
"Apa yang terjadi? "
David memandang Altea seakan memintanya membuka suara.
"Ceritakan dengan jujur nak" Ilham mengeratkan tautan jemarinya dengan jari Altea, dia tau putrinya sedang berusaha melawan ketakutan.
"Matteo bertengkar hebat di arena om" ucap Altea sambil meremas ujung jaket yang dia gunakan.
"Sudah ku duga" Ucap David dengan santai seperti tidak memberikan reaksi khawatir.
Sebenarnya tanpa dijelaskan pun dia sudah tau penyebab putranya masuk rumah sakit.
Mendengar jawaban singkat David jelas membuat Ilham bingung, bagaimana tidak sang ayah terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa apa, berbanding terbalik dengan dirinya yang begitu mengkhawatirkan keadaan anak muda itu.
"Maaf saya terlambat memberi kabar perihal putra anda" Ilham berbicara senyaman mungkin agar suasana tidak semakin rumit.
"Tidak, saya yang mengucapkan terimakasih" David menghela nafasnya sambil memandang wajah Matteo yang babak belur.
Ratna hanya diam sambil menggenggam erat tangan Matteo, sesekali dia menyeka air matanya.
"Kalau begitu saya dan Altea pamit terlebih dahulu " Ilham melirik jam menunjukkan pukul 00.00 Wib.
"Baiklah terimakasih atas bantuan anda" David memandang Ilham kemudian beralih kepada Altea.
"Ilham hanya melempar senyum ramah dan tipis" kemudian meraih tangan Altea.
Ilham juga memiliki sifat yang sama dengan David ,dingin dan susah ditebak.
"Om,tante aku sama ayah pamit pulang " Altea mengeluarkan suara dengan lirih namun matanya tertuju kepada sosok lelaki yang terbaring diatas brankar.
"Hati hati nak " David memberanikan diri menyentuh pucuk kepala Altea, sambil mengusap nya.
Melihat itu Ratna menarik senyum tipis di wajahnya.
"Aku pikir hanya diriku saja yang nyaman dengan gadis itu,ternyata kamu juga "
Batin Ratna, dia mengenal suaminya berpuluh tahun dan ini adalah pemandangan yang langka.
David memandang punggung Altea yang perlahan hilang , setelah memastikan Altea dan Ilham sudah jauh, David mendekat "Bikin malu saja " ucap David dengan raut wajah murka.
"Sudah pa, ini rumah sakit" ucap Ratna sambil menghapus air mata uang yang membahasi pipinya.
"Lihatlah karena ulahnya membuat repot semua orang , bahkan orang tua Altea harus turun tangan, benar benar bikin malu" David mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ini semua musibah pa, kita harus bisa menyikapi" Ratna mendekati suaminya.
"Musibah yang disengaja " David menekankan kalimatnya sambil memandang istrinya dengan sorot mata tajam. "Aku sudah malu dengan aksinya di bandara tadi pagi, dan sekarang aku menanggung malu dihadapan orang tua gadis itu karena ulahnya " Gadis yang dimaksud David adalah Altea.
David memandang langit langit ruangan, dirinya merasa sangat frustasi menghadapi putra keduanya itu.
.
.
.
Pagi hari Matteo membuka Mata, ketika hendak duduk dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya "Ah ......"
Matteo mengeluarkan suara yang membangunkan tidur sang ibu.
"Ada nak? mana yang sakit? " Ratna mendekat.
"Mana Altea?
"Dia sudah pulang." Ratna tersenyum.
Mengetahui Altea sudah pulang Matteo yang berniat duduk kembali lagi merebahkan badannya. "Ibu akan memintanya kemari nanti" Ratna menyadari jika putranya membutuhkan gadis itu.
Bersamaan dengan itu dokter yang menangani Matteo datang sambil membawa hasil pemeriksaan.
"Setelah melalui serangkaian pemeriksaan yang telah kami lakukan, kondisi pasien kami nyatakan sedang tidak baik, memang tidak ada yang perlu di khawatirkan tapi bagian tulang rusuk dan pergelangan kaki pasien harus kami tangani secara intensif" Dokter kemudian melipat kertas hasil pemeriksaan dan memasukkannya kedalam tas.
"Baik dokter terimakasih" Ratna bersyukur keadaan putranya tidak separah yang dia bayangkan.
"palingan dia yang salah memeriksa " gerutu Matteo.
__ADS_1
Matteo menatap langit langit dengan tatapan kosong, dia kembali mengingat pertemuannya terakhir nya semalam dengan Altea.
"Aku memang berlalu berani mencintai mu"
Rasa hampa dan rasa rindu menyelimuti perasaan Matteo, dia sangat merindukan sikap polos Altea yang sering memancing tawanya.
Didalam kamar dia hanya diam tanpa suara, sesekali Ratna mengajak putranya mengobrol tapi Matteo tidak memberi respon.
.
.
.
Ditempat lain Altea sibuk memasukkan buku kedalam tasnya, dia berencana pulang dari kampus karena jam sudah menunjukkan pukul 12.00.
Sambil berjalan tergesa dia kembali bertemu Diva. " Hai Altea !
"Halo juga "
Akhirnya Altea berjalan santai sambil mengobrol dengan Diva.
"Aku pikir kau pacaran dengan kak Matteo " Ucap Diva membuka obrolan.
"Tidak lah , mana mungkin" Altea langsung menepis pikiran Diva.
"ya itu yang aku lihat"
"memangnya kamu lihat apa ?
"Ya aku melihat bagaimana kak Matteo memperlakukan mu" Diva menghentikan langkahnya dan menatap Altea. "Bukan cuma aku yang berpikir seperti itu " tambahnya lagi.
"Maksudmu?
"Mama, kak Juna bahkan papa juga berpikir kau adalah pacar kak Matteo " ucap Diva kemudian melanjutkan langkahnya.
"Bukan seperti itu, aku hanya....
" Iya aku tau, kau tidak mungkin menyukai kakak ku, kurasa semua wanita akan takut melihat nya apalagi kalau dia bertengkar" Ucap Diva tertawa kecil.
"Kamu tau jika kakak mu sering bertengkar?
Obrolan mereka berhenti ketika Rafael memanggil Altea, " Kakak kesini? ucap Altea merasa tidak percaya jika Rafael masih sudi menemuinya karena insiden di bandara.
"Altea, kalau begitu aku duluan ya. Oh iya kak Matteo sedang dirumah sakit sekarang mana tau ada waktu mu untuk menjenguk"
"Apa dia tidak tau jika aku yang membawa harimau lapar itu ke rumah sakit?
"Baiklah , kamu hati hati " Altea melambaikan tangannya.
"Teman mu? tanya Rafael
" Iya, kak maaf untuk kejadian semalam aku juga tidak tau kenapa Matteo memukul mu"
Altea langsung to the poin. " Apa luka kakak masih sakit?" Altea spontan meraih wajah Rafael dan memeriksa pelipisnya yang lebam.
Mendapat sentuhan manja seperti ini membuat jantung Rafael berdegup kencang, dia merasa ada perasaan yang tidak bisa dijabarkan lebih lanjut.
Apalagi posisi Altea sedang berjinjit karena postur tubuh nya tinggi, sehingga tubuh bagian atas Altea menyentuh dada bidang miliknya.
Altea mungkin tidak menyadari itu, namun hal berbeda dirasakan oleh Rafael, dia juga pria dewasa yang normal mendapat sentuhan seperti ini membuat aura kejantanan nya bangkit.
"Sudah lebih baik" Rafael memilih memundurkan badannya dia tidak mau berlama lama dengan posisi yang memancing pertahanannya roboh.
"Baguslah" Altea hanya tersenyum senang.
"Aku akan mengantar mu pulang" ucap Rafael.
"Tidak usah kak aku mau....
"Aku tidak menerima penolakan Altea" Rafael langsung memotong kalimat Altea.
Rafael menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kenapa kakak ke kampus ku? Altea membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Aku hanya memastikan jika semalam kau baik baik saja setelah meninggalkan aku di bandara"
Altea menelan saliva nya , sindiran Rafael benar benar menghantam perasaanya.
Bagaimana bisa dia meninggalkan Rafael dib bandara semalam padahal Rafael sudah berbaik hati membantunya.
"Maaf kak aku terbawa emosi disitu" Ucap Altea lirih.
"Apa Matteo pacar mu?
Altea hanya menggelengkan kepala untuk menyatakan tidak.
"Mengapa semua orang mengira aku pacaran dengan manusia serigala itu?
Altea mengingat bagaimana ayahnya bertanya semalam, setelah itu diva , kemudian Rafael.
"Apa aku kelihatan sedekat itu?
Altea kemudian turun dari mobil Rafael, tampak di depan Sofi sedang menunggu Altea.
"Nak kamu sudah pulang? Eh ada nak Rafael juga"
"Halo Bu"
"Tadi ponselmu berdering, ibu Matteo memintamu ke rumah sakit, sekalian ibu masak sup untuk Matteo ,kamu antar ya " Sofi memberikan sup yang sudah disiapkan didalam rantang.
"Aku ? Altea menunjuk dirinya sendiri.
"Ia kamu, sekalian sampaikan salam ibu untuknya semoga cepat sembuh" Ucap Sofi dengan senyum semangat.
"Baiklah... " Altea menghela nafasnya.
"Ayo aku antar kamu" Rafael menarik lembut tangan Altea.
"Tau gini tadi mending aku jangan pulang dulu" Gerutu Altea didalam hati, jujur dia masih berat menemui Matteo. Tapi jika Ratna yang meminta dia segan untuk menolak.
Setelah tiba dirumah sakit, Altea dan Rafael menaiki lift. " Kakak yakin mau bertemu dengan Matteo?
" Memangnya kenapa ?
"Bukan apa apa aku takut saja dia menyerang kakak lagi" ucap Altea.
Rafael hanya tersenyum kecil sambil memasukkan ponsel miliknya kedalam saku jas.
tok tok tok ..
"Altea akhirnya kamu datang juga? ini apa sayang? " Ratna begitu antusias melihat Altea datang.
"Ini sup untuk Matteo " Altea menyerahkan rantang stainless ke tangan Ratna.
"Kamu memasak sup untuk Matteo nak? Tanya Ratna antusias.
"Bukan tante, ini dari ibu katanya semoga Matteo cepat sembuh" Ucap Altea sambil tersenyum kaku.
"oh begitu, terimakasih sayang " Ratna menyentil hidung mancung Altea .
"Ini siapa ? " Ratna menyadari jika Altea tidak datang sendirian .
"Ini Rafael tante" ucap Altea semakin kaku.
Sejenak Ratna memandang lelaki bernama Rafael, kemudian dia beralih memandang putranya yang terbaring diatas brankar.
"Jadi ini namanya Rafael" .
Tampak Matteo memandang Rafael dengan tatapan membunuh " Mau apa kau kesini brengsek" Matteo mengepalkan tangannya.
"Maaf Tante aku permisi dulu, semoga Matteo cepat pulih , aku harus ke kantor sekarang, aku titip Altea " Rafael tersenyum ramah kepada Ratna.
Ratna hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku pamit dulu" Rafael mengacak pucuk kepala Altea sambil tersenyum penuh arti melihat Matteo yang sedang menahan geramnya.
"Apa mau mu sialan !
Ingin rasanya Matteo bangkit dan melempar Matteo keluar.
__ADS_1
Bersambung....
🤗