
Hampir 2 jam Altea dan Matteo berkelana di dalam stadion Camp Nou.
Altea terlihat sibuk melihat lihat apa yang ada di dalam sana dan mencocokkan dengan fakta fakta yang pernah dia baca tentang Stadion camp Nou.
Tidak lupa dia juga membeli beberapa Jersey ikonik Barca yang bisa dia kenang nanti sebagai tanda bahwa Altea pernah mendukung Barca dari garis paling depan.
"Aku mau membelikannya satu untuk Thiago." Dia sibuk memilih Jersey size kecil sesuai tubuh anaknya.
"Memangnya thiago suka sepak bola " Tanya Matteo sedikit menaikkan alisnya.
"Suka tidak suka tidak apa apa juga kali " Pandangannya tidak luput dari stelan Jersey yang berjejeran.
Ah imutnya kalau anakku memakai ini. Mengambil satu setelan.
Setelah selesai mereka kembali ke dalam mobil. Terlihat wajah para pengawal langsung sumringah penuh dengan keceriaan.
"Silahkan tuan dan nona " membuka pintu mobil agar Altea dan Matteo masuk.
Altea mengangguk lalu tersenyum seperti biasa.
"Kalian boleh pergi ! " Pengawal masih terlihat bingung. Lebih tepatnya tidak mengerti.
Matteo segera membuka pintu depan agar Altea masuk.
Pengawal masih setia berdiri di tempatnya masing masing.
"Aku bilang kalian pergi saja. Aku dan istriku mau menghabiskan waktu bersama. " Ucapnya sambil membuka pintu kemudi.
"Pergilah nikmati waktu kalian " dia mengisyaratkan dengan jari tangannya.
"Baik " pengawal mundur beberapa langkah sebelum menyaksikan Mobil tuannya perlahan melaju hingga tidak terlihat.
Sementara itu Matteo dan Altea masih tersenyum bahagia atas nikmatnya hari ini. Manis manis yang tersisa di camp Nou tadi masih terasa.
Tadi di camp Nou, dari ketinggian yang tidak tau entah berapa meter mereka sempat berciuman cukup lama.
"Sayang..." Altea melirik Matteo. " kenapa meninggalkan mereka malam malam begini. " Berucap dengan kikuk.
"kalau mereka kesasar gimana? inikan negara orang "
"Mereka siapa ? " Matteo tidak bergeming. Seolah tidak tertarik dengan topik Altea.
"Bapak bapak yang menemani kita dari kemarin " Ucap Altea sambil terus menatap Matteo. Para pengawal itu maksud Altea.
"Oh.... itu "
Itu apa ? jawab yang jelas hei !
"Iya.. kenapa mereka tidak barengan sama kita ? " Altea terus mengajak Matteo bicara.
"Aku mau berdua saja dengan istriku " ucap Matteo tanpa menoleh.
"Tapi... "
"Berhenti membahas mereka sama sekali tidak seru " ucap Matteo menghentikan mobilnya. Dia melirik wanita dan sebelahnya.
eh kenapa ? kenapa tatapannya ngeri ngeri sedap begitu. Altea.
"Sayang kenapa berhenti ? " Altea menoleh.
Matteo melepaskan seatbelt dari tubuhnya. Dia dengan cepat meraih wajah Altea dan membenamkan bibirnya di bibir manis istrinya.
"Jika sedang berdua denganku maka nikmatilah. jangan bahas laki laki lain " ucapnya setelah Altea hampir tersenggal karena Matteo menciumnya agak lama.
"Kau paham ? "
Seperti sihir Altea mengangguk. "iya "
"Bagus... anak pintar " mengusap rambut Altea dengan sayang. " Nikmati waktu kita " Ucap Matteo menginjak pedal gas.
Mobil berhenti di depan rumah antik milik Matteo.
"Tunggu jangan buka pintunya " Matteo sudah duluan turun mengitari mobilnya dan membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Kenapa menggendong ku ??? " Ucap Altea protes karena Matteo tidak memberikan pemberitahuan.
Tidak menggubris.
Dia terus berjalan menaiki anak tangga. Sebanyak apa pun Altea meronta tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
Tangan kekar Matteo mengunci pergerakan wanita itu.
Matteo menurunkan Altea depan pintu kamar lantai dua.
"Ayo masuk " ..
Altea ternganga melihat sekeliling . Kamar
mewah itu yang sudah disulap seperti kamar ratu dan raja.
bunga bunga bertabur dari depan pintu hingga ke atas tempat tidur membentuk hati.
Semerbak aroma lembut memenuhi seluruh ruangan.
Entah siapa yang menyiapkan ini semua Altea bahkan tidak sempat bertanya Matteo sudah berjongkok di hadapan Altea.
"Matteo...."
Lagi lagi Altea takjub saat Matteo membuka sebuah kotak kecil dari belakang saku jaketnya. Sebuah cincin white diamond berwarna silver metalik.
Cahaya remang membuat sinar diamond cincin itu seperti hidup.
"Chelsea Altea! "Serunya dengan tatapan teduh.
Eh... kenapa lagi dia berjongkok...
"Aku tidak tau betapa sulitnya dirimu bangun dari hari buruk yang pernah terjadi diantara kita. "
"Aku tau kesedihan mu saat itu. " Matteo menjeda kalimatnya sebentar menatap kedua bola mata istrinya.
Sedang Altea sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Berusaha menutupi rasa harunya.
Aku mau menghabiskan sisa hidupku hanya bersama mu. Bersama wanita yang paling aku kagumi! ."
Aku mau kau lupakan semua masa lalu kita yang buruk !
Apa pun itu ! dan anggaplah ini pertama kalinya aku melamarmu. "
"Aku melamar mu malam ini untuk menjadi pendamping hidup ku sampai akhir hidup kita".
"Chelsea Altea maukah kau menerimaku ? " bertanya dengan wajah dan senyum penuh cinta. Meskipun dia tau Altea akan menerimanya.
Tapi entah mengapa tidak lengkap rasanya jika momen melamar ini terlewatkan.
Cukup lama Matteo berlutut karena Altea belum juga bisa menguasai dirinya. Rasanya setengah kesadaran masih berhambur. Entah mengapa perlakuan romantis Matteo malam ini membuat otaknya tidak bisa bekerja maksimal.
Dia masih mematung memandangi wajah Matteo.
Tak terasa cairan bening Altea mengalir sendirinya. Meskipun bibirnya tersenyum namun itulah haru yang sebenarnya.
Menangis karena bahagia.
Altea mengangguk sambil tersenyum kecil. Mengulurkan tangannya.
Matteo kemudian menyelipkan cincin itu di jari tengah Altea karena jari manis wanita itu sudah di tempati oleh cincin pernikahan mereka.
Cincin perdamaian dirinya dengan masa lalu yang terjadi dengan Altea.
"biarkan Cincin nikah kita berdampingan dengan cincin lamaran mu ". Setelah cincin itu tersemat dia mengecupnya sekali.
Altea tersenyum menahan haru dan semu dalam hati. Karena tidak bisa menguasai diri dia langsung membenamkan kepalanya di dada bidang Matteo yang menjadi tempatnya berlindung setiap saat.
Malam terus berjalan. Tidak tau sekarang sudah jam berapa.
Saat ini wanita itu sudah duduk di pangkuan Matteo.
__ADS_1
Membelai lembut wajah Matteo dengan hangat.
Ayah dari anak ku....
Sampai saat ini Altea masih terus terngiang dengan perjalanannya dengan Matteo. Tidak percaya bahwa semua sudah terjadi.
Matteo terbawa suasana merasai halus tangan istri. Belaian Altea menghangatkan jiwanya.
"Benarkah kau sudah mencintaiku dengan segenap hatimu ? " bertanya lagi. Kedua tangan kekarnya sibuk bergerilya di belakang punggung Altea. Menjelajahi bagian bagian kesukaannya.
"Iya...Aku mencintai mu. Kenapa kau masih meragukan perasaanku padahal aku sudah melahirkan anak mu" ...Sejauh ini Altea tidak lagi meragukan perasaannya. Dia juga tidak meragukan cinta dari suaminya.
Matteo menarik pinggang ramping Altea merapat ke tubuhnya. "Aku tidak ragu. tapi aku perlu mendengar itu dari bibirmu " . Satu tangannya menahan tengkuk Altea. Ciuman itu semakin dalam.
Seperti biasa Matteo mengeksplor rongga mulut Altea dengan lahap.
Altea merasa jika ciuman Matteo tidak hanya hanya ciuman biasa tapi ciuman hasrat untuk meminta lebih.
kedua tangan Matteo sudah Travelling menelurusi gunung lembah altea yang subur dan makmur itu.
Sambil memberi jeda agar Altea menyesuaikan. Matteo merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan diatas ranjang.
Bantal dan selimut dia tendang hingga teronggok di lantai. Melihat itu jantung Altea semakin berpaju dengan cepat. Dia sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bersuara karena Matteo sudah meraba raba area sensitif miliknya.
Bisikan cinta membuat Altea sama sekali tidak berkutik. Dia tidak berdaya menolak akan apa yang dilakukan Matteo.
Walau mereka sudah sering bercinta entah mengapa Matteo selalu memberikan sensasi yang berbeda setiap kalinya.
sentuhan sentuhan lembut mampu membuat Altea semakin menggila. Kuku lentik miliknya bahkan ikut terbawa bawa hingga menancap di punggung Matteo.
Matteo mulai meraba setiap inci tubuh Altea dengan perlahan. Seperti biasa tubuh Altea akan spontan hanyut. Bahkan terdengar suara suara halus Altea yang memancing jiwa jiwa pemberontak Matteo semakin meronta.
Dia kembali mendaki mulai dari perut rata Altea . Semakin naik ke atas dengan hembusan nafas yang mulai terengah.
Dia tidak tahan lagi melihat bibir manis istri yang kerap kali dia rasai. Karena Terbawa suasana Altea mulai membalas ciuman Matteo dan mulai meraba punggung kekar Matteo.
"Kau sudah mulai pintar ternyata". Rayunya karena merasa tangan halus istrinya mulai bergerak.
Altea buru buru melepaskan tangannya namun ditahan oleh Matteo. "Lakukanlah, ini milikmu semuanya " Matteo melepaskan kaos yang menempel di tubuhnya. Wajah Altea semakin merah padam.
Beruntunglah lampu di kamar itu remang. Sehingga wajah padam Altea tidak terlihat.
Aaa aku malu !
Tidak tau kapan . Matteo sudah selesai melepas pakaian Altea. Wanita itu baru saja tersadar jika tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang.
"Nikmati malam kita.. " Matteo yang sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi langsung melahap habis istrinya tanpa jeda.
Suara leguhan Altea terdengar lebih keras saat Matteo mulai mempercepat hentakan demi hentakan dengan penuh gairah.
Dan malam itu kebahagiaan milik mereka berdua.
Beberapa kali Altea memperbaiki posisinya agar tetap nyaman karena serangan Matteo benar benar membuatnya kewalahan.
Namun sama sekali dia tidak merasa keberatan.
Dia terus berusaha untuk bisa mengimbangi gerakan dan juga tenaga Matteo.
Matteo memainkan perannya dengan buas. Walaupun begitu dia tidak egois. Dia juga pintar menjeda permainannya, agar Altea juga merasakan sensasi yang dia ciptakan sendiri.
Hentakan itu semakin cepat sampai akhirnya dia menjatuhkan tubuhnya di samping altea.
Satu kecupan manis mendarat di dahi istrinya.
"Aku mencintaimu Al " Matteo mengambil selimut yang teronggok di lantai kemudian dia membungkus tubuh polos Altea.
Mereka berdua masih mengatur deru nafas yang saling memburu. Keringat membanjiri tubuh keduanya menyatu antara satu sama lain. Dinginnya suhu di barcelona tidak mampu membuat kedua merasa sejuk.
"Aku mau mandi sebentar" Ucap Altea bersiap melepas selimut dari tubuhnya.
"Jangan sayang. Besok saja. ini sudah subuh tidak baik untuk kesehatan mu " Matteo mencegah Altea dengan membungkus kembali tubuh istrinya.
"Tapi ini lengket ... "
__ADS_1
"Sayang besok saja ya... kau sebaiknya istirahat kau pasti lelah kan " Matteo memberikan tatapan tidak boleh di bantah.
Bersambung...