
Pagi hari Matteo bersiap untuk berangkat kerja, dengan memakai stelan jas navy dan melingkarkan dasi dileher untuk menyempurnakan penampilannya .
Sebelum keluar dari apartemen tak lupa dia menyemprotkan minyak wangi miliknya agar tubuhnya lebih fresh.
Melangkah masuk ke lift kemudian tidak lupa dia dengan jadwal barunya menjemput sang adik yaitu Diva.
Dengan kecepatan sedang dia menuju ke rumah kediaman orangtuanya menunggu sebentar namun Diva sepertinya tidak kunjung keluar.
Kemudian dia mencoba untuk menghubungi adiknya itu.
"Halo kak...
" Mana? aku sudah diluar .
"hari ini aku tidak masuk ke kampus soalnya ...
tut... tut . .
Matteo langsung mematikan sambungan telepon tanpa mendengar lanjutan kalimat Diva.
Kemudian dia melajukan kembali mobilnya ke kantor.
"Pagi.... Matteo menyapa Daniel yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"kenapa kau terlambat? Daniel bertanya sambil mendongak kearah Matteo.
"Harusnya hari ini aku memang tidak masuk.
Daniel hanya mendengus kesal atas jawaban sekretarisnya itu, semalam memang Daniel mengatakan agar Matteo libur beberapa hari.
Matteo menyerahkan beberapa berkas kemeja Daniel, dengan teliti Daniel memeriksa dan satu persatu berkas itu dia bubuhi dengan tanda tangan .
"Baiklah, kamu boleh keluar
Matteo memutar tubuhnya dan berlalu dari ruangan Daniel untuk pergi keruangan khusus tempat dia berkutat , sesampai di ruangan tiba tiba matanya memicing melihat tumpukan berkas yang terletak di mejanya.
Dengan kesal dia sejenak membuka berkas tersebut dan membaca sekilas mendapati jika berkas dari beberapa kepala staf divisi dan Manager.
Kekesalannya semakin sempurna ketika melihat tanggal yang tertera didalam berkas itu.
Tanggal yang sama dengan keberangkatannya ke Surabaya, ketika dia mendapat perintah dari atasannya untuk meninjau proyek dan membuat laporan.
apa dia sudah tidak waras ?
Dengan cepat Matteo membawa semua berkas itu keruangan Daniel, dan meletakkannya begitu saja.
"apa yang kau kerjakan selama aku pergi? Matteo bertanya dengan nada naik satu oktaf.
Daniel hanya memicingkan matanya dan menatap malas kearah sekretarisnya itu.
"kau sudah mengatakan selama aku di surabaya tugasku akan kamu tangani sendiri bukan?
Matteo kembali melayangkan protes dan menunggu jawaban dari atasannya itu apa alasan dia menumpukkan berkas diatas mejanya.
__ADS_1
"Aku sudah melakukannya, tapi tidak semua karena kemarin aku ada pertemuan diluar" Daniel mencoba mengelak .
"Lalu ini , ini, ini,? Matteo kembali memperlihatkan tanggal berturut turut menandakan jika Daniel hanya berbohong.
"Owh itu, aku pikir itu hanya berkas yang tidak mendesak makanya aku membiarkan saja" Daniel mencoba berbicara dengan tenang.
Matteo hanya memijit kepalanya yang berdenyut, dia bingung dengan atasannya ini karena dia hanya menjawab santai seakan tidak merasa bersalah.
Matteo hapal sifat Daniel, dia bahkan bisa menghabiskan waktu dengan wanitanya dan meninggalkan pekerjaan.
Matteo kemudian berdiri dan keluar dari ruangan, rasanya ingin sekali dia melempar atasannya itu kebawah.
Tapi mengingat dia adalah bawahan dia tetap konsisten dengan tanggungjawabnya.
Dengan kesal dan sabar dia mencoba memeriksa berkas berkas itu dan menyalinnya, kemudian membubuhi dengan cap stempel agar Daniel tinggal menandatangani.
Jam menunjukkan pukul 13.00 dia keluar dari ruangannya menuju ruangan Daniel untuk menyerahkan kembali berkas berkas itu.
"Selesaikan segera ,aku ambil setelah aku makan siang" Matteo hanya berucap datar dan meninggalkan Daniel yang masih diam dalam duduknya.
mengapa jadi dia yang memerintah, kan aku CEO nya. Daniel kembali bergumam melihat sekretarisnya itu.
Namun dia tidak terlalu mempermasalahkan itu mengingat Matteo sudah membantunya mengurusi proyek yang seharusnya adalah tanggungjawabnya dan dia puas dengan laporan Matteo selama satu minggu.
****
Altea turun dari Angkutan umum dan segera melangkah ke loker untuk mengganti pakaiannya dan segera memasuki area untuk memulai pekerjaannya.
Ibra yang baru saja melangkah masuk ke restorannya mendapati Altea sedang menerima taruna dari kepala pelayan.
Dia memandang Altea dari jauh, karena memang Ibra jarang melihat anak gadis itu biasanya Ibra datang pagi hari untuk bertemu dengan beberapa operasional dan meminta laporan. Jadi wajar jika Ibra tidak terlalu mengetahui tentang karyawannya.
Kemudian Ibra meminta kepala pelayan agar menyuruh Altea menghadap ke ruangannya di lantai 3.
tok tok tok...
"Masuk ...
Altea melangkah masuk keruangan Ibra setelah mendapat izin.
"Maaf pak tadi saya dapat arahan dari ibu Wulan untuk menemui bapak" Dengan sopan dan sedikit menunduk Altea menjelaskan kedatangannya.
"Duduk .... Ibra melihat gadis didepannya ini sedang canggung.
Alte kemudian duduk didepan Ibra sambil memegang ujung roknya.
Apa aku membuat kesalahan? ada apa ini? Apa dia mau memecat ku?
Berbagai macam pertanyaan itu melintas dibenak Altea kala melihat bos nya itu belum mengeluarkan suara.
Ibra menutup laptopnya dan meletakkannya kembali keatas meja disebelahnya.
"Apa kau sudah lama mengenal Matteo?
__ADS_1
Ibra bertanya to the point.
"Tidak pak..
"Apa dia saudaramu?
"Tidak pak..
Mendengar Altea hanya berkata tidak membuat Ibra memicingkan matanya.
"Mungkin kamu punya penjelasan pribadi tentang Matteo, boleh aku mendengarkan?
Ibra kemudian melayangkan pertanyaan.
Altea kemudian mengerutkan keningnya mendapat pertanyaan dari atasan nya dan ini embuat Altea bingung.
"Maaf pak, a..aa aku hanya" Altea bingung ingin memulai dari mana.
"Maksud aku, Matteo adalah sahabatku, sementara kamu disini saya dengar masih karyawan baru, bagaimana kamu mengenalinya "
Mendapati Altea yang kebingungan, Ibra mencoba membantu Altea menganalisa maksud pertanyaannya.
"Bukannya bapak yang mengenalkan nya kepada saya? Altea dengan takut takut malah bertanya balik.
Aku? Ibra kembali semakin bingung.
"Waktu itu bapak meminta kak Matteo mengantar aku pulang karena aku lembur"
Sejenak Ibra ingat "Oh itu, apa dia menyakiti mu? Ibra kembali bertanya kepada Altea.
"Tidak pak, sama sekali tidak..
Altea menggelengkan kepalanya gugup.
"Lalu semalam? aku melihat kalian dipinggir jalan" Ibra ingin tau langsung dari bibir Altea. Meskipun dia mendengar semuanya.
"ah tidak pak, semalam kak Matteo mengajakku pulang sama tapi aku segan, Altea menjelaskan dengan kalimat terbata bata.
"Tapi aku menerima tawaran bapak, karena aku tidak mau bermasalah dengan bapak, nanti aku dipecat" Dengan polosnya Altea memaparkan mengapa dia menolak diantar oleh Matteo dan mau diantar oleh Ibra.
Seketika tawa Ibra menggelegar memenuhi ruangan. Dia tidak menyangka jika gadis yang didepannya itu benar benar sangat lugu dan polos.
"Apa kau pikir aku seburuk itu memecat seseorang tanpa salah? lagi pula aku tidak ada hak memecat mu" Ibra tertawa kecil melihat rona merah memenuhi wajah Altea.
"kenapa ? kan bapak yang punya restoran "
Altea kemudian memberikan pernyataan polos sambil menatap bingung bos nya itu.
Ibra kemudian semakin tertawa dengan pemaparan Altea. "jika aku yang turun tangan memecat karyawan, lalu apa guna operasional disini? Ibra tidak habis pikir dengan kepolosan Altea.
"selain cantik dia juga sangat lugu dan polos
Batin Ibra
__ADS_1
Bersambung...