Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Barcelona Day 3


__ADS_3

Juna meraba raba tempat tidur. Dia masih tengkurap mata terpejam dengan selimut setengah pinggang. Tangannya seperti sedang mencari sesuatu.


Aurel yang melihat Juna meraba raba tempat tidur dia segera mendekat dan meraih tangan Juna.


Pria itu membuka mata. "Kenapa cepat sekali bangun ? "


"Sini " menepuk nepuk ranjang kosong didekatnya agar istrinya naik lagi ketempat tidur.


Aurel tersenyum lalu naik lagi. Jarak wajahnya dengan Juna sekitar 10 centimeter. Dia memperhatikan dengan jelas betapa tampan pria ini rupanya. Tanpa sadar di mengelus pipi Juna dengan lembut.


Suamiku.


Juna akhirnya membuka matanya karena merasa wajahnya disentuh orang.


"Ma.. maaf " buru buru Aurel menarik tangannya karena melihat Juna sudah bangun.


"Kenapa langsung bangun ? " Juna menarik selimut hingga menutupi bahunya. Udara dingin.


"Ini sudah siang " ucap Aurel juga menarik selimut hingga dadanya.


"Apa ! "


Juna mencari cari dimana lagi ponsel sialan ini pikirnya. Setelah ponsel ketemu dan betul saja ini sudah jam 10 . Ya Tuhan.


"Aku akan mandi sebentar " Ucap Juna sudah berdiri dengan tidak tahu malunya padahal tubuhnya tidak di lilit sehelai benang pun.


Juna sudah selesai dengan urusannya dari kamar mandi. "Apa kau tidak mandi ? kau sudah keringatan semalam " Ucap Juna sambil memakai kaos miliknya.


"Aku sudah mandi duluan tadi " Ucap Aurel dengan menunduk sedikit malu malu.


"Baiklah ayo turun. Kita mencari makan. Kau pasti sudah lapar bukan ? " Juna sudah mencari dimana letak kunci mobil. Semalam Tommy asistennya memberikan kunci padanya.


Setelah selesai makan pagi. Makan pagi atau makan siang ini wkwkwk.


Setelah selesai makan. "Ayo pulang " . Juna sudah selesai membayar tagihan tadi.


Saat meninggalkan restoran langkah Aurel seperti berat. Matanya sibuk melihat lihat jalan besar kota Barcelona.


"Kenapa ? " Juna juga akhirnya menghentikan langkahnya.


"Aku mau jalan jalan sebentar saja " lirihnya dengan sorot mata penuh permohonan.


Juna yang melihat tatapan Aurel seperti ini tidak tega. "Ya sudah ayo ! mau kemana ? ".


"Aku mau kesitu! " Menunjuk stand jajanan pinggir jalan Barcelona yang unik menurutnya.


"Ya sudah. " mereka berjalan menuju tempat itu. Mobil sengaja dia tinggal di parkiran restoran. Tadi dia sudah menitip lalu meminta karcis kepada penjaga.


Terlihat Aurel antusias dia menunjuk salah satu stand penjual buah potongan. Dari stoples kaca tampak buah beraneka ragam sudah di potong dengan potongan sedang. Terlihat fresh dan menggiurkan.


Aurel memesan satu.


"Aaa " dia menusuk buah kiwi dan menyodorkannya ke depan mulut Juna. Mau tidak mau Juna membuka mulut. "manis " ucap Juna sambil mengunyah.


Mereka berpindah dari satu stand ke stand lain mencoba beberapa jajanan yang menurutnya tidak ada di Indonesia.


Sepenjang perjalanan tangan mereka bertautan. Juna beberapa kali memperbaiki syal Aurel yang tertiup angin. Tadi Juna tak sengaja melihat Aurel seperti kedinginan. Akhirnya dia membeli syal dan melilitkannya di leher istri.


Sesekali terlihat mereka tertawa manis. Jika orang lain melihat mereka adalah sepasang kekasih yang romantis.


"Kaki mu sakit ? " Dahi juna mengerut saat Aurel terlihat merentangkan kedua kakinya. Mereka sedang duduk di kursi di tengah kota.

__ADS_1


"Hehehe iya sedikit. Aku terlalu bersemangat tadi " ucapnya sambil tersenyum senang.


"Ya sudah. Besok kita lanjut lagi jalan jalan" Juna berdiri mengulurkan tangannya untuk membantu Aurel berdiri.


"Kita mau kemana ? " Mereka sudah berada di dalam mobil. Aurel sudah memasang seatbelt.


"pulang " ucap Juna .


Juna melajukan mobilnya meninggalkan keramaian kota. Didalam mobil mereka terlibat sedikit percakapan ringan.


Juna menghentikan mobilnya dan menurunkan setengah kaca mobil.


"Sepertinya Matteo juga ada disini " Ucap Juna sibuk mengamati sebuah rumah ukuran sedang. Di depan rumah ada dua mobil terparkir.


Aurel juga ikut mengamati. "Masa sih ? "


"Sepertinya begitu" ucap Juna. "Mana ponselku ? aku mau menghubungi Matteo " Tangan Juna sudah menggantung di udara. Aurel buru buru membuka tasnya dan memberikan ponsel Juna.


"Benar dia dan istrinya sedang disini. Ayok turun " Juna membuka seatbelt diikuti oleh istrinya.


Mereka turun dari mobil menuju halaman rumah. "Ini rumah siapa ? " tanya Aurel.


"Rumah Matteo "Jawabnya singkat. Dia menekan bel satu kali. Pintu terbuka.


Altea terlonjak kaget saat melihat siapa yang datang.


"Eh kakak Juna. Kak Aurel " Suaranya keras antara kaget dan tidak percaya. "Hah kakak kesini ? " Tanyanya dengan gelagapan.


"Kakak kenapa tau kami sedang disini " Tanya Matteo. Dia muncul dari belakang Altea sambil menggendong Thiago.


"Aku melihat mobil terparkir di depan " Ucap Juna.


"Oh ... " Terlihat Matteo biasa saja.


"Kapan kakak kesini ? Kenapa tidak mengabariku kak ? Nih kakak coba in semalam aku beli dari kota rasanya enak sekali " Menyodorkan martabak yang sudah di panaskan dari microwave.


"Hahaha kakak juga tidak nyangka kalian sedang disini Al " Ucap Aurel sambil mengambil potongan Martabak memasukkan kedalam mulutnya.


Sementara di teras depan


"Aku mau meminjam Thiago satu hari ini. Kau setuju kan ? " Ucap Juna dia duduk bersama Matteo adiknya di teras rumahnya. Bertanya seolah memberitahu.


Matteo tidak langsung menyetujui.


"Kemana kakak akan membawa anakku nanti ?" tanya Matteo mengintrogasi.


"Ke rumahku " Ucap Juna " aku ingin main main dengan Thiago juga" ucap Juna sedikit memohon.


"Apa anakku akan aman bersama kakak ? " Tanya Matteo penuh intimidasi.


"Hei bocah ! apa kau pikir aku ini orang lain anak mu anak ku juga bodoh ! " Ucap Juna sedikit melontarkan kata kata kesalnya.


"Kau bisa bersenang senang dengan istrimu nanti" Ucap Juna mengerlingkan sebelah matanya. Di iringi dengan senyum devil.


Matteo akhirnya menyetujui. "Baiklah. Tapi kakak janji jangan sampai anak ku kenapa kenapa ! " Titah Matteo dengan tegas.


"Hmhmh"


Sore hari Juna dan Aurel berpamitan kepada Matteo dan Altea.


Tadi Altea sudah menyusun barang barang keperluan thiago kedalam sebuah tas baby.

__ADS_1


Aurel terlihat senang sekali setelah mengetahui bahwa Thiago akan ikut bersama mereka.


Thiago sudah berada di gendongan Aurel. Juna membuka pintu mobil mempersilahkan Aurel masuk. Dia sedikit membuka kaca mobil agar thiago bisa melambaikan tangan.


"Dada mommy dan Daddy !!!!! Aku sama mommy Aurel dan Daddy Juna dulu " Aurel menirukan suara thiago yang diiringi senyum hangat Altea.


Setelah Juna,Aurel dan Thiago pergi.


"Istrinya banyak berubah akhir akhir ini " Kalimat lolos begitu saja dari bibir Matteo.


"Maksudnya ? " Altea tidak mengerti.


"Tidak apa apa sayang. Thiago pasti aman bersama mereka. sekarang siap siaplah kita ketempat impian mu " Ucap Juna membuka kaos miliknya dan masuk ke kamar mandi.


.


.


.


Juna dan Aurel tiba disebuah rumah yang tidak jauh dari rumah Matteo.


"Masuklah " Juna sudah membuka pintu.


Dia menenteng tas baby tempat perlengkapan Thiago.


"Ini rumah siapa ? " Dia menoleh kepada Juna.


"Masuk saja dulu.. " Juna mendahului Aurel dia meletakkan tas Thiago di atas sofa.


"Ini rumah pemberian kakek Raymund. aku sudah sering kesini " ucap Juna .


"Oh ya ? "


"Iya.. kakek membangun dua rumah disini. Satu untukku dan juga untuk Matteo " ucap Juna.


Aurel mengangguk paham. Dia memang tau keluarga Mahaprana dan Orion adalah orang orang terpandang yang memiliki aset aset dimana saja.


Jadi dia tidak heran lagi jika Juna memiliki rumah di negara lain.


"Cepat kemarikan susunya !!! " Teriak Aurel dari dalam kamar. Thiago sudah menangis.


Juna datang tergesa gesa membawa susu di dalam botol.


"Hei apa kau gila menghangatkan susu hingga sepanas ini. mulut Thiago akan terbakar meminum ini !!! " Kesal Aurel.


Juna gelagapan dia mengambil dua wadah dan menuang nuangkan susu seraya mendinginkan.


"Apa ini sudah bisa ? " Tanya Juna.


"Aku rasa sudah " Aurel menempelkan telapak tangannya disamping wadah untuk merasakan apakah susu itu sudah bisa di konsumsi atau belum .


"Aku rasa sudah. Masukkan kedalam botol " Ucap Aurel dia sibuk menimang Thiago. Bayi itu semakin mengeraskan tangisnya.


Sore hingga malam, Juna dan Aurel menghabiskan waktu bermain dengan Thiago.


Sesekali bayi itu menangis mungkin akibat tidak pernah jauh dari kedua orangtuanya.


Tapi Juna dan Aurel bisa menghandle Thiago. Mereka bekerja sama seperti sebuah team untuk Thiago.


Tanpa di sadari kedekatan Juna dan Aurel semakin sempurna.

__ADS_1


Sesekali Aurel mengambil foto dan video thiago. Meng-upload nya kedalam story media socialnya.


Bersambung......


__ADS_2