
Mentari pagi memancarkan sinarnya untuk membangunkan seluruh makhluk hidup di bumi.
Cerita pagi itu di awali dengan Daniel yang sedang menunggu sekretarisnya yaitu Matteo. Daniel bahkan menghubungi Matteo berkali kali. Namum tidak ada jawaban "Kemana sialan itu "
Daniel kemudian melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya dan akhirnya dia menghubungi salah satu staf dikantornya untuk menyiapkan beberapa berkas.
Tampak pagi ini Daniel sedang berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di depan lobby "Tolong kamu sampaikan kepada Matteo agar menyusul saya ke kantor Mahaprana Group" Ucap Matteo kepada salah satu staf yang membantu Daniel . " Baik pak " .
Diperjalanan Daniel mengumpat sejadi jadinya karena Matteo sebagai sekretaris nya tidak ada kabar, dirinya sudah menduga jika Matteo sedang ketiduran.
Padahal pagi ini mereka ada pertemuan dengan kolega di kantor Mahaprana Group dan ini adalah pertemuan penting.
Jam menunjukkan pukul 11 siang, Daniel sudah kembali dari kantor Mahaprana group dia melirik sekilas kedalam ruangan sekretarisnya namun dia tidak menemukan Matteo di sana "Kemana anak sialan itu" Umpat Daniel dalam hati.
Daniel kembali kedalam ruangannya dan melihat jadwalnya tidak ada agenda penting lagi, Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Matteo.
Setelah sampai di pintu apartemen, dia mencium aroma minuman keras yang begitu menyengat.
Akhirnya dia mempercepat langkahnya dan menemukan Matteo yang sedang tergeletak dilantai dengan posisi tengkurap.
Awalnya Daniel mengira jika Matteo ketiduran tapi dirinya tidak mendengar dengkuran yang menandakan jika Matteo sedang tidur.
Daniel mencoba menendang kaki Matteo dan tidak ada respon sama sekali, akhirnya dia membalikkan tubuh Matteo dan melihat wajah pucat Matteo seperti mayat .
Daniel mencoba agar tidak panik dengan tenang dia menghubungi tim medis untuk menangani Matteo. Tidak butuh waktu lama tim medis sudah tiba di apartemen Matteo.
Matteo segera dibawa kesebuah rumah sakit elit milik keluarga Mahaprana, Daniel langsung menghubungi pihak keluarga dan memberitahu kondisi Matteo.
"Apa yang terjadi ? Tanya Ratna ibu Matteo.
"Aku menunggu Matteo di kantor tapi tak kunjung datang, akhirnya aku menyusulnya ke apartemen dan menemukan kondisinya seperti ini" Daniel menjelaskan bagaimana dia menemukan Matteo.
Tampak dokter dan perawat sudah keluar dari ruang Instalasi gawat darurat tempat dimana Matteo mendapat pertolongan pertama.
"Bagaimana keadaan anak saya ?
"Maaf nyonya , keadaan pasien masih kritis dia mengalami dehidrasi berat, cairan ditubuhnya sangat minim, jika saja pasien tidak segera ditangani kami tidak menjamin keselamatan pasien" Dengan tegas dokter menyampaikan keadaan Matteo.
Ratna hanya menangis di dekapan David suaminya yang berusaha tetap kuat.
"Bisakah saya melihat keadaan putra saya ? Ratna bertanya kepada salah seorang perawat.
"Silahkan nyonya"
Ratna dan David kemudian masuk disusul oleh Daniel, Ratna sendiri tidak dapat membendung air matanya dia mengelus rambut putra bungsu nya itu dengan sayang.
Dia memperhatikan perubahan warna kulit Matteo, tampak di wajah Matteo masih tersisa lebam dan warna kulit nya pucat bak kapas.
"Kami menduga jika pasien sudah lebih dari 10 jam tidak sadarkan diri" Dokter menambahkan kalimatnya.
Daniel hanya diam mematung, ada rasa bersalah yang menghinggapi perasaanya.
__ADS_1
"Kenapa tadi pagi aku tidak langsung menemui mu"
"Apa yang terjadi nak? , Apa kau sakit hati dengan apa yang mama katakan kemarin?" Sesekali Ratna mengajak Matteo berbicara, berharap putranya itu mendengarkannya.
"Maaf nyonya, Pasien akan kita bawa keruang rawat inap " dua orang perawat mendorong bed dibantu oleh beberapa perawat yang memegang infus Matteo.
Daniel kemudian menghubungi Ibra dan memberitahu jika Matteo sedang dirawat dirumah sakit.
"Kau kesini lah dulu, Matteo kritis"
"Kritis?? kritis bagaimana? "
"Ia dia mabuk semalam"
Ibra mengira jika Daniel sedang bercanda, dia ingat jelas semalam siang Matteo baik baik saja ketika dia kembali dari apartemen.
Ibra memang melihat Matteo sedang menenggak beberapa botol wine, tapi rasanya dia tidak percaya jika itu membuat Matteo kritis.
Ibra tahu betul level Matteo ketika menenggak minuman keras bahkan yang dilihatnya semalam itu hanya level biasa, omong kosong jika itu membuat Matteo kritis seperti sekarang.
"Apa Matteo ada penyakit bawaan? Ah tidak mungkin, Penyakit sendiri pun takut hinggap didalam tubuh anak itu kurasa". Batin Ibra.
Di rumah sakit David mencoba menenangkan istrinya dirinya benar benar tersiksa melihat Ratna menangis pilu seperti ini.
Sesekali dia menatap wajah pucat Matteo yang sedang terbaring di atas ranjang "Anakku". Guratan kesedihan diwajahnya jelas menggambarkan betapa David menyayangi putranya itu.
Dari awal dia sudah menduga cepat atau lambat hal serius pasti akan terjadi jika Matteo tinggal terpisah dengan mereka ,karena dia tahu betul sifat anak nya itu.
Meskipun hubungan mereka tidak baik namum jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia begitu menyayangi Matteo sama seperti Juna dan Diva .
"Siang om, tante" Ibra datang sambil menenteng sesuatu ditangannya. "Siang Ibra" David membalas sapaan Ibra.
"Gimana keadaan Matteo?
"Seperti yang kamu lihat, dia masih tidak sadarkan diri" David berbicara dengan tatapan kosong.
"Semalam siang dia baik baik saja" Ibra mengingat keadaan terakhir Matteo di apartemen.
"Jam berapa kamu terakhir bersama Matteo ?Rasanya David ingin tau penyebab Matteo seperti ini.
"Sekitar jam 2 siang om" Balas Matteo.
David menganggukkan kepalanya. Dia membenarkan ungkapan dokter , jika Matteo sudah lebih dari 10 jam tidak sadarkan diri.
Satu jam berlalu dengan keheningan, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu mereka semua serempak menoleh.
"Mama ,papa.. gimana keadaan kakak?
Diva datang bersama Juna kakaknya, dari tampilannya sudah bisa dipastikan jika diva baru saja pulang dari kampus.
"Dia masih tidak sadarkan diri sayang" David sambil mengelus dan mencium pucuk kepala putrinya itu.
__ADS_1
Ruangan itu kembali hening, Daniel dan Ibra sesekali saling menatap seakan ada yang mau dibicarakan tapi mereka enggan membuka suara.
"Altea......
"Altea...
"Maaf...
Suara serak Matteo terdengar memecahkan keheningan di ruangan itu, sontak mereka semua menoleh ke arah ranjang Matteo. "Apa kamu sudah sadar nak? " Ratna langsung menengadah untuk memastikan, namun semua nihil.
Matteo masih setia di alam ketidaksadarannya.
"Tampaknya kakak mengigau" Diva kembali duduk disamping Matteo.
"Jangan bilang Altea penyebab dirimu terpongkeng seperti ini" Batin Ibra.
"Siapa Altea?" David yang penasaran langsung membuka suara sambil menatap Ibra dan Daniel secara bergantian seolah meminta jawaban.
Lama tidak mendapat jawaban " Anak gadis yang mama kenalkan semalam siang pa" Ratna akhirnya membuka suara .
"Oh itu.... David hanya menganggukkan kepalanya seolah mengerti mengapa putranya menyebut nama itu.
"Om Tante saya pamit dulu, saya harus segera ke kantor, nanti saya kesini lagi" Ucap Daniel sambil menoleh jam di pergelangan tangannya.
"Aku juga pamit om, Tante " Ibra menyusul Daniel yang duluan keluar dari ruangan Matteo.
Di sana hanya tersisa Ratna,David ,Diva dan Juna. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
.
.
.
.
Ibra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tujuan dia sekarang adalah menemui Altea.
Sekitar dua puluh menit Ibra sudah tiba di restoran miliknya, dia segera menghubungi operasional agar mengarahkan Altea keruangan nya di lantai 3 .
"Altea... segera temui pak Ibra di lantai 3 sekarang"
Ucap ibu Wulan selaku pengawas Altea.
"Ada apa lagi ini Tuhan !
Altea membatin dalam hatinya
Hai reader...
Bantu like dan komen ya... sesekali berikan aku masukan biar aku semangat dan bisa memperbaiki kesalahanku 🤗
__ADS_1