Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Melepaskan Unek Unek


__ADS_3

Bugh..... bugh....


"Apa mau mu sialan !!! " Mencengkeram kerah baju Rafael dengan tatapan membunuh.


Meskipun Matteo sudah sekuat tenaga menahan emosinya tapi akhirnya terpancing juga karena melihat Rafael memegang tangan Altea.


Dan baku hantam disiang bolong kembali terjadi.


"Matteo hentikan !! " Teriak Altea


Tidak ada kata ampun, Matteo semakin menggila menghajar Rafael dengan brutal.


Para petugas keamanan langsung melerai pertengkaran kedua manusia yang tidak tahu malu itu.


Melihat Rafael yang sudah terkapar Altea langsung menyuruh petugas membawa ke rumah sakit, namun ditolak oleh Rafael melalui isyarat tangannya. Perlahan Altea memapah tubuh Rafael kedalam mobil dibantu oleh supir pribadi Rafael yang sudah menunggu.


"Kau !!!! " Altea menunjuk wajah Matteo dengan tatapan berapi api.


"Ayo pulang " Matteo meraih tangan Altea agar ikut dengannya. Namun wanita itu memberontak dan.. "Plak !!!!! " tanpa sadar Altea kembali mendaratkan tamparan di wajah Matteo. Tidak sakit tapi itu membuat Matteo terkejut bukan main. Tamparan itu menggambarkan jika Altea sedang marah dengannya.


"Ma maaf " lirih Altea menyesal dia berusaha menjangkau wajah Matteo untuk melihat pipi pria itu , namun pria itu tidak menggubris dia berlalu ke dalam mobil. Altea yang merasa bersalah juga mengekor dibelakang Matteo.


"Maafkan aku " didalam mobil Altea masih berusaha meminta maaf kepada Matteo.


.


.


.


"Aku sadar diri tidak pantas bersanding dengan mu ! " Matteo membelakangi Altea, Ada rasa kecewa yang mendalam melihat Altea , mereka sudah berada di dalam kamar.


"iya seharusnya aku sadar jika pria sepertiku memang tidak akan mampu duduk berdampingan denganmu !!" kilatan kekecewaan terpampang jelas di wajah Matteo.


"Sebesar apa pun usahaku berubah untuk menjadi pria baik itu tidak akan berarti bagimu, karena di matamu hanya Rafael... " Matteo sudah melepaskan jasnya dan melempar ke sembarang arah. Ingatannya kembali ketika pertama kali ditampar oleh Altea juga karena Rafael.


"Jangankan mencintai ku menganggap ku ada pun tidak ! " Kilatan kemarahan membingkai wajahnya.


"Iyalah, aku kan pria buruk yang tidak punya apa apa, tidak ada yang bisa aku berikan padamu selain cinta. Sedangkan Rafael punya segalanya Harta, tahta semua dia punya. Wajarlah wanita sempurna sepertimu pasti akan bersanding dengan pria yang sempurna juga" Matteo melepaskan semua Unek Unek yang tersimpan didalam hatinya selama ini.


Masa lalu Matteo yang buruk membuatnya semakin tidak percaya diri saat mengetahui Rafael yang begitu sempurna mendekati Altea.


"Aku sudah terlalu berani mencintai mu " Lirih Matteo.


"Aku tidak pernah memandangmu dengan apa yang kau punya sekarang Teo !!!! " Altea tak kalah berteriak.

__ADS_1


"Lalu kau memandangku dengan apa ? "


Matteo berbalik dan menatap tajam istrinya.


"Jawab !! dengan apa kau memandangku ? " Matteo mengguncang kedua bahu Altea dengan senyum menyeringai.


"Kau tidak bisa jawab kan ! "


"Bahkan kau masih berharap kembali seperti dulu padahal kita sudah menikah karena kau mengandung Anakku! " Menunjuk perut Altea dengan perasaan campur aduk.


"Siapa aku dimata mu Al ? " Matteo terkekeh kecil. "Aku adalah pria brengsek yang memerkosa mu dan membuat mu menderita benar bukan ? " Matteo menjawab pertanyaannya sendiri sambil tersenyum sinis.


"Matteo a..aku..... "


"Lahirkan anak itu untuk ku aku akan bertanggungjawab untuknya, dan hiduplah bahagia dengan Rafael aku tidak akan menghalangi mu lagi, aku sadar diri Al! " Lirih Matteo membalikkan badannya . Sejujurnya dia tidak tega melihat wajah sendu Altea sekarang.


Bagaikan tamparan keras di pipi Altea, kata kata telak yang keluar dari Matteo menggambarkan betapa rapuhnya jiwa pria itu sekarang.


"Apa maksudmu ? " mata Altea mulai berkaca kaca.


"Aku tau kau tidak bahagia denganku maka temukanlah kebahagian mu , Mencintai tidak harus memiliki bukan ? " Matteo tertawa kecil seolah menertawakan dirinya.


"Aku tidak akan menghalangi mu, sebanyak apa pun aku memberi cinta untuk mu jika tidak berbalas itu hanya akan menyakiti kita berdua " suara Matteo terdengar berat menahan sesak di dadanya.


Matteo sudah berada didalam mobil, menahan sakit di dadanya dia mencoba mencari ketengan diluar. Karena melihat Altea menangis akan semakin membuat dirinya tersiksa maka dari itu dia memilih pergi. dan empat pertama yang dia tuju adalah klub. Tempat dimana dulu dia bisa menghilangkan penat dalam pikirannya.


"Non bangun non..... " Asisten rumah tangga yang hendak memanggil Altea untuk makan malam menemukan wanita itu tergeletak di lantai.


Karena panik akhirnya asisten rumah tangganya meminta bantuan tetangga agar membawa Altea ke rumah sakit.


...----------------...


Subuh sekitar jam 4 Matteo pulang ke rumah setelah menghabiskan waktu dengan Daniel dan Ibra di klub malam.


Melihat pintu rumah terbuka matteo langsung gusar, membuka seat belt ditubuhnya dia segera masuk dan mendapati kamar dalam keadaan kosong.


Kemana Altea .


Bayangan bayangan masalah mereka tadi malam membuat Matteo takut jika Altea nekat keluar tengah malam dari rumah.


Akan tetap dia juga terkejut ketika melihat kamar asisten rumah tangganya juga kosong.


Mata Matteo tertuju dengan bekas bekas injakan sepatu atau sendal yang menempel dilantai. apa jangan jangan mereka diculik.


Pikiran Matteo sudah dipenuhi dengan berbagai macam kemungkinan kemungkinan buruk. Dia merutuki dirinya sendiri, seharusnya semalam dia tidak pergi keluar.

__ADS_1


kemana aku harus mencari mu.


Didalam mobil saat hendak menghubungi Gio mata Matteo memicing melihat panggilan berkali kali dari asisten rumah tangganya.


5 jam yang lalu ?


halo den ... ??? syukur aden akhirnya bisa dihubungi. terdengar suara cemas dari ujung sana.


"Halo ... bibi dimana? altea dimana ? "


Di rumah sakit den, non Altea semalam pingsan tolong kesini atuh den


Tut......


Membuka ruangan pasien tempat pertama yang dia lihat adalah Altea yang berbaring diatas brankar. Ada rasa bersalah menghinggapi perasaanya melihat istrinya terbaring seperti ini. Tidak tau apa yang harus dia katakan.


"Kata dokter.. non baik baik saja den, Adek bayi nya juga baik " Asisten rumah tangganya membuka suara sambil menampilkan senyum lega.


"Terimakasih bi, bibi boleh istirahat " Matteo mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan tampak ruang rawat itu tidak mempunyai tempat duduk seperti sofa atau kursi tunggu.


"Bibi pulang saja kalau begitu" Tidak menemukan tempat untu istirahat akhirnya dia meminta asisten rumah tangganya pulang.


Sambil menunggu Altea sadar, Matteo menatap hamparan kota yang masih ditutupi kegelapan dari jendela. Beban pikiran yang begitu banyak membuat tatapannya kosong.


"Maafkan aku.... " Tiba tiba sepasang tangan melilit di perut matteo.


Merasa di punggungnya ada yang menempel akhirnya Matteo melirik dan ternyata Altea memeluknya dari belakang.


"Maaf..." lirih Altea lagi, terdengar Isak tangis disela sela dekapannya.


Mendapat perlakuan seperti ini membuat Matteo tidak tega, tangis Altea adalah siksaan untuknya. Ini adalah pertama kalinya Altea memeluknya terang terangan.


"Aku menyayangimu .... "


Terdengar pelan , tapi kalimat terakhir Altea perlahan membuat hati Matteo luluh. Tidak ada alasan untuk tidak memaafkan wanita yang dia cintai.


Melihat Matteo belum juga bergerak, disini Altea mengerti jika pria itu serius dengan kata-katanya semalam.


Dengan perasaan hancur Altea melepaskan lilitan tangannya kemudian berbalik sambil menahan sesak di dadanya.


Rasanya begitu sakit melihat pria yang selama ini menggilainya terlihat tidak perduli lagi padanya.


Akan tetapi hap.... belum sempat dia melangkah Matteo sudah menariknya lagi kedalam dekapannya.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Matteo. Akan tetapi dia memeluk tubuh mungil Altea dengan erat, didalam dekapannya dia bisa merasakan tubuh Altea bergetar menahan tangis. Diusapnya punggung dan rambut wanita itu berharap cara itu bisa menenangkan Altea.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2