
Pagi ini Altea sedang menikmati sarapan paginya, dia melihat kedua orangtuanya sedang membahas tentang neneknya yang sakit parah.
"Nenek kenapa ayah ?"
Altea membuka suara karena penasaran dengan apa yang dibicarakan kedua orangtuanya.
"Nenek mu sudah sakit sakit nak, jadi ayah dan ibu harus sering sering menjenguk nya" ujar sang ibu.
"Memangnya nenek sakit apa Bu?"
"Nak, nenek sudah tua... kesehatan nenek menurun sesuai dengan usianya sekarang, jadi mulai besok ibumu akan lebih sering ke rumah nenek untuk melihat keadaannya dan kamu harus maklum dan cobalah untuk mandiri " tutur sang ayah memandang istrinya dan beralih kepada Altea.
"Oh begitu, semoga nenek cepat sembuh "
"Iya nak, ibu harap kamu bisa maklum yah" Sofi membelai rambut Altea dengan sayang.
"Iya ibu"
Awalnya Altea berniat untuk memberitahu kedua orangtuanya tentang kejadian yang menimpanya, agar kedua orangtuanya segera mengambil tindakan untuk membuat laporan kepada polisi.
Namun mendengar kabar jika neneknya sakit membuat Altea berpikir dua kali, Kedua orang tuanya juga pasti akan memarahinya karena melanggar nasehat sang ayah. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan memendam semuanya sendiri.
Menghadapi hal ini dia benar benar merasakan siksaan batin yang luar biasa. Sesulit inikah masalah yang dia hadapi?. Rasanya Tuhan tidak adil memberikan cobaan yang begitu berat menimpanya. Kenapa harus aku ?
Apa tidak ada lagi cara lain dari yang maha kuasa untuk menguji kesabaran dan ketabahan seorang wanita sepertinya.
Karma siapa yang aku tanggung ini Tuhan Batin Altea didalam hati. Sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak mengalir di depan kedua orang tuanya. Dia tidak ingin membebani pikiran kedua orangtuanya saat ini.
Aku harus bagaimana?
Apa yang akan aku lakukan setelah ini ?
Tidak bisakah semuanya kembali seperti dulu.
Dengan cepat Altea menghabiskan sarapannya dan segera pamit kepada kedua orangtuanya dia memilih menghindar daripada menanggung resiko.
Setibanya di kampus dia pergi ke toilet umum untuk menenangkan diri, dari pantulan cermin dia memperhatikan penampilan dirinya sekarang. Tidak ada senyum ,tidak ada semangat dan tidak ada lagi aura positif yang melintasi pikirannya.
"Aku tidak boleh menangis , ini adalah air mata terakhirku menangisi insiden horor itu " Altea bergumam kecil untuk menghidupkan kembali semangat dalam dirinya, sambil menyeka air mata yang lolos dari pelupuk matanya, kemudian dia keluar.
Time changes everything, life must go on
And I won't give up just because of something like this. Inilah pedoman Altea sekarang. Biar bagaimana pun dia tidak boleh menyalahkan dirinya terus menerus, Tuhan juga tau apa yang terjadi saat itu, entah siapa yang patut disalahkan hanya Tuhan lah yang tau.
"Kantin yok, lapar nih " Setelah menyelesaikan ujiannya Altea diajak nongkrong oleh teman teman satu ruangannya ke kantin. Tanpa berpikir panjang Altea langsung ikut, dia juga butuh waktu untuk menghilangkan rasa penat dalam pikirannya.
__ADS_1
"Mau pesan apa dirimu Altea ? Tanya salah satu dari mereka.
"Terserah deh ,aku ikut kalian saja " tutur Altea.
"Nasi goreng , mau kah? " ujar salah seorang perempuan berambut keriting, sambil memandang satu persatu diantara mereka seolah menunggu jawaban "Boleh ..... " ucap mereka serempak.
Altea dengan lahap menyantap nasi goreng spesial yang dia pesan. "Makan santai Altea , kantin ini buka sampai sore " ujar temannya menyindir karena melihat Altea yang makan begitu lahap dan cepat.
Altea hanya cengengesan sambil menyeruput lemontea miliknya. Dia memang sedang dilanda kelaparan karena sudah dua hari ini dia tidak bernafsu makan.
Setelah selesai makan di kantin satu persatu mereka berpamitan pulang , begitu juga dengan Altea dia berencana membeli ponsel baru karena dia baru sadar jika ponselnya hilang.
Sambil berjalan melewati taman dia membuka tasnya untuk memastikan bahwa dompetnya ada.
"Altea,bolehkah kita bicara ?...
Sejenak Altea menghentikan langkahnya karena merasa mendengar suara yang tidak asing ditelinga nya, perlahan memutar tubuh dan pandangan berhenti melihat sosok pria yang paling dia benci sudah berdiri di belakangnya.
Seluruh tubuh Altea gemetar melihat pria itu berdiri menatapnya. Bulu kuduknya kembali merinding mengingat perlakuan kasar pria itu. Dia adalah Matteo, pria yang merenggut kesuciannya dua hari yang lalu, pria yang sudah menghancurkan hidup dan masa depannya.
"Kau!!!! " Altea menatap pria itu dengan tatapan berapi api, ingin sekali dia membunuh Matteo sekarang, seluruh tubuhnya lemas bukan main.
"Mau apa anda kesini ? " Suara Altea terdengar berat menahan sesak di dadanya.
"Aku minta maaf Al, aku mohon dengarkan aku sebentar saja " Matteo menatap Altea dengan penuh permohonan. " Aku mohon Al, sebentar saja " Matteo memajukan langkahnya namun Altea mundur.
"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di tempat lain" Ibra membuka suara sambil menatap Altea dengan sorot mata memohon. Namun Altea masih menampilkan wajah ketakutannya.
"Kita duduk di sana " Ibra menunjuk pondok bundar di depan gelanggang olahraga,karena menyadari Altea sedang ketakutan.
Altea menoleh mengikuti tunjukan jari Ibra .
"Jika mereka berbuat macam macam aku tinggal berteriak " batin Altea.
akhirnya Altea menganggukkan kepalanya setelah melihat lapangan stadion itu ramai karena mahasiswa jurusan olahraga sedang berlatih. Sejenak dia berpikir jika ada baiknya dia tau apa tujuan Ibra memintanya datang ke arena.
"Aku masih menyelidiki apa penyebab kejadian ini " tutur Ibra membuka pembicaraan kepada Altea dengan menatap bola mata gadis cantik yang menjadi korban dari sahabat baiknya itu.
"Apa anda sengaja menumbalkan saya malam itu ? Kenapa harus saya pak?? " Altea menatap tajam kepada Ibra sambil terisak pilu.
Melihat Altea terisak seperti ini membuat perasaan Matteo begitu tersayat sayat dia kembali mengingat tangisan pilu Altea ketika Alexander ingin memerkosanya dan ternyata dirinyalah yang lebih bajingan daripada sepupunya itu.
Dia lah penyebab Altea terisak saat ini, dan dialah yang menghancurkan hidup gadis yang dia cintai itu.
"Bukan itu tujuanku Al, Aku tidak setega itu mengorbankan mu, aku memintamu untuk mencegah Matteo di arena itu saja, karena aku tau Matteo lebih mendengarkan mu ketimbang kami" tutur Ibra
__ADS_1
Altea tersenyum getir mendengar penuturan Ibra tentang Matteo lebih mendengarkan dirinya ketimbang mereka.
Dia kembali mengingat malam pahit itu, dirinya sudah berkali kali memohon kepada Matteo bahkan Altea sudah mengatakan dirinya siap menerima cinta Matteo akan tetapi pria itu tidak mau mendengarkan dirinya.
"Aku belum bisa mengungkapkan fakta dibalik semua itu karena kami masih menyelidikinya, dugaan sementara kami seseorang memanfaatkan Matteo untuk kepentingan pribadi dan tanpa tidak sengaja dirimu menjadi korban disini" Imbuh Ibra.
Setelah Ibra melihat semua rekaman cctv dan mendengarkan semua pemaparan Matteo dia menyimpulkan jika temannya itu sedang di manfaatkan seseorang melalui obat perangsang , namun dia belum bisa menemukan siapa pelakunya. Akan tetapi dia tetap berusaha untuk melanjutkan penyelidikannya menuntaskan masalah ini karena dia merasa jika dirinya juga terlibat atas insiden yang menimpa Altea.
"Aku minta maaf dengan semua yang terjadi pada dirimu, kamu bisa menuliskan berapa pun nominal yang kamu mau untuk mengganti apa yang hilang dari dirimu " Ibra menyodorkan cek kosong dan alat tulis kehadapan Altea.
Dengan harapan wanita itu bisa mengerti situasi ini.
"Apa anda pikir harga diri saya itu bisa anda beli dengan uang? "Melihat Ibra menyodorkan cek ke hadapannya membuat darah Altea mendidih.
Seketika Ibra menelan ludahnya dengan kasar mendengar kalimat Altea seakan penuh penekanan. Dia tidak menyangka jika Altea menolak mentah kompensasinya.
Awalnya dia berpikir jika Altea akan dengan senang hati menuliskan nominal didalam cek kosong itu, karena dirinya sudah biasa membayar wanita dengan uang untuk bercinta, dan wanita dengan senang hati menerima bayaran itu.
Dalam situasi seperti ini bahkan Ibra dan Matteo sendiri sudah rela jika Altea menulis nominal dengan sangat tinggi.
Namun ternyata dugaannya terhadap Altea salah besar,Niatnya menyelesaikan semua dengan perdamaian malah semakin mempersulit keadaan.
"Luar biasa " satu kata dalam gumaman Ibra.
Dengan perlahan Ibra menarik cek itu dan menyingkirkannya. Dia juga melirik Matteo yang diam mematung.
Hal yang sama dirasakan oleh Matteo, dirinya memang sudah menduga jika Altea tidak akan mau menerima itu, dua bulan mengenal Altea sudah membuat dirinya yakin jika gadis itu berbeda jauh dari wanita yang biasa ditemuinya. Namun mereka tidak ada pilihan lain selain menemui Altea dengan menawarkan kompensasi sebagai bentuk pertanggungjawaban.
"Lalu kami harus bagaimana Al? Aku tidak mau masalah ini berlanjut apalagi jika masalah ini sampai ke ranah hukum, karena pada ujungnya juga semua akan kembali ke perdamaian karena Matteo melakukan itu diluar kesadarannya " Bujuk Ibra dengan nada memohon.
"Anda tidak perlu mengancam saya, anda cukup jauhi saya dan katakan pada teman anda untuk tidak menampakkan dirinya dihadapan saya, aku harap masalah ini sudah selesai" Altea segera berdiri dan berjalan meninggalkan Ibra dan Matteo yang diam mematung.
Sebelum Altea pergi jauh Matteo masih mengejar Altea " Maafkan Aku Al "
"Aku sudah bilang bukan jangan menampakkan dirimu dihadapan ku... Menjauh lah " tegas Altea dengan nada lirih menahan sakit di dadanya.
"Aku mencintai mu Al,bagaimana aku bisa menjauhi mu "
"Apa! kau bilang apa tadi cinta ????? " Altea menggeleng geleng kan kepalanya sambil tertawa getir.
"Kau sudah tau itu dari dulu bukan" Matteo menatap lekat wajah wanita yang dicintainya itu.
"Tidak usah jadikan cinta untuk mendapatkan semua yang kamu mau, Kau adalah Iblis bertubuh manusia , kau Iblis !!!!! " Altea menekankan kalimatnya dengan sorot mata berapi api, kemudian dia pergi dengan air mata memenuhi wajahnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1