadi beban pikiran dari pemuda itu.


"Leo, latihan berakhir ini saya mau bicara dengan kamu," ucap coach Evan dengan tegas membuat Leo meringis.


"Baik coach," jawab Leo dengan lesu.


Semua yang mendengar perkataan coach Evan berharap bahwa pelatih mereka dapat mengembalikan semangat hidup dari Leo yang hilang beberapa minggu ini. Mereka semua tahu perasaan Leon terhadap Jeniffer, namun tidak dapat berbuat apa-apa karena gadis itu seolah menghilang dari peredaran setelah pindah dari sekolah ini.


***


"Jadi apa kamu bisa ceritakan sama saya, apa yang menjadi beban pikiran kamu sehingga tidak berkonsentrasi dalam beberapa minggu terakhir ini?" tanya coach Evan yang mengajak Leo untuk makan di kedai bakso yang jauh yang cukup jauh dari sekolah.


Pemuda berusia 24 tahun itu tidak ingin pembicaraan keduanya didengarkan oleh anak-anak dari sekolahnya yang akan dapat mengganggu privasi dari Leo.


"Saya merasa patah hati coach," jawab Leo dengan lesu.


"Ah, jadi kabar yang mengatakan bahwa kamu menyukai Jennifer itu benar adanya," kata coach Evan sambil menjentikkan jarinya.


"Benar coach, saya suka sama Jeniffer tapi gadis itu seakan menghilang dari peredaran nomor telepon dan media sosialnya bahkan sudah tidak aktif lagi," ucap Leo setelah menghela nafas berkali-kali.


"Kamu tahu rumahnya, kan? Kenapa tidak kamu datangi dan tanya keadaan Jeniffer," usul coach Evan yang hanya direspon oleh hembusan nafas kecewa berkali-kali.


"Masalahnya kata phopho Jeniffer, dia sudah tidak tinggal lagi di sana dan phophonya juga seperti tidak mau keberadaan Jeniffer diketahui," ucap Leo dengan setengah frustasi.


"Kamu udah coba tanya Edward? Desas desus dia itu adik satu ayah Jeniffer sudah berkembang di sekolah kita," ujar coach Evan dengan serius.

__ADS_1


"Nah itu juga coach, memangnya coach enggak lihat tampang Edward setelah kejadian itu?" pekik Leo setengah frustasi.


Coach Evan terdiam sejenak untuk mengingat kembali penampilan Edward beberapa minggu terakhir dan dia meringis saat mengingat pemuda itu berpenampilan amburadul dan seenaknya saja.


"Kalau begitu kamu harus memilih, mau terpuruk dalam cinta yang tidak jelas ke mana rimbanya atau bangkit menghadap kenyataan. Lagian masih banyak gadis lain di kota ini. Jangan jadi katak dalam tempurung," tegur coach Evan dengan keras. Dia harus segera menyadarkan Leo agar terlalu lama terpuruk akan kesedihan.


"Baik coach, saya akan berusaha melupakan Jeniffer. Saya percaya jika kami berjodoh pada akhirnya kami akan bersama," ucap Leo membuat coach Evan menggelengkan kepalanya.


"Kamu itu masih sekolah udah mikir kejauhan aja, tugas pelajar itu ya belajar dan mempersiapkan masa depan. Bukan mikirin jodoh," ucap coach Evan sambil menjitak dahi Leo dengan keras.


Leo hanya meringis dan mengusap dahinya dan saat itulah matanya memicing karena melihat seseorang yang dia kenali. Dengan cepat pemuda itu bergegas dah menghampiri meja yang telah berisikan 4 orang pria kantoran itu membuat sang pelatih tersentak karena tindakannya.


"Om yang waktu itu pernah ke rumah Jeniffer, kan? Apa Om tahu sekarang kabar Jeniffer gimana?" dengan impulsif Leo bertanya kepada salah satu pria yang ternyata adalah Joseph.


Tentu saja coach Evan sampai menggelengkan kepalanya saat melihat kenekatan Leo saat ini. Bahkan keempat pria kantoran itu termangu sambil menatap anak didiknya itu.


"Saya juga tidak tahu kabar Jeniffer," ucap Joseph berdusta sebab sang kakak ipar sudah mewanti-wanti agar dia tidak memberi tahukan di mana sekarang Jeniffer bersekolah dan tinggal untuk menghindari dari keluarga Sukmajaya yang ingin mencelakakan gadis itu.


Coach Evan yang melihat suasana mulai tidak kondusif akhirnya memutuskan untuk menyusul Leo dan meminta maaf kepada keempat pria yang kenyamanannya terganggu akibat ulah dari anak didiknya itu.


"Selamat sore, saya Evan, pelatih basket di Lotus Flower Gold High School. Saya minta maaf atas kelancangan salah seorang anak didik saya yang mengganggu waktu makan kalian semua," ucap coach Evan sambil menundukkan kepalanya.


"Lo ini Evan Dinata, kan? Yang pernah sekolah di SMK Taruna Nusantara? Wau sekarang lo jadi pelatih basket, ya?" celetukan salah seorang pria itu membuat pria itu mendongak dan dia terkejut saat mengetahui jika Richard, teman SMAnya sedang berada di tempat yang sama dengan dirinya.


"Richard Limanto?" tanya coach Evan memastikan.


"Iya, gua Richard Limanto, gimana kabarnya sekarang?" tanya Richard.


"Gua sekarang jadi pelatih basket di SMA, oh iya, gua sekali lagi minta maaf atas kelancangan anak didik gua. Leo, cepat minta maaf, lagipula kamu tidak menemukan apa yang kamu cari, kan?" perintah coach Evan yang langsung dituruti oleh Leo.

__ADS_1


"Maafkan saya jika mengganggu kenyamanan Om-om semua, jujur saat melihat Om, kaki saya melangkah sendiri karena merasa Om ini terhubung dengan Jeniffer," ucap Leo dengan lirih.


"Aduh, masih sekolah pikirannya udah cinta-cintaan," ini bukan suara Joseph ataupun Richard, melainkan seorang pria yang berpenampilan agak kemayu dibandingkan keempatnya.


"Memangnya kenapa kalau masih sekolah udah cintanya, koq lo yang ribet, sih," tegur pria yang sejak tadi hanya berdiam diri.


"Ehemm, kalau begitu, kami berdua pamit dulu,ya. Richard, sampai ketemu lagi,"


"Oyyy, nomor handphone lo mana? Jangan ngilang lagi," coach Evan langsung menyebutkan 12 nomor teleponnya yang langsung dicatat oleh Richard.


Sepeninggal keduanya, Richard langsung membuka suara, "Lo sebenarnya tahu kan di mana gadis yang bocah itu cari."


"Gua udah janji sama kakak ipar gua untuk merahasiakan tentang Jeniffer, gadis itu belum sepenuhnya akan," ucap Joseph dengan mengepalkan tangannya.


"Meskipun lo lihat kalau bocah itu kayak mau mampus cari-cari keberadaan gadis itu?" tanya Richard kembali.


"Keselamatan Jeniffer lebih penting daripada cinta monyet dari seorang bocah SMA," ujar Joseph dengan nada dingin.


"Kalau cinta seorang pria dewasa kepada gadis remaja?" tanya Richard yang mencoba memancing reaksi Joseph.


"Apa maksud lo bertanya itu?" tanya Joseph yang mulai merasa tidak nyaman.


"Enggak usah pura-pura bego, deh. Dari mata lo ketara sekali jika lo itu juga punya perasaan terhadap gadis yang di cari oleh bocah itu. Lo kelihatan banget cemburunya," ucap Richard yang langsung membuat Joseph terdiam.


"Jangan gengsi, nanti lo nangis darah kalau tuh gadis diembat sama bocah itu," ejek Richard yang makin membuat Joseph terdiam.


Joseph menghela nafas seakan tidak rela jika bocah itu akan mendekati Jeniffer.


***

__ADS_1


Sementara itu coach Evan langsung memarahi Leo yang bertindak secara sembarangan yang hanya di tanggapi diam oleh pemuda itu. Memang cinta memang dapat membuat orang menjadi bodoh seperti yang terjadi kepada Leo karena saking merindukan Jeniffer.


__ADS_2