Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

"Kau pasti pergi ke klub malam itu lagi kan ? aku tau itu !


" waktu kita ciuman tadi mencium aroma alkohol dari mulut mu "


Deg ......


Matteo menelan ludahnya .


"Kita selesaikan dirumah " suara dingin Matteo terdengar datar. Dia menggendong Altea meninggalkan rumah sakit. Malu rasanya jika dia menyelesaikan masalah dengan istrinya dirumah sakit.


Diperjalanan pulang mereka tidak bersuara sedikit pun.


Kira kira 10 menit kini mereka sudah berada di rumahnya. Tadi malam memang asisten rumah tangganya meminta agar Altea dibawa ke rumah sakit terdekat saja karena dia begitu khawatir dengan kondisi tubuh Altea yang sedang hamil.


"Sekarang jawab aku ! semalam kau ke klub malam itu kan ??? " Altea menunjuk wajah Matteo dengan tatapan tajam. Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar.


Semalam Altea memang sudah memprediksi kemana arah tujuan Matteo setelah perdebatan mereka. Kalau tidak ke area mungkin ke klub hanya itu saja tempat dimana Matteo mendapat kesenangan.


"Kau tidak menjawab berarti benar bukan ? "


Membayangkan Matteo berpesta miras didalam klub membuat hati Altea sakit.


Pria itu sudah berjanji untuk berubah bahkan disela sela pertengkaran mereka semalam, Altea mendengar ada kalimat Matteo tentang usahanya berubah untuk menjadi pria yang baik.


Akan tetapi pria itu sudah kembali ke asal muasal nya yaitu kehidupan dunia luar yang buruk. Mengapa seperti itu?


Apa hal seperti itu akan sulit pergi dari diri seorang Matteo ?.


"Aku hanya minum sedikit "


"Mau sedikit atau banyak itu sama saja !! " suara Altea naik satu oktaf. "Tetap namanya ke klub malam dan minum alkohol "


"Oh kau sekarang sudah bisa mengukur kesalahanku sedangkan kau tidak menyadari kesalahan mu ??? " Matteo tertawa sinis.


"Memang apa kesalahanku ? makan siang sama kak Rafael ? " Altea mulai menantang. Jiwa jiwa pemberiannya muncul membayangkan Matteo mabuk mabukan.


"Memangnya salah aku makan siang ini demi baby ini juga ! " Mengelus perutnya seolah menegaskan kebenaran.


"Memangnya baby itu meminta mu makan dengan pria sialan itu ? " Matteo tersenyum menyeringai, terdengar suaranya parau.


"Bu bukan begitu... aku kelaparan dan tiba tiba aku ketemu sama kak .... "


"Jangan menyebut nama sialan itu di hadapan ku !!! " Matteo langsung memotong kalimat altea sebelum nama itu terucap.


"Tidak ada yang namanya tiba tiba ! memang dasar dia mau berduaan dengan mu dan kau berduaan dengannya di belakang ku kan ? "


Ingatan Matteo tentang bagaimana Altea tertawa dengan laki laki itu seketika membuat andrenalin Matteo memuncak.


Benar kata Matteo tidak ada yang tiba tiba dalam kejadian itu, Karena Rafael memang sengaja datang mencari Altea. Buatlah bahasa halusnya tiba tiba itu menjadi istilah lain contohnya karena saat itu posisi mereka sama sama kelaparan itu lebih enak di dengar meskipun intinya sama saja.


"Aku hanya makan siang karena aku kelaparan " lirih Altea.


"Kenapa tidak menghubungiku ? "


"Kenapa harus dengan pria itu ? "


"Dan aku lihat kalian seperti bahagia, atau penglihatan ku yang salah ? "

__ADS_1


"Sudah kubilang aku kalah jauh darinya, baik dari segi apa pun ! "


Seringai licik Matteo mulai keluar.


Sebenarnya bukan itu inti masalah utamanya kenapa Matteo marah.


Mulai mereka menikah Matteo sudah berusaha menciptakan suasana agar Altea bahagia dengannya. Akan tetapi sepertinya Matteo masih gagal.


Dengan Rafael hanya sebentar kau bisa tertawa bahagia padahal dengan ku ? .


Inilah sebenarnya yang membuat Matteo terpukul, merasa jika Altea memang tidak mencintainya melainkan mencintai Rafael.


Ketakutan ketakutan tentang Rafael yang sempurna dan dirinya yang buruk


selama ini sangat membuat pikiran tidak tenang .


Rasa tidak percaya diri itu benar benar bisa memperdaya pikiran Matteo agar lemah sehingga dia mengungkapkan Unek Unek nya kepada Altea.


Mengatakan jika dirinya tidak pantas untuk Altea.


Mengatakan jika Rafael sempurna dan memiliki semuanya sedangkan dia hanya memiliki cinta.


Dengan tidak sengaja dia sudah membandingkan apa yang dia miliki dengan apa yang di miliki Rafael. kekayaan contohnya.


Seolah menegaskan jika Altea memang melihat perbedaan dari segi finansial dan indeks kehidupan pribadi antara Matteo dan Rafael.


"Kau salah paham !!!! " Altea mulai menangis.


"Jangan menangis Al, tangisan mu tidak akan bisa menyelesaikan masalah kita" Matteo menghapus aliran air mata Altea menggunakan telapak tangannya.


Sejujurnya dia terluka melihat Altea menangis seperti ini. Tapi dia tidak bisa menghindar, masalah memang harus diselesaikan. Jika tidak masalah pertama akan menambah masalah kedua dan selanjutnya.


Keluar juga kata kata yang sebenarnya membuat Matteo marah semalam.


Altea hanya diam tidak bisa berkata apa apa.


Meremas ujung bajunya tanpa berani mendongak sedikit pun.


"Aku senang melihatmu bahagia karena aku mencintaimu , kalau memang bahagia mu tidak bersamaku aku ikhlas " Matteo menekan kata Ikhlas. "walaupun tidak 100% ...." tambahnya lagi.


Tapi percayalah batinnya sudah sesak sekarang. Lebih sakit luka yang tidak berdarah dari pada luka yang berdarah, dan lebih mudah pula mengobati luka yang berdarah.


"Seperti janjiku, aku akan selalu ada di sampingmu dan berusaha memberimu kebahagiaan" Menghela nafasnya yang mulai tersengal.


"Jika dirimu bahagia dengan Rafael aku akan pindah ke belakang mu..


"Tapi jika pria itu tidak lagi mencintaimu berbaliklah aku ada untukmu..... " Kali ini suara bas Matteo terdengar berat.


Mendengar itu tubuh Altea membeku. Kata kata Matteo seolah menghantam tubuhnya dengan keras. Matteo yang dia kenal dengan ganas, dan sadis bisa berkata seindah itu. Hal yang tidak pernah didengar oleh Altea dari siapapun yang pernah mendekatinya.


Ini mengaskan jika pria itu tidak main main dengan ucapannya semalam. Apa Matteo sudah menyerah sekarang ? . Berbagai pertanyaan itu membuat Altea telak.


"Tapi jika boleh aku masih berharap kau bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu " Menarik tubuh Altea kedalam pelukannya.


Bukan Matteo namanya kalau menyerahkan Altea begitu saja. Wanita yang sudah dia ikrarkan dihadapan Tuhan tidak mungkin dia lepaskan begitu saja untuk sekarang.


Siapa pun diantara kita ,meski kita berusaha mengikhlaskan orang yang kita sayang tetap saja rasanya sakit , tanpa ditanya sudah pastilah masih sangat sulit untuk merelakan.

__ADS_1


Apalagi saat ini Altea tengah mengandung anaknya, Bagaimana mungkin dia bisa merelakannya begitu saja.


Ini bukan lagi perkara cinta dan perasaan.


Ini itu sudah perkara rumah tangga.


"Maafkan aku soal alkohol tadi malam "


"Kau jahat .... " memukul mukul dada Matteo dengan keras.


"kau lebih jahat , aku bisa melaporkan kejahatan mu dengan tuduhan perselingkuhan " seringai tipis terlihat di wajah Matteo, pria semakin mengeratkan dekapannya ke tubuh Altea.


"Siapa yang selingkuh ! " ... "Aku tidak selingkuh "


Senyum kecil tertarik diujung bibir Matteo melihat Altea yang tidak berhenti memukul mukul dada bidangnya.


"Aku tidak suka kamu minum minuman keras " tegas altea.


"Aku juga tidak suka mendengarmu memanggilku tidak sopan begitu ! " gerutu Matteo sambil berpaling , dia sudah melepaskan pelukannya.


"Maksud kamu apa? siapa yang tidak sopan " Altea menarik wajah Matteo dengan kedua tangganya agar mereka bisa berbicara empat mata.


"Panggil aku sayang!!! " teriak Matteo tegas .


"Aku tidak mau !!" Sekarang giliran Altea yang memalingkan muka.


Matteo yang gemas langsung menangkup kedua pipi Altea dan terjadi lah penyatuan bibir untuk kedua kalinya. Tengkuk Altea sudah ditahannya dengan tangan kiri.


Matteo yang merasa tidak mendapat penolakan terus mengeksplore mulut altea.


Kapan lagi bisa mencium istri sendiri begitu pikir Matteo. Bodo amatlah dengan tubuh istrinya yang terkejut dan membeku.


Sekarang posisi wanita itu sudah dipangkuan Matteo. Dia hanya bisa pasrah meskipun dia belum mengerti arti ciuman yang sebenarnya, karena dia juga tidak pernah melakukan hal intim seperti ini dulu.


Namun dia bisa merasakan jika Matteo menciumnya dengan sangat lembut. Walaupun terasa sedikit liar dari yang tadi pagi subuh di rumah sakit namun ini terasa masih jauh


berbeda dengan Matteo yang menciumnya di apartemen ketika pria itu memerkosanya.


Altea yang membeku perlahan semakin terlena, dengan perasaan yang juga berdebar debar dia mulai memejamkan matanya menikmati sensasi yang diciptakan oleh Matteo.


Kali ini durasinya lebih lama ketimbang tadi subuh. Matteo sengaja menyalurkan semua rasa cinta dan semua kerinduan yang dia pendam selama ini melalui sambungan dua bibir yang mulai saling mengecap itu.


Melepaskan ciumannya sebentar,


"Panggil aku sayang Al... " wajah mereka berdua hanya berjarak satu senti. Deru nafas keduanya sama-sama tersengal untuk berburu oksigen.


"sa..yang....." Wajah Altea merona alami saat kedua bola mata Matteo bertemu dengan bola matanya.


"Aku mau ke ke kamar mandi dulu " Altea buru buru turun dari pangkuan Matteo dan segera berlalu ke kamar mandi.


"Sadar ... sadar sadar.... " Altea memukul mukul wajahnya didepan cermin karena merasa begitu malu.


Bagaimana mungkin aku menikmati ciumannya . Aaaaaa.....


Aku sudah gila....


Cerita pagi ini ditutup dengan Matteo yang tersenyum puas diatas tempat tidur sambil menunggu Altea yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Matteo sudah bisa menebak kenapa Altea begitu lama di kamar mandi. Karena sebelum Altea masuk ke kamar mandi dia melihat rona merah cerah wajah Altea yang memancar indah di wajahnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2