Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
44. Weekend yang membahagiakan


__ADS_3

Karina dan Jeniffer yang telah tiba di rumah langsung membersihkan diri karena beraktivitas di luar rumah membuat tubuh mereka serasa lengket, Jeniffer yang sudah pernah memasuki kamar dari Aster, istri Jorgie sudah mulai terbiasa.


Jeniffer melihat pantulan diri di cermin yang memakai piyama bermotif beruang lucu. Gadis itu merasa kembali menjadi anak SD, tapi itu tak mengapa asalkan kebahagiaan yang dia rasakan tidak akan pernah berakhir.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Jeniffer menoleh dan langsung bergegas membukanya. Karina juga sudah terlihat lebih segar setelah mandi. Memakai setelan baju rumahan berwarna Lilac membuat Karina terlihat jauh lebih muda dari usianya.


Dalam hatinya Jeniffer tertawa, Karina ini seumuran dengan sang nenek tapi dengan santainya gadis itu menganggap Karina adalah sebagai sosok ibu yang selama ini dirindukan olehnya. Terdengar kurang ajar memang tapi Jennifer tidak perduli, lagipula orang-orang itu tidak memberikan dia makan bukan?


"Anak gadis ini sudah mandi dan cantik rupanya," pipi Jeniffer bersemu saat mendengar pujian dari Karina yang entah benar atau hanya sekedar menyenangkannya saja.


"Sudah dong, Ma," dan Jeniffer juga sudah nyaman memanggil Mama kepada Karina dan wanita itu tidak mempermasalahkannya.


"Mau makan donut dulu, Mama belum masak untuk makan malam soalnya. Joseph dan Papa pulangnya masih sekitar 2 jam lagi," ucap Karina sambil menggandeng tangan Jeniffer keluar dari kamar Aster.


"Mau, Ma. Sekalian endorse produk kesehatan," ucap Jeniffer kembali. Dia tersadar jika belum memposting apapun sejak tadi pagi.


"Kamu laris manis ya jadi model produk iklan, wajar saja kamu cantik begini," lagi-lagi Jeniffer bersemu saat mendengar perkataan dari Karina.


"Bukan model juga, Ma. Hanya sebatas posting dengan produk, ya lumayan juga udah gratisan dibayar pula," jelas Jeniffer dengan suara riangnya membuat Karina ikut tersenyum melihatnya.


"Bagus itu, sedari dini sudah belajar mandiri. Tapi jangan lupa ini mentang-mentang sudah mempunyai penghasilan sendiri jadi sombong. Itu ga boleh ya, dan jangan habiskan uangnya tabungkan juga untuk keperluan darurat," Jeniffer hanya mengurai senyuman salah tingkah.

__ADS_1


Kenapa Camelia tidak menasehatinya seperti ini, ya? Sang nenek selalu bertingkah berlebihan dan melarang apa yang dia ingin lakukan. Untungna saja hasil endorse di IG lumayan hasilnya jadi Camelia tidak melarangnya.


"Kalau itu sebagian hasilnya ditabung Phopho, Ma, aku hanya minta secukupnya." ucap Jeniffer tidak sepenuhnya benar. Ada beberapa honor yang memang ditransfer ke tabungan Camelia dan sebagian lagi langsung ditransfer ke tabungan milik Jeniffer.


Jeniffer langsung menyeruput teh yang di sajikan oleh Karina dan lidahnya mencecap rasa yang belum pernah dirasakannya. " Ini teh apaan, Ma?"


"Ini teh camomile, gimana enak tidak?" jawab Karina sembari mengigit sepotong donut dengan toping meses berwarna-warni.


"Enak, Ma. Wanginya juga menenangkan," sahut Jeniffer yang langsung menandaskan isi dari cangkir itu.


"Baguslah kalau kamu suka, bagaimana sekarang kamu bantu Mama masak, kalau belum bisa ntar Mama ajarin," entah kenapa juga Jeniffer tidak dapat menolak permintaan Karina, padahal kalau Camelia yang meminta dia akan segera memberi 1001 alasan untuk mangkir.


Ternyata memasak tidak sesulit di bayangkan oleh Jeniffer, apakah karena Karina yang mengajarkan dengan sabar ataukah ada alasan lain yang gadis itu tidak ketahui sebabnya. Entahlah, yang pasti dia akan mencoba memasak mulai dari sekarang.


Meskipun Jeniffer tahu potongan wortel dan kentangnya tidak sama, Karina tidak memarahinya ataupun menyindirnya. Wanita itu hanya mengatakan bahwa Jeniffer belum terbiasa dan dengan melakukan terus menerus gadis itu pasti akan bisa.


"Kurang garam itu lebih baik daripada kelebihan garam. Kalau kurang bisa tambahin sedikit, nah kalau kelebihan garam? Bagaimana caranya, apalagi jika sudah meresap di daging atau sayurannya," perkataan Karina menerbitkan senyuman Jeniffer.


'Baiklah, catat itu. Kurang garam lebih baik daripada kelebihan garam,' ulang Jeniffer dalam hatinya.


Joseph yang baru pulang dari kantor sampai bingung mendengar suara Karina yang sedang bersenda gurau. Dan pikirannya langsung tertuju kepada Jeniffer, apakah gadis itu sedang berada di rumah ini.


'Ya sudahlah, memang kenapa kalau Jeniffer sedang berada di sini, lebih baik aku mandi dulu,' ucap Joseph dalam hatinya.

__ADS_1


20 menit kemudian Joseph pun bergabung dengan kedua wanita berbeda usia itu. Dia bingung mengapa ada 2 mangkuk sup ayam, apa yang berbeda? Tanyanya dalam hati. Namun saat melihat dengan cermat barulah Joseph menemukan perbedaan diantara keduanya.


Mangkuk sup pertama ini jelas masakan Karina dan mangkuk sup kedua yang potongan wortel dan kentangnya tidak sama pasti masakan Jeniffer. Seketika Joseph dilanda kebingungan, dia harus memakan yang mana? Masakan Karina yang sudah pasti dijamin enak ataukah masakan Jeniffer yang ya... tau sendiri lah.


Namun saat melihat tatapan permohonan Jeniffer dan tatapan antusias dari Karina membuat Joseph akhirnya memilih masakan Jeniffer yang membuat gadis itu mengepalkan tangannya. Gadis itu dilanda rasa was-was apakah Joseph akan menyukai ataukah malah protes dengan rasa masakannya.


Melihat Joseph yang mulai menyuapkan sesendok sup membuat hati Jeniffer semakin ketar ketir, Karina yang mengetahui perasaan gadis itu menggenggam tangannya kuat seolah memberikan dukungan semangat.


Joseph terkesiap saat sesendok sup ayam itu menyentuh lidahnya, untuk pemula seperti Jeniffer rasa masakannya terkesan hambar tapi itu tidak masalah karena dia dapat menambahkan garam atau kecap asin sendiri. Namun jika keasinan bagaimana cara menguranginya?


"Ini lumayan enak, meskipun agak hambar di lidah," Jeniffer tersenyum lega mendengar jawaban Joseph dan gadis itu semakin membulatkan tekadnya untuk dapat memasak, demi pria pujaan hatinya.


Dan 10 menit kemudian, James pun pulang dan mereka berempat makan malam bersama. Lagi-lagi Jeniffer merasakan ada yang beda pada makan malam kali ini. Hatinya yang merindukan kasih sayang orang tua semakin nyaman dengan perlakuan Karina dan James.


Joseph hanya mengernyit saat mendengar panggilan Mama yang terucap dari bibir Jeniffer kepada Karina. Mungkin kapan-kapan dia harus bertanya dengan sang ibu. Untuk saat ini Joseph akan membiarkannya saja.


"Besok kita jalan ke Bandung ya?" pertanyaan Karina mengejutkan ketiganya.


"Ma, ga salah mau ke Bandung pas weekend? Macet di jalannya loh?" protes Joseph dia sudah janji dengan salah satu temannya untuk mereview game buatan sang teman.


"Ya dari subuh kita jalannya, jangan bilang kamu mau kerja pas weekend. Kebiasaan, gimana mau punya pacar kalau kerja terus yang ada di otakmu," omelan Karina membuat Joseph meringis sementara Jeniffer merasa bahagia karena merasa kesempatannya untuk mendapatkan hati Joseph semakin besar.


"Papa juga mau protes?" tanya Karina sembari mendelikkan mata, kalau sudah begitu James hanya dapat mengikuti keinginan dari sang istri.

__ADS_1


"Ya kita ke Bandung, berarti kita mesti tidur cepat malam ini. Bawa baju secukupnya saja," ucap James tidak mau menimbulkan ocehan sang istri.


Jeniffer kembali merasakan kebahagiaan yang teramat besar, rasanya tidak sabar menunggu hari esok tiba. Pikirnya dalam hati.


__ADS_2