Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Mommy and Daddy


__ADS_3

Dokter dan perawat sudah berhambur untuk memasuki ruangan Altea. Daniel dan Ibra memberikan informasi mengejutkan tentang tangisnya Thiago.


"Tidak apa apa dokter. Tadi dia hanya menangis sekarang dia sudah mau tidur lagi " . Ucap Altea setengah suara agar tidak mengganggu tidur Thiago.


Thiago sudah berhenti menangis. Bayi mungil itu sedang berada di pangkuan Altea. Matanya mengerjab tanda bayi itu akan tidur kembali.


Dokter melihat wajah kedua pria yang mengejutkan itu. Matanya sudah penuh tanda kesal.


Wajah Ibra dan Daniel tampak tidak berdosa. Padahal tadi dokter sudah senam jantung ada apa dengan bayi itu. Bukan itu yang membuat mereka beku, tapi tau bayi itu anak siapa.


Dokter wanita itu menatap daniel dengan sorot mata kesal.


Tadi diruang nurse station Daniel menggertak gertak meja seperti orang gila agar dokter dan perawat langsung memberikan tinjauan. Ibra juga melakukan hal yang sama. Namun ternyata tidak terjadi apa apa.


Daniel tidak kalah menantang.


Apa! memang kenyataannya tadi dia menangis kok. begitu arti sorot mata tajam Daniel.


"Baiklah kalau begitu kami permisi. Jika ada kendala silahkan tekan tombol emergency call yang tersedia kami akan segera datang". Dokter wanita itu berkata sambil melirik Daniel bertujuan untuk memberikan sebuah sindiran halus.


"Oh iya.. Jam berkunjung hanya sampai batas jam 9. Ini bertujuan agar tidur si kecil tidak terganggu".


Mati kalian! Tatapan Matteo penuh kemenangan.Tidak lupa senyumnya sudah mengembang. Dia tau dokter sedang mengusir Daniel dan Ibra.


Sepertinya anda sedang mencari masalah dengan saya dokter. Daniel.


kalau bukan karena anda cantik aku sudah melempar mu keluar. Ibra.


Altea sudah meletakkan Thiago kedalam box disamping tempat tidurnya. Bayi itu menggeliat sebentar kemudian tidur lagi.


Matteo mengusir Daniel dan Ibra melalui gerakan tangannya. Ibra pura pura tidak melihat dia masih ingin melihat Thiago. Sama halnya dengan Daniel juga. Mereka tidak mau keluar. Masih berdiri kira kira beberapa meter sambil memandangi Thiago.


"Tidak keluar satu detik lagi kuseret kalian ! " Sorot mata penuh penekanan.


Daniel dan Ibra akhirnya menyerah. "Kami akan datang besok mengganggu mu". Ibra menggoda Matteo dengan mengerlingkan matanya kepada Altea. Wanita tersenyum tipis. Ibra adalah pria yang pernah menjadi bos ketika dia bekerja.


Sial! Dia menggoda Altea.


Awas kau!

__ADS_1


Matteo menggerakkan giginya.


Sesaat kemudian Daniel dan Ibra sudah hilang . Matteo pun menutup pintu dengan pelan. Kemudian dia kembali mendekati Altea. Dan membantu istrinya untuk menidurkan Thiago kedalam box.


"Apa dia sudah tidur ? " Matteo menurunkan volume suaranya, Altea mengangguk kemudian dia duduk di kursi dan memandangi wajah putra mungilnya.


Aku sudah menjadi seorang ibu.


Setiap dia melihat wajah Thiago kenangan masa lalu refleks bangun. Kenangan dimana dia dulu tidak menerima kehadiran bayi mungil itu didalam rahimnya.


"Apa dulu kau menganggapku wanita jahat karena tidak mau menerimanya? " Pertanyaan Altea membuat Matteo terkejut. Altea masih memandangi wajah Thiago.


"Kau pasti berpikir aku adalah wanita iblis yang ingin menggugurkan anaknya sendiri. Benar bukan ? " Matteo semakin bingung.


"Iya, aku sudah seperti iblis saat itu" Ucapnya lagi.


"Hei.. apa yang kau katakan " Matteo menarik kursi dan menjangkau wajah Altea. Dia tau wanita itu sedang bernostalgia dengan masalalu. Sebenarnya Matteo tidak suka masa lalu mereka diungkit lagi.


"Lihat pipinya. chubby sekali....


"Apa saat besar nanti dia akan membenciku karena pernah berpikir akan melenyapkannya ? " Altea menggerakkan jemarinya menyentuh kaca pembatas seolah membelai wajah Thiago. Masa lalu yang pernah terjadi akan terus mengingatkan bahwa dirinya pernah menolak kehadiran Thiago.


"Maafkan aku . Aku menyesali semua itu" lirih Altea.


Matanya menatap lekat kedua bola mata abu abu milik Matteo.


Dulu dia menganggap Matteo adalah pria jahat yang penuh misteri. Hal itulah yang membuat dia sulit memaafkan.


Namun ternyata Matteo adalah sosok pria yang luar biasa.


Altea tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Matteo sudah menjadi separuh hidupnya.


Matteo membelai rambut Altea. Pria itu tidak senang melihat Altea mengenang masa lalu.


"Jangan merasa bersalah sayang. Kau tidak bersalah. Semua orang juga paham apa yang kamu rasakan saat itu. Termasuk aku ." Matteo sadar saat itu Altea hamil bukan karena cinta. Tetapi karena suatu kesalahan. Ditambah lagi saat itu usia altea masih tergolong muda, Otomatis tingkat pemikiran pun masih labil. Dan wajar saja wanita itu belum bisa sepenuhnya menerima kejadian itu.


"Kau wanita yang luar biasa... "


Perjuangan Altea melahirkan Thiago membuktikan jika Altea adalah seorang ibu yang luar biasa. Matteo melihat semua itu.

__ADS_1


Melahirkan adalah pertaruhan hidup dan mati. Kontraksi yang dialami Altea seolah mematahkan semua tulang tulangnya. Namun dia terus berjuang sampai suara bayi mungil itu terdengar.


"Jangan singgung lagi tentang itu. Kita fokus untuk masa depan kita " Matteo melirik box dimana Thiago tidur.


Bagi Matteo masa depan Thiago adalah tugas yang paling menantang sekarang.


Dia sudah bertekad agar Thiago tumbuh dengan baik dan memilik masa depan yang baik.


Belajar dari dirinya sendiri Matteo tidak mau melakukan kesalahan dalam mendidik anak.


Saat mereka sedang saling berpelukan dan memberikan kenyamanan bersama. Tiba tiba Thiago bangun lagi. menangis sebentar kemudian diam setelah Altea memberikan asi.


"Hey boy cepatlah tidur... " Matteo mengajak Thiago berkomunikasi.


"Dia tidak akan mengerti apa yang kamu katakan... "


Matteo tidak peduli walau pun Thiago tidak bersuara. Dia tetap mengajak putranya berkomunikasi. Semakin diajak bicara mata Thiago berubah menjadi cerah sepertinya ngantuk bayi itu sudah hilang.


Altea duduk ditepi ranjang sambil menggendong tubuh mungil Thiago.


Matteo berjongkok agar bisa menyentuh wajah putranya. Bayi mungil itu tidak berkedip dia seolah memandangi wajah kedua orangtuanya.


" Hei boy.. jangan melihat mommy mu seperti itu, nanti kau jatuh cinta. Mommy hanya milik Daddy oke ? " Altea tergelak kecil. Ya Tuhan bercanda bisa tapi jangan melebihi standar tuan.


"Cinta berawal dari mata turun ke hati ".


Altea memutar bola matanya. "kau ada ada saja " .


"Memang seperti itu kenyataannya". Matteo sudah duduk disamping Altea. Pria itu merangkul tubuh Altea dan membelai wajah putranya.


"Kalian harta yang paling berharga yang aku miliki sekarang " . Matteo mengecup bibir Altea kemudian mencium pipi lembut Thiago. Bayi itu menguap.


"Aku janji akan selalu ada untuk kalian berdua. mengedepankan urusan kalian sebelum urusan ku " . Matteo bertekad dalam dirinya.


"Kami juga janji akan selalu ada untuk Daddy..." Altea menirukan suara Thiago.


Matteo sudah meletakkan Thiago kembali kedalam box. Bayi itu sudah tidur.


Aku sudah menjadi seorang ayah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2