
Aurel menatap indahnya kota Barcelona dari balik kaca sebuah gedung tinggi yang menjulang. Secangkir teh hangat Menemani paginya hari ini. Dia melirik ke atas ranjang. Juna masih tertidur pulas.
Senyum tertarik diujung bibir Aurel mengingat apa yang mereka lalui tadi malam.
Semalam sekitar jam 17.00 di Barcelona Aurel dan juna turun dari pesawat. Pada saat itu juga Aurel terkejut ternyata Juna berbohong. Tadi dia bilang mereka melakukan perjalanan urusan pekerjaan tapi ternyata tidak.
"Kau suka ? " Juna membubarkan lamunan Aurel yang sedang berdiri melihat lalu lalang orang dibawah sana.
"i..iya aku suka. " Senyum terpancar dari wajahnya.
Akhir akhir ini Juna mulai memperlakukan Aurel dengan baik. Sikap yang dingin itu sudah mulai menghangat. Tidak ada lagi Juna yang hanya menjawab satu kata atau dua kata. Bahkan dulu dia nyaris tidak menjawab dengan suara.
"A...aku mau mandi" Aurel membalikkan badan karena tersipu malu saat tatapannya dengan Juna bertemu .
Malam semakin larut. Aurel enggan untuk memulai percakapan. Jujur dia serba salah mengartikan sifat Juna. Susah di tebak.
Laki laki itu sekarang sedang duduk di sofa. Duduk dengan diam.
Memberanikan diri untuk bersuara. " kau tidak mandi kah ? "
"Tidak " Jawabnya Juna singkat. Matanya masih tidak berpaling dari monitor laptop miliknya.
"Apa mau makan sesuatu? " lagi lagi Aurel bertanya.
Terdengar suara Juna sedikit mendesah. Layar laptop sudah dia tutup. "kau lapar ? " malah bertanya balik kepada Aurel.
"Tidak.. aku tidak lapar. aku pikir kamu akan makan sesuatu. tadi di pesawat kamu tidak makan sama sekali"
Sedikit perhatian dari Aurel yang membuat Juna menarik senyumnya.
"Aku mau mandi sebentar " Juna sudah berlalu ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi. Jubah mandi masih menempel di tubuhnya dia sudah duduk disamping aurel yang sedang duduk di tepi ranjang.
hari sudah terlihat gelap. Cahaya matahari tidak lagi. Orang orang di luaran sana pasti sudah ada yang makan malam atau bahkan sudah tidur.
Aurel melirik sekilas suaminya. Sekarang dia enggan membuka suara.
"Apa yang membuatmu mau bertahan di sampingku " Juna membuka suara.
"Karena aku men... karena aku mencintaimu "
"Hanya karena mencintaiku ? " Juna sedikit menarik senyum menyeringai. Tubuh Aurel bergetar.
"Sekarang iya " jawabnya asal .
"Sekarang? lalu dulu ? "
"Apa tidak cukup untukmu mendengar penjelasan ku kemarin ? " Air matanya sudah ingin menetes. Lagi lagi Juna mengungkit masa lalu bagaimana seorang Aurel yang menggilai uang dan harta.
"Aku bisa memberimu apa pun dan berapa pun yang kamu mau. " Juna melirik sekilas Aurel. Wanita itu masih tidak bersuara.
"Tapi apa kau bersedia pergi dari hidupku ? " Sebuah negosiasi yang membuat Aurel terkejut wanita itu mematung.
Air mata Aurel pada akhirnya jatuh juga. Sekuat tenaga dia bisa menguasai dirinya. Ingin menangis sejadi jadinya.
Aku pikir kau sudah mencintaiku setelah memperlakukan ku dengan baik akhir akhir ini.
__ADS_1
"Aku tidak butuh itu. " Akhirnya dia memilih kosakata ini untuk buka suara.
"Jika kau tidak bisa mencintaiku dan memilih untuk menceraikanku aku akan terima walau aku tahu ini akan menghancurkan perasaanku. Tapi aku tidak akan menerima uang mu " ucapnya dengan air mata berurai.
"Yakin ? " lagi lagi Juna mengerutkan keningnya.
Aurel mengangguk "Jika itu mau mu. Aku rela berpisah jika untuk kebahagiaan mu. Biarkan aku yang menahan rasa sakitku sendiri " Mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Sok tegar padahal hatinya sudah hancur.
Bahkan masih terdengar isakan kecil yang dia tahan.
Juna berdiri seperti seolah ingin pergi. Seperti biasa wajahnya datar tidak terbaca.
Aurel yang melihat Juna berdiri spontan memeluk Juna dari belakang. Hati kecilnya seolah tidak sanggup jika perceraian terjadi.
"Berikan aku kesempatan untuk menjadi wanita yang kau sukai. Aku sangat mencintaimu " Menangis sejadi jadinya di belakang Juna.
"Aku sangat mencintaimu. Sejujurnya aku tidak bisa jauh dari mu. Berikan aku maaf sedikit saja jika aku salah. Aku sungguh mencintaimu. aku tidak bisa membohongi perasaanku" .
Aurel mulai melepaskan tangannya setelah merasa Juna tidak mau membalas pelukannya.
Tubuhnya mulai mundur kebelakang.
Jangan tanya hatinya sekarang. Hancur sudah.
"Aku tidak paham kenapa aku seperti ini. Kenapa aku begitu menggilai mu. padahal kau selalu mengacuhkan ku. Aku bodoh sekali "
Dia menjambak rambutnya sendiri dengan keras merasa frustasi dan juga merasa bersalah. Duduk di sudut ranjang sambil menekuk lutut dan menyembunyikan kepalanya.
Wanita itu sudah mulai tidak berdaya. Nafasnya tersenggal karena menangis.
Wajah Juna masih datar. Dia bergerak mulai menarik tangan Aurel.
Memeluk istrinya yang sudah kelelahan menangis.
"Lepaskan aku! jangan perlakukan aku dengan baik !" Aurel memukul mukul lengan Juna.
Tapi Juna mengeratkan pelukannya.
Dia memberikan tepukan halus di punggung Aurel dan juga mengelus punggung wanita itu.
jiwaku tenang... Juna tidak bisa berbohong.
Setelah tidak lagi mendengar tangisan Aurel.
Juna melerai pelukannya. Dia mengusap wajah Aurel. Masih tersisa air mata di wajah wanita itu.
Setelah itu dia menyodorkan air putih. "Minumlah" satu tangan Juna masih melilit di pinggang Aurel.
Wanita itu mulai minum dengan tenang. Walau wajahnya masih parau dan menyisakan kesedihan. Tapi dia juga ingin menyegarkan tenggorokannya.
"Boleh aku mulai ? " ucap Juna sedikit melonggarkan tali jubah mandinya.
Aurel menatap Juna bingung. Aku mohon jangan bahas lagi soal perceraian. Aku sudah tidak sanggup.
Menangkup kedua pipi Aurel. Wanita itu lagi lagi bingung sendiri.
__ADS_1
"Kau bilang kau mencintaiku kan ? " Juna sudah menurunkan Sweater yang membalut baju tidur Aurel hingga menampakkan tali baju tidur istrinya.
Aurel lagi lagi mematung saat tangan kekar Juna mulai menelurusi lengannya dengan gerakan aneh.
Tapi Aurel tidak bereaksi. "Katakan lagi kau mencintaiku! " Mencium lengan Aurel dengan keras sampai si empunya jujur saja terkejut dan tersadar bahwa baju tidurnya sudah melorot.
apa apa ini.
Gemetar gemetar tangannya ingin memperbaiki bajunya tapi sayang Juna sudah lebih dulu menahan tangannya membiarkan baju itu semakin melorot hingga jatuh kelantai.
Aurel memejamkan matanya masih dengan posisi mematung apalagi Juna sudah mulai bermain dengan punggungnya. Rasanya seperti geli geli gimana gitu. Wanita itu hanya menggeliat.
"Katakan ! " Juna yang sudah gemas sendiri menggigit lengan Aurel hingga wanita itu berteriak.
"Katakan lagi kau mencintaiku " Ucapnya sambil tangannya sibuk meraba sana sini.
"Aku... aku... mencintaimu " Keluar juga kalimat yang diminta Juna.
"masa? benarkah? "
Cletak! pengait dipunggung Aurel terlepas.
Aurel buru buru menahan nya dengan tangan. Jika benda pengaman itu lepas maka tubuh atasnya akan terpampang nyata.
Juna menatap lekat wajah wanita yang dia peristri setahun lalu.
Sama, Aurel juga menatap Juna.
Entah karena terbawa suasana sadar atau tidak Aurel mencium bibir Juna. Namun hanya sekali ciuman Aurel melepaskan bibirnya dan segera membelakangi Juna karena merasa tindakannya tadi memalukan.
"Katanya mencintaiku tapi kenapa masih menolak ". Membalikkan tubuh Aurel agar menghadap padanya.
Pria itu perlahan mendorong tubuh Aurel hingga mentok diatas tempat tidur.
"Aku ingin bukti bukan hanya kata cinta dari bibirmu " Juna mencium leher Aurel dengan keras hingga meninggalkan tanda kemerahan.
Juna sudah menindih tubuh Aurel. wanita itu sudah berada dibawah kunkungannya. Walau Juna sudah mulai menggerayangi tubuhnya dia tidak menolak sedikit pun. Aksi protesnya hanya di dalam hati.
Mulutnya seolah tidak bisa berkata.
Saat Juna sudah melepaskan jubah mandi yang menempel di tubuhnya.
Melihat Juna tanpa sehelai benang, Aurel baru paham apa yang akan Juna lakukan padanya beberapa saat lagi.
Dia sama sekali tidak bisa menolak.
Dan malam itu menjadi malam pertama Juna dengan istrinya setelah mereka setahun menikah.
Malam itu berlangsung cukup lama. Wanita yang puasa bertemu dengan pria yang puasa. Wah wah seperti apa ya kira kira.
Aurel sadar ternyata Juna tidak sepolos yang dia kira Selama ini. Aurel cukup kesulitan mengimbangi gerakan dan juga tenaga suaminya.
Tidak tau jam berapa sekarang.
Juna menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh istrinya. Satu kecupan di dahi aurel. Setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya disamping istrinya yang sudah kelelahan.
Bersambung...
__ADS_1