Aku Istri Yang Tak Dianggap

Aku Istri Yang Tak Dianggap
Pemaksaan Tahu


__ADS_3

"Aku tunggu di sana" ucap Ando yang menujuk sebuah kursi yang jaraknya kira-kira 10 meter. Setelah Ando pergi menjauh mereka berdua pun mulai berbincang.


"Mau ngobrol soal apa? Apa kamu mau kasih tahu kalau kamu sudah hidup bahagia?" ucap Fani dengan dingin.


"Bukan"


"Fani walaupun aku sama orang lain tapi aku masih sangat mencintai kamu Fani"


"terus maksud kamu Aku harus menunggu kamu sampai kamu nggak sama-sama lagi sama istri kamu?, cukup Andre pernikahan bukan untuk kamu main-main Aku dan kamu memang ditakdirkan bukan untuk bersama"


"Maaf memotong pembicaraan kalian berdua, apa sudah selesai Fani?"


"Sudah Ayo" Ando dan Fani pun pergi meninggalkan toko roti itu.


"Ando Aku ingin kita berdua bicara sebentar"


"Baiklah dimana?"


"tidak usah dimana-mana di mobil saja"


"baiklah silahkan Nona Fani"


"Ihh, sudah di bilang jangan pake nona"


"Iya maaf, memengnya kamu ingin bicara apa?"


"apa kamu punya pacar yah?"


"memangnya kenapa bertanya seperti itu Fani?"


"Nggak apa-apa,cuma mau tahu aja" Ando yang mengerti tujuan pembicaraan Fani pun tersenyum.


"Aku lagi menyukai seseorang, hanya saja Aku tidak tahu apa Dia juga menyukaiku atau tidak"


"Begitu yah, kenapa tidak tanyakan saja"


"Baiklah Aku akan bertanya kepada Dia sekarang" Fani yang mendengar ucapan Ando pun seketika wajahnya berubah menjadi tak senang lagi.


"Baiklah silahkan, kamu tepikan mobilmu biar Aku naik taksi saja"


"tidak bisakah kamu menemaniku bertanya kepada gadis itu?"


"Maaf tepikan mobilnya Aku mau turun"


"Dasar keras kepala"


"Hei kamu bilang aku apa?"


"tadi yang ajak bicara siapa? Aku cuma menjawab pertanyaanmu kenapa menjadi marah"


"tidak aku tidak marah, kamu bilang kamu ingin bertanya kegadis itu sekarang jadi lebih baik Aku naik taksi saja"


"tidak jadi malam saja baru aku bicara sama Dia, kalau sekarang aku masih banyak kerjaan Kau sendiri tahu kakak iparmu itu memberikanku tugas menjaga perusahaan sampai Dia pulang"


"hmmpp"


"kok hmmp jawaban apa itu?"


"Jadi Aku harus menjabawab apa tuan Ando?"


"seharusnya kamu bilang semangat"


"Cihh" Fani berdecak. "Baiklah semangat tuan Ando"


"Terima kasih Nona Fani"

__ADS_1


"Untung saja Aku belum mengungkapkan perasaanku, kalau tidak Aku yang malu sendiri" batin Fani.


"Nona Fani sudah sampai apa Anda mau Aku yang menggendong untuk masuk kedalam rumah?" ucap Ando yang menyadarkan Fani dari lamunannya.


"aah maaf Aku tidak sadar kalau kita sudah dirumah" Fani pun turun dengan memegang cake yang Ia beli tadi.


Ia langsung berjalan masuk kedalam mencari keberadaan sang Ayah, tampak ada beberapa orang yang Ia tak kenal namun Ia tetap berjalan menuju sang Ayah.


"Fani?" ucap Ayah yang terkejut dengan kehadiran putri bungsunya.


"Selamat ulang tahun ayah semoga ayah selalu di berikan umur panjang sehat selalu dan tetap menjadi pelindung bagi Aku dan kak Yuni"


"Terima kasih kesayangan Ayah, jadi kamu merahasiakan kepulanganmu yah? dadar anak nakal"


"Aku minta maaf Ayah, aku hanya ingin membuat kejutan kepada Ayah, Ayo tiup lilinya dulu ayah"


Tuan Andi pun meniup lilin.


"Selamat ualng tahun Tuan"


"Terima kasih Ando,ternyata kau bekerja sama dengan anak nakal ini yah"


"Ayah dimana ibu?"


"Ibumu sedang di taman"


"Ah tuan, nona Fani aku permisi dulu"


"Tunggu lebih baik kamu makan dulu ini sudah jam makan siang" sambung Fani.


"Yah benar Ando lebih baik makan dulu, Fani tolong kau layani Asisten Ando, Ayah masih ada tamu"


"Baik Ayah"


"Duduk disitu, aku ambilkan buat kamu"


Fani pun menyiapkan makan untuk Ando.


"Masih marah soal tadi?" tanya Ando.


"Siapa yang marah?"


"Itu wajahmu tertulis kalau kamu sedang marah"


"Aku nggak marah, Ayo makan dulu" Ando pun tersenyum dan makan makanan yang sudah di siapkan oleh Fani.


Fani hanya menatap Ando yang sedang mengunya makanannya. Ando pun mengangkat sesendok nasi. "buka mulutmu"


"tidak usah aku bisa makan sendiri"


namun karena Ando tetap mengangkat sendok mengarahkan ke mulut Fani, Akhirnya Ia membuka mulutnya.


"pemaksaan tahu"


Ando pun terus menyuapi sampai makanan itu habis.


"Fani Aku harus pamit masih ada kerjaan yang aku urus, oh Yah malam nanti kamu tidak kemana-mana kan?" Fani pun hanya mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu Aku pamit dulu"


"Iya, kamu hati-hati dijalan"


"Tuan daya permisi dulu, masih ada kerjaan yang harus saya selesaikan"


"Baiklah, terima kasih karena sudah menjemput putriku, jika sempat malam datanglah"

__ADS_1


"Baiklah tuan" Ando pun pergi.


"Sayang kemari kenalkan ini Ricard sepupumu dan ini rekan kerja Ayah"


"Halo, jadi kamu ayahnya Rein"


"Iya"


"Fani kapan kamu tiba?" suara wanita.


"baru saja ibu"


"siapa yang menjemput, kenapa tidak kabari ibu dan Ayah kalau kamu mau pulang"


"Maaf sebenarnya Aku ingin memberikan kejutan buat kalian"


"lalu bagaimana dengan sekolahmu"


"sudah selesai ini aku lagi liburan"


"dasar anak nakal, ayo temani ibu menyiapkan makan siang"


"Iya bu"


******


sementara tuan Tora sudah keluar dari rumah sakit kini mereka tak tinggal lagi dirumah itu, uang yang di berikan oleh Kris dan Yuni di gunakan untuk membuka sebuah restoran kecil yang menyiapkan makanan cepat saji.


"Ayah, ibu titip restoran yah ibu mau pergi menjenguk anak-anak kita"


"kita sama-sama saja bu Aku juga rindu anak-anak kita"


"baiklah kalau begitu restorannya siapa yang menjaga?"


"kan ada pelayan kita bisa titipkan sebentar" lalu tuan Tora pergi ke bagian kasir untuk menitipkan sementara dan mereka bergegas menuju ke ke kantor Polisi untuk menjenguk Nadia dan Randy.


setelah tiba du sana mereka memilih bertemu dengan Randi.


"Randi kamu baik-baik saja Nak?"


"Ayah bagaimana kabar ayah?"


"Ayah sudah baikan nak kamu bagaimana?"


"Aku baik-baik ayah, Aku minta maaf selalu menyusahkan kalian, aku selalu membuat kalian malu dan menderita"


"Sudahlah nak, kami sudah memaafkanmu semoga kamu bisa benar-benar belajar dari kesalahanmu ini"


"Iya Ayah"


"Ini kamu makan dulu ayah dan ibu membawakan kamu makanan"


"terima kasih Ayah ibu"


"Ooh iya Nak, istrimu tidak mau tinggal bersama dengan kami katanya Dia ingin di kampung bersama dengan ibunya, tapi kamu tidak usah kuatir ibu selalu mengirimkan Dia baju dan uang serta susu untuk ibu hamil"


"terima kasih bu, hanya saja aku takut Dia sudah tidak mencintaiku lagi"


"kata siapa mas, Aku masih mencintaimu, kamu berani berbuat seperti itu karena Aku jadi aku tidak mungkin meninggalkanmu"


"Atika? kapan kamu datang Nak?"


"Baru saja, Aku dari kampung langsung kesini aku sangat merindukan mas Randi" Mereka berduapun saling berpelukan melepaskan kerinduan mereka"


bersambung

__ADS_1


__ADS_2