Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
73. Leo yang kembali semangat


__ADS_3

"Jadi lo kenal sama anak-anak didik Om Evan?" tanya Helen dengan nada bingung.


"Helen, sudah berapa kali aku bilang jangan panggil om,aku jadi berasa om girang tahu enggak," gerutu Evan membuat Leo dan yang lainnya tertawa.


Jeniffer tertawa dalam hatinya saat melihat interaksi keduanya dan menyimpulkan jika bahwa sebenarnya coach Evan juga memiliki perasaan yang sama dengan Helen. Hanya saja pemuda itu sepertinya merasa sungkan dengan panggilan om tersebut.


'Dasar Helen, gimana dia enggak dianggap anak kecil sama coach Evan kalau manggil om kayak gitu,' ucap Jeniffer dalam hati.


"Wah, baru kali ini lihat coach Evan ngambek," canda salah orang anggota klub basket.


"Sudah sudah bercanda lagi, Helen dan Jeniffer ayo duduk jangan berdiri saja." ucap coach Evan sambil kursi yang berada di sebelah kiri miliknya.


Leo yang ingin duduk di sebelah Jennifer meminta salah seorang teman klub basketnya untuk bergeser yang tentu saja ditanggapi oleh Omelan dari sang teman.


"Jeniffer, duduk sini," pinta Leo sambil melambaikan tangan ke arah gadis yang menatapnya tajam.


'Jessi, nih ada cowok yang naksir lo, mau keluar gantiin gua enggak?' ucap Jennifer memanggil pribadi keduanya itu.


'Ogah banget, gayanya sok ganteng banget,' desis Jessi yang langsung 'menidurkan' dirinya.


"Kalian berdua mau makan apa?" tanya coach Evan saat pelayan datang ke meja mereka.


"Kayaknya saya mau makan mie goreng seafood pedas aja deh, coach," jawab Jeniffer setelah melihat-lihat menu yang tersedia.


"Oke, kalau kamu mau makan apa?" tanya coach Evan dengan lembut sehingga membuat siapapun di tempat ini mengetahui perasaan pria itu kepada Helen.


'Bearti Helen aja yang enggak peka, coach Evan udah ketahuan BUCIN banget ini,' keluh Jeniffer dalam hatinya.


.


"Mau makan mie goreng seafood juga kayak punya Jeniffer," ucap Helen dengan manja membuat Jeniffer rasanya ingin mual saat ini juga.


"Enggak boleh yang pedes-pedes, ntar maag kamu kumat," ucap coach Evan dengan sabar.


"Marahin aja coach, tadi di sekolah makan bakso sampai 5 sendok sambelnya," sahut Jeniffer yang timbul niat isengnya.

__ADS_1


"Benar itu yang dibilang sama Jeni?" tanya coach Evan dengan mata menyalang tajam.


"Be-benar, Om, cuma aku langsung makan yang manis dan dingin buat ilangin rasa pedasnya," cicit Helen dengan kepala tertunduk.


Seketika Jeniffer merasa bersalah karena sudah terlalu banyak bicara. Namun karena ini jugalah dia tahu jika Helen bermasalah dengan maagnya jika mengkonsumsi makanan pedas berlebihan.


"Ya sudah, kamu boleh makan mie goreng seafood tapi pedesnya sedang dan satu lagi jangan panggil Om, aku ini teman mas kamu. Masa Adrian kamu panggil Mas, aku kamu panggil Om," Jeniffer dan yang lainnya tak lama menahan tawanya saat mendengar permintaan dari sang pelatih basket itu.


"Jadi maunya dipanggil apa?" tanya Helen dengan menahan tangisannya.


"Samain kayak kamu manggil Adrian," ucap coach Evan dengan tegas.


"Dasar Helen enggak peka," ucap Jeniffer yang jengah melihat gadis itu tidak peka.


"Jeniffer, kamu sekolahnya sekarang di SMA Pelita Abadi?" tanya Leo yang melihat logo di kantung kemeja Jeniffer.


"Iya dan gua udah pakai kacamata bulet loh, kenapa kalian masih ngenalin gua?" tanya Jeniffer yang akhirnya melepas benda itu.


"Lo kan sering posting dengan berbagai gaya dan jenis kacamata, jadi gimana kita enggak ngenalin lo," sahut salah seorang teman yang Jeniffer lupa siapa namanya.


"Ckckck, kegabutan gua ternyata tidak bisa menolong gua sekarang," keluh Jeniffer.


"Jadi gimana kabar lo?" tanya Leo memulai percakapan.


"Biasa aja kabar gua dan gua jamin setelah ini hidup gua akan berubah luar biasa bahkan hampir binasa lagi setelah ini," ucap Jeniffer menatap tajam Edward yang kebetulan duduk di depannya.


"Ci Jeni," panggil Edward lirih.


"Sepertinya lo sudah tahu semuanya," kata Jeniffer dengan nada tajam yang hanya di respon angguk kepala oleh Edward.


"Maaf Ci, tapi yang Cici katakan itu memang benar dan aku hanya mengingatkan supaya Cici hati-hati," ucap Leo dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Tenang saja nyawa gua ada 9 koq semenjak kejadian 9 tahun lalu. Gua enggak akan mudah untuk disingkirkan begitu saja," ucap Jeniffer membuat Edward tertegun.


Apakah yang dihadapannya adalah Jeniffer atau Jessi? Tapi bukankah menurut Josep, kakaknya sedang menjalani terapi agar Jessi alias pribadi kedua Jeniffer tidak kembali terbangun? Pikirannya langsung membersitkan beberapa ide gila.

__ADS_1


"Ini benar Ci Jeni kan?" tanya Edward dengan takut-takut.


"Tentu saja ini gua," sahut Jeniffer yang semakin membuat Edward resah. Nada suara dingin dan jutek itu adalah ciri khas dari Jessi. Mungkin setelah ini dia harus berkomunikasi dengan Joseph.


"Ed, jangan terlalu tegang, Jeniffer kan bilang kalau dia ini ya Jeniffer, kenapa kamu mempertanyakan identitasnya?" tanya Leo yang tentu saja tidak mengetahui perihal mengenai penyimpangan pribadi dari gadis yang disukai olehnya.


Edward akhirnya hanya dapat memendam keresahannya selama di restoran karena seluruh teman satu klub mendukung apa yang dikatakan oleh Leo. Pemuda itu tidak menyalahkan kakak kelasnya karena Leo sedang jatuh cinta dan biasanya bego kalau terkena virus cinta.


"Sepertinya lo kangen sama gua,ya?" tanya Jeniffer dengan seringai jahil di wajahnya.


"Kita semua kangen lo koq,Jeni," celetuk salah seorang yang lagi-lagi tidak Jeniffer ketahui namanya.


Jeniffer menghela nafas kesal dan memutuskan untuk berhenti menggoda Edward lagi, dia sengaja berakting seperti Jessi untuk melihat reaksi adik tirinya. Namun Leo dan teman-teman sekolah lamanya nampak antusias sekali melihat dirinya.


Sepertinya dia harus memberitahu kepada Jorgie jika persembunyiannya telah diketahui. Dan bagaimana caranya agar keluarga Sukmajaya tidak dapat menyentuh dirinya kembali.


"Jeni, sekarang suka makan pedas,ya?" tanya salah seorang teman sekolah lamanya yang membuat Jeniffer jengkel.


Untungnya Edward menangkap perubahan raut wajah Jeniffer dan segera berinisiatif untuk mengambil alih pembicaraan.


"Memangnya enggak boleh apa orang yang dulu suka manis sekarang jadi suka pedes. Bukannya selera orang yang" tanya Edward dengan nada heran.


"Iya juga sih, gua juga pernah suka banget sama rujak ekh sekarang lihat rujak udah eneg," Edward menghela nafas lega karena ada satu orang menyambar umpannya.


Coach Evan dan Helen yang tentu saja asyik berdua tidak memperhatikan yang terjadi di sekitar Jeniffer.


"Jeniffer, boleh gua jemput lo pulang sekolah mulai besok?" tanya Edward mencoba peruntungannya.


"Gua diantar jemput sama supir, kalau enggak Aqiu gua bisa marah," ucap Jeniffer jujur.


Memang benar Jorgie menyediakan supir yang berjaga di sekolah baru Jeniffer untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Bahkan sekarang kalung, jam dan sepatu gadis itu dipasangi GPS yang dapat mengetahui dimana keberadaan gadis itu.


"Kalau gua ngomong sama Aqiu lo boleh enggak,ya?" tanya Leo kembali.


"Aqiu gua sudah ditemui orangnya. Dia udah mau persiapan jadi CEO gantiin Akhung gua," ucap Jeniffer yang masih menolak Leo

__ADS_1


"Oke, kalau gitu asalkan ada izin Akhung dan Aqiu lo berarti boleh dong,ya?" ucap Leo yang menyalah artikan ucapan Jeniffer.


Jeniffer menghela nafas panjang memikirkan cara untuk lepas dari Leo yang sama sekali tidak disukai olehnya.


__ADS_2