Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Bangga


__ADS_3

Pagi ini Matteo sedang berada di dalam mobil menuju bandara. Setelah berhasil mengkokohkan pertahanan Orion Company di Indonesia Matteo mulai merayap untuk mengurus cabang perusahaan yang ada di luar negeri. Seperti janjinya dia akan bekerja keras untuk Altea dan calon anaknya.


Niatnya ingin membawa Altea sekaligus untuk Honeymoon mereka ke luar negeri berakhir kandas karena sang dokter melarang wanita itu melakukan perjalanan jauh karena usia kehamilannya masih tergolong rentan.


"Sayang... aku pasti selalu merindukan mu " Matteo menyandarkan kepalanya ke bahu Altea dengan perasaan sedih. Semenjak Altea sudah mencintainya, sifat dingin Matteo sudah mencair.


Pria itu tidak lagi seperti dulu yang gampang meledak ketika melihat ada yang kurang pas di hatinya.


"Kita kan bisa video call nanti kalau kamu sudah sampai di luar negeri " Altea mencoba memberikan semangat kepada suaminya. Sejujurnya dia juga merasa berat jika berjauhan dengan matteo. Rasanya nyaman yang dia dapat dari suaminya perlahan membuat dia bergantung kepada Matteo.


Namun dia juga tidak bisa berkata apa-apa karena menyadari keberangkatan matteo adalah urusan pekerjaan. Dia tidak bisa melarang.


"Sayang... aku tidak bisa jauh dari mu ".. "Cup.. cup.. muah muah.. " sambil merengek Matteo mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh permukaan wajah istrinya. Bermanja manja di bahu istri adalah kebiasaan baru Matteo akhir akhir ini. Karena dari bahu dia bisa melihat pemandangan kaki gunung kembar istrinya yang begitu menggoda.


"Matteo hentikan!! " Altea berusaha menjauhkan wajahnya namun tidak bisa karena tangan Matteo menahan tengkuknya di belakang. Bibir Matteo sudah mulai menelusuri leher putih altea.


"Sayang jangan ihh... " Altea terus berusaha melepaskan tautan bibir Matteo.


"Kenapa? " Matteo masih merengkuh pinggang Altea . "Apa kau tidak mencintaiku lagi ! " Hardiknya merasa kesal karena aktivitasnya terganggu.


Altea hanya memutar bola mata malas. " ini itu didalam mobil dan kita tidak sedang berdua" bisik Altea.


Ayolah jangan buat aku malu di depan gio dan pak Mike. Mau di letak dimana wajahku nanti. Jangan bilang kau sengaja pamer kemesraan ini sama sekali tidak lucu. Jauhkan tangan nakal mu itu. Batin Altea meronta ronta.


Sedangkan Mike dan Gio saling memandang. Ingin rasanya mereka melompat keluar agar tidak menyaksikan kekonyolan sang Presdir Orion yang sedang dimabuk cinta.


"Aku tidak peduli" Dia kembali merengkuh pinggang Altea sambil memberikan ciuman manja.


"Sayang nanti dilihat orang " Altea menjauhkan wajahnya menghindari Matteo.


"Gio ! Mike ! " Matteo sudah mulai emosi, dia tau Altea menolak di cium karena keberadaan Mike dan gio.


"Apa anda butuh sesuatu ? " Hotel mungkin.


Mike membuka suara sambil melirik dari kaca spion.


"Tutup mata dan telinga kalian!!! "


"Kalau aku tutup mata dan telinga yang ada kita tidak sampai ke bandara bos.. tapi ke rumah sakit atau mungkin juga ke surga " Gio menahan tawa sambil berjibaku dengan jalan tol yang tidak ada hambatan.


"Apa kau bilang !!! sialan ! " Matteo menendang kursi kemudi dari belakang sambil menahan kesalnya


Mike hanya menggeleng kepala. Dalam hati dia bicara jika ingin mati tolong jangan bawa bawa saya. Cukuplah aku mati kata ketika melihat anda marah. Jangan lagi jiwa ragaku mati karena kebodohan anda.


Benar juga..


Kalau nanti dia tutup mata trus bagaimana dengan kendali mobil?

__ADS_1


Kalau kecelakaan trus aku meninggal


Lalu Altea dan anakku bagaimana?


Tidak !!!!


Matteo langsung menepis semua bayangan bayangan horor yang ada di benaknya.


"menyetir yang benar ! aku tidak mau mobilku lecet karena kelalaian mu " Matteo menarik Altea ke pelukannya menyudahi adegan manja manjanya karena dia tidak mau Gio ataupun Mike gagal fokus hingga berakibat fatal.


Apa ? Lecet ?


Kau bahkan bisa membeli pabrik mobil sekaligus wahai yang mulia !


"Baik bos " Mengalah untuk menang , Gio tau seperti apa Matteo. Jadi dia tidak berani membantah sedikit pun.


"Al... aku pergi dulu. "


"Ingat kata dokter jangan kelelahan! jaga ini , ini ,semua ini untuk ku !! hanya untukku" menunjuk perut Altea terlebih dahulu lanjut ke dada Altea. Menegaskan jika jiwa dan raga Altea adalah miliknya. kemudian mengecup dahi istrinya.


Gio dan Mike hanya bisa membutakan mata. Melihat tapi seakan tidak melihat dan mendengar seolah tuli.


"Iya " Altea membalas dengan senyuman kecil.


Tidak lupa Matteo juga mendaratkan kecupan manis di perut Altea. "hei baby cepatlah kuat agar kita bisa jalan jalan "


Melambaikan tangan saat Matteo sudah mulai berjalan menuju terminal.


...----------------...


Kediaman Mahaprana.


"Bagaimana proyek di luar negeri ? " David bertanya kepada Juna setelah selesai makan malam. Mereka sedang memakan buah segar.


"Aku sudah mengirimkan orang untuk mengurusnya pa, dan mungkin lusa aku akan mengevaluasi secara langsung " ucap Juna datar.


"Ngomong ngomong soal luar negeri apa papa tau Matteo baru saja memenangkan dua tender sekaligus di London? dan sepertinya proyek itu cukup besar , karena kolega bisnis kita di sana banyak yang mengincarnya."


"Apa benar begitu ?? " David dan Ratna saling memandang merasakan bahagia mendengar putranya sudah melangkah sejauh itu.


Juna mengangguk sambil tersenyum kemudian dia meletakkan garpu dari tangannya. "Dia jauh lebih baik akhir akhir ini " Imbuhnya lagi.


"Benar katamu, papa juga melihat perusahaan kakek mu sudah stabil " David membenarkan ucapan Juna .


"Bukan perusahaan kakek lagi pa.. tapi perusahaan kakak, kan kakek sudah menyerahkan semuanya sama kak Matteo " Diva memasukkan potongan buah kedalam mulutnya.


"Tau apa kamu soal perusahaan kakek mu.. makan buah mu itu dulu baru bicara " David membuka suara sambil menampilkan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Memang kenyataannya begitu... iya kan ma? " menyenggol lengan Ratna agar mendukungnya.


"Iya iya... berisik amat "


"Aku jadi pengen punya perusahaan sendiri seperti kakak " Altea menoleh ke langit langit sambil membayangkan masa depannya nanti.


"tugasmu menyelesaikan wisudamu saja belum kelar kelar " David berkata dengan penuh sindiran kepada putrinya.


"Tinggal menunggu hari 'H' saja pun."


"Tetap saja belum kelar " Juna juga tak kalah mengusili adik perempuannya.


"uhh kakak... " Rengek Altea manja.


"Kalau mau punya perusahaan sendiri maka mulailah dari sekarang, papa akan menuntunmu nantinya " Sebagai orang tua David memang setia mendukung impian anak anaknya. Karena itulah tugasnya sekarang.


"Bukan hanya papa.. mama juga akan mendukung " Ratna menyentil dagu mungil Diva memberikan semangat.


"Ah mama "... Tersenyum malu malu. Tidak lupa bibirnya mengerucut.


.


.


.


.


"Pa... putra kita semakin banyak berubah, aku mah senang sekarang " Ratna sedang berada di pelukan suaminya.


Dia begitu haru mendengar kabar mengejutkan tentang keberhasilan putranya Matteo.


"Iya papa bangga dengan mereka " David mengelus rambut istrinya dengan sayang. Dia sengaja memakai kata mereka untuk menyematkan nama kedua putranya Juna dan Matteo.


Diusia mereka yang sudah tua tampak pasangan itu masih terlihat romantis seperti anak anak muda yang sedang jatuh cinta.


"Apa papa tidak berencana begitu membuat perayaan kecil untuk keberhasilan Matteo " mendongak sebentar.


"Mama seperti tidak kenal anak mu saja. Mana suka dia perayaan perayaan " David hapal sifat Matteo yang tidak suka pesta perayaan.


"Tapi kan tidak ada salahnya kita coba pah.. "


"Lebih baik kita buat perayaan kalau anaknya lahir saja nanti, itu lebih baik dan lebih bermakna " sanggah David memberikan saran.


"Ahh papa betul juga, aku sudah tidak sabar menimang cucu pertamaku " mempererat lilitan tangannya kepada suami.


David hanya tersenyum dalam hati dia juga sama seperti istrinya tidak sabat melihat cucu yang akan menjadi penerus keluarga mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2