Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Barcelona Day 1


__ADS_3

Hari ini Cuaca di Barcelona cukup dingin untuk penghuni Asia yang tidak terbiasa dengan kerendahan suhu di Eropa. Ya walaupun Matteo sering bolak balik ke luar negeri tapi dia tetap saja belum terbiasa dengan suhu di Eropa.


Matteo melirik Altea yang sudah tidur. Istrinya sedikit meringkuk. Jelas saja wanita itu kedinginan. Akhirnya Matteo menghidupkan mesin penghangat ruangan.


Menjatuhkan tubuhnya disamping Thiago dia membalut tubuh anaknya dengan selimut bulu tebal agar thiago hangat. Senyum tersungging dibibirnya melihat Altea dan Thiago tidur. Wajah damai yang selalu membuat hatinya tenang.


Aku tidak menyangka pada akhirnya ada wanita yang masuk ke dalam ruangan ini.


Malam terus berjalan. Para manusia di belahan bumi pasti sudah tenggelam dengan mimpi. Sama halnya dengan Matteo dia mengecup dahi Altea bergantian dengan Thiago.


Sambil menunggu ngantuk datang, pria dingin itu terus mengelus kepala Thiago anaknya. Senyumnya selalu hangat ketika melihat thiago. Sesekali dia mencium kepala dan juga tubuh thiago. Merasakan aroma shampo baby yang bercampur dengan aroma minyak telon menebarkan wangi khas bayi membuat Matteo mempunyai hobby baru yaitu menciumi tubuh anaknya.


.


.


.


Cerita berlanjut..


Pagi ini Altea menggeliat diatas tempat tidur. Baju tidurnya sudah melorot. Bahkan kancing belakang baju itu sudah terbuka.


Dasar mesum ...


Sambil menggerutu,Altea memperbaiki tali baju tidurnya. Kemudian dia segera berlalu ke kamar mandi. Membasuh wajah dan juga mengguyur tubuhnya dibawah air hangat.


"Mereka kemana ya ? " setelah selesai memakai pakaian casual. Dia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan namun tidak menemukan Matteo dan juga thiago.


Suara handle pintu membuat Altea menoleh. Ternyata Matteo yang masuk sambil menggendong Thiago. "Sudah bangun sayang? " Matteo melepaskan sendal jepitnya dan mengganti dengan sendal hotel yang lebih ringan.


"Sudah. kalian habis dari mana?" Altea memperbaiki topi Thiago yang sedang miring. "Anak mommy habis dari mana pagi pagi sudah memakai topi ? "


"Kami habis dari bawah cari udara segar. pagi pagi buta Thiago sudah ingin menjelajah " Matteo meletakkan Thiago diatas tempat tidur.


"Sebaiknya kau bersiaplah. kita akan jalan jalan sesuai permintaan mu " Ucap Matteo.


"Benarkah??" Altea yang tadinya sibuk bermain dengan Thiago langsung berbinar. Dia buru buru masuk kedalam ruangan ganti baju.


Matteo masuk bersamaan dengan Altea sedang melepaskan seluruh pakaiannya. Altea buru buru menutupi bagian tubuhnya dengan baju yang dia tarik acak dari dalam lemari.


"Kenapa ditutupi? " ucap Matteo mengerutkan keningnya. Matanya tertuju melihat kaki jenjang Altea yang selalu membuatnya gagal fokus.


"Kamu Kenapa masuk ?? " Protes Altea memperbaiki lilitan kain yang menutupi sebagian tubuh mungil nya.


"Mau melihat mu ganti baju " Matteo mengeluarkan tatapan liciknya yang disambut tatapan tajam oleh Altea. "Jangan macam macam ! " ucap Altea sambil mundur karena Matteo mulai mendekat.


"Memangnya kenapa kalau aku melihat mu ganti baju" Tangan Matteo sudah mulai menarik paksa kain yang menutupi tubuh Altea. Tapi wanita itu mempertahankannya. Begitu kain itu lepas pffff tubuh polosnya akan terpampang.


"Jangan !!" Helai kain yang menutupi tubuh atasnya sudah mulai melorot. "Kau sudah mengambilnya tadi malam kenapa kau mau lagi " Ucap Altea sambil terus berusaha keras mempertahankan kain ditubuhnya.


Matteo tersenyum jenaka. "Tadi malam ? apanya yang tadi malam ? " Matteo terus memainkan jemarinya di ceruk Altea. Kemudian mengecup keras leher putih itu hingga menyisakan warna merah.


"Ganti bajumu dengan baju hangat! "Matteo menarik paksa kain pertahanan Altea dan melemparnya ke sudut ruangan.


Setelah Matteo berbalik Altea baru bernafas lega. Ternyata Matteo datang ke ruangan ganti untuk mengambil baju hangat thiago.

__ADS_1


Matteo mengenakan pakaian hangat untuk melapisi baju thiago. Warna baju mereka senada.


"Huh kau tampan seperti Daddy mu " Ucap Matteo berbalik mengambil parfum brand ternama yang dia miliki.


"Angkat ketiak mu boy supaya kau harum nanti " ucap Matteo sambil menyemprotkan parfum ke arah ketiak Thiago. Bayi yang menggemaskan itu langsung tertawa ceria.


Altea hanya menggeleng melihat Matteo memperlakukan Thiago seperti orang dewasa yang sudah mengerti semuanya.


Sambil menunggu Altea sisiran, Matteo masuk lagi kedalam ruangan ganti untuk mengambil sepatu Thiago.


"Sepatu mu keren sekali boy! Lebih keren dari sepatu Daddy " Matteo seperti biasa terus menggoda Thiago. Secara tidak langsung itu adalah cara dia mengajak Thiago berkomunikasi.


Hanya menempuh perjalanan selama beberapa menit mereka sudah sampai di suatu tempat yang menjadi tempat liburan mereka di hari pertama.


Mike sudah mengatur semuanya. Mulai dari hari pertama sampai hari terakhir Matteo dan keluarga kecilnya liburan.


"Sayang..... " Altea sedang berada di dekapan Matteo.


"Apa "


"Tidak bisakah kita jalan jalannya bertiga saja ? tidak usah ada mereka? " Mereka yang di maksud Altea adalah pengawal yang disiagakan Mike dan juga perawat yang stand by untuk menjaga thiago.


"Memangnya kenapa kalau ada mereka ? "


"ish... aku mau jalan jalan bertiga saja. sama kamu dan juga Thiago. Aku tidak enak jika terus di awasi begini " Altea mengerucut.


"Tidak enak bagaimana ?? " pura pura bingung saja. Padahal istrinya sudah mengatur deru nafas menahan sabar.


"Masa iya mereka terus mengintai kita. Kan aku jadi..


"Aku ba....


"Apa kalian mengganggu istriku ? " tanya Matteo sudah menegakkan kepalanya. Matanya bahkan melotot kepada dua orang pengawal yang sedang mengemudi.


"Ti... Tidak tuan ! kami tidak menggangu nona. Jika nona merasa terganggu kami minta maaf nona" Dua pengawal itu sudah seperti melakukan kesalahan besar. Raut wajahnya bahkan sudah ketakutan lebih tepatnya pucat melihat tatapan Matteo dari kaca spion.


"Mengemudi yang benar! Jangan lirik istriku walau hanya satu detik ! " Ucap Matteo sambil menarik Altea kedalam pelukannya.


"Ba.. ba.. baik tuan ! " Peringatan keras Mike kemarin membuat mereka harus ekstra hati hati melayani Presdir muda Orion.


"Apa mereka mengganggumu sayang ? " Matteo meraih dagu Altea lagi. Tatapan mereka bertemu.


Nona kami mohon ampuni kami. Tidak tau dimana letak kesalahan kami.


"Sayang.... aku tidak diganggu. Aku ba... "


"Lalu kenapa kamu seperti kurang nyaman begini ? " Lagi lagi Matteo memotong kalimat Altea.


"Sayang... kalau mereka ada aku jadi tidak bebas mencium mu ,memeluk mu dan juga melakukan apa pun yang ku mau. Kan malu dilihatin !! " Setengah berteriak karena Matteo lama peka nya. Padahal bukan itu alasan Altea. Dia hanya merasa tidak nyaman kalau terus di pantau. Agak agak gimana gitu.


Matteo tidak bisa menyembunyikan rona senangnya.


"Kalian dengar itu! Istriku malu mencium ku jika kalian lihat. Maka nanti ambil jarak minimal 20 meter dari kami. Dan jangan lihat jika dia mencium ku ! " Ucap Matteo mengubah peraturan yang di tetapkan Mike. Tetap disamping Tuan dan nona. Jangan pernah jauh dari mereka. Nah sekarang serba salah kan.


"Baik tuan " Jawaban serentak yang menggema.

__ADS_1


"Bukan itu maksudku " Altea semakin frustasi.


"Lalu ? " Matteo lagi lagi pura pura tidak tau.


"Ishhh... Udah deh gak jadi " Merajuk. Altea memilih diam tidak lagi melanjutkan permasalahan pengawal lagi.


Hari pertama mereka lalui dengan mengunjungi banyak tempat tempat kuno yang menarik dan juga menakjubkan. Tawanan kota itu membuat mata siapa saja yang melihatnya akan terpana.


Walau sebenarnya Matteo tidak terlalu suka namun dia tetap menikmati keindahan bangunan kuno karena ini adalah tempat impian istrinya. Untuk menghibur dirinya sendiri dia menjahili Altea mengatakan mana janjimu menciumku dan memelukku.


Hah! meresahkan.


Pagi berganti dengan siang hari, dan siang berganti dengan senja. Altea dan Matteo sekarang sudah berada di mobil. Setelah puas menjelajah kota dan tempat tempat wisata mereka memilih kembali pulang.


Mobil melaju menuju kawasan pinggiran kota Barcelona.


Di perjalanan lagi lagi Altea takjub dengan pemandangan kota. Di tengah kota tidak terlihat banyak kendaraan. Hanya ada kendaraan umum dan juga sepeda listrik yang lalu lalang.


Orang orang terlihat hanya mengandalkan jalan kaki. Wow! ternyata apa yang kubaca adalah kenyataan. Orang luar memang lebih suka jalan kaki.


Mobil berhenti di depan sebuah rumah di pinggiran kota. Altea mengerutkan keningnya melihat sekitar.


Ini bukan tempat penginapan mereka semalam


"sayang... kita dimana " Ucap Altea sambil melihat sekeliling. Terlihat sekelilingnya tidak banyak orang. Jauh dari keramaian namun tempak tempat itu sejuk karena banyak tumbuhan hijau yang berjejer.


"Ini rumah siapa sih " Lagi lagi bertanya. Altea melirik pengawal yang jaraknya 20 meter. pengawal itu langsung menunduk.


habislah kami. tadi nona melihatku sudah dua detik.


"Ayo sayang " Matteo menarik tangan Altea. Satu tangannya mendorong stroller baby Thiago.


Sebelum masuk Matteo menoleh kebelakang. "Kalian istirahatlah.. "


"Baik tuan.. jika ada perlu kami siap melayani " Ucap salah satu dengan lantang.


Membuka pintu. Altea takjub melihat ruangan di dalam rumah itu. Tadi dari luar dia sudah terpesona. Setelah masuk kedalam dia semakin memuji memang desain rumah di luar negeri berbeda. Klasik tapi terlihat modern.


Memasuki ruang tengah. Mata Altea menyipit melihat foto pernikahannya dengan Matteo terpajang dengan bingkai besar.


"kamu suka ? " Tangan Matteo sudah melilit di pinggang Altea. Wanita itu mengangguk.


"Baguslah. Ini rumah baru kita juga. "


"Rumah baru ? "Altea terkesiap.


"Rumah lama baru dihuni lebih tepatnya " ucap Matteo terkekeh.


Malam telah datang. Makanan diatas meja sudah terhidang. Altea, Thiago dan juga Matteo memutuskan makan malam setelah mereka membersihkan diri tadi.


"Ceritakan padaku. Ini rumah siapa ? " Altea terus bertanya.


"Rumah ini pemberian kakek Raymund ketika aku masih lajang. Entah karena Tuhan sudah mengatur, kebetulan kamu suka Barcelona maka akhirnya aku mendesain rumah ini agar kita bisa menempatinya jika kita berkunjung kesini "


Di dalam dekapan Matteo istrinya mengangguk paham.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2