
Setelah melalui banyak perdebatan. Akhirnya Matteo mengizinkan istrinya bertemu dengan Rafael.
Altea sudah seperti guru memaparkan satu persatu dengan detail semua hal yang akan dia lakukan saat bertemu nanti dengan Rafael untuk meyakinkan Matteo.
Tempo hari Rafael terkejut mendengar berita mengenai Altea ternyata sudah menikah dengan Matteo.
Bagaikan disambar petir disiang bolong kira kira seperti itulah dia mendengar kabar tersebut.
Pria itu nyaris tidak bisa menghirup udara.
Pandangannya kosong. eh bukan kosong buram lebih tepatnya.
Sampai suatu waktu Rafael memberanikan diri menghubungi altea untuk memastikan berita yang didengarkan.
Dan ternyata yang menerima telepon itu adalah Matteo.
Matteo saat itu ingin membanting ponsel Altea karena ternyata istrinya masih menyimpan nomor Rafael.
Namun niat itu dia urungkan. Menahan emosi. Matteo sudah berjanji agar bisa lebih kuat menahan diri. Begitu sekelebat kalimat yang selalu terbayang dalam pikirannya.
Satu hal yang selalu mengganjal di dalam pikiran Mateo adalah pria itu.
Kemunculan pria itu sudah seperti hal yang mengguncang wilayahnya.
dari tatapannya saja Mateo tahu jika Rafael menyukai istrinya.
Pertemuan Rafael dengan altea yang dia lihat di restoran menjawab semua pertanyaannya bahwa Altea belum menceritakan perihal pernikahannya dengan Matteo. Dan sudah pasti itu memancing emosi Matteo.
Meskipun Altea sedang mengandung anaknya, namun rasa cemburu dan takut kehilangan pasti selalu menghantui pikirannya.
Pandangan lurus kedepan dengan tatapan kosong. Para waiters sudah berkali
kali bertanya mau pesan apa tuan?
Anda butuh sesuatu ?
Namun Rafael selalu menjawab tidak dengan isyarat tangannya.
Tatapannya mengunci sosok yang dia tunggu. Wanita itu datang berbalut dress putih motif bunga-bunga. Matteo juga terlihat menggandeng tangan Altea menuju restoran.
"Teo sampai disini saja " Tatapan Altea penuh permohonan. Tadi mereka sudah setuju bahwa Matteo hanya mengantar Altea untuk bertemu dengan Rafael. Hanya mengantar garis bawahi itu.
Tapi tampaknya Matteo salah untuk menyetujui itu. Dia tidak rela istrinya bertemu dengan pria itu lagi.
"Kenapa ? Aku hanya akan mengantar mu itu saja " Menyelipkan rambut Altea kebalik telinga tidak lupa cium sana sini.
Tampak Altea menghela nafasnya.
Dia paham apa yang dirasakan Matteo. Namun dia tidak bisa berbuat banyak apalagi sampai mempertemukan Rafael dengan Matteo. Bisa bisa nanti seisi cafe itu rata dengan tanah.
Meskipun emosi Matteo sudah banyak berubah namun Altea yakin Matteo hanya menahannya saja bukan menghilangkan.
Bukti akuratnya Altea pernah menguping pembicaraan suaminya dengan mertuanya. Dan saat itu perang saraf terjadi.
Sekuat apa pun kita bisa menahan emosi pasti ada kalanya emosi itu tidak tertahan alias bisa mengalahkan pertahanan kita.
Karena kita manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari emosi.
"Percayalah padaku " dua kata yang terucap dari bibir Altea. Tangannya menggenggam jemari Matteo. padangan mereka beradu.
"Baiklah.. aku menunggu mu di mobil " Matteo mengalah. Sebelum Altea melangkah masuk ke dalam cafe Matteo menyempatkan diri untuk mencium pipi Altea.
Setelah itu dia masuk kedalam mobil. Menghidupkan AC dan melirik dari kaca pintu tempat dimana istrinya masuk. Sambil mengirim pesan kepada beberapa orang agar menjamin keselamatan istrinya didalam sana.
Altea sudah datang. Hati Rafael semakin tersayat melihat bentuk tubuh Altea.
Tidak ada harapan apa apa lagi.
Dia yakin wanita itu sedang berbadan dua.
__ADS_1
Tadi dari kejauhan tadi dia samar melihat bulatan diperut Altea namun dia tidak mengira sejauh itu.
Dan sekarang dia melihat jelas perubahan dalam tubuh Altea. Tidak usah bertanya lagi melihat saja dia tau Altea sedang hamil.
"Duduklah Chel " Nama Chel yang sengaja dia pilih menjadi nama panggilan khususnya untuk Altea.
Altea sudah duduk berseberangan dengan Rafael. Tampak pria itu masih bisa memaksa senyumnya untuk menyambut Altea. Dia tau Altea sedang gemetar sekarang.
Aura dingin diantara keduanya semakin menyeruak.
"Mau pesan apa ? " Masih menatap Altea dengan senyum.
Altea tidak berniat memesan apa apa. Dia tidak mau bertemu Rafael terlalu lama. Dipandanginya daftar menu dihadapannya tanpa berminat untuk memesan.
Pikirannya sekarang adalah segera keluar dari cafe setelah menyatakan bahwa dia sudah menikah. Itu saja tidak lebih.
"Aku pesan air mineral saja kak " Altea menutup daftar menu.
"Sejak kapan ... Sejak kapan Chel ? " Rafael membuka obrolan terlebih dahulu.
Perut Altea membuktikan bahwa pernikahan wanita itu sudah berlangsung lama.
"Itu alasanmu tidak pernah mau menjawab pertanyaan ku ? "
Altea tau pertanyaan mana yang dimaksud oleh Rafael. Paling tidak tentang pertanyaan mengenai sudah punya pacar atau belum.
Rafael merasa jika Altea telah membohongi dirinya. Sekelebat kejadian di bandara masih terngiang di kepalanya.
"Bukan begitu kak...." Bagaiman aku menjelaskan. Hah.. kenapa jadi sesak begini. Rafael memang selalu berusaha mendekatkan diri untuknya.
Tatapan mereka masih beradu.Jangan mengintimidasiku. Lagi pula tidak ada hubungan apa apa kan diantara kita.
"Minum air putih mu dulu ! " Perintahnya melihat Altea sudah mulai gagal fokus. Setelah itu ceritakan tentang pernikahan mu.
Altea memutar tutup air mineral kemudian menenggaknya berkali kali.
Air putih memang bisa membuat dia lebih fresh untuk berpikir. Setelah minum air ingatannya kembali ketika saat itu Rafael sedang berada diluar negeri.
"5 bulan ? "
Bagaikan ditikam belati. Walaupun dia sudah mendengar berita pernikahan Altea namun mendengar secara langsung bisa membuat Rafael meringis.
Rafael menelan salivanya. Betul juga saat itu dia berada di luar negeri.
Tapi bukan itu yang membuat Rafael menelan ludahnya.
Ucapan Altea yang mengatakan acara hanya dihadiri oleh orang dekat saja. Dan ternyata kau tidak menganggap ku? . Aku bukan siapa siapa mu berarti. Pikir Rafael dalam hati.
"Kenapa harus dengan dia kau menikah ?? . Pria yang tidak ada belas kasihan, tidak ada ampun " Rafael banyak mendengar selat belit kehidupan Matteo diluaran.
"Kakak tau takdir bukan? Kami menikah karena Tuhan sudah menjodohkan kami. Dan aku mencintainya "
Seburuk apa pun Matteo Altea sudah berjanji untuk tidak pernah berpaling.
"Baiklah. Hiduplah dengan bahagia Chel. Aku tidak bisa berbuat apa apa. Ada satu hal yang perlu kamu tau "
"Apa itu kak ? "
"Aku begitu mencintaimu"
Altea membeku. Kata cinta tidak boleh disebut dengan sembarangan pikirnya.
Ingatannya kembali ketika Matteo menjabarkan pengertian mencintai dan menyukai.
"Terimakasih sudah mencintaiku kak tapi aku hanya bisa membalas dengan menyayangi kakak" Menegaskan jika cintanya tidak bisa dibagi. apalagi di kurangi. Kalau ditambah mungkin bisa. Rafael sudah menebak itu.
Cintaku hanya untuk yang mulia Matteo Mahaprana si harimau lapar.
Aaa
__ADS_1
jangan mengatai suami mu dengan sebutan yang aneh aneh itu lagi.
Kalau dia harimau lapar berarti aku juga spesies dong. Kan gak mungkin manusia menikah dengan hewan. aaaaa
"Jika aku bisa memutar waktu aku akan memilih untuk tidak membuka pintu ketika kau datang mengantar berkas hari itu. Karena saat itulah rasa cinta ku hadir untuk mu "
Merutuki kesalahannya mengizinkan Altea masuk. Padahal itu tidak masuk akal. Tapi itulah cinta. Kita tidak tau kapan dia hadir. Bahkan kadang kita tidak sadar jika cinta itu sudah ada.
"Terimakasih untuk semua itu kak. Aku harap kakak mengerti posisiku "
Aku sudah menikah dan tidak baik bertemu dengan laki laki lain lagi.
Jaga batasanmu juga denganku.
"Semoga bahagia Chel. jika kamu ada masalah ada aku disini, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku ada untukmu" walaupun bertepuk sebelah tangan namun tidak akan pantas mengubah cinta menjadi benci.
Cinta tidak harus memiliki.
Rafael sudah berada di dalam mobil. Sedih bercampur malu membingkai seluruh sudut bibirnya. Dia tertawa seolah menertawakan dirinya sendiri.
Pria dewasa itu merasa lucu bagaimana mungkin dia mengungkapkan cinta kepada wanita yang statusnya sudah resmi milik orang lain. Tapi ditahan tahan juga sakit bukan? .
Supir pribadinya sudah ketar ketir melihat raut wajah majikannya. Pak supir tidak pernah melihat sisi lain Rafael. Pembawaan selalu berkarisma.
Disuruhnya supir itu keluar dan pulang naik taksi.
Rafael memilih membawa mobil sendiri. Dibantingnya setir itu berkali kali.
Kenapa harus dia chel ?.
Mobil berdecit akibat gesekan ban dengan aspal. Terdengar dari luar seorang ibu ibu memaki karena Rafael membawa mobil ugal ugalan.
Setibanya dirumah Rafael membuka laci dan mengambil sebuah kotak kecil.
Dibukanya kotak itu dan tampaklah sebuah cincin berwarna silver metalik.
Cincin itu sengaja dia desain untuk lamaran Altea yang diperkirakan sekitar sebulan lagi. Namun harapannya kandas.
Altea yang selalu memenuhi pikirannya sudah dimiliki orang lain .
Dia tidak bisa berbuat apa apa.
Tidak mau mengambil resiko merusak rumah tangga orang.
Dia adalah pria waras yang penuh image yang baik.
Merelakan Altea adalah pilihan terakhirnya. Meskipun sulit dan butuh waktu yang lama namun dia harus menerima kenyataan pahit itu.
Pertemuan pertamanya dengan wanita itu sudah berhasil mencuri seluruh isi hatinya.
Altea gadis polos yang sangat menarik perhatiannya.
Pernah dia ingin mengatakan perasaanya namun dia tidak mau melihat Altea terbebani. Jadi dia memilih untuk selalu ada buat Altea. Setidaknya dengan cara itu dia bisa perlahan memiliki Altea.
Namun semua sudah hilang. Mereka tidak berjodoh.
"Ibu...ada perempuan yang baik, cantik, periang. Sama seperti ibu dulu. Aku mencintainya, namun sekarang dia sudah menikah dan aku gagal mendapatkan nya "
Rafael sudah bersimpuh di kaki ibunya yang duduk di kursi roda. Ibu Rafael terkena stroke akibat suaminya ketahuan selingkuh dengan sahabatnya sendiri.
"Aku tidak boleh merebut istri orang iya kan Bu ? " Tanyanya kepada ibu yang tidak bisa berbicara.Tangan wanita itu menyentuh kepala Rafael. Melihat putranya seperti ini membuatnya terpukul. Rafael selalu mengajak nya berbicara setiap hari. Selepas pulang kerja dia selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan ibu.
"Aku bilang aku akan selalu ada untuk nya. Apa itu salah Bu ? " Tanya kepada ibu. Ibu lebih berpengalaman dalam bidang hubungan rumah tangga pikirnya.
Ibu hanya menatap nanar putranya. Tidak bisa berbicara dan juga bergerak.
Rafael yang merasa rapuh membantu ibunya duduk di sofa. Kemudian dia bersandar di pangkuan ibu. Tangan ibu membelai kepala Rafael. Pria itu terbuai hingga tertidur pulas.
Bersambung.
__ADS_1