
Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, Matteo membereskan tumpukan berkas yang berserak di atas mejanya.
Ini adalah hari pertama nya bekerja setelah menepi selama satu minggu didalam rumah sakit.
Jadi wajar saja pekerjaannya menumpuk karena statusnya sebagai sekretaris CEO membuat dirinya masuk daftar salah satu jajaran orang penting ditempat dia bekerja.
Biasanya dia semangat pulang setelah bergelut dengan berbagai pekerjaan yang menguras tenaganya, namun hari ini cukup berbeda.
Setelah selesai membereskan mejanya dia masih saja duduk menyandar seolah tidak mau pulang.
Bayangan Altea selalu saja bisa mengubah moodnya dari baik menjadi buruk, demikian sebaliknya.
Melihat sekretarisnya melamun, Daniel mendekati Matteo dan menepuk keras meja agar Matteo tersadar.
Matteo tersadar dan segera berdiri "Kau mengagetkan ku sialan!"
"Aku tidak mau sejarah terulang,nanti kamu terkapar lagi disini membuat susah satu perusahaan " Ucap Daniel sambil mengingat Matteo yang dia temukan di apartemen satu minggu yang lalu dengan keadaan sekarat.
Dirinya bergidik ngeri membayangkan besok akan ada berita Sekretaris CEO AFW grup ditemukan terkapar di ruangannya.
"Kau pikir aku bodoh brengsek" ucap Matteo sambil memakai jasnya.
"Aku pikir setelah kau jatuh cinta otak jenius mu berubah menjadi otak bodoh" balas Daniel sambil menekankan kata bodoh.
Matteo hanya berdecak kesal sambil meninggalkan Daniel yang duduk di atas meja kerjanya. "Apa kunci mobil mu ini tidak penting" Daniel berteriak setelah melihat Matteo sudah melangkah jauh.
Matteo kembali lagi keruangan nya untuk mengambil kunci mobil yang hampir saja dia lupakan.
"Lakukan sesuatu ,jangan ***** kuat tenaga kurang " Ucap Daniel sambil menepuk pundak Matteo seakan menyemangati sahabat sekaligus sekretarisnya itu.
"Maksudmu? Matteo bertanya balik.
"Akui perasaanmu kepada Altea ,bila perlu ikat dia dengan cincin tunangan, supaya dia bisa menjaga jarak dengan pria lain, itu pun kalau kau berhasil " Daniel tertawa seolah meledek Matteo.
Matteo hanya berdecak kesal dan berlalu begitu saja. Dia masuk kedalam lift namun lift nya ditahan oleh Daniel. " Kau menggunakan lift khusus CEO tapi tidak mengajak ku, itu namanya tidak sopan" Daniel masih berusaha menggoda sekretarisnya itu.
"Kau berisik sekali" Ucap Matteo ketus.
Setelah sampai di lobby mereka terpisah ,Matteo pergi ke parkiran sedangkan Daniel sudah ditunggu oleh supir pribadinya didepan Lobby perusahaan.
Diperjalanan Matteo mencoba mengatur mood nya agar tenang ,tapi usahanya sia sia.
Dia kembali teringat dengan ayah Altea yang kemarin dirawat dirumah sakit.
Akhirnya dia memutar arah dan segera ke rumah Altea, senyum tipis tertarik diujung bibirnya membayangkan jika sebentar lagi dia akan bertemu dengan Altea.
Dia berhenti di sebuah ruko dipinggir jalan yang menyediakan buah segar. Matteo memesan beberapa buah yang kemudian disusun kedalam keranjang buah berbentuk parcel.
__ADS_1
Dengan semangat Matteo melajukan mobilnya, rencananya dia akan menjenguk Ilham dan itu akan menjadi alasannya untuk bertemu Altea.
Akhirnya tibalah dia di depan rumah Altea, matanya memicing melihat mobil hitam terparkir didepan rumah Altea "mobil siapa?
Matteo mengetuk pintu dua kali tampak Sofi membuka pintu, dan terkejut melihat Matteo datang dengan setelah kerja.
"Kamu kesini nak? memangnya kamu sudah sehat? Sofi antusias melihat Matteo.
"Sudah bu, pak Ilham mana?
"Ada di dalam ayo" Sofi menarik lembut tangan Matteo.
Dari kejauhan Matteo menangkap wajah Rafael yang ternyata juga ada di sana "Sialan! . Matteo menggigit gigi gerahamnya dan menyebabkan rahangnya mengeras.
Tapi sekuat mungkin dia menahan amarahnya, "Sore pak " Matteo menyapa Ilham dengan ramah.
Ilham dan Rafael secara bersamaan menoleh ke sumber suara, Rafael juga merasakan hal yang sama dia begitu terkejut melihat Matteo.
"Sore juga nak" Ilham berdiri menerima salam dari Matteo, bukannya kamu dirawat di rumah sakit nak? " Ilham tak kalah antusias.
"Aku sudah baikan pak" jawab Matteo singkat dengan senyumnya.
"Syukurlah nak, ini kenalkan namanya Rafael usianya beda tipis denganmu " ucap Ilham sambil memperkenalkan Rafael.
Rafael mengulurkan tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan "Rafael" . Matteo akhirnya menerima uluran tangan sambil menampilkan tatapan membunuh " Matteo" .
Meskipun tidak akurat Ilham bisa menebak jika kedua pemuda itu sedang mendekati putrinya.
Baginya itu tidak masalah. Tapi sebagai orang tua dia patut waspada.
Sofi membuatkan secangkir teh untuk Matteo dia juga melihat anak gadisnya sedang asik membuat adonan donat kentang.
"Nak ... sebaiknya kamu ke depan yah, ada nak Matteo" Sofi menarik wadah tempat adonan dari tangan Altea.
"Matteo ? untuk apa dia ke sini? " Altea menampilkan ekspresi tidak suka.
"Jangan seperti itu, dia juga teman mu bukan?
Sofi memperhalus kalimatnya.
"menyebalkan sekali" ucap Altea sambil menghentakkan kakinya menuju wastafel kemudian menekan ujung hand soap untuk membersihkan tangannya.
"Ini jangan lupa bawa teh untuk Matteo" Sofi memberikan segelas teh kepada Altea.
Dengan hati hati Altea membawa teh itu dan meletakkannya diatas meja "Ini untuk mu dari ibu" ucap Altea sambil melirik Matteo.
"Terimakasih Altea" ucap Matteo sambil menampilkan senyum manisnya dengan singkat.
__ADS_1
Melihat Altea rasanya jiwa Matteo begitu tenang, sedari tadi dia berusaha menahan emosinya melihat lelaki yang duduk disampingnya itu.
Namun setelah Altea datang emosinya perlahan mereda dan lebih baik.
Setelah perbincangan lama akhirnya mereka menyudahi obrolan karena Rafael mendapat telepon mendadak dari sekretarisnya. Dia segera pamit pulang kepada kedua orang tua Altea.
Altea mengantar Rafael menggunakan payung hingga kedalam mobilnya karena langit menurunkan hujan gerimis.
Melihat itu Matteo benar benar terbakar Api cemburu buta "Sudah sejauh mana hubunganmu dengan nya" . Dalam Hati Matteo bermonolog.
"Matteo apa kamu mau pulang juga ?" Altea melipat kembali payung dan meletakkannya diatas meja kecil di teras.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" Matteo menatap Altea dengan tatapan memohon.
"Bisa , ada apa ? Altea tak kalah penasaran.
"Kita bicara diluar" ucap Matteo.
Altea kemudian mengingat kejadian horor yang hampir menimpa dirinya beberapa hari yang lalu. Ada baiknya juga dia menjaga jarak dengan Matteo.
"Kenapa kamu diam?
"Baiklah" Melihat wajah sendu Matteo rasanya Altea berubah pikiran.
Altea pamit kepada orang tuanya dan masuk kedalam mobil Matteo. Diperjalanan Matteo bingung mau membawa Altea kemana.
Akhirnya dia memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, menyadari mobil Matteo berhenti, detak jantung Altea langsung berdegup kencang ingatannya kembali lagi ketika Alex berusaha memperkosanya minggu lalu.
"Kenapa berhenti? Altea berbicara dengan nada bergetar tanpa menoleh Matteo sedikit pun. Dia ketakutan dengan bayangan bayangan Alex menahan tangannya.
Matteo sejenak menghela nafasnya dan mengumpulkan sisa keberaniannya. Disaat seperti ini logika menguasai pikirannya.
Dia tidak mau diam dan menunggu alur yang tidak tau entah berakhir seperti apa.
"Aku mencintai mu Altea"
Dengan tegas Matteo mengungkapkan empat kata mewakili perasaan yang terselip didalam ruang hatinya selama ini.
Matteo tidak melirik Altea sedikit pun, Pandangannya fokus ke depan bukan karena dirinya tidak berani tetapi dia tidak mau menunjukkan tindakannya terlalu jauh. Matteo memilih menunggu reaksi atau jawaban dari Altea.
Tetapi Altea hanya terdiam dan mematung mendengar empat kata yang keluar dari bibir Matteo.
Mulutnya seakan terkunci dengan rapat. Bahkan ketakutan yang dia rasakan tadi berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.
Bersambung....
hai reader ikuti terus ya ....
__ADS_1
bantu like dan komen. 🤗