
Jeniffer langsung berlari ke arah toilet, perutnya menjadi mulas tiba-tiba. Dalam hatinya apakah karena terlalu banyak makan cabe rawit saat sarapan dengan nasi goreng atau karena tegang karena bertemu dengan Leo.
"Benar-benar cowo yang berbahaya. Matanya udah kayak mau makan orang aja." ucap Jeniffer setelah menuntaskan hajatnya.
"Kan gua udah bilang apa dia berbahaya." ucap Jessi sambil menyeringai sinis melalui cermin di toilet itu.
"Terus kita mesti gimana, Jessi. Ga mungkin kita main kucing-kucingan sama cowo itu selama sekolah?" tanya Jeniffer dengan bingung.
"Gua juga ga tahu. Jeni sayang. Sepertinya pilihan menghindar adalah yang terbaik untuk kita saat ini." ucap Jessi kembali.
"Kalau misalnya kita ga dapat menghindar lagi bagaimana?" tanya Jeniffer dengan panik.
"Kalau itu terjadi antara kita lari atau pura-pura pingsan." ucap Jessi terkesan tidak serius.
Jeniffer pun menghela nafas panjang dan berkata. " Memangnya cara itu bisa, kalau kita ketemu setiap hari sama cowo itu artinya kita pura-pura pingsan. Bisa-bisa satu sekolah cap aku itu lemah dan bakal ngaruh ke endorse produk."
"Itu kita pikirin nanti aja, memangnya ga haus apa lo lari-larian. Beli minuman teh botol sana, gua juga mau minum." perintah Jessi dengan nada menyebalkan.
"Oke. Yang rasa lemon ya. Itu seger banget pas di minum dingin-dinginnya."
Namun sayang, ternyata Leo sudah menunggu di depan pintu toilet perempuan membuat Jeniffer berteriak karena terkejut.
"Ngapain kamu berdiri di depan pintu toilet cewe. Mau ngintip ya, dasar me*um." omel Jeniffer sambil memukul-mukul bahu Leo dengan kepalan tangannya.
"Aduh... aduh... sakit. Kecil-kecil tonjokkannya mantap juga." ucap Leo sambil meringis dan menahan pukulan dari Jeniffer.
"Habis kamu me*um." omelnya masih menyasar tubuh Leo yang dapat dipukulnya.
"Gua ga me*um, gua berdiri di depan pintu toilet perempuan karena mau nungguin elu. Habisnya susah banget lu untuk ditemuin sekarang." ucap Leo setelah itu dia berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Jeniffer dan menguncinya di atas kepala gadis itu.
"Mau ngapain nungguin aku. Maaf aku mau ke kantin mau beli minum." ucap Jeniffer memohon membuat Leo semakin curiga dengan gadis yang berada dihadapannya itu.
Namun sebelum beliau membuka suara Mr Alvin sudah menuju ke arah mereka berdua dan langsung menjewer telinga sang keponakan.
"Leonardo Stevanus, sedang apa kamu. Mau dipotong tongkat sakti punya kamu karena sudah mengganggu mulut perempuan di depan toilet pula.
"Aduh ampun Asuk, ekh Mister Alvin. Lepasin jewerannya, " ucap Leo sambil mengaduh kesakitan, kesempatan itu di manfaatkan Jeniffer untuk keluar dari situasi yang mulai rusuh ini.
"Mister Alvin, saya pamit mau ke kantin dulu beli minuman." ucap Jeniffer setelah itu pergi dari tempat itu
"Huffff, akhirnya aku lolos juga dari cowok itu, untung saja besok hari aku sudah liburan selama satu minggu." gumamnya pelan.
***
__ADS_1
Hari yang ditunggu pun tiba, Jeniffer dan keluarganya pun akan terbang ke Belanda untuk pemberkatan pernikahan Jorgie dengan mantan sekretaris Stanley, Aster.
Jeniffer pun juga tersenyum saat membayangkan akan bertemu dengan Joseph di sana. Pokoknya dia harus dapat menarik perhatian dari pria berkulit putih yang menawan itu. Suara Joseph telah membuat Jeniffer terpikat dan selalu terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
"Kamu sepertinya senang banget nih, bisa liburan dadakan." ucap Camelia sambil mengusap lembut kepala Jeniffer yang duduk disampingnya.
"Iya seneng dong Pho. Kapan lagi bisa healing sejenak di waktu sekolah." ucapnya menyenderkan kepala ke jendela pesawat.
Stanley duduk bersama Jorgie di depan mereka dan menenangkan sang putra yang merasa gelisah dari 2 hari yang lalu, padahal ini bukan pernikahan pertama Jorgie namun pria itu jauh merasa gugup di banding pernikahannya dengan mendiang Diana.
Jorgie tidak tahu saja, jika sang ayah juga merasakan hal yang sama. Impiannya menjadikan Aster menantu akhirnya terwujud sebentar lagi dan dia tidak sabar. Tidak masalah dengan status David yang akan menjadi anak sambung Jorgie sebentar lagi. Bayi tampak itu amat menggemaskan.
Mereka mendarat ketika waktu masih terang, masih tersisa 10 jam untuk jadwal pemberkatan pernikahan di gereja. Keempat pun langsung terlelap saat tiba di rumah sewa yang berisi 4 buah kamar ini. Berdampingan dengan rumah yang disewa oleh James, ayah Aster.
***
Jeniffer tampil cantik dan manis dengan dress brokat warna ungu muda selutut model Sabrina, telinga dan lehernya pun dihiasi dengan perhiasan emas yang memiliki bandul bermotif hati. Gadis itu menata rambutnya semi Curly dengan alat catokan yang dibawanya dan merupakan produk endorse.
"Wah, cucu phopho cantik sekali." puji Camelia saat Jeniffer selesai merekam aktivitasnya mencatok rambut dan berdandan.
"Oh itu sudah pasti dong Pho. Jeni memang cantik."ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Iya kamu memang cantik, tapi sayang posisi kamu udah kegesek sama Aster." ucap Jorgie sambil meledek dan berusaha menurunkan ketegangan yang semakin terasa menyesakkan untuknya.
"Sudah kalian berdua jangan bertengkar lagi, cepat kita pergi ke gereja. Mobil sudah menunggu di depan." ucap Stanley melerai perdebatan diantara sang anak dan cucunya.
Jeniffer menatap kagum, Joseph yang memakai kemeja lengan panjang berwarna biru navy serta celana panjang berwarna hitam.
'Boleh ga sih aku cubit itu dimple di pipi kanan, ih kiyut banget.' ucap Jeniffer dalam hatinya.
'Ya silahkan lo cubit itu cowo paling dimarahin, atau dianggap kurang waras.' ejek Jessi yang tiba-tiba muncul.
'Kebiasaan kamu kalau muncul suka ngagetin.' omel Jeniffer yang hanya di tanggapi tawa keras oleh Jessi.
'Jangan ganggu, aku mau deketin om Joseph. Setelah balik ke Jakarta, aku akan nurutin semua keinginan kamu.' ucap Jeniffer memohon.
'Oke, sana. Tapi begitu sampai di Jakarta,kita mesti mulai dengan rencana kita untuk menghancurkan keluarga bang*at itu. Sepertinya dari sini lo harus membiasakan panggilan gua elo sama temen sekolah lo.' ucap Jessi akhirnya.
"Om Joseph." Jeniffer memanggil pria yang sudah resmi menjadi adik ipar Jorgie itu dengan keras.
"Jeniffer! Jangan teriak-teriak ini gereja." tegur Camelia membuat Jeniffer tersenyum canggung dengan cepat dia menurut mulut dengan tangan kirinya.
"Maaf Pho, habis aku senang banget bisa ketemu om Joseph." ucap Jeniffer kembali.
__ADS_1
"Senengnya kenapa?" pancing Camelia, dia penasaran juga kenapa sang cucu sangat antusias saat melihat Joseph.
"Ya seneng aja lihat muka kiyutnya." ceplos Jeniffer dengan menunjukkan deretan gigi yang baru saja di pasang behel.
"Memang bener juga sih yang kamu bilang, Joseph emang kiyut." timpal Camelia setelah memperhatikan pemuda yang resmi menjadi bagian keluarganya itu.
"Ma, Jeniffer mau ke tempat om Joseph dulu." ucap Jeniffer setelah acara pemberkatan pernikahan antara Jorgie dan Aster selesai.
"Tapi jangan yang aneh-aneh ya." ucap Camelia setelah mengizinkan sang cucu menghampiri Joseph dan kedua sahabat lamanya.
"Om Joseph, lagi senggang ga?" tanya Jeniffer dengan mengurai senyum manis.
Untuk sesaat Joseph merasa terpukau akan senyuman dari gadis belia itu di tambah dengan aroma manis yang menguar dari tubuh Jeniffer membuat pemuda itu terdiam menikmati kecantikan alami keponakan dari kakak iparnya.
"Om Joseph, kenapa diam aja. Lagi senggang ga?" Jeniffer mengulang pertanyaan sembari mengguncang pelan bahu Joseph.
"Eh iya, apa tadi kamu bilang. Maaf saya ga fokus tadi." ucap Joseph dengan nada sesal.
"Om Joseph ada waktu luang ga? Ini medsos aku diretas jadi aku nggak bisa buka. Bisa tolong balikin lagi nggak ya Om?" tanya Jeniffer dengan penuh harap.
Memang benar yang dikatakan olehnya, seluruh akun medsos miliknya diretas sejak beberapa hari lalu dan dia tidak dapat melakukan log in dan itu berpengaruh terhadap pekerjaannya sebagai selegram.
"Bisa pinjam sebentar handphone kamu, biar saya lihat." ucap Joseph dengan nada ramah.
"Bisa om. Tolong ya pulihin akun medsos aku. Soalnya udah ditanyain sama orang yang udah kasih produk untuk aku endorse, Om". pinta Jeniffer dengan nada memelas dan Joseph merasa gemas melihatnya.
'Astaga Tuhanku, apa yang tadi aku bilang. Gadis ini menggemaskan. Pasti ini efek kebanyakan lembur ngejar target.' ringis Joseph dalam hatinya.
"Om,om, om." Joseph pun tersadar akan panggilan Jeniffer itu, dipanggil om serasa membuatnya seperti Sugar Daddy saja. Namun memang kenyataannya seperti itu umurnya dan Jennifer terpaut sekitar 8 tahun.
"Ayo duduk dulu ya, saya cek sebentar handphone kamu." ajak Joseph kepada Jeniffer yang masih berdiri.
Keduanya mengambil tempat duduk yang dekat dengan mimbar di gereja. Saat ini acara foto-foto dengan teman-teman Jorgie dan Aster, jadinya dia agak sedikit santai. Karina memintanya untuk mengambil cuti selama seminggu untuk merefreshingkan otak.
Jeniffer melihat wajah Joseph yang sedang serius dan mengambil fotonya dengan smartphone yang khusus yang untuk bermain game. Ada total 5 foto yang diambil Jeniffer tanpa sepengetahuan pria itu. gadis itu pun tersenyum saat melihat foto pria pujaannya sudah terpampang di dalam galeri smartphone-nya.
15 menit kemudian Joseph telah menyelesaikan tugasnya untuk mengecek smartphone Jeniffer pria itu mengatakan kepada gadis belia itu bahwa smartphone-nya sudah dipasangi anti-virus yang tidak dapat dibobol oleh hacker yang handal sekalipun.
"Terima kasih Om atas bantuannya jujur saja kalau nggak ada Om aku nggak tahu harus berbuat apa." ucap Jennifer dengan nada riang setidaknya dia akan mulai kembali melakukan siaran langsung dan mengiklankan produk endorse yang sudah direkam dalam smartphone-nya yang satu lagi.
"Sama-sama, memang selebgram terkenal kayak kamu bakal jadi incaran dari para hacker, tenang aja handphone kamu nggak akan bisa diretas lagi andai kata ada masalah nantinya kamu bisa minta tolong sama saya." Dan Joseph langsung menyesali perkataannya saat melihat binar bahagia yang memancar dari netra Jeniffer.
Sepertinya dia telah masuk jebakan modus gadis belia ini. Ucap Joseph dalam hatinya.
__ADS_1