
Setelah empat hari dirawat dirumah sakit Matteo sudah mulai merasa lebih baik, selama empat hari itu juga Altea selalu datang mampir atas permintaan Ratna.
"Pasien sudah bisa pulang hari ini, tapi kami sarankan agar pasien menepikan diri dulu dari semua aktifitasnya " ucap salah satu dokter kepada Ratna dan Altea yang diam sambil menyimak.
Didalam ruangan Matteo juga ada Ibra, Gio dan anggota gengnya, seperti biasa mereka selalu ada untuk Matteo selaku ketua mereka.
"Baik dok"...
"Kamu makanlah dulu sebelum pulang" ucap Altea sambil mengambil piring berisi nasi dan lauk. Dan meletakkan piring di samping Matteo yang sedang duduk.
Terlihat Matteo sama sekali tidak menyentuh piring itu.
"Kenapa tidak dimakan?
"Apa kau tidak mendengar kata dokter aku harus menepikan semua aktifitas ku?, makan juga termasuk aktifitas" ucap Matteo santai.
"Lalu kau akan mogok makan ? Tanya Altea polos.
"ya tidak juga " ucap Matteo
"Lalu bagaimana? Altea mengerutkan dahinya.
"ya bagaimana lagi" ucap Matteo datar sambil mengalihkan kan pandangannya kearah lain seolah memaksa Altea berpikir.
"Oalah modus mu lah bang " Batin Ibra terkekeh.
"Mungkin maksud Matteo dia mau disuapin makan" akhirnya Ibra membuka suara, dia tau jika kepolosan Altea tidak akan dapat mencerna modus Matteo.
Dengan berat hati Altea kembali mengangkat piring dari samping Matteo. Senyum mengembang terpampang di wajah Matteo.
Altea kemudian menyuapi pria itu dengan telaten.
Perasaan semalam anak ini makan sendiri, kenapa sekarang minta disuapin?
Gio dan anggota geng yang sedang bergelayut di sofa sesekali menjahili Matteo dengan kalimat kalimat jengkel dan menghasilkan tawa riuh di dalam ruangan.
"Tidak bisakah kalian diam? Aku lagi sakit !!" Teriak Matteo karena merasa dijahili. Sontak mereka menghentikan tawa mereka.
Sakit tapi masih bisa marah marah. Batin Altea.
Ratna hanya tersenyum melihat anak anak muda yang sedang menjahili putranya itu.
Baginya ini adalah hiburan tersendiri .
Beberapa saat kemudian dokter spesialis kembali mendatangi ruangan Matteo. "Ini hasil pemeriksaan akhir dari pasien, dan kami mengizinkannya pulang sekarang" Ucap dokter memberikan selembar surat kepada Ratna.
"Aku belum mau pulang, aku merasa badanku masih sakit" Matteo memotong pembicaraan ibunya dengan dokter.
"Rasa sakit yang anda alami itu hal wajar mungkin belum sepenuhnya pulih, jadi bisa anda pulihkan dirumah,boleh saya katakan jika anda sudah sembuh " ujar dokter tersenyum.
Apa! sembuh ? aku tidak mau sembuh, jika aku sudah sembuh artinya Altea tidak memperhatikanku lagi.
"Aku yang merasakan apa yang ada ditubuh ku, jadi kalau aku bilang masih sakit berarti sakit" Matteo menaikkan volume suaranya 3 oktaf sekaligus.
mendapat perhatian Altea selama empat hari ini membuat dirinya semakin nyaman dengan gadis itu. Dan ini adalah hal yang tidak boleh dilewatkan.
"Aku tidak mau pulang, aku mau dirawat disini" Matteo kembali merebahkan tubuhnya diatas brankar.
__ADS_1
Dokter seketika bingung, baru kali ini ada pasien yang tidak senang sembuh. "
"Tapi ruangan ini sudah di booking oleh pasien dari IGD dok" Ucap perawat yang sedang bersiap membuka selang infus Matteo.
"Tidak bisa! aku bisa membayar ruangan sialan ini 5 kali lipat, kalian keluarlah aku mau istirahat " ucap Matteo memandang tajam dokter dan perawat.
" Nak jangan seperti itu, " Ratna melihat tindakan putranya kurang sopan.
"Mama pulang lah, aku mau sendiri " ucap Matteo.
"Baiklah nanti mama kesini lagi " Ratna hanya bisa mengalah kemudian dia berdiri dan menarik tangan Altea " Ayo sayang"
"Mama mau bawa Altea kemana ?
"Katamu kau mau sendiri " Ratna memijat kepalanya yang mulai berdenyut.
"Maksudku kalian semua keluar kecuali Altea " Matteo kembali menaikkan volumenya 3 oktaf sekaligus.
Mood Matteo kembali buruk entah mengapa sejak dokter mengatakan dia sembuh.
"Oalah kau mau berduaan rupanya" batin Ibra.
Mereka melihat kobaran emosi Matteo sudah mulai memuncak.
Akhirnya satu persatu Gio dan gengnya keluar disusul oleh Ibra dan Ratna.
Didalam ruangan hanya tersisa Matteo dan Altea. "Maaf " ucap Matteo lirih sambil memandang Altea yang bergeming.
"Apa kamu takut dengan ku? Matteo melihat jarak berdiri Altea cukup jauh darinya.
"Tidak " Altea kemudian mendekat.
"Bukannya kita sedang berbicara dan berdua juga " Ucap Altea sambil terkekeh.
"Maksudku kau duduklah disini" Matteo menepuk ranjang kosong disebelahnya.
Altea tidak ada pilihan, dia terpaksa duduk karena dia tau manusia yang sedang berbicara itu sedang sakit, belum lagi tipenya yang gampang meledak ledak.
Hening sejenak...
"Apa kau membenciku?
"hmhm
"Maafkan aku... ", Apa kamu benar benar akan menjauhiku?
"Aku tidak tau"
Matteo menghela nafas sejenak "Aku memang pantas untuk di benci "
"Aku tidak membencimu, aku hanya tidak menyukai sifat mu" ucap Altea
"Lebih tepatnya kau tidak akan menyukaiku karena aku buruk begitu bukan?
"Jika kau merasa" ucap Altea datar.
Matteo menundukkan kepalanya sejenak seolah merenungi apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Apa kau merasa nyaman seperti ini?
"Seperti apa ?
"Hidup yang kamu jalani sekarang" Altea menggoyangkan kakinya yang menggantung.
"Iya " Ucap Matteo datar.
",Berarti kamu memang tidak ada niat berubah " ucap Altea seakan menyindir.
"Bukan seperti itu " Matteo langsung menengadah.
"Orang yang nyaman dengan posisi monoton itu adalah ciri ciri orang yang tidak mau maju"
Altea kemudian berdiri hendak menyambar tasnya.
Sontak Matteo ikut berdiri dan menarik kembali tangan Altea. "Aku membutuhkan mu untuk berubah " Matteo kemudian melepas tangan Altea.
"Niat dan tujuan ! ucap Altea menekankan kalimatnya.
"Jika kamu tidak punya niat dan tujuan, semua tidak akan akan tercapai" ucap Altea memandang lekat wajah Matteo. "Atau kau punya tujuan berubah tapi niatmu tidak ada itu omong kosong" Altea kembali menambahkan kalimatnya.
"Tujuan ku berubah adalah agar kau mencintaiku, Sekarang aku tanya kau mau tidak menunggu aku berubah? " Matteo langsung bertanya to the poin.
"Jangan jadikan diriku alasanmu berubah"
Altea terkekeh kemudian dia kembali duduk diatas brankar Matteo.
"Maksudmu?
"Melakukan sesuatu karena dipaksa atau terpaksa hanya akan membuat kita jadi tertekan sendiri, Jadi lakukanlah perubahan atas dasar keinginan dan kemauan mu sendiri" Altea menatap lekat wajah Matteo yang bergeming.
"Jadi kedepannya kau pasti akan menemukan banyak hal positif" imbuh Altea.
"Aku tidak menginginkan banyak hal, aku cuma ingin kau mencintaiku itu sudah cukup" Matteo mengalihkan pemandangannya.
"Cinta akan tumbuh sendirinya jadi,berubah lah untuk dirimu sendiri" Altea memberanikan diri mengacak rambut Matteo kemudian dia perlahan mengayunkan langkahnya dan meninggalkan Matteo yang mematung karena Altea mengacak rambutnya.
Melihat Altea menghilang, Ibra kemudian meraih ponsel nya dan menghubungi Ibra .
"Ke rumah sakit sekarang, kutunggu 5 menit " Tut....
Matteo langsung mencabut paksa semua selang infus yang menempel di pergelangan tangannya dia tidak menghiraukan tetesan darah yang mengalir.
Kemudian dia berlalu ke toilet ,untuk membersihkan diri, tepat dia keluar dari toilet Ibra sudah tiba.
"Kau kenapa lagi? ucap Ibra mendudukkan bokongnya di sofa.
"Kenapa kau duduk ayo pulang " ucap Matteo malah mengabaikan pertanyaan Ibra.
"Bukannya kau masih sakit sialan! Ibra melayangkan protes, karena jelas jelas tadi dia menyaksikan perdebatan nya dengan dokter perkara pulang.
"Secepat itu?????
"Aku tidak mengizinkan mu banyak bertanya, sekarang bawa ini" Matteo melempar tas Matteo ke pangkuan Ibra.
Bersambung......
__ADS_1
Bab selanjutnya akan semakin rumit ya guys.
🤗