
Sepeninggal Edward, Jessi langsung menendang meja pertanda dia sedang kesal, suasana di dalam kelas pun masih mencekam. Tidak ada satu pun yang berani mengganggu Jeniffer jika tidak ingin bernasib sama dengan sang adik kelas.
"Mengganggu ketenangan orang saja." maki gadis itu dengan suara kencang.
'Jessi, sudah jangan marah-marah lagi, mending kamu balik masuk aja. Aku jadi ngerasa panas kalau kamu marah-marah seperti itu.' bujuk Jeniffer yang memang merasakan panas di sekujur tubuhnya.
'Oke, gua masuk sekarang.' Jeniffer menghela nafas lega karena Jessi menurut padanya.
Dengan segera keduanya bertukar posisi kembali. Jeniffer memutuskan untuk ke kantin untuk makan perutnya kembali lapar saat menyaksikan pertengkaran Jessi dan Edward. Semangkuk bakso dengan mie instan rasa kari dan teh botol yang dituangkan ke dalam gelas yang berisi penuh es batu pun menjadi pilihan Jeniffer.
'Mulai hari ini, lebih baik lupakan kesan imut dan girly yang di tunjukkan oleh lo. Gua udah membuat kesan sangar dingin dan di takuti orang-orang. Jadi ga usah manis-manis kalau ngomong sama orang.' sela Jessi saat Jeniffer akan menyuapkan makanan ke dalam minum.
Jeniffer langsung tersedak akibat rasa terkejut itu, akibatnya dia terbatuk-batuk. Dengan cepat gadis itu mengambil gelas yang ada di depannya dan meneguknya beberapa kali guna meredakan rasa pedas di tenggorokan.
'Jessi mah kebiasaan, selalu mendadak munculnya. Untung aja aku ga lama tersedaknya.' omel Jeniffer yang hanya di tanggapi tawa yang menyebalkan oleh Jessi.
'Mending aku jangan marah-marah dulu, ntar sore mau ke rumah Om Joseph.' ucap Jeniffer lalu menghabiskan sisa m bakso yang ada di mangkuknya.
***
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu oleh Jeniffer tiba, apalagi jika bukan bel pulang sekolah. Kali ini Jeniffer di antar jemput oleh supir karena Jorgie yang biasa melakukan itu sudah menikah dan keluar dari rumah Stanley.
"Pak Pur, kata Phopho kita ke rumah Ai Karina. Ini alamatnya." kata Jeniffer sambil mengulurkan smartphone yang menunjukkan percakapannya antara sang nenek.
Supir berusia awal 50 tahunan itu mengangguk tanda mengetahui daerah yang dimaksud, Jeniffer sampai di kediaman Karina setelah 45 menit berkendara dan berjibaku dengan lalu lintas yang sudah semakin padat di sore hari ini.
__ADS_1
Karina menyambut Jeniffer dengan antusias, rasanya wanita itu kembali mendapatkan teman berbicara semenjak Aster sang putri sudah menikah lagi dan Joseph yang semakin sibuk dengan pekerjaan kantor dan freelance yang digelutinya.
"Jeni sayang, kamu bawa apaan?" tanya Karina saat melihat gadis belia itu menenteng sebuah plastik berwarna hitam.
"Ini kue buatan Phopho, kemarin malam baru buat." ujar Jeniffer sembari mengulurkan plastik berisi kue itu ke tangan Karina.
"Oh, tadi pagi Phopho kamu ada telepon Ai, katanya kuenya kamu juga yang buat." sahut Karina sembari mengeluarkan kue yang ternyata berjumlah 3 toples itu.
"Ah, Phopho koq malah dibilangin. Aku jadi malu, abis kue aku ga seenak buatan Phopho." ucap Jeniffer malu-malu membuat Karina tersenyum dibuatnya, sementara Jessi hanya mencibir kelakuan gadis yang sedang bucin itu.
"Namanya juga baru pertama kali buat kue, Jeni. Masa mau langsung pinter, semua ada prosesnya, nah yang toples ini pasti buatan kamu, kan?" tebak Karina saat melihat sebuah toples yang bentuk kuenya tidak beraturan.
"Iya Ai. Itu buatan aku." ucap Jennifer dengan mengurai senyum malu karena melihat kue buatannya ternyata ikut diberikan kepada Karina.
"Jeni, ini enak loh. Ga kemanisan dan renyahnya pas." puji Karina membuat Jeniffer tersipu malu.
"Terima kasih, Ai. Cuma yang masukin kue ke dalam oven ya Phopho, aku belum tahu cara atur suhu dan waktunya." aku Jeniffer sambil menundukkan wajahnya.
"Ya, besok-besok bisa belajar lagi atur suhu dan waktu di oven. Dan kalau kamu terus ikutin resep yang ada, kue buatan kamu ga bakal gagal." ujar Karina
"Wangi apa ini?" Jeniffer langsung bertanya kepada Karina saat wangi dari sesuatu yang belum pernah di ciumnya merebak.
"Oh, Ai lagi nyoba resep baru, sup bebek ala Taiwan. Entah rasanya enak atau ga, trus alot apa ga daging bebeknya. Mau ikut ke dapur?" tawar Karina yang langsung ditanggapi antusias oleh Jeniffer.
Karina mengangkat panci berisi sup bebek itu ke meja dapur yang telah dialasi tatakan agar tidak menimbulkan bekas. Jeniffer langsung menuangkan sup itu ke mangkuk kecil dan segera menghirup kuahnya. Rasa gurih bebek bercampur rempah-rempah pun langsung terasa di kerongkongannya, efeknya gadis itu merasa tubuhnya sedikit hangat.
__ADS_1
"Wah, ini enak banget Ai. Gurih dan ga amis bebeknya, Phopho ga pernah masak bebek karena takut alot dan amis." pujian Jeniffer membuat Karina tersenyum dan membayangkan betapa senangnya memiliki seorang anak perempuan lagi yang menemani dirinya saat kesepian melanda.
"Kalau suka makan yang banyak, Nak. Kamu ini lagi masa pertumbuhan, jadi jangan diet yang ga jelas. Nikmati dulu apa yang kamu bisa makan sekarang, sebelum kamu ga bisa makan." ucap Karina sembari mengusap rambut panjang Jeniffer.
"Kenapa mesti ada waktunya ga bisa makan?" tanya Jeniffer bingung.
"Maksudnya, kalau kamu sudah lewat masa pertumbuhan itu baru mulai mikir diet dan pasti ada pantangan makan." jawab Karina, sembari mengingat sang putri yang tidak boleh memakan sesuatu padahal sangat ingin karena Aster sedang melakukan diet.
"Masih tetep ga ngerti." sahut Jeniffer lagi.
"Ya sudah kalau ga ngerti, nanti ada saatnya kamu ngerti. Sekarang makan yang banyak,tubuh kamu masih perlu banyak nutrisi untuk pertumbuhan." Jeniffer pun mengangguk dan mengambil lagi sup bebek yang akan menjadi kegemarannya mulai saat ini.
"Ai, aku mau story di IG ya. Mau bilang kalau sup bebek buatan Ai itu enak banget, ga kalah sama buatan restoran China." ucap Jeniffer antusias.
"Ga usah, Jeni. Ai ga pede loh, tapi memang ga salah yang kamu bilang. Papanya Joseph kan buka restoran dan yang ikut masak juga sesekali. Jadi Aku ngambil resepnya ya dari Papanya Joseph." Jeniffer mengangguk saat Karina selesai berkata.
"Ah, ga apa-apa, Ai. Sesekali masuk story IG, biar terkenal." ujar Jeniffer mulai menyiapkan smartphone-nya untuk membuat story di akun medsosnya.
Karina akhirnya tidak dapat menolak permintaan gadis belia yang meskipun terlihat ceria, namun menyimpan kesedihan di dalam hatinya. Meski Jeniffer tidak mengatakannya, tapi Karina dapat merasakannya dari tatapan mata gadis itu.
'Apakah Camelia tahu bahwa Jeniffer tidak baik-baik saja?' tanya Karina dalam hatinya.
'Tapi mendengar perkataan Camelia mengenai Jeniffer, aku rasa dia tidak tahu. Kalau benar apa yang aku pikirkan itu terjadi pada gadis ini, sungguh kasihan sekali dia. Sungguh keterlaluan sekali keluarga Sukmajaya.' kata hati Karina kembali.
Tanpa Jeniffer sadari, gadis itu telah mencuri hati Karina, akankah Joseph mengikuti langkah sang ibu yang telah jatuh dalam pesona seorang Jeniffer Sukmajaya?
__ADS_1