
Matteo sudah duduk bersandar di heardboard tempat tidur. Dia melihat putranya Thiago masih bergulung dibawah selimut. Senyum tersungging dibibirnya melihat laju perkembangan thiago yang menurutnya termasuk cepat. Ayah baru itu merasa semakin damai dan bahagia setelah kehadiran thiago. Bayi itu sudah seperti bayi berumur 5 bulan saja.
Kita ringkas saja. Dari segi postur tubuh, Thiago tergolong cukup sempurna untuk anak usia satu bulanan. Tidak lagi terlihat ubun ubunnya yang berdenyut denyut. Memang masih ada namun sudah cukup berkurang. Itu artinya kerangka kepala bayi itu mulai terbentuk dengan sempurna.
Lanjut dalam segi kemampuan sosial dan emosional. Thiago tergolong mudah dalam mengenali wajah orang orang terdekatnya. Katakan saja yang sudah dia kenal yakni kedua orangtuanya dan juga kakek dan neneknya.
bayi itu sudah bisa bergumam gumam halus ketika menyenangi sesuatu atau seseorang. Itu tandanya sistem saraf dan pembuluh otak bayi bekerja dengan baik.
Dari segi monitorik halus atau kasar juga, Thiago tergolong cukup cepat .Dalam kurun waktu satu bulan bayi itu sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya secara bersamaan. Tidak hanya itu. Dia juga sudah mulai bisa menyangga kepalanya sendiri dan juga sudah mulai bisa menggulingkan badannya.
Dan tentu saja Matteo senang melihat semua itu. Ayah mana pun akan bangga melihat perkembangan anaknya. Matteo dengan senang hati menemani setiap perkembangan putranya. Dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk melakukan interaksi lebih banyak kepada Thiago.
"Sayang kenapa belum gerak? " Altea datang sambil mengusap usap rambutnya karena masih basah. Wanita itu baru saja mandi.
Matteo tidak menjawab. Dia memilih berbaring lagi sambil memeluk tubuh Thiago dari belakang. Diciumnya kulit bayi itu dalam dalam tidak lupa kecupan manis disana sini. Dan tentunya itu membuat Thiago menggeliat.
"Sayang.....apa hari ini kamu tidak ke kantor ? " Altea sudah membungkus rambutnya dengan handuk. Dia mendekati Matteo yang berbaring.
"Tidak sayang... " ucap Matteo sambil menarik tangan Altea agar ikut bergabung menikmati pemandangan Thiago yang mendengkur halus Sakin lelapnya bayi itu tidur.
"Kenapa? kamu pasti sangat lelah dan juga kurang tidur kan ? " ucap Altea prihatin. Dia kembali melihat lingkar hitam di sekitar mata Matteo.
"Tidak ada kata lelah untukku ". Matteo sudah memeluk Altea dengan erat.
"Maafkan aku yang sering pulang terlambat karena urusan kantor" imbuhnya lagi.
Altea tersenyum. "Tidak apa apa sayang. Kamu tidak pernah terlambat kok. Istirahatlah jika lelah . Jangan paksakan diri untuk berjaga, aku bisa. Lihat matamu sudah seperti tidak tidur sebulan " Ucap Altea mengecup mata Matteo bergantian.
"Aku sudah menyelesaikan semua agenda penting untuk hari ini dan besok. Jadi aku tidak perlu ke kantor. Aku akan disini menghabiskan waktu bersama kalian berdua" ucap Matteo sambil tersenyum melirik Thiago yang tertidur pulas.
Dan jelas saja itu membuat Altea berbinar. Matanya sudah seperti memancarkan cahaya matahari yang begitu cerah.
"Benarkah ? "
Matteo mengangguk " Aku juga sudah menambahkan satu orang untuk menghandle beberapa urusan di kantor. Agar mempermudah pekerjaan ku" ucap Matteo sambil menciumi telapak tangan Altea.
__ADS_1
"Baiklah. Berarti hari ini aku sama kak Aurel bisa pergi ke mall bukan. kami mau belanja sekalian melihat diskon akhir tahun " Ucap Altea antusias.
Mendengar itu Matteo langsung pias. Dia menghela nafas sejenak.
"Iya pergilah. aku akan menjaga Thiago. " Matteo sadar Altea sudah terkurung 9 bulan selama masa kehamilannya. Matteo memang tidak pernah membebaskan Altea ketika hamil. Dan wanita itu juga lebih memilih untuk berdiam karena malu dengan dirinya sendiri. Jadi wajar saja wanita itu antusias jika ingin bepergian.
Altea langsung gelagapan mengambil ponsel miliknya menghubungi Aurel menekankan dengan keras bahwa hari ini mereka jadi untuk berburu diskon akhir tahun yang sudah mereka sepakati beberapa hati yang lalu. Dan Aurel pun dengan senang hati menyetujuinya.
.
.
.
Tidak berapa lama Aurel sudah datang menjemput Altea, wanita itu diantar oleh Juna. Mobil Alphard hitam sudah terparkir di depan kediaman Matteo. Rumah Matteo memang tidak terlalu jauh dari kediaman Mahaprana jadi waktu tempuh tidak terlalu lama.
Juna dan Aurel turun. Dia melihat megah kediaman baru Matteo. Dalam hati Juna cukup bangga melihat perubahan signifikan Matteo adiknya Semenjak menikah.
Menekan bel satu kali. Asisten rumah tangga sudah membuka pintu rumah mempersilahkan Aurel dan Juna masuk.
"Ke kantor. Tapi mungin setelah mengantar mereka ke mall " Mereka yang dimaksud Juna adalah Aurel dan Altea.
"Mana Thiago ? " Rasanya Juna rindu melihat keponakan kecil itu. Sudah dua minggu mereka tidak bertemu.
"Ada di ruangan mainnya. Ayo " Matteo berjalan menuju kamar tempat Thiago bermain. Kamar itu di desain khusus untuk kamar bermain Thiago.
Altea memberikan tiga kali ciuman di bibir Matteo sambil berpamitan. "Muah muah.. muaah... " Itu membuat Matteo terkejut dan juga tergelak.
Pria itu sudah sekuat tenaga untuk menahan gejolak dibawah sana. Jujur saja pancingan halus seperti ini membuat dirinya kewalahan.
"Wah... sudah ganteng saja. Apa kabar mu hari ini ganteng" Aurel menyempatkan diri untuk melihat baby Thiago juga. Bayi itu sedang berada di dalam stroller. Saat Thiago menyentuh wajah Aurel. Kembali lagi aurel terharu dan juga ada rasa ingin memiliki.
Melihat Aurel cukup dekat dengan Thiago membuat Juna menarik garis senyum tipis bahkan tidak terlihat.
.
__ADS_1
.
.
Altea dan Aurel sudah berada di dalam Mall. Ibu satu anak itu sudah melangkah seribu melihat pajangan diskon di mana mana. Mata Aurel hanya tertuju dengan diskon untuk baju baju anak anak. Dan jelas saja Altea sudah dengan semangat menggebu gebu memilih milih baju untuk Thiago dan memasukkan kedalam keranjang.
Meskipun Thiago memiliki banyak sekali koleksi baju yang telah disiapkan oleh Matteo sebelumnya namun kesenangan tersendiri baginya jika dirinya memilih langsung baju untuk anaknya.
"Apa ini cantik ? " Tanya Aurel memperlihatkan sebuah gaun pink dengan list hitam.
"Gaun bentuk apa saja akan terlihat cantik jika kakak yang memakai" Ucap Altea dengan polosnya memuji Aurel dan itu membuat Aurel memutar bola mata malas.
Dua keranjang sudah penuh dengan barang barang bayi. Altea akhirnya melangkah menuju rak pakaian dewasa. Dia memilih milih sebentar , dirasa cocok langsung masukkan kedalam keranjang.
"Baju untuk siapa ? " tanya Aurel.
"Untuk Matteo kak. Mudah mudahan muat " ucap Altea sibuk membandingkan size pakaian yang ada ditangannya.
"Oh.... Kamu tidak membeli pakaian untukmu. Yuk bareng kita lihat yang disebelah sana "
"mmm aku rasa kakak saja kesana. Pakaian ku masih banyak kak". Altea berbicara tanpa menoleh sedikit pun. Matanya sibuk membandingkan warna yang menarik menurutnya.
Aurel sedikit tergelitik. Inilah yang membuat dirinya kadang merasa minder dari sosok Altea. Sifat keibuan Altea mulai terlihat. Jika Aurel selama ini suka menghamburkan uang untuk dirinya saja berbanding terbalik dengan Altea.
Wanita itu bahkan tidak kepikiran untuk membeli satu barang pun untuknya. Dia lebih mengedepankan keperluan Thiago dan Matteo.
Cara sederhana ini membuat Aurel mengakui jika Altea layak untuk bahagia dan mendapatkan cinta dari Matteo. Baginya Altea memang wanita yang berbeda.
Melihat Altea sibuk memilih pakaian untuk Matteo, akhirnya Aurel terpikir juga dengan juna. Ia akhirnya ikut bergabung mencoba memilih pakaian untuk Juna.
Aurel bahkan tidak tau apa ukuran pakaian Juna. Akhirnya dia memilih membeli dua size berbeda untuk mengantisipasi kekecilan atau kebesaran. Dan ini juga pertama kali dia membeli sesuatu untuk Juna suaminya.
"Semoga dia suka " gumam Aurel pelan nyaris tidak terdengar.
Bersambung......
__ADS_1