Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
81. Hati nurani seorang ayah


__ADS_3

Stanley dan Jorgie mendengar kabar Jeniffer diculik tentu saja berang bukan main. Keduanya terutama Jorgie menyesali kecerobohannya yang melonggarkan pengawasan terhadap sang keponakan. Harusnya dia tahu jika keluarga Sukmajaya tidak akan pernah melepaskan Jeniffer yang sudah membawa kabur Edward.


Aster hanya dapat menenangkan hati sang suami melalui belaian lembut di punggungnya. Sementara Joseph hanya dapat terpekur karena merasa bersalah saat Jeniffer diculik di depan matanya. Bahkan pak Andre sampai memberikannya izin beberapa hari hingga kondisi fisik dan mental Joseph kembali pulih.


Edward yang mengetahui dari Joseph jika sang kakak diculik langsung mencurigai keterlibatan sang nenek dan ayah dalam kasus ini. Dia ingin menemui pemuda itu untuk membicarakan lebih lanjut namun sayangnya tidak ada satupun panggilan yang di terjawab setelah dia mengabarkan berita itu.


"Mama, apa Mama tahu kabar tentang penculikan Ci Jeniffer?" tanyanya saat Risda sedang memasak.


Sontak saja wanita itu melempar wortel dan pisau yang sedang dipegangnya dan menuju ke arah Edward yang memandangnya dengan aneh.


"Kapan kejadiannya, Nak?" tanya Risda dengan tangan bergetar.


"Kejadiannya dua hari yang lalu, Ma, Edward tahu dari Bang Joseph," jawab Edward yang mencoba menenangkan sang ibu dengan mengusap tangannya lembut.


"Joseph?" Risda bingung karena belum pernah mendengar nama itu.


"Joseph Zedekiah, rumahnya jarak 2 rumah dari kita, Ma," Risda langsung mengingat pemuda tampan berpakaian kantor yang memang sering dilihatnya.


"Oh, dia yang namanya Joseph? Mama baru tahu," ujar Risda sambil mengangguk.


"Ma, Ada kemungkinan nggak sih kalau ini kerjaan Amah dan Papa?" tanya Edward dengan berbisik seakan takut jika pembicaraan mereka terdengar keluar rumah.


"Sepertinya memang iya, Nak, soalnya mereka sudah merencanakan akan menyingkirkan Jenifer kembali," ucap Risda setelah menghembuskan nafas berkali-kali.


"Mama setuju dengan ide mereka?" dengan menatap tajam mata sang ibu.


"Tidak, Mama sebenarnya merasa bersalah dengan Jeniffer. Anak itu tidak bersalah, yang salah hanyalah pemahaman orang dewasa hingga menjadikannya korban," Edward termangu saat mendengar nada penyesalan yang keluar dari mulut Risda.


"Terus kita harus bagaimana, Ma?" Edward merasa pusing dengan kejadian yang begitu cepat ini.


"Tentu saja kita harus menemukan Jenifer secepat mungkin," itu bukan suara Risda melainkan Verry yang membuat kedua orang itu menoleh dengan pandangan bingung.


"Kenapa Papa bisa ngomong kayak gitu?" tanyain buat sambil memicingkan matanya tanda curiga.

__ADS_1


"Papa jujur saja resah saat melihat tatapan me*um para pria berbadan tegap itu terhadap Jeniffer. Sejahat-jahatnya Papa, tidak mungkin bukan membiarkan anak gadis sendiri menjadi korban pele*ehan orang yang tidak dikenal," ucap Verry dengan lirih.


Semalaman dia tidak dapat tidur karena membayangkan wajah Jeniffer yang memohon padanya untuk diselamatkan dari jemahan tubuh pria-pria berbadan tegap itu.


"Pa, ini sudah dua hari loh, apa ada kemungkinan Ci Jeniffer selamat dari para pria bren*sek itu?" tanya Edward yang mulai menangis.


"Sejauh ini aman, Amah kamu yang kasih lihat kondisi Jeniffer yang masih utuh pakaian dan tidak ada luka di sekujur tubuhnya," jawab Verry lirih.


"Kenapa Amah tidak mau memberitahukan posisi Ci Jeniffer kepada Papa? Bukankah kalian dari awal bersekongkol untuk menyingkirkan dia?" cecar Edward yang tidak puas akan jawaban sang ayah.


"Entah, mungkin Amah kamu merasa jika Papa sudah mulai khawatir dengan Jeniffer, jadi dia menutup akses informasi kepada Papa,"


"Ini tidak bisa dibiarkan aku harus segera bertemu Bang Joseph," ucap Edward yang langsung berlari ke arah rumah Zedekiah.


Tok tok tok


Karina terkejut saat mendengar pintu rumah yang diketuk secara kasar dan segera membuka pintu depan dan melihat seorang pemuda dengan wajah cemas dan menangis berdiri di sana.


"Ada tapi Joseph lagi kacau, tidak bisa ditumbuhi siapapun," jelas Karina.


"Amah, ini penting mengenai Ci Jeniffer, kalau kita terlambat menolongnya maka tubuhnya akan menjadi sasaran para pria bren*sek itu," jerit Edward yang kemudian menangis kencang.


"Masuk dulu, tenangkan diri kamu dan ceritakan secara perlahan. Biar Amah panggilkan Joseph dan kita cari solusinya sama-sama," ajak Karina sambil memapah tubuh pemuda yang mulai terlihat lunglai itu.


Karina menyediakan teh chamomile agar Edward merasa lebih rileks sebelum dia memanggil Joseph untuk turun menuju ruang tamu. Awalnya pemuda itu tidak mau menemui Edward tapi karena Karina menceritakan apa yang dikatakan oleh Edward membuat Joseph langsung berlari menemui adik dari sang kekasih.


"Jadi bagaimana Kamu tahu jika Jennifer akan menjadi sasaran empuk dari para pria baji*gan itu?" tanya Joseph dengan berapi-api.


"Papa yang ngomong," Joseph dan Karina terkejut saat mengetahui jika Verry yang memberitahukan sang putra tentang rencana Gilda.


"Kenapa baru sekarang saat Jeniffer diculik? Kenapa tidak kemarin-kemarin saja hati nuraninya berfungsi," sentak Joseph membuat Edward terkesiap.


"Joseph Zedekiah! Tenangkan dirimu, emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Justru kita harus bersyukur karena ternyata papanya Jeniffer sudah sadar dan mengakui kesalahannya," tegur Karina buat Josep tertunduk.

__ADS_1


"Maaf, Ma, sekarang kita harus bagaimana?"


"Alat pelacaknya Jeniffer masih ada kan?" tanya Karina memancing sang putra.


"Joseph bodoh, kenapa mesti tunggu 2 hari. Mestinya langsung pantau lewat GPS," Joseph merutuki kebodohannya, andai saja apa-apa dengan sang kekasih makan dia tidak akan memaafkan dirinya seumur hidup.


"Sekarang cepat kamu lacak keberadaan Jeni dengan GPS itu, kita harus memberitahukan kakakmu dan keluarga Kakak iparmu juga,"


"Maaf mengganggu apakah saya boleh ikut menyelamatkan putri saya?" ketiga orang itu terkejut akan kehadiran Verry yang disusul oleh Risda di belakangnya. Sepertinya Karina lupa menutup pintu garasi dan depan sehingga membuat kedua orang ini masuk dengan leluasa.


"Mau apa Papa ke sini?" desis Edward saat melihat sang ayah yang semakin mendekat.


"Sudah Papa bilang kalau Papa juga ingin menyelamatkan putri Papa dari cengkraman orang lain jahat itu," ujar Verry dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Silahkan duduk," sebagai tuan rumah, karena harus bersikap sopan bukan?


Keduanya lantas mendudukkan bokongnya di lantai karena Joseph mulai menyalakan laptopnya. Sebenarnya perasaan Joseph juga sama dengan Edward yang tidak mempercayai niat baik dari Verry, tapi keselamatan Jeniffer jauh lebih penting daripada kecurigaan itu.


"Saya menyesal karena terlalu mempercayai mitos dan perkataan dari orang yang lebih tua di keluarga saya jika anak perempuan pertama itu akan membawa kehancuran," Karina hanya memperhatikan saja saat Verry mulai bercerita tanpa ada niatan untuk memotongnya.


"Sekarang saya merasa sudah mendapatkan balasan dari Tuhan putri saya terancam menjadi korban pele*ehan dari para pria me*um yang menatap Jeniffer dengan penuh bi*ahi," lanjutnya kembali.


.


"Benar Papa sudah menyesali perbuatan Papa?" tanya Edward yang masih tidak percaya.


"Darah lebih kental daripada air, Nak, tetap saja perasaan seorang ayah itulah yang lebih menang jika melihat darah dagingnya dalam masalah," ujarnya kembali.


"Kenapa tidak dari dulu Anda melakukannya? Kenapa harus sekarang saat Jeniffer terancam bahaya baru hati nurani Anda sebagai ayah baru muncul?" tanya Joseph yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Joseph, kendalikan amarah kamu! kamu harus fokus biar dapat menemukan dan menyelamatkan Jeniffer, calon menantu Mama," Verry terkejut saat mengetahui kenyataan jika sang putri sudah memiliki pacar.


"Saya juga tidak tahu kenapa hati nurani saya sebagai ayah baru muncul sekarang," ucap Verry lirih dan menyesali kebodohan yang telah dilakukannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2