Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
29. Menekan mental Edward!


__ADS_3

Liburan telah usai, Jeniffer pun kembali memulai aktivitasnya sebagai seorang pelajar merencanakan balas dendam kepada keluarga Sukmajaya. Meskipun dia menyandang nama itu di belakang namanya, itu tidak merasakan senang sama sekali. Yang ada malahan dia benci dan bertekad menghancurkan keluarga sang ayah dan neneknya Gilda.


Gadis itu sampai tidak memperdulikan saat Camelia yang sedang asyik membongkar barang-barang belanjaan yang di belinya di Amsterdam saat liburan kemarin.


"Jeniffer kamu tumben belum buka barang belanjaan kamu?" Tanya Camelia dengan heran.


"Lagi malas aja Pho. Nanti kalau aku udah ga males baru aku buka. Lagian ga bakal basi ini belanjaan aku."


"Dasar anak gadis galau. Bagaimana kalau kamu ke tempat Ai Karina saja. besok sepulang sekolah." ucap Camelia lagi.


"Phopho mau nitipin apa?" tanya Jeniffer dengan antusias.


"Phopho mau nitip kue kastengel yang phopho buat ntar lagi. Kamu boleh kalau mau icipin kuenya." ucap Camelia sambil mempersiapkan bahan untuk membuat kue


"Phopho sekarang jadi rajin ya buat kue." kata Jeniffer sembari meneguk sebotol minuman ion.


"Ya karena anggota keluarga kita kan bertambah, jadinya phopho jadi rajin." Jeniffer terus memperhatikannya sang nenek yang dengan cekatan memecahkan beberapa telur dan mengocoknya dengan standing mixer.


"Pho, kapan-kapan ajarin Jeniffer buat kue dong." permintaan Jeniffer membuat sang nenek tersenyum.


"Memang kamu mau buat kue buat siapa?" tanya Camelia iseng.


"Buat Om Joseph dong tentunya." jawab Jeniffer tanpa sadar, sementara Camelia hanya tersenyum mendengarnya.


Akhirnya dia mengetahui bahwa sang cucu masih memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Awal masuk SMP, Camelia merasa khawatir dengan Jeniffer yang bersikap dingin kepada para cowo yang mendekatinya. Pikiran buruk pun sempat menghampiri benaknya kalau Jeniffer adalah penyuka sesama jenis.


Tapi syukurlah sekarang Camelia dapat menghela nafas lega, karena Jeniffer sudah seperti anak gadis kebanyakan yang menyukai lawan jenis. Hanya saja pria yang di sukai Jeniffer adalah adik ipar dari sang om. Apakah hubungan keduanya akan berhasil? Lagipula umur keduanya terpaut cukup jauh, sekitar 8 tahun.


"Boleh, sini kalau mau mulai belajar. Ambil telur yang baru aja ya. Tapi tunggu adonan ini selesai di mixer ya?" ucap Camelia akhirnya..


Jeniffer tidak pernah menyangka, jika membuat kue semenyenangkan ini, apalagi mixer yang di gunakan oleh Camelia adalah standing mixer, jadi tidak perlu ribet dan repot memegang mixer sampai tangan lelah. Dan ternyata gadis itu cepat menangkap apa yang di ajarkan oleh sang nenek.


"Wah, phopho ga nyangka kamu pinter buat kuenya. Takarannya pas. Besok-besok coba buat kue bolu ya? Pake kopi sacetan yang sering kamu minum yang rasa moca itu pasti kamu suka deh." puji Camelia membuat Jeniffer tersenyum.

__ADS_1


"Kamu semakin mirip mama kamu saja ya. Bahkan keahlian buat kuenya juga." ucap Camelia dengan air mata yang menggenang.


Jeniffer tidak suka melihat sang nenek menangis dan itu semua adalah akibat dari keluarga Sukmanya. Benar kata Jessi, jangan di kasih ampun orang-orang egois seperti mereka. Bahkan saat di villa pun, mereka seperti tidak mengakui dirinya adalah bagian dari keluarga itu.


'Akhirnya lo sadar juga kalau keluarga bang*at itu harus di musnahkan dari muka bumi.' ucap Jessi tiba-tiba, seakan mengejek sikap Jeniffer yang selama ini terus membela sang ayah.


'Iya, Jessi. Sekarang aku tidak perlu tahu lagi. Apapun yang terjadi keluarga Sukmajaya harus merasakan pembalasan dendam dari kita.' ucap Jeniffer mantap.


'Oke, gua istirahat dulu. Mungkin lusa saja kita baru ngerjain adik tiri lo itu.'


'Kenapa harus lusa?'


'Kan besok lo mau ke rumah cowo pujaan hati lo. Jadi nikmatin dulu aja.'


'Ah, Jessi. Kamu buat aku malu aja.' ucap Jeniffer yang hanya di tanggapi tawa oleh Jessi.


***


"Ngaku aja kak, yang ngotorin seragam aku tempo hari kakak kan. Ada saksinya kakak deketin loker aku." sontak saja Jeniffer langsung menghentikan permainannya dan balik menantang mata Edward.


'Jeni, gua yang urus. Lo cukup lihat aja di 'dalam' sana.' Jeniffer pun mengangguk, setelah itu membiarkan pribadi keduanya untuk menghadapi sang adik tiri.


"Cuma saksi kalau gua yang deketin loker lo, itu ga bisa di jadikan dasar untuk menuduh gua kan." ucap Jessi dengan nada tegas. Dia akan menekan mental dari pemuda yang tinggi badannya sudah melebihi tinggi badannya.


"Kakak ga usah pura-pura bego atau ga tahu kak. Waktu dulu SMP juga kakak kan yang sering ngerjain aku. Buktinya setelah kakak lulus. Keadaan sekolah tenang aja tanpa ada gangguan." balas Edward mengemukakan apa yang ada dalam benaknya.


"Hemmm, nampaknya gua ga perlu lagi deh nutupin kelakuan gua." ucap Jessi membenarkan apa yang disangkakan Edward kepadanya membuat pemuda itu terkesiap. Tadinya dia kira Jeniffer akan membantah semua tuduhannya, tapi mengapa kakak kelasnya tiba-tiba mengakui perbuatannya.


"Ta...ta..tapi kenapa kakak melakukan semua itu. Mengerjai aku habis-habisan?" tanya Edward setelah pulih dari rasa terkejutnya.


"Semua terjadi pasti ada alasannya dan dalam waktu dekat ini lo akan tahu. Jadi bersabar saja sambil menikmati kejutan-kejutan yang akan gua berikan sama lo. Edward Sukmajaya." ucap Jessi dengan nada manis yang herannya bagi Edward itu terdengar menyeramkan. Seketika dia merasa aura mencekam yang pekat memenuhi atmosfer diantara dirinya dan Jeniffer.


"Kakak.... kakak. Mau apa?" tanya Edward reflek memundurkan tubuhnya saat melihat gerakan Jeniffer yang mencurigakan.

__ADS_1


"Memangnya di mata lo gua mau ngapain?" tanya Jessi dengan sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Kakak kayak mau berniat buruk sama aku." jawab Edward dengan ketegangan yang sudah berada di ubun-ubun.


"Berarti pikiran lo aja itu, padahal gua ga ngapa-ngapain. Lihat, memang gua pegang senjata atau apapun yang bisa buat lo celaka. Engga ada kan." sahut Jessi semakin mempermainkan mental Edward.


Teman-teman sekelas Jeniffer hanya memperhatikan interaksi dari keduanya dan semuanya merasa ngeri akan tindakan Jeniffer saat ini dan semua sepakat tidak akan mengganggu Jeniffer mulai sekolah. Gadis itu menyeramkan jika sedang marah.


"Kakak pasti akan menyesali semua perbuatan kakak selama ini." ucap Edward setelah mengumpulkan keberaniannya.


"Kita lihat saja siapa yang akan menyesal, lo dan keluarga Sukmajaya atau gua yang menyesal." tantang Jessi kepada pemuda yang kembali memucat wajahnya. Sepertinya gadis ini tidak akan tergoyahkan tekadnya untuk menghancurkan masa sekolahnya yang tenang.


Edward yang terdiam tak lama keluar dari ruangan kelas gadis yang tidak dia ketahui adalah kakak tirinya. Perasaannya saat ini benar-benar sulit untuk dijelajahi. Campuran antara rasa takut dan ngeri. Edward yakin bahwa Jeniffer akan melakukan hal yang lebih buruk di masa mendatang. Tapi Edward tidak tahu bagaimana harus mencegah kegilaan yang akan dilakukan oleh kakak kelasnya itu.


Leo yang melihat Edward terduduk di kursi panjang di lorong lantai 2 bagian kelas IPA pun langsung menghampiri anggota basketnya itu dan menepuk bahunya dengan lembut.


"Ada apa sampai lo sebegitu kacaunya dilihat?" Edward terkesiap saat tepukan dan suara itu terdengar di gendang telinganya.


"Bang Leo." panggil Edward dengan nada agak tinggi.


"Ada apa sampai lo terkejut seperti ini?" tanya Leo penasaran.


"Aku cuma merasa cape aja Bang, mungkin efek kurang tidur." jawabnya singkat.


"Jangan bohong, muka kurang tidur sama muka khawatir itu jelas berbeda. Sekarang ceritakan sama gua apa yang terjadi." perintah Leo pada Edward.


Edward pun menghela nafas lalu memulai ceritanya, Leo menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan oleh adik kelasnya itu.


"Aku takut Kak Jeniffer akan bertindak gila di masa mendatang." Leo hanya mengangguk mendengar kekhawatiran dari Edward.


"Untuk itu mari kita pikirkan sama-sama. Jujur aja gua juga penasaran sama Jeniffer. Siapa tahu gua dapat membantu lo." ucap Leo yang menerbitkan senyum lega di wajah Edward. Setidaknya dia tidak sendirian menghadapi kegilaan dari Jeniffer.


Edward sadar bahwa Jeniffer sangat sukses mempermainkan mental dan emosinya hingga pemuda itu tidak berani menjawab perkataan dari gadis itu meskipun secara fisik tubuhnya lebih besar dari Jeniffer.

__ADS_1


__ADS_2