
"Jadi Ma, apa yang mesti kita lakukan? Anak Meylani sudah tidak bersekolah lagi di Gold Lotus Flower High School dan tidak ada yang tahu ke mana mereka memindahkan keluarga itu," ucap Verry pada Gilda.
Mereka berdua sedang berbincang di ruang tamu pada sore hari dan tidak menyadari jika Edward menguping pembicaraan mereka. Meskipun dia tidak menyukainya tapi Edward terpaksa melakukannya agar dia dapat mengetahui rencana dari sang nenek dan ayah.
"Oke,berarti kita mesti cari tahu dulu anak sial itu sekolah di mana baru setelah itu kita pikirkan bagaimana cara menyingkirkannya," desis Gilda membuat Edward bergidik ngeri. Dia tidak menyangka sosok yang selama ini lembut dan penyabar ternyata seseorang yang mengerikan seperti ini.
"Hmmm, bukannya anak Meylani itu selegram? Dia punya followers ratusan ribu, kita dapat menyelidiki dari situ dulu, Ma," usul Verry membuat Gilda terdiam dan dahinya berkerut seakan memikirkan sesuatu.
"Jadi anak itu tahu benar ya memakai wajahnya untuk menghasilkan uang," ucap Gilda dengan sinis.
"Sepertinya begitu, terlihat dari produk yang menggunakan jasa anak Meylani itu," ucap Verry kembali.
"Oke Verry, kamu selidiki dulu media sosialnya, pasti ada satu dua petunjuk yang akan membawa kita pada anak sial itu," Edward meneguk salivanya saat mendengar perkataan Gilda.
Dengan cepat dia langsung menuju kamarnya, sudah cukup dia tidak ingin mendengarkan lagi pembicaraan yang berbahaya antara ayah dan neneknya. Apakah besok dia dapat bertemu dengan Joseph untuk memberi tahu pemuda itu?
"Mama, aku harus segera membujuk Mama agar mengizinkan aku pergi keluar," ucap Edward yang bersandar pada pintu kamarnya.
"Aku harus keluar dan bersikap tenang seakan tidak tahu apa-apa," gumam Edward.
Akhirnya Edward berjalan biasa saja meskipun debaran di dalam dadanya semakin menggila. Jadi seperti ini perasaan menyembunyikan sesuatu kepada keluarga sendiri. Pikirnya yang disertai dengan senyuman lirih.
"Edward, kamu kenapa kayak bingung gitu?" Risda yang melihat gelagat aneh sang putra langsung bertanya.
"Ah Mama, buat Edward kaget aja. Dari tadi dicariin ternyata di sini," ucap Edward sambil memegang dadanya akibat terkejut.
"Memang kamu mau apa sampai nyariin Mama?" tanya Risda yang sedang memegang vacum cleaner.
"Edward udah bosan di rumah, mau jalan ke Mall, lagian Ci Jeniffer juga udah pindah sekolah enggak ketemu lagi," ucap Edward sambil memberengut.
Risda terdiam dan memikirkan perkataan Edward, benar juga yang putranya katakan. Apa lagi yang harus ditakutkan jika gadis itu tidak akan bertemu lagi dengan Edward. Dan lagi dia merasa kasihan dengan putranya yang merasa suntuk di rumah.
"Boleh, tapi jangan lama-lama, ya, udah sore juga kan sekarang," ucap Risda
__ADS_1
"Kalau besok aja Edward pergi pas libur, jadi bisa puas lama-lama di Mall, boleh ya?" pinta Edward dengan penuh harap.
"Oh besok perginya, ya sudah boleh. Ed, kamu mau makan apa buat makan malam?"
"Mau makan sayur lodeh," Risda mengerejapkan mata berkali-kali saat mendengar sayur yang diinginkan oleh para Edward.
"Sejak kapan kamu jadi suka makan santan kayak gitu?" tanya Risda yang bingung.
"Sejak di Salatiga, ternyata enak juga santan. Tapi Edward juga tahu diri koq untuk enggak sering makan santan, enaknya sekejap malah ntar nimbun penyakit kalau banyak-banyak,"
"Mama beli santannya dulu, ya, sayur lodehnya mau ditambahin pakai tahu goreng yang coklat itu enggak?" Edward mengangguk sambil membayangkan makanan lezat itu tersaji di depannya.
***
Gilda dan Verry hanya termangu saat melihat Edward yang lahapnya memakan semangkuk sayur lodeh dengan ditemani nasi putih hangat. Bahkan pemuda itu meminum teh hangat tawar, biasanya Edward meminum air hangat atau lemon hangat jika sedang makan.
Tapi sekarang lihatlah ini, nafsu makan Edward seperti orang yang tidak makan selama 3 hari saja. Sungguh amat rakus dalam pengamatan Gilda.
"Edward, kamu kenapa kayak gini kalau lagi makan?" tanya Gilda yang jijik melihat cara makan Edward yang berantakan.
"Maksud Amah kamu kenapa jadi jorok dan berantakan gitu makannya," sahut Verry yang gemas dengan Edward.
"Apanya yang berantakan sih? Enggak ada nasi yang jatuh di atas meja, eggghhhh," Makin ilffel-lah Gilda saat melihat Edward yang bersendawa.
"Edward, kenapa kamu bersendawa saat makan? Itu sangat enggak sopan," pekik Gilda langsung memarahi Edward yang direspon biasa saja oleh pemuda itu.
"Amah, Edward lapar, kalau Amah mau marah-marah nanti saja setelah Edward selesai makannya," ucap Edward yang masih asyik mengunyah makanannya.
"Ini pasti kerjaan anakmu yang itu, dia ngajarin Edward yang aneh-aneh!" jerit Gilda sambil memegang kepalanya yang mendadak migrain.
"Ma, jangan marah-marah, ntar tekanan darah Mama tinggi lagi. Mama kan hampir kena stroke jadi harus hati-hati," tegur Verry yang segera menyodorkan segelas air untuk Gilda.
"Edward makan di dapur aja kalau Amah masih marah-marahnya," ucap Edward yang lantas membawa makanannya ke arah dapur.
__ADS_1
"Lihat itu, karena anak sial itu Edward mulai berubah. Kita harus segera menemukan cara agar anak sial itu segera disingkirkan," pekik Gilda setengah histeris membuat Risda terkesiap.
Tidak puaskah kejadian 9 tahun yang lalu saat mereka menculik Jeniffer dan mengakibatkan villa keluarga Sukmajaya terbakar. Apakah suami dan mertuanya menginginkan ada korban nyawa baru pertikaian ini berhenti? Lagipula Jeniffer adalah bagian dari keluarga ini juga, tapi mengapa seperti musuh saja?
"Ma, Ver, apa tidak berbahaya untuk kalian mencoba cara yang sama dengan 9 tahun yang lalu? Bagaimana jika kali ini ada korban jiwa?"
"Kamu lupa sepertinya, 9 tahun yang lalu juga ada korban jiwa dari teman polisi adik Meylani," ucap Verry dengan nada dingin.
"Maksud kamu, jika korban jiwanya adalah orang lain itu adalah hal yang biasa saja?" tanya Risda dengan menahan emosi.
"Iya, selama kita bisa menyingkirkan anak sial itu. Berapapun korbannya Mama tidak peduli," ucap Gilda dengan mata menyalang.
"Kalian ternyata sungguh kejam, mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri," Risda yang kecewa langsung meninggalkan ruang makan menyusul Edward.
***
Edward sudah mengirim pesan kepada Joseph untuk bertemu di sebuah mall dan pemuda itu menyetujuinya. Meskipun kenyataannya keduanya berpapasan saat keluar rumah, namun mereka sepakat untuk pura-pura tidak mengenal.
"Lucu sekali kita tadi, padahal tujuan sama tapi berangkatnya masing-masing," ucap Joseph sambil tertawa.
"Ya mau bagaimana lagi, Bang, keadaan di rumah semakin ketat, kemarin aku dengar Amah dan Papa mau menyingkirkan Ci Jeniffer kembali," Joseph tersentak saat mendengarnya.
"Menyingkirkan bagaimana?" tanya Joseph sambil menyugar rambutnya.
"Ya disingkirkan intinya dan mereka sedang mencari di mana Ci Jeniffer bersekolah sekarang," ucap Edward sambil menghembuskan nafas.
"Oke, berarti tugas aku adalah menutup akses informasi Jeniffer kepada keluarga kamu termasuk kamu juga. Apakah tidak apa-apa?" tanya Joseph yang melihat Edward menjadi murung.
"Tidak apa-apa, Bang, ini demi keselamatan Ci Jeniffer juga. Tapi bolehkah aku mengetahui bagaimana kabarnya?" tanya Edward dengan menahan rasa sesak.
"Tentu saja boleh karena biar bagaimanapun dia adalah kakak satu ayah kamu," ucap Joseph mengurai senyum.
"Baik, selanjutnya tolong ya, Bang dan jika ada pergerakan lagi dari keluargaku yang mencurigakan aku akan beri tahu Abang," ucap Edward.
__ADS_1
Namun sepertinya mereka tidak menyadari jika pertemuan kali ini diawasi oleh sepasang mata yang menatap keduanya dengan sinis.