Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
16. Goodbye Junior High School!


__ADS_3

"Pho, Jeni mau lanjutin SMA di Gold Lotus Flower High School. Boleh ya pho?" tanya Jeniffer pada suatu pagi membuat Camelia, Stanley dan Jorgie terkejut tak menyangka bahwa pilihan gadis itu melanjutkan SMA adalah di situ.


"Koq tiba-tiba mau sekolah di situ? Kan lumayan jauh dari sini loh?" tanya Stanley setelah kuliah dari rasa terkejutnya.


Sementara Camelia dan Jorgie masih tercenung belum menyadari situasi yang terjadi pada saat ini.


"Setelah Jeni pikir-pikir dan cari-cari tentang sekolah SMA, Jeni ingin sekali sekolah di Gold Lotus Flower High School. Khung." Jeniffer memberikan alasan yang kiranya dapat di percaya oleh ketiga orang dewasa yang sedang duduk bersamanya di meja makan ini.


"Alasannya?" tanya Stanley penuh selidik.


"Dengar-dengar lulusan sana itu otomatis dapat rekomendasi untuk kuliah di Universitas top di dalam dan luar negeri. Khung. Dan banyak juga ekskul yang kece-kece di sana." Jeniffer terus mengemukakan alasan yang terlintas di dalam benaknya.


"Oke, kalau kamu benar mau sekolah di sana, janji sisa semester ini jangan nakal dan buat ulah. Kasihan phopho di panggil ke sekolah terus. Belum lagi waktu kemping sebelum liburan Natal dan tahun baru kemarin. Kamu buat ulah kan di sana." ucap Stanley memberi ultimatum kepada sang cucu.


"Oke, Jeni setuju. Cuma ga janji ya kalau mereka buat ulah duluan, apa Jeni bisa tahan aja. Mentang-mentang Jeni ga punya mama, mereka ngejek Jeni sampai segitunya." ucap gadis itu dengan geram membuat Stanley terdiam.


"Jeni, boleh membalas. Tapi jangan keterlaluan ya." akhirnya Jorgie membuka suara juga setelah terdiam beberapa saat.


"Iya Aqiu. Jeni janji ga nakal kalau ga di ganggu duluan." jawabnya sambil menunjukkan tanda V dengan kedua jari tangan kanannya.


'Dengar itu Jessi, jangan buat ulah lagi setidaknya untuk sisa semester ini.' ucap Jeniffer pada pribadi keduanya.


'Ya, meskipun gua geram. Terpaksa gua akan diam dulu untuk sementara waktu ini.' balas Jessi membuat Jeniffer menghela nafas lega.


***


Oleh karena iJessi telah berjanji untuk bersikap manis dalam beberapa waktu sebelum ujian agar niatnya dapat berjalan mulus. Hasilnya sisa semester genap di akhir kelas 3 ini di lalui seluruh penghuni sekolah dengan aman dan Camelia pun tidak mendapatkan panggilan dari sekolah.

__ADS_1


Ujian untuk kelas 3 pun selesai di laksanakan dan Jeniffer pun berniat untuk membujuk Camelia agar memasukkan dirinya ke Gold Lotus Flower High School. Salah satu sma favorit bertaraf internasional yang ada di kota ini.


Meskipun agak heran dan mengganjal namun ketiga orang dewasa yang berada di rumah Atmadja merasa senang karena Jeniffer sudah berubah menjadi lebih manis dan penurut.


Mereka tidak tahu saja bahwa gadis telah merencanakan sesuatu yang berbahaya untuk dapat membalaskan dendam terhadap keluarga Sukmajaya. Baik Jeniffer dan Jessi seakan menyimpan rapi hingga saat pembalasan pun tiba.


***


Jeniffer pun mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk di Gold Lotus Flower High School yang di adakan 2 bulan sebelum ujian nasional berlangsung. Dalam hatinya dia berdoa agar dapat lolos dan memenuhi persyaratan untuk memasuki sekolah elit dan bergengsi itu.


Camelia yang melihat sang cucu lebih banyak belajar hanya tersenyum, karena dalam pikirannya Jeniffer memang berniat untuk menggapai cita-cita yang lebih baik. Dalam hatinya dia berdoa agar kelak Jeniffer tidak bertemu dengan pria yang setipe dengan Verry Sukmajaya.


Mengenai buku diary Meylani yang hilang, Camelia tidak berusaha untuk mencarinya karena memikirkan bahwa mungkin ini keinginan dari mendiang Meylani agar rasa sakit dan penderitaan semasa hamil dan menjelang ajak menjemput tidak di ketahui lebih lanjut olehnya dan Stanley.


Padahal kenyataannya adalah Jeniffer yang menyembunyikan dengan rapi dan membacanya berulang-ulang sebagai motivasinya untuk membalas dendam kepada keluarga Sukmajaya.


"Jeni, jangan terlalu keras belajarnya. Santai sedikit, nanti kamu sakit nak." ucap Camelia sambil membawakan camilan ke dalam kamar Jeniffer.


Rasa segar langsung menyapa kerongkongannya dan membuat Jeniffer sedikit rileks. Jujur saja, gadis itu merasa penat akibat terlalu banyak belajar. Rasanya tidak pernah dalam hidupnya dia belajar sungguh-sungguh seperti saat ini di sisa semester akhirnya.


"Enak jusnya? Besok phopho buatkan lagi, macam-macam tapi ya. Biar kamu ga bosen juga." Jeniffer hanya mengangguk saat mendengar perkataan Camelia.


"Ini martabak telur phopho yang buat?" tanyanya saat melihat penampilan makanan yang tidak serapi yang di jual.


"Iya, rasanya sih udah oke menurut Darmi. Cuma bentuknya aja yang belum oke." Jeniffer mengangguk saat mendengar itu.


"Terima kasih ya, pho. Udah ngurusin Jeni dari kecil sampai sekarang, kalau ga ada phopho Akhung dan Aqiu, Jeni ga tau nasib Jeni kayak gimana." ucap Jeni tiba-tiba merasa melankolis.

__ADS_1


"Kamu itu cucu phopho dan Akhung. Mana mungkin kami membiarkan kamu hidup sengsara." sahur Camelia menahan tangis, semakin dewasa Jeniffer makin terlihat mirip dengan Meylani.


"Jeniffer makan dulu ya pho, martabaknya." ucap gadis itu mengganti topik pembicaraan.


"Phopho keluar dulu ya, mau cek Aqiu kamu udah pulang apa belum." setelahnya Camelia meninggalkan kamar sang cucu dengan perasaan mengharu biru.


***


Hari yang di nantikan Jeniffer pun tiba, saat pengumuman kelulusan SMP dan pengumuman untuk lolos ke SMA tujuannya. Karena itu hatinya sedari tadi gundah dan resah memikirkan kemungkinan bahwa dirinya tidak akan lulus dan berbagai pikiran negatif lainnya.


Jorgie yang melihat sang keponakan resah pun berniat untuk menghiburnya agar tidak terlalu kepikiran. Misalnya tidak lolos SMA yang di inginkan Stanley dan dirinya pun dapat mencari SMA yang kualitasnya sama bagus dengan Gold Lotus Flower High School, mungkin juga lebih. Pikir pria itu.


"Udah sih Jeni, jangan kayak belatung nangka yang ga bisa diam. Tenang aja, pasti lolos dan lulus koq."


"Kenapa Aqiu bisa yakin?" tanya Jeniffer masih resah.


"Karena kamu udah belajar dengan ingat Jeni, usaha tidak akan menghianati hasil." perkataan Jorgie pun menerbitkan sebuah senyuman di bibir Jeniffer.


"Jeniffer, sudah siap belum nak. Ayo kita berangkat sekarang." ucap Stanley di susul dengan Camelia yang berada di belakangnya. Keduanya memutuskan untuk mengantar dan menemani sang cucu dalam melihat hasil pengumuman kelulusan dan apakah nama sang cucu akan masuk ke SMA pilihannya.


"Sudah dari tadi dong, Khung. Malah sempat ngobrol juga sama Aqiu Jorgie." sahut gadis itu sambil menggandeng tangan Stanley dan sesaat pria itu merasakan bahwa sang putri kembali hidup melalui sang cucu.


"Malah bengong papa, itu Jeni udah manyun papa ga gerak dari tadi." goda Jorgie membuat Stanley tersenyum.


Karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan kelas 3, maka kelas 1 dan 2 di liburkan sampai 2 hari kedepan, otomatis Stanley dan Camelia tidak akan berjumpa dengan putra mantan menantunya itu.


"Akhung, Phopho. Jeniffer lulus dengan nilai tinggi dan lihat Jeni juga lolos masuk SMA Gold Lotus Flower High School." pekik Jeniffer dengan riang membuat keduanya tersenyum gembira.

__ADS_1


Satu tahap telah terlalui oleh sang cucu dan sekarang tahap baru sedang menantinya. Semoga saja 3 tahun kehidupan masa SMA Jeniffer juga dapat terlalui dengan damai tanpa adanya masalah yang serius. Doa mereka dalam hati.


Goodbye Junior High School, Welcome Senior High School, Jeniffer Sukmajaya!


__ADS_2