
Suasana menegang sedang berlangsung di sebuah rumah sakit. Para dokter Ahli kandungan sudah bersiap dengan tugasnya.
Ketegangan terus terjadi saat suara Altea terdengar meringis.
Ratna terus memanjatkan doa penuh harap kepada Tuhan agar memperlancar proses persalinan Altea.
Didalam ruangan persalinan Matteo tak henti-hentinya mengumpat kasar. Dokter dan perawat yang sedang membantu Altea hanya bisa menghela nafas.
"Kan sudah kubilang aku tidak usah ke kantor tapi kau tidak mau mendengarkan aku " Matteo masih sempat meluapkan kekesalannya ditengah ketegangan istri.
"Kenapa kalian semua berbohong sialan !! " Membentak semua dokter yang menangani Altea.
"Kalian bilang tiga hari lagi bukan !
"Kenapa jadi sekarang !!!! "
Sudah memegang ujung kursi. Dunianya berputar hebat melihat wajah cantik Altea dipenuhi garis garis lekuk. Warna kulitnya sudah mulai pucat. Wanita itu sedang berjuang untuk melahirkan seorang bayi.
"Sayang..... "pinggang Altea semakin berdenyut mendengar suara Matteo meninggi membentak semua orang didalam ruangan itu.
"Apa ! Mau bilang aku ke kantor aja sekarang ? " Kesabaran mulai habis. Berkali kali dia mengusap peluh keringat yang membanjiri wajah Altea.
"Berapa lama lagi ??? "
Dokter membisu. Tidak ada yang berani menjawab. pasalnya belum ada tanda tanda kepala bayi terlihat. Padahal pembukaan sudah lengkap.
"Operasi saja !!!!!! " Teriak nya dengan keras. Rasanya hatinya meringis melihat Altea kesakitan. Andai rasa itu bisa di transfer ke tubuhku. Aku tidak rela Altea menderita.
"Aku tidak mau operasi" lirih Altea ditengah-tengah usahanya. Bibir bawahnya dia gigit agar suara meringisnya tidak keluar.
"Kan! kau masih saja membangkang ! "
"Operasi itu sakit Teo ! Banyak efeknya.
.aku mau normal saja "
"Aaaa jadi mau bagaimana lagi !" Teriak nya frustasi. Tangannya sudah menggenggam tangan Altea menyalurkan semua tenaga agar wanita itu kuat.
"Sayang aku harus bagaimana ??" Matteo semakin gusar. Duduk salah berdiri juga salah. Pikirannya sudah tidak lagi waras.
"Altea ...... "
"Katakan apa yang bisa kulakukan untuk membantu mu agar bayi nakal itu secepatnya keluar... Katakan saja apa yang bisa kulakukan "
"Diamlah !! tapi tetap disini genggam tanganku. Jangan buat dokter semakin panik " Kuping Altea sudah panas mendengar ocehan Matteo yang mengancam ancam dokter sedari tadi. Sejujurnya dia tau mengapa Matteo secemas itu.
Saat ini nyeri pinggang yang dia rasakan hampir 100 kali lipat dari nyeri haid yang pernah dia alami. Tubuhnya sudah kehabisan energi. Tapi begitulah perjuangan seorang ibu untuk melahirkan si kecil.
Walau mempertaruhkan nyawanya dia masih semangat dan penasaran untuk melihat anaknya.
Matteo mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah aku diam ".
Pandangan Matteo mengunci satu persatu wajah para dokter. Walaupun setengah wajah dokter tertutupi oleh masker tapi Matteo bisa melihat wajah mereka sudah memucat.
"Lakukan pekerjaan kalian dengan baik !
__ADS_1
"kalau sampai terjadi apa apa dengan istriku nyawa kalian taruhannya ! "
Dokter menelan salivanya. Mereka mengenal siapa Matteo. Tidak ada ampun bagi pria itu. Semua kata yang keluar dari mulutnya adalah keseriusan.
.
.
.
"Berdoalah semoga semua baik baik saja " David merangkul pinggang istrinya. Pria paruh baya itu baru saja tiba. Mendengar Altea dibawa ke rumah sakit dia mempercepat rapat internal selesai.
Bersamaan dengan itu orang tua Altea juga tiba. Wanita paruh baya itu terlihat jauh lebih khawatir.
Dia meremas kedua tangannya. Pandangannya mengarah ke langit mendoakan agar persalinan putrinya lancar.
Mereka semua berdiri di koridor depan ruangan persalinan Altea. Menunggu kabar baik karena sebentar lagi mereka akan melihat Matteo kecil .
"Pa.. bagaimana ini ?. Mama masuk saja ke dalam ya... Takutnya anakmu mengamuk didalam " Ratna ingin menerobos masuk untuk memastikan Matteo tidak melakukan tindakan aneh aneh. "Aku suruh saja dia dia menunggu disini ,biar mama yang mendampingi Altea "
"Sudahlah... biar saja dia didalam. Biarkan dia melihat perjuangan istrinya melahirkan. Biar dia tau seperti apa perjuangan mu dulu melahirkan dia. Dan dia tau sepanik apa dulu aku menuggu dia lahir " David dengan santai berbicara. Dia sudah melewati semua itu.
Dia sudah duluan merasakan apa yang dirasakan oleh putranya.
Dan benar saja. Matteo sudah keluar sambil menangis. Dia memeluk tubuh Ratna dengan erat.
"Ma.....anakku sudah lahir ". Pria itu mengusap air matanya. "Bayi nakal itu tampan seperti aku " Dia menyadari dulu Ratna pasti merasakan sakit luar biasa ketika melahirkannya.
Percaya diri sekali kau mengatakan dirimu tampan. Juna.
Ruang persalinan sudah kembali normal.Para dokter sudah terlihat bisa bernafas.
Anak laki laki Matteo Avhdio Telah lahir.
Bayi mungil itu sedang dimandikan oleh dokter dan membalutnya dengan kain.
Setelah mendapat izin untuk mengunjungi semua orang berebut mau melihat setampan apa Matteo kecil.
"Lihat!! Di persis seperti Matteo waktu baru lahir pah.. " Ratna menyentuh pipi bayi yang sedang tertidur pulas di atas box khusus untuk baby .
Diujung box sudah tertulis nama Matteo Mahaprana & Chelsea Altea.
"Dia tampan sekali ...". Sofi juga menyentuh pipi bayi mungil itu. Terlihat bayi itu menggeliat. Sofi menghentikan tangannya takut bayi itu menangis nanti.
"Siapa namanya ??? "
"Namanya Thiago " Ucap Matteo. Matteo melirik Altea mereka tersenyum. Nama Thiago sudah mereka siapkan setelah mengetahui jenis kelamin bayinya.
"Thiago Mahaprana " David menimpali dan menambahkan nama kebesaran keluarganya.
"Thiago Orion ! " Raymund datang mengejutkan semua orang. Terlalu sibuk dengan bayi hingga mereka tidak menyadari kedatangan Raymund.
"Dia akan meneruskan nama kakek buyutnya"
"Thiago Mahaprana Orion " Tegas David menggabungkan nama Mahaprana dan Orion.
Nama Orion adalah milik keluarga istrinya karena Matteo penerus Orion Company Global. Tidak tertutup kemungkinan Thiago besar nanti bisa meneruskan salah satu perusahaan milik keluarganya.
__ADS_1
"Baiklah biarkan dia menyandang kedua nama itu " Ucap Raymund.
Bahagia dia rasakan akhirnya ada juga penerus namanya.
Raymund tidak memiliki anak laki laki sebagai penerus Orion. Dia hanya memiliki anak perempuan yakni Ratna ibu Matteo.
Thiago menjadi Anak yang beruntung. Nama Mahaprana menjadi ikon untuk memperkuat identitas dirinya adalah keturunan keluarga dari ayahnya . Sedangkan Nama Orion memperkuat dirinya memiliki identitas penerus Orion yang dia dapatkan dari kakek buyut nya.
"Jadilah anak yang luar biasa kelak.. " Dia memegang kepala baby Thiago. Mendoakan bayi itu sesuai dengan harapannya.
"Apa tidak sekalian nama Maulana di sematkan dibelakang nama anakku! " Gerutu Matteo.
Buka mata saja belum tetapi beban bayi itu sudah berat. Menyandang nama dua nama sekaligus merupakan kebanggaan tetapi juga memiliki tanggungjawab besar nantinya.
Kebahagiaan dirasakan semua orang. Banyak cinta dan harapan yang mereka berikan untuk si kecil. Sofi menggendong bayi mungil itu dan mendekatkan kepada Ilham yang sedari tadi diam. Dia memang jarang membuka suara. Dia hanya berbicara jika perlu saja. Seolah suaranya per kata dijual dengan harga mahal.
Ruangan sudah mulai sepi. Matteo mengusir semua orang. Alasannya suara mereka akan menggangu tidur anaknya.
"Selamat sudah menjadi ayah " . Daniel dan Ibra menyempatkan diri untuk melihat anak Matteo. Selepas pulang bekerja mereka mendatangi rumah sakit.
Daniel melirik bayi yang tertidur diatas box. "Tapi dia tidak mirip dengan mu ". Godanya sambil meletakkan sebuah hadiah di samping box bayi.
"Bicara sekali lagi ku lempar kau keluar ! " Kesalnya sambil memandang Daniel dengan tatapan tajam.
"Dia jauh lebih tampan darimu " goda Ibra sambil tertawa cekikikan.
Matteo hanya mendengus kesal. Dilihatnya Altea sudah duduk. wanita itu terlihat lebih segar. Tadi Altea sempat tertidur. Tapi mendengar suara dia refleks bangun.
"Terimakasih sudah berjuang sampai titik ini dengan ku dan melahirkan anakku " Ucapnya sambil menggenggam kedua tangan Altea.
Altea hanya tersenyum. Dipandanginya wajah Matteo. Tangannya meraba setiap lekuk wajah suaminya.
Lingkaran hitam mengelilingi mata pria itu. Menandakan jika Matteo akhir akhir ini sering kekurangan tidur.
Dia memang selalu standby mengawasi Altea. Bergerak sedikit saja Altea dia refleks terbangun.
Setiap Altea ingin melangkah ke toilet dia selalu bangun membantu istrinya untuk menghindari sesuatu terjadi pada wanita itu.
Saat sedang membelai wajah Matteo. Terdengar suara Thiago menangis melengking hingga memenuhi seluruh ruangan.
"Kalian apakan anakku !!!!! " Matteo segera meraih tubuh thiago.
"Bukan aku ! " Ibra menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Mereka bertiga berusaha mendiamkan Thiago. Ibra menyanyikan lagu anak anak dibantu oleh Daniel. Sedangkan Matteo menimang Thiago agar bayi itu diam akan tetapi bayi itu malah mengencangkan tangisannya.
"Panggil dokter bodoh !! " Matteo menendang kaki Daniel bergantian dengan Ibra.
Kedua pria itu berlari terbirit keluar untuk memanggil dokter. Sakin paniknya mereka bahkan lupa tombol emergency call ada di ruangan itu.
Altea sudah tertawa keras. Ini adalah pemandangan yang sangat menghibur menurutnya. Tiga lelaki dewasa tidak bisa mendiamkan satu bayi.
"Berikan padaku " Altea mengulurkan tangannya.
Bayi itu langsung diam setelah dipangkuan Altea.
"Apa pangkuanmu memiliki sihir ??? " Goda Matteo.
__ADS_1
Bersambung....
Hai reader like dan komen 😁🤩