
Joseph hanya dapat terdiam saat sang atasan dan teman-teman sekantornya meledeknya karena baru saja menyadari perasaannya terhadap Jeniffer. Dalam hatinya pemuda itu berpikir harus bagaimana dalam melakukan pendekatan terhadap seorang gadis, dia kan belum pernah berpacaran? Mana ada pengalaman seperti itu?
"Joseph, kamu kenapa?" tanya Pak Andre menepuk bahu sang bawahan yang terlihat resah.
"Bapak pakai tanya Joseph kenapa pula? Dia kan udah mengaku kalau suka sama cewek SMA itu, nah, dia bingung gimana caranya pendekatan sama cem-cemannya," celetuk salah satu teman kantor Joseph yang masih tertawa.
Pak Andre langsung membulatkan mulutnya saat mendengarnya.
"Joseph, yang namanya cewek mah mau masih SMA atau udah gede pasti melting kalau dikasih hadiah coklat, bunga sama boneka," usul seorang teman wanita Joseph yang direspon oleh anggukan kepala olehnya.
Tapi setelah dia mengingat, Leo juga pernah memberikan ketiga hadiah itu dan mukanya langsung memberengut membuat semua temannya merasa bingung.
"Lo kenapa lagi sih?" ucap teman yang memberi usul dengan gemas.
"Pantesan aja itu bocah kasih bunga, coklat dan boneka waktu jenguk Jeniffer dulu," ucapan Joseph yang mengandung kekesalan itu menerbitkan tawa di seluruh ruangan itu.
"Joseph, mendingan kamu pulang dulu deh, daripada kerjaan kamu enggak beres karena buyar konsentrasinya," perintah pak Andre saat melihat Joseph makin kacau.
"Lagian kamu sebenarnya udah bisa buat perusahaan software sendiri sama kakakmu, ngapain kamu masih harus kerja jadi bagian IT di perusahaan manufaktur?" pertanyaan yang langsung dijawab cengiran bodoh oleh Joseph..
"Karena saya masih mau berinteraksi sama orang-orang di dunia nyata bukan hanya sekadar dunia maya," ceplos Joseph yang langsung direspon gelengan kepala oleh semua orang yang berada disitu.
"Sana kamu pulang dulu, ketemu sama cewek itu biar otak kamu plong." Perintah Pak Andre.
Joseph tersenyum sebelum kemudian melangkah keluar dari ruangan meeting.
***
Jam menunjukkan angka 14:25 di smartwatch berwarna hitam milik Joseph. Saat ini dia sudah berdiri di pintu gerbang sekolah Jeniffer setelah menelepon Jorgie didepan mata pak Udin agar dapat membawa Jeniffer berjalan-jalan sebentar.
Jorgie pada awalnya merasa keberatan, karena ancaman yang masih mengintai keponakannya. Tapi setelah berpikir-pikir akhirnya dia mengizinkan juga karena adik iparnya itu adalah ahli di bidang IT yang tentunya dapat melacak keberadaan Jeniffer andaikata keluarga Sukmajaya berusaha menculik sang keponakan kembali.
"Om Joseph, tumben ke mari?" tanya Jeniffer yang langsung menghampiri pria pujaannya itu.
__ADS_1
"Saya ke sini buat jemput kamu, udah ngomong juga sama Ko Jorgie," ucap Joseph dengan mengulas senyum manis membuat jantung Jeniffer serasa melompat dari tempatnya.
"Koq, tum-tumben bangeeettt, Om mau jemput aku?" tanya Jeniffer dengan terbata-bata. Gadis itu rasanya tidak percaya jika Joseph akhirnya melakukan hal manis seperti ini.
"Karena saya kangen kamu," Jeniffer terganga saat mendengar Joseph yang merindukan dirinya.
"Om sehat?" Jeniffer langsung merutuki kebodohannya. Bukannya senang karena perasaannya mulai berbalas ini malah bertanya yang macam-macam.
"Saya sehat dan kangen sama kamu. Sekarang ayo kita jalan-jalan, saya udah minta izin juga."Ucap Joseph yang langsung memasangkan helm berwarna pink yang baru saja dibelinya.
"Mau pakai jaket saya, enggak? Angin saat naik motor itu kencang," tawar Joseph saat akan menyalakan motornya.
"Tidak usah, Om,aku bawa jaket cuma malas pakai aja," ucap Jeniffer yang menyodorkan kantung plastik berwarna merah.
"Oke, kita ke mall yang deket apartemen Ko Jorgie aja,ya? Biar pulangnya enggak keburu-buru," usul Joseph.
***
"Paket original aja sama tambahan kentang, Om," jawab Jeniffer yang tertarik saat melihat banner yang terpasang di pintu masuk restoran itu.
"Oke, kamu duduk aja, biar saya yang antri." titah Joseph sambil menunjuk ke sebuah arah yang berdekatan dengan tempat cuci tangan.
Beberapa menit Joseph menyusul Jeniffer dengan sebuah nampan yang berisikan makanan mereka berdua. Jeniffer nampak antusias saat melihat kentang goreng yang masih mengeluarkan uap panas itu.
"Pelan-pelan, Jeni, masih panas itu," tegur Joseph saat melihat Jeniffer meniup jarinya akibat rasa panas yang menyentuh kulitnya.
"Hehehe, udah lapar banget aku, Om," sahut Jeniffer yang mulai mencocolkan kentang ke dalam saus sambal.
"Memangnya enggak makan siang?" tanya Josep yang sedang meminum es tehnya.
"Aku pagi enggak terlalu banyak makan, giliran udah jam 9 baru lapar. Tadi salahnya makannya banyak pas istirahat pertama jadi perut kayaknya begah pas makan siang," ucap Jeniffer yang menikmati makanannya.
"Lain kali jangan gitu, makan secukupnya aja. Ya sudah sekarang makan dulu aja, kalau masih lapar makan lagi di rumah," ucap Joseph yang membuat Jeniffer tertawa.
__ADS_1
"Om, kayaknya aneh kalimat Om yang barusan. Bukannya kalau masih lapar ya makan lagi. Kenapa ini makan lagi di rumah?" sahut Jeniffer setelah tawanya mereda.
"Biar kamu enggak kekenyangan dan melewatkan makan malam. Ini mah cuma makan sore yang selewat aja," ucap Joseph kembali.
"Jadi ntar malam makan lagi?" tanya Jeniffer dengan matanya yang jernih membuat pemuda itu makin terbius akan pesona gadis itu.
"Om, Om Joseph!" pemuda itu tersadar dari lamunannya saat Jeniffer memanggil namanya sedikit keras.
"Eh iya, maaf saya melamun. Kamu mau apa lagi habis makan?" tanya Joseph dengan lembut.
"Maunya sih nonton, cuma ntar pulangnya kemalaman," ucap Jeniffer yang sedikit kecewa.
"Kenapa takut kemalaman? Kan perginya sama saya?"tanya Joseph bingung.
"Tetep aja, Om, sekarang itu udah jam 4 lewat, kalau pas dapat yang sebentar lagi main mending. Nah kalau ada yang jam 6 atau 7 malam gimana? Besok aku kan masih harus sekolah, Om juga masih mau kerja,kan?" Joseph terharu karena Jeniffer memperhatikan hal sekecil itu.
"Bagaimana kalau kita pergi lagi weekend, jadi bisa dari siang juga. Pulang jam 7 malam juga kayaknya masih puas,"
"Om, PRJ Kemayoran bukannya buka buka besok, ya? Gimana kalau kita ke sana aja? Temenku ada kakaknya yang kerja jadi SPG sebulan full di sana," ucap Jeniffer sambil menepuk punggung tangan Joseph dengan antusias.
"Oh PRJ, ya? Ah, kantor saya juga ikutan andil jualan di sana. Sepertinya saya nanti juga harus ke sana juga," ucap Joseph saat mengingat hasil meeting tadi.
"Ya, berarti enggak bisa ke sana sama, Om, dong?" ucap Jeniffer lesu.
"Siapa bilang enggak bisa, itu kan enggak setiap hari ke PRJnya, ada jadwal-jadwalnya. Kayaknya saya di minggu ketiga deh," ucap Joseph yang selesai mengunyah makanannya. Dia meneguk sampai tenggorakannya merasa lega lalu beranjak untuk mencuci tangan.
"Om, udah selesai? Aku belum nih," ucap Jeniffer yang akhirnya mengunyah cepat dan menghasilkan batuk-batuk pada gadis itu karena tersedak.
"Pelan-pelan, Jeni, saya kan cuci tangan doang. Enggak ninggalin kamu," ucap Joseph yang menepuk punggung gadis itu untuk membantunya.
Jeniffer seperti tersengat listrik saat tangan Joseph mengenai punggungnya yang masih tertutupi oleh pakaian dan pemuda itu pun menyadari reaksi tubuh dari keponakan kakak iparnya.
'Ini bahaya! Gua enggak boleh berduaan di tempat sepi sama gadis ini,' ucap Joseph memperingatkan dirinya.
__ADS_1