
"Sudah jangan di lihatin saja, kalau suka cepat nyatakan perasaan kamu." Ucapan dokter wanita pun menyadarkan Leo dari lamunannya.
Dengan cepat pemuda itu menghisap kasar wajahnya dan menatap lawan bicaranya itu.
"Sayangnya dia kalau ketemu saya marah-marah mulu dok? Bagaimana saya mau mengungkapkan perasaan saya kalau begitu?" tanya Leo sambil tersenyum kecut.
"Kamunya kali yang buat dia kesel makanya dia marah-marah mulu. Kalau suka jangan diajak berantem mulu." sahut si dokter sambil tertawa.
"Habisnya dia bereaksi kalau saya marah-marah kalau saya diam dia seakan tidak mengenali saya dok." keluh Leo sambil menghembuskan nafas kasar, sekilas dia melirik ke bed Jeniffer yang masih memejamkan matanya.
"Tidak mengenali kamu bagaimana maksudnya?" tanya sang dokter penasaran.
"Contohnya, sore kemarin kami bertemu dan sempat bertengkar. Namun anehnya pada pagi tadi Jeniffer melewati saya seakan tidak pernah terjadi masalah antara kami." sang dokter terdiam sejenak saat mendengar perkataan Leo.
"Dan tadi menurut Mister Alvin saat akan menyuruh Jeniffer turun dari pagar sekolah, dia masih bisa menjawab tapi dalam hitungan detik langsung berubah. Yang awalnya berani jadi takut dan lemas." makin terdiamlah si dokter, ingin menyimpulkan tapi dia masih ragu.
"Mungkin Jeniffer kecapekan makanya dia tidak melihat kamu pada tadi pagi. Bukankah banyak orang yang seperti itu, hilang konsentrasi saat sedang prima?" akhirnya sang dokter mengemukakan alasan yang paling masuk akal saat ini.
Lebih baik dia cepat berkonsultasi dengan para senior dan Professor untuk kasus Jeniffer ini agar hatinya menjadi tenang.
"Oh iya juga sih dok, waktu saya kecapean bener-bener rasanya seperti blank otak ini." ucap Leo menyetujui pernyataan sang dokter..
"Terus kapan Jeniffer sadarnya dok? Ini sudah hampir 1 jam."
"Dia hanya kelelahan dan tidur, setelah istirahat yang cukup Jeniffer akan bangun." Jawab sang dokter.
Baru saja dokter itu berbicara, Jeniffer sudah menggeliat gelisah di ranjang UKS itu. Baik Leo dan sang dokter langsung menoleh kearahnya. Leo hanya terdiam di bangku saat Jeniffer mulai melen*uh pelan.
"Kamu sudah sadar rupanya? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya sang dokter, Jeniffer terdiam sejenak mengumpulkan informasi di dalam otaknya.
"Rasanya jauh lebih baik dok." jawab Jeniffer singkat.
"Syukurlah sebab pemuda yang di sana itu sangat mencemaskan kamu waktu di bawa dalam keadaan pingsan dan pucat."
__ADS_1
Jeniffer hanya terdiam udah tahu harus menanggapi apa, dia tidak mengenal pemuda berkulit gelap karena sering terpapar sinar matahari. Namun melihat sekilas, Jeniffer menilai bahwa dia tidak berbahaya layaknya di ceritakan oleh Jessi. Ah mengingat Jessi ingin rasanya Jeniffer mengumpati pribadi keduanya itu yang bisa-bisanya 'tidur' saat dirinya sedang berada di tengah ketinggian seperti itu.
Dia merasa akhir-akhir ini Jessi bertingkah sangat menyebalkan, seakan dia memiliki tujuan sendiri tanpa sepengetahuan Jeniffer.
"Kenapa menghela nafas seperti itu?" pertanyaan yang membuat Jeniffer terkejut. Dia terlalu banyak melamun rupanya.
"Saya tiba-tiba teringat mau makan batagor." jawab Jeniffer asal.
"Biar gua beliin." tawar Leo.
"Ga usah, aku udah ga apa-apa. Justru keadaan kaki kamu yang tidak baik-baik saja. Apa itu karena nolongin aku?" Leo tersentak saat mendengar perkataan Jeniffer, mengapa saat ini dia sangat lembut dan tidak menunjukkan mode sangar sewaktu berbicara dengannya.
"Jeni, lo masih sakit?" tanya Leo penasaran.
"Memangnya kenapa?" tanya Jeniffer balik.
"Gua merasa lo ini aneh. Seakan-akan ini bukan lo yang sebenarnya."
Deggghhh, jantung Jeniffer langsung berdebar kencang. Apakah ini maksud dari Jessi agar menghindari Leo, karena pemuda itu memiliki tingkat kepekaan yang lebih tinggi dari kebanyakan orang.
"Semoga aja dia ga curiga. Aduh beneran gua mesti hindarin itu cowok." gumamnya dengan pelan.
'Kan gua bilang apa, lo nya aja yang ga percaya.'
'Jessi akhirnya kamu keluar juga. Dasar bisa-bisanya kamu tidur saat lagi di atas pagar seperti tadi. Kamu lupa kalau aku takut dengan hal seperti itu.' ocehan Jeniffer yang panjang hanya ditanggapi oleh senyum mengejek oleh Jessi.
'Gua penasaran dengan reaksi guru BK itu, jadi gua tidur deh.' ucapnya santai.
'Dasar sinting! terus bagaimana kita menghindari cowok itu?" maki Jeniffer.
'Ya paling kaya kucing-kucingan aja sekarang kita jangan sampai berpapasan dengan cowok sengak itu.' jawab Jessi dengan entengnya.
"Susah ngomong sama kamu, aku mau beli batagor dulu." Jeniffer pun memutuskan komunikasinya dengan Jessi.
__ADS_1
Kring Kring Kring
Suara dering smartphone-nya membuat Jeniffer berhenti melangkah, dia merogoh saku roknya dan mengambil benda pipih itu. Nama Camelia pun terlihat.
"Ada apa pho?" tanya Jeniffer setelah mendapatkan tempat duduk di lorong lantai 1 sekolah ini.
"Phopho mau ingetin jangan sampai lupa packing 3 hari lagi kan mau pergi ke Belanda." oh iya benar juga, dia tinggal menghindari Leo selama 3 hari ke depan. Setelah dia akan mengambil izin seminggu, semoga saja selama di negara kincir angin itu dia akan lebih banyak kesempatan itu berbicara dengan Joseph.
"Iya pho, ntar malam Jeniffer mulai packingnya. Sekarang Jeni mau ke kantin dulu beli minum." ucap Jeniffer penuh dusta. Tidak mungkin dia mengatakan akan membeli batagor pada sang nenek bukan? Yang ada Camelia akan marah kepada dirinya.
"Iya sudah sana cepat beli dan balik kelas." Jeniffer menghela nafas km lega, setidaknya Mister Alvin tidak mengatakan kepada Camelia perihal dirinya yang memanjat pagar sekolah dan berakhir pingsan.
***
Seperti yang dikatakan oleh Jessi, Jeniffer pun menurut. Saat dia melihat Leo, Jeniffer akan berlari sekuat tenaga agar tidak dapat terkejar oleh pemuda jangkung yang menjabat sebagai kapten basket itu.
Dari informasi yang didapatkan oleh beberapa teman sekelasnya. Jeniffer tahu bahwa nama lengkap pemuda itu adalah Leonardi Stevanus kelas 11.IPA.I. Yang artinya mereka adalah seangkatan meskipun tidak sejurusan. Jeniffer mengambil jurusan IPS, karena dia berniat melanjutkan kuliahnya di bidang Seni.
"Jeniffer, gua perhatikan akhir-akhir ini aneh?" tanya Laura teman sekelasnya yang lumayan akrab.
"Aneh bagaimana maksud kamu?" tanya Jeniffer balik.
"Iya aneh, kemarin padahal udah nyampe kantin ekh malah balik badan dan lari kencang. Kayak menghindari sesuatu atau mungkin seseorang?" tanya Laura dengan mata memicing.
Jeniffer tersenyum bodoh, bagaimana mungkin dia mengatakan menghindari Leo, salah satu cowo most wanted di sekolah ini. Bahkan rencananya mengerjai Edward harus tersingkirkan sementara ini demi menghindari hal-hal yang tidak dia inginkan.
"Kemarin kan kamu lihat kalau kantin penuh jadi ya balik arah dan tiba-tiba gua kebelet pipis ya gua lari lah daripada ngompol." ucap Jeniffer berkelit. Kemampuan yang diajarkan oleh Jessi kepadanya.
"Oh iya bener juga ya jangan sampai ngompol. Yang ada jadi aib seumur hidup." ucap Laura sambil mengangguk.
"Eh itu ada Leo." pekikan suara para murid perempuan menyadarkan alarm Jeniffer, dia harus segera kabur dari sini.
"Lau, gua mau ke toilet, kebelet." ucapnya sambil berteriak, namun sayangnya Leo sudah memindai gadis itu dengan mata elangnya.
__ADS_1
Akankah Jeniffer dapat lolos dari Leo kali ini?