Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Cukup satu macam


__ADS_3

Sore hari Altea dan Aurel sepakat untuk pulang.


Dua wanita itu sudah menenteng banyak paper bag. "Berikan sebagian ". Aurel menyatukan tali paperbag di tangan kirinya, tangan kanannya sudah mengulur.


"tidak usah kak. Aku bisa kok ". Altea sepertinya masih semangat setelah berburu diskon selama di mall. Tidak ada capek capeknya padahal dia baru lahiran. Luar biasa.


"Sudah sini berikan " Aurel yang tidak sabar langsung merebut banyak paperbag dari tangan Altea. Bahkan sekarang paperbag ditangan Aurel jauh lebih banyak dari Altea.


"Ayo " Mereka berjalan menuju parkiran.


Setelah tiba di parkiran. Tommy asisten Juna sudah bersiap membuka pintu mobil dan juga bagasi mobil.


Paperbag yang kelewat banyak sudah memenuhi bagasi mobil. Tommy sendiri harus memakai logika dan matematikanya untuk menyusun agar semua paperbag muat walau harus saling menindih.


"Huh capek nya " Altea mengibaskan tangannya mengusir rasa gerah. Sepertinya rasa lelah itu sudah mulai terasa. Aurel hanya tersenyum sambil menyodorkan sebotol air mineral.


"Minum dulu ... "


"Terimakasih kak " Altea beberapa kali menenggak air putih. Selepas itu dia merapikan geraian rambut dan menjepitnya kebelakang.


"Aku pikir kamu akan sekaligus membeli Mall nya tadi " Ledek Aurel mengedipkan matanya.


"Ishh aku tidak segitunya tau kak. Matteo yang seperti itu " ucap Altea acuh.


Aurel hanya menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Altea adalah fakta. Jika Altea menginginkan sesuatu,Matteo tidak pernah perhitungan.


Aurel mengakui jika hidup Altea jauh lebih beruntung daripada dirinya. Tapi sekarang Aurel tidak lagi iri. Karena untuk iri pun dia tidak lagi berhak.


"Halo kesayangan mommy " Altea sudah meletakkan banyak paper bag di sudut ruangan. Dia segera menghambur melihat baby Thiago yang sedang di gendongan Matteo. Rasanya dia rindu sekali melihat jagoan kecilnya.


"lihat mommy mu. Dia bahkan tidak menyapa Daddy sedikit pun " Matteo mengadu kepada baby Thiago yang tidak tau apa apa. Bayi itu menggumam.


"Sayang!!! " Menghadiahi Matteo dengan banyak ciuman. "Jangan marah dong... "


Altea dan Matteo menoleh sekilas mendengar derap langkah. Dia tau pemilik suara langkah itu adalah Aurel . Buru buru Altea menjauh.


"Mau diletakkan dimana Al ? "


Mendengar suara familiar membuat Matteo berbalik dan melihat Aurel kakak iparnya. Raut wajahnya sedikit berubah melihat Kakak iparnya. Ada guratan tidak suka melihat Aurel. Dan Aurel tau arti tatapan tajam Matteo.


Dengan tubuh yang bergetar Aurel bersama dengan Tommy membawa banyak paperbag. matanya sudah mencari cari dimana dia bisa meletakkan benda benda itu.


"Ahh.. kak letak disini saja kak. Nanti aku yang pindahkan " Ucap Altea sambil menepuk permukaan meja.

__ADS_1


"oke ".


Melihat Aurel seperti ini membuat Altea sangat segan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tadi dia sudah melarang Aurel membantunya tapi tidak berhasil.


"Boleh aku menyapa baby thiago? " Pertanyaan Aurel sedikit membuat Altea terkejut. Mengapa harus minta izin.


"Boleh dong kak. Ini jagoan kecilnya " Altea mengambil alih Thiago dari pangkuan Matteo dan memberikannya kepada Aurel.


"hai ganteng. Apa kabar mu ? " Sambil tersenyum dia mulai menggoda baby Thiago. Matteo yang melihat Aurel menggendong tubuh thiago pun tidak dapat menyembunyikan raut wajah tidak sukanya. Sejenak tatapan Aurel dan Matteo bertemu membuat sekujur tubuh Aurel bergetar hebat. Dia berulangkali menyadarkan dirinya agar jangan sampai terbawa suasana.


"Kakak mau minum apa ?" Tanya Altea


"Tidak usah repot repot Al. Aku hanya ingin melihat baby thiago saja kok. Kalau nanti aku haus bolehlah aku ambil sendiri" ucap Aurel bersikap lebih dewasa.


"Oke kak. Anggap rumah sendiri saja. yuk kita ke kamar Thiago dia pasti sudah haus " Ucap Altea menarik tangan Aurel.


Tatapan Matteo belum juga berubah. Dia masih memandangi kamar baby Thiago tempat dimana Altea dan Aurel sedang bercerita cerita. Sorot mata tajam yang khas Matteo masih terpampang di wajahnya.


"Kau duduklah. Ambil minum mu di dapur "Ucap Matteo kepada Tommy.


"Baik tuan " Tommy memilih duduk di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya. Sementara Matteo pergi ke kamarnya dan membuka cctv untuk memantau keadaan kamar baby Thiago. Entah mengapa sampai saat ini sikap Aurel masih menjadi misteri dalam pikirannya. Meskipun dia melihat Aurel tadi membantu Altea membawa barang belanjaan sepertinya tidak membuat Matteo langsung percaya jika Aurel adalah sosok yang baik.


.


.


.


"Al. Aku pulang ya ini sudah malam " Aurel meraih tasnya.


"Kok cepat sekali. kakak bahkan belum minum teh atau makan cemilan gitu" Ucap Altea sambil menahan tangan aurel.


"Al... Kapan kapan boleh gak aku kesini lagi ". Aurel menatap wajah Altea dengan penuh permohonan.


"Tentu saja kak. Kakak bisa datang kesini kapan saja yang kakak mau. bahkan kakak bisa kok tinggal disini hehehe " Altea juga senang kalau rumahnya rame.


"Terimakasih Al. Aku pamit dulu ya.. bye "


"Iya kak. kakak hati dijalan. "


Aurel berjalan menuju pintu keluar. Setelah berhasil keluar dia terlonjak ada Matteo sedang menunggunya di luar. Dan kembali membuat tubuh Aurel bergetar karena tatapan Matteo masih sama.


Matteo mendekat membuat tubuh aurel mundur hingga mentok ke dinding.

__ADS_1


"Apa pun rencana mu datang kesini kuperingatkan kau jangan macam macam! . Cukup satu macam ! Aku bisa membuat mu habis tanpa sisa! ".


hanya sepenggal kalimat itu kemudian Matteo masuk tanpa menunggu Aurel membuka suara.


Dia masih setia berdiri di pojok rumah hingga punggungnya menempel di dinding. Sekujur tubuhnya lemas.


Apa aku se iblis itu di hadapan mereka ya tuhan .


Matteo masuk dan menemui Altea sedang duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Ibu satu anak itu baru saja mandi setelah mandi keringat di mall tadi siang.


Saat Matteo hendak mencium ceruk Altea, wanita itu menolak. Dia langsung berdiri dengan tatapan tajam.


"Kau kenapa sih ?" Tanya Altea dengan tatapan berapi api.


"Aku ? " Menunjuk dirinya. "memangnya aku kenapa ? " Matteo tidak merasa ada membuat kesalahan.


"Tidak usah berpura pura ! " gertak Altea sambil meletakkan sisir dengan kasar diatas meja.


"Memangnya aku..


"Kak Aurel ada salah apa sih sama kamu makanya kau mengusir nya? " Tanya Altea berkacak pinggang.


"Hei.. hei.. apa yang kau katakan ? aku tidak .mengu ..


"Kau memang tidak mengusirnya secara langsung tapi aku tau tatapan mu itu adalah caramu mengusirnya ! " Gertak Altea memotong kalimat Matteo.


"Tatapan ku ??? " Matteo mendekat ingin meraih tangan Altea namun wanita itu menghempaskan tangan Matteo.


"Gara gara kau kak Aurel jadi buru buru pulang" Altea duduk ditepi ranjang.


Wajah sendunya membuat Matteo merasa bersalah. Mungkin akibat saling mencintai membuat Altea sudah cukup hapal semua hal tentang Matteo termasuk dari segi ekspresi. Apa pun ekspresi Matteo dia tau artinya.


"Sayang dengarkan aku dulu... "


"Dari dulu kau selalu begitu " ucap Altea. Bola matanya sudah berkaca. "Aku tidak memiliki teman dekat selain kak Aurel. Dan kau malah mengusirnya" . Altea sama sekali tidak mau menoleh meskipun Matteo sudah berusaha memutar tubuh Altea.


"Sayang.. maafkan aku .Aku tidak bermaksud..


"Cukup ! "


Matteo terkejut dengan sikap Altea. Dia bahkan tidak berkedip sedikit pun melihat Altea menghentikan kalimat Matteo dengan mengangkat tangannya di depan wajah Matteo.


"Aku juga ingin memiliki teman dekat untuk saling berbagi" Lirih Altea.

__ADS_1


Matteo menghela nafasnya. Dia memang tidak menyangkal kalau tatapan tajamnya bertujuan mengusir Aurel. Namun dia tidak menyangka jika Altea menyadari semua itu.


Bersambung....


__ADS_2