
"Ci, bisa tidak setelah ini kita bicara berdua?" tanya Edward saat mereka semua hampir menyelesaikan makannya.
"Mau bicara apa? Sebentar lagi pak Udin mau jemput gua," sahut Jeniffer dengan dingin.
"Sebentar saja, Ci, tidak sampai 10 menit," ujar Edward dengan penuh permohonannya.
"Oke, kita pindah ke Sbuck saja," putus Jeniffer akhirnya.
Leo yang melihat interaksi antara keduanya hanya dapat diam saja, sebenarnya dia juga ingin ikut serta hanya Leo tahu diri untuk tidak mencampuri urusan pribadi keduanya.
"Coach Evan, saya dan Edward harus berbicara secara pribadi. Jadi kami pamit duluan," ucapan Jeniffer sontak membuat semua mata tertuju kepada mereka.
"Kamu tidak akan berbuat yang aneh-aneh lagi,kan, Jeniffer?" ucap coach Evan dengan memicingkan mata dan r
Jeniffer bereaksi dengan tertawa.
"Tentu tidak, coach, karena kalaupun saya sampai melakukannya ada harga mahal yang harus saya tebus," kata Jeniffer setelah tawanya mereda.
"Harga mahal yang seperti apa maksud kamu?" tanya coach Evan bingung.
"Saya juga tidak tahu apa yang harus saya korbankan," ucap Jeniffer kembali.
"Coach, kami berdua pamit dulu," kata Edward yang langsung mengambil alih pembicaraan.
Keduanya melangkah pergi dari restoran dengan diiringi berbagai tatapan dari anggota tim klub basket. Leo hanya terdiam saat melihat punggung kecil Jeniffer yang seperti menanggung banyak beban.
***
"Jadi lo mau ngomong apa?" tanya Jeniffer saat mereka sudah berada di kedai kopi. Jeniffer memesan vanilla latte sementara Edward memesan choco latte.
"Ci, aku dengar papa dan Amah masih mau berniat mencelakakan Cici. Jadi aku harap Cici hati-hati, apalagi aku sudah bertemu Ci Jeni. Kemungkinan mereka menemukan Cici dalam waktu dekat itu sangat mungkin," ucap Edward dengan nada lirih.
"Oke, thanks untuk warningnya, tapi gua penasaran kenapa lo sampai susah-susah untuk memperingatkan gua. Bukannya kalau gua enggak ada, posisi lo di keluarga itu semakin kuat?" tany Jeniffer sambil menyeruput minumannya.
__ADS_1
"Karena aku merasa pemikiran mereka itu aneh, memangnya apa hubungannya anak perempuan dan mitos? Bukannya itu sama saja dengan menentang kuasa Tuhan," pekik Edward dengan nada tertahan sebab dia tidak ingin menjadi pusat perhatian di kedai kopi ini.
"Berarti nanti kalau lo punya anak pertama perempuan, lo enggak akan bersikap seperti pria ban*sat itu. Dia menculik dan berencana menyingkirkan gua 9 tahun yang lalu," kata Jeniffer dengan nada dingin.
"Iya, Ci, karena apa arti kita dihadapan Tuhan. Bukankah manusia itu berasal dari debu dan kembali lagi ke tanah?" Jeniffer tersenyum saat mendengar perkataan Edward. Ternyata masih ada pria waras di keluarga Sukmajaya.
"Sepertinya waktu kita sudah habis, gua pergi dulu dan semua minuman ini sudah gua bayar," Edward tersentak saat Jeniffer beranjak berdiri dari duduk dan meninggalkannya sendirian.
"Ternyata dia sayang gua rupanya," gumam Edward yang melihat punggung Jeniffer menjauh.
***
"Tumben kamu pulangnya agak sorean?" tanya Aster yang sedang bermain dengan putranya yang berusia setahun.
"Tadi aku main dulu ke mall, Qiume, kalau Aqiu sudah pulang kasih tahu Jeni, ya," ucap Jeniffer yang langsung menuju ke kamarnya untuk mandi.
Aster yang melihat raut wajah keponakan dari sang suami yang lesu hanya dapat terdiam, sehingga tidak menyadari kalau David menggigit lengannya dengan gigi yang hampir lengkap tumbuhnya.
"David, kenapa gigit tangan Mama? Kamu lapar?" tanya Aster yang hanya dijawab tertawa oleh David.
***
"Sori, katanya suruh bilangin kalau Aqiu kamu sudah pulang. Itu orangnya lagi makan, kamu mau makan juga?" tanya Aster dengan mengurai senyum.
"Boleh deh, mending makan dulu baru ngobrol," ucap Jeniffer yang langsung menuju meja dapur.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Jeniffer mengajak Jorgie berbicara di ruang tamu. Aster menyediakan mereka dua cangkir teh dan setoples kue kastengel sebagai pelengkap.
"Sore tadi pas jalan-jalan ke mall sama temen, aku ketemu anak tim basket sekolah lama dan ada Edward juga," ucapan Jeniffer membuat Jorgie membelalakkan matanya.
"Terus kamu ngapain aja?" tanya Jorgie yang berusaha tetap santai.
"Makan dan Edward ngajak aku bicara serius. Dia bilang keluarganya masih mau mengincar aku jadi disuruh hati-hati," Jorgie mengangguk saat mendengar perkataan Jeniffer.
__ADS_1
"Memang Aqiu akui kalau Edward itu sangat berbeda dengan keluarganya. Saat Aqiu membawa ke mobil juga tidak ada raut sombong atau menang sendiri yang biasanya ada dalam keluarga Sukmajaya," ujar Jorgie sambil mengingat kejadian di Salatiga.
"Jadi bagaimana sekarang? Enggak mungkin kan, Jeniffer pindah sekolah lagi," tanya Jeniffer dengan memberengut.
"Sepertinya memang kali ini kita harus menghadapi keluarga papa kandung kamu. Aqiu minta alat pelacak dan alarm tanda bahaya jangan pernah dilepas kalau keluar rumah, meskipun kamu perginya sama orang dewasa," pinta Jorgie dengan menatap tajam sang keponakan.
"Memangnya apa salahku sehingga mereka memperlakukan aku seperti buronan dan musuh? Padahal aku ini bagian dari mereka juga, sebagian darahku juga mengalir darah Sukmajaya," ucap Jeniffer dengan air mata yang mulai menggenang.
Jorgie hanya terdiam dan membiarkan gadis remaja itu meluapkan emosi yang ada di dalam hatinya. Sementara Aster hanya mematung tanpa berani untuk masuk ke dalam ruang tamu.
***
Joseph yang menerima panggilan dari Edward yang memberi tahukan jika dia dan teman satu klub basket bertemu dengan Jeniffer merasa resah. Itu artinya sebentar lagi keberadandi akan diketahui oleh keluarga Sukmajaya.
Namun yang membuat Joseph resah adalah Leo terlihat antusias saat bertemu Jeniffer. Bahkan Edward juga mengatakan jika Leo Kakak menjemput Jennifer di sekolah barunya mulai besok hari.
Dia merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Jam pulang sekolah Jeniffer itu masih termasuk jam masuk kantornya. Tidak mungkin, kan jika Joseph pada atasannya pada setiap jam setengah 3 sampai jam setengah 4 sore.
"Joseph, kenapa kamu kayaknya uring-uringan?" tanya pak Andre sang atasan.
"Dia galau, Pak, cem-cemannya mau dideketin sama cowo lain mulai besok," ucap salah satu rekannya yang sempat mendengar percakapannya dengan Edward.
"Ya berarti kamu tinggal usahanya, dong, yang harus besar daripada rival kamu itu," sahut pak Andre sambil tertawa.
"Masalahnya, Pak, cem-cemannya dan rival Joseph itu masih SMA, jadi rivalnya bebas secara waktu buat deketin tuh cewek," Joseph semakin masam saat mendengar cibiran itu.
"Bebas juga enggak,ya, mereka itu beda sekolah,"
sahut Joseph yang mulai kesal menjadi bahan ledekan satu kantornya.
"Ya perasaan kamu sama cewek itu gimana?" tanya pak Andre yang semakin semangat mengerjai anak buahnya.
Joseph tidak pernah menunjukkan ketertarikannya terhadap lawan jenis dan sekalinya suka pria itu malah jatuh kepada pesona anak SMA. Dan itu terlihat lucu untuk pak Andre.
__ADS_1
"Saya suka Jeniffer," ucap Joseph yang membuat teman satu kantornya menyoraki pemuda itu.