Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Peluk erat tubuhku


__ADS_3

Sejak sore hari disaat Altea datang bersama David suaminya, Ratna langsung memberikan instruksi kepada pelayan rumah tangga yang bertugas di bagian dapur agar menyiapkan makanan sehat khusus ibu hamil untuk dihidangkan kepada Altea saat makan malam nanti.


Waktu terus berputar hingga malam tiba, keluarga mahaprana berkumpul untuk makan malam, setelah pelayan selesai menghidangkan makanan diatas meja mereka juga akan makan malam di ruang tengah paviliun belakang.


Itu sudah menjadi peraturan tertulis di keluarga Mahaprana tidak ada perbedaan jadwal makan antara mereka dan para pekerja. Baik itu makan pagi ,siang atau pun malam. Menu yang dikonsumsi juga adalah menu yang sama dengan majikan tidak dibenarkan membedakan makanan baik dari segi apapun, tidak terhitung jika ada selera tambahan pekerja.


"Apa kamu sudah mengabari Matteo jika keberadaan mu disini ? " Sebelum memulai makan malam David bertanya kepada Altea.


ponselnya tidak bisa dihubungi.


"Belum pa, aku hampir saja lupa " Altea mengetuk keningnya, obrolan panjang dengan Ratna ibu mertuanya dan juga diva membuat Altea memang lupa untuk terus menghubungi Matteo.


"Jangan lupa kabari nanti suami mu ke carian " Ratna sengaja selalu menggunakan kata suami mu agar Altea tidak merasa asing posisinya sebagai bagian keluarga mahaprana.


"Iya ma ".


.


.


.


Setelah makan malam sudah selesai Altea diantar oleh Diva ke kamar Matteo, "Selamat istirahat kakak ipar yang cantik " Goda Diva mengedipkan matanya. Altea hanya mendengus kesal menyadari diva suka sekali menggodanya.


Merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, matanya menerawang jauh ke masa lalu awal pertama bertemu dengan Matteo. "aku tidak pernah menyangka langkah kita sejauh ini" gumamnya sambil memandang bingkai besar yang berisi foto Matteo dengan warna hitam putih menempel didinding kamar.


Pria yang paling dibencinya karena sudah membuat dirinya hamil dan berakibat menikah dengan terpaksa. Akan tetapi akhir akhir ini pria itu sering mengisi pikirannya. Rasa benci yang dulu menyeruak perlahan hilang ditelan waktu.


"Kamu kemana ? " Mata Altea mulai berkaca kaca merasakan kerinduan teramat sangat saat jam sudah menunjukkan pukul 23.00 wib .


" Aku rindu" melirik ponselnya yang tidak memiliki notifikasi sama sekali. Padahal dia sudah berkali kali menghubungi Matteo sejak sore untuk memberitahu keberadaannya.


Apa kau sudah di rumah..


kenapa kau tidak menjemput ku kesini.


Apa memang benar kau tidak mempedulikan aku lagi..


pasti kau di klub malam itu sekarang kan atau gak di arena .


Kau memang tidak akan pernah bisa meninggalkan itu. aku tau itu...


Harusnya aku ingat dia itu seorang Matteo , tidak akan mudah baginya berubah...


Berusaha menepis semua hal tentang matteo. dia melirik riwayat pesan yang dia kirim masih centang satu. Itu tandanya bahwa nomor yang dituju belum membaca pesan yang dia kirim.


Diatas tempat tidur Altea menggeliat ke kanan dan kiri untuk mencari posisi tidur yang enak namun sepertinya matanya belum juga bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Bayangan Matteo yang mengecupnya ditengah malam atau subuh saat dia tertidur ketika pria itu pulang bekerja samar samar terngiang didalam pikiran Altea. Walaupun pria itu mengecupnya saat tidur pulas namun dia bisa merasakan usapan tangan Matteo di kepalanya dan juga di bagian perutnya.


"Sepertinya aku sudah nyaman dengan mu " lirihnya lagi sambil menunggu kapan kedua matanya bisa terpejam, ayo untuk sekarang tidurlah. Aku tidak bisa membayangkan bulatan hitam ada di area mataku besok , ayo tidurlah ... sungguh ini menyiksaku batin Altea.


Saat bergelut dengan pikirannya yang dilanda kesepian, mata Altea menoleh saat terdengar suara krek! dari pintu.


"Matteo! " lirihnya sambil beranjak.


"Al.. kamu belum tidur ? "


"Aku tidak bisa tidur.. karena a.. aku merindukanmu " dengan kalimat terbata bata akhirnya keluar juga perasaan yang dia pendam sedari tadi.


"Merindukan ku ? " rona senang menghiasi wajah Matteo. Merasa dirindukan adalah tanda jika wanita itu perlahan sudah membuka hati untuknya.


Sambil membuka jas dan melonggarkan seutas tali yang melilit di lehernya, matteo perlahan mendekati Altea sontak wanita itu berdiri.


"Kemarilah... peluk erat tubuhku ! " merentangkan kedua tangan menunggu Altea mendekat , Altea yang sudah menahan rindu langsung menabrakkan tubuhnya ke tubuh kekar Matteo dan pria itu dengan rona bahagia membawa Altea kedalam pelukannya dengan mempererat lilitan tangannya. Altea menyembunyikan wajahnya di leher Matteo sambil merasakan kehangatan yang membuat jiwanya kembali tenang.


Sambil mengelus punggung Altea hidung Matteo tidak luput menciumi aroma rambut Altea. "Kau menungguku ? " disela sela dekapannya.


"Iya..." Altea mendongak sebentar. " pasti kau dari klub malam itu lagi kan ? " Altea melepaskan pelukannya dan menatap tajam Matteo.


"Tidak sayang ! " menyentil dagu Altea karena gemas.


"Bohong ! "


"Aku tidak mau!! " Altea spontan menggelengkan kepala. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi jika wajah mereka berdekatan.


"Nanti kau malah mencium ku " lirih Altea sudah melangkah mundur. Rasanya dia teramat malu dengan ucapannya barusan.


"Memangnya kenapa kalau aku mencium mu ? kau kan istri ku " Tersenyum penuh arti.


"Tapi ..... "


Sejak pertama kali Matteo mengecap bibir itu rasanya itu menjadi candu baru bagi Matteo.


Meraih pinggang ramping Altea kemudian mendaratkan kecupan manis di bibir wanita itu, semakin memperdalam ciumannya hingga pertemuan dua bibir itu terjadi lagi. Suara kecapan demi kecapan memecahkan keheningan malam.


"Apa kau sudah mencintaiku ? " Menatap lekat kedua bola mata Altea.


"A.. a.. aku tidak tau " Altea tidak berani menatap wajah Matteo, dia segera menyembunyikan wajahnya di ceruk Matteo lagi.


"Baiklah lepaskan aku " Matteo mulai melerai pelukan Altea.


"Kenapa ? " mendongak sebentar tapi tangan tetap melilit di pinggang Matteo.


"Kau tidak mencintaiku bukan ? Lepaslah... aku mau mandi " Tangan Altea sudah berhasil dia lepaskan, dengan wajah kesalnya segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari kuman kuman atau polusi yang menempel ditubuhnya.

__ADS_1


Didalam kamar mandi Matteo melihat cerminan dirinya sekarang. Dari segi penampilan saja terlihat dia sudah jauh berbeda dengan dirinya ketika belum berubah.


Berkaca ke masa lalu Matteo tidak pernah memperhatikan penampilannya ketika masih sibuk dengan dunia luar.


Berbeda dengan sekarang, setelah dia duduk memimpin perusahaan penampilan adalah hal pertama yang harus dia jaga karena kedudukannya sebagai Presdir.


Melihat Altea yang duduk membelakanginya. Matteo menghela nafas panjang kemudian melangkah menuju balkon kamarnya.


Setelah wanita itu tidak menolak ciumannya Matteo berpikir itu adalah tanda jika Altea sudah mencintainya namun ternyata jawaban yang diberikan Altea membuat Matteo kesal.


Dia juga memutar ingatannya selama 3 bulan terakhir ini banyak godaan yang datang untuk menguji dirinya. Namun demi Altea dia bisa menahan diri untuk tidak melakukan kesalahan lagi dan sepertinya dia mulai berhasil.


Menikmati keindahan malam ,Matteo memberi semangat kepada dirinya sendiri untuk meyakinkan jiwanya agar tetap bersabar mendapatkan cinta dari Altea. Masa lalunya yang kelam memang sering sekali membuat dia tidak percaya diri atau merasa tidak pantas untuk Altea.


"Aku mencintai mu... " suara lirih Altea terdengar dari belakangnya.


Setelah berargumen dengan perasaanya Altea memberanikan diri menyusul dan memeluk Matteo dari belakang. "A.. aku sangat mencintaimu " menempelkan wajahnya di punggung Matteo.


Seketika Matteo mematung seolah tidak berani membalikkan badan takut jika wanita yang memeluknya bukan Altea atau hanya sekedar halusinasinya.


"Katakan sekali lagi! " Matteo menangkup kedua pipi Altea dengan jantung yang berdebar kencang "Aku mencintaimu ..... "


Sekali lagi Matteo luluh. Luluh setelah mendengar kalimat yang dia tunggu selama ini.


"Terimakasih " mendekap erat tubuh Altea dengan perasaan haru. Jiwanya sudah melayang tinggi menembus angkasa. Tidak pernah terbayang jika malam ini Altea sudah membalas perasaannya selama ini.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi " Gerutu Matteo kesal sambil menghadiahi Altea dengan ciuman bertubi tubi. "kalau tau begitu aku tidak akan kesal tadi " masih menciumi wajah Altea dengan rona bahagia.


"Hentikan... ich...." Altea risih


"kenapa !!


" kau sudah mencintaiku kan ? lalu kenapa masih menolak untuk kucium ? atau jangan jangan kamu mengerjai ku?"


"Bisa bisa wajahku lecet jika kamu terus menciumi ku " Altea memutar bola matanya sambil merapikan rambutnya yang sudah acak acakan.


"Hahaha.... itu tidak akan terjadi, tidak akan kubiarkan wajah jelek mu ini lecet .... "


"Udah jelek nanti makin jelek" goda Matteo mengedipkan matanya sambil Menarik kembali Altea kedalam pelukannya.


"Peluk erat tubuhku " ..... Yang dipeluk mengeratkan pelukannya


Bersambung...


Seperti biasa tinggalkan jejak kalian yaaa....


thank you.

__ADS_1


__ADS_2