Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Didalam Pesawat


__ADS_3

Altea terus menggerutu karena Matteo belum juga menjawab pertanyaannya. Kita mau kemana sih ?. Sayang kita mau kemana.


Kasih tau kenapa jangan buat aku penasaran begini.


Dan ini apa lagi kau suruh aku memakai pakaian seperti jubah begini. Aaa aku lebih mirip kuntilanak daripada manusia. Seperti itu gerutu Altea dari tadi.


"Sudah kubilang cepatlah.... ".


Matteo menarik sisir yang sedang di pegang oleh Altea. "Tidak usah sisiran, kamu seperti ini saja sudah cantik. jangan tambahi lagi. Aku tidak mau ada laki laki diluaran sana yang melihat mu nanti". Melempar sisir itu keatas meja.


Seperti kuntilanak kau bilang cantik ?


Rambut terurai dengan pakaian dress putih panjang hingga menutupi seluruh tubuhnya. Kalau dilihat memang pas mirip kuntilanak.


"Aku tidak mau keluar ! " Teriak Altea dengan wajah kesal. Dia sudah berkali kali melihat penampilannya di pantulan cermin sumpah nyesek pikirnya. Demi apa pun dia harus menolak untuk penampilan horor seperti ini.


"Kenapa lagi ? " ucap Matteo berbalik.


"Baju ini ! wajah ini ! dan juga rambut ini ! aaaaa aku tidak mau ! " Altea duduk kembali di sofa.


Matteo menghela nafasnya sebentar "Ya sudah gantilah sana " . Akhirnya dia mengizinkan Altea mengenakan pakaian yang dia sukai.


Tanpa bertanya lagi dia sudah keluar mengenakan setelan sederhana yang terkesan menarik.


Mereka sudah menuruni anak tangga. Tampak di ruang tengah sudah ada David dan Ratna. Mereka mengantarkan Thiago pulang.


"Halo kesayangan mommy ...." Altea mengecup pipi Thiago berkali kali.


"Tadi mama sudah memberikan dia bubur dia makan banyak" Ucap Ratna memberi tahu bahwa Thiago baru saja makan.


"Oh ya ? "


"Iya.. ini merek yang mama berikan sepertinya dia suka " Ratna mengusap layar ponsel miliknya dan menunjukkan merek bubur bayi.


"Oh. makasi ma... nanti aku coba deh " Ucap Altea.


"Iya sayang. kalau begitu mama sama papa pamit dulu ya " Ratna menautkan pipinya kepada Altea.


"Kenapa langsung pulang ma? "


"Tidak apa apa sayang. Kalian mau pergi kan ? ya sudah nikmati kebersamaan kalian " Ucap Ratna memberi kode kepada David agar mereka segera pergi.


"Papa sama mama pulang dulu " Ucap David melihat Matteo.


"Iya pa... "


Setelah kepulangan David dan Ratna. Matteo dan Altea juga bersiap untuk pergi. Mike sudah menunggu di luar.


Mike membuka pintu mobil agar Altea yang sedang menggendong Thiago masuk. "pelan pelan nona" Ucap Mike ketika Altea melangkah masuk.

__ADS_1


Dari dalam mobil Altea melihat tampak Matteo masih berbicara dengan scurity yang bertugas menjaga rumah kediamannya.


"Kau pulanglah " Ucap Matteo kepada Mike.


"Bukankah saya harus mendampingi Anda? " Mike sedikit terkejut disuruh pulang.


"Tidak. kamu boleh pulang " Ucap Matteo menepuk pundak Mike.


"Tidak. Saya tetap harus mendampingi Anda. maafkan saya" Mike menundukkan kepalanya. Dia masih bertanya tanya apa kesalahan yang dia perbuat hingga Presdir muda yang dia layani ini seolah mengasingkannya.


"Nikmati akhir pekan mu. Ajak anak dan istrimu berlibur. " Ucap Matteo. "Berikan kunci mobilnya " Tangan Matteo sudah menggantung di udara.


"Tapi Presdir...." Mike terlihat ragu. Sekali lagi dia ingin memastikan bahwa perjalanan liburan Matteo akan berjalan dengan baik.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu ! " kesal Matteo Merebut kunci mobil dari tangan Mike.


"Minggir " ucap Matteo.


"Baiklah semoga liburan anda dan keluarga anda berjalan dengan baik " Menundukkan kepala dengan sopan lagi. Mike menyaksikan Mobil tuannya menghilangkan dari komplek.


Dalam hati dia sujud sukur sekarang. Dia juga berencana mengajak anak dan istrinya berlibur. Ini harus dilakukannya karena baginya ini adalah taruna dari Matteo.


Tuan besar .. cucu anda memiliki hati yang mulia.


.


.


.


Desain pesawat itu terlihat mewah dan elegan. Wow Altea terpana melihatnya. Dia sudah pernah juga naik pesawat tapi tidak se mewah ini.


Pramugari yang bertugas sudah menunjukkan tempat duduk Altea dan Matteo. Altea sedikit ragu untuk mendudukkan bokongnya.


Tampak di kursi belakang sudah ada dua orang perawat yang disiagakan untuk membantu Altea jika ada kendala untuk putranya Thiago.


Pantas dia bilang tidak usah bawa apa apa. Rupanya dia sudah menyiapkan semua.


Mata Altea menangkap barang barang keperluan Thiago sedang di bereskan oleh dua perawat. Tampak mereka sedang memasukkan barang itu kedalam kabin pesawat.


Pesawat Lepas Landas.


Alat transportasi itu sudah merentangkan sayapnya melawan angin di ketinggian udara terbuka. Cuaca yang baik cukup mendukung penerbangan mereka siang ini.


"kita mau kemana sih ?" Tanya Altea sekali lagi. Dia bahkan tidak menyiapkan apa apa mengenai keberangkatan ini.


"Istirahatlah sayang. Perjalanan kita cukup jauh " Ucap Matteo tidak menggubris pertanyaan istrinya. "Berikan thiago padaku " Dia sudah mengulurkan tangannya.


Altea hanya mendengus jengkel sambil menyerahkan Thiago.

__ADS_1


"Maaf pak. Apa tidak sebaiknya si kecil tidur di box bayi saja ? Biar lebih nyaman" tanya salah satu perawat.


"Sepertinya begitu. Tolong ya " Ucap Matteo.


Perawat kemudian datang mendorong box tempat tidur bayi yang sudah di desain untuk keperluan selama di pesawat.


Matteo meletakkan Thiago di dalam box bayi yang berukuran sedang kemudian dia memasang sabuk pengaman di tubuh mungil Thiago. Bayi itu bergerak gerak seperti tidak suka karena ada sesuatu yang menjepit tubuhnya. Merasa tidak nyaman membuat Thiago Menangis.


"sepertinya dia tidak nyaman" Desah Matteo mengangkat kembali tubuh Thiago dari box. Setelah di pangkuannya sambil menepuk bokong thiago akhirnya bayi itu sudah diam. Sepertinya bayi juga tau membandingkan mana tempat tidur yang paling nyaman.


"Sini aku yang gendong. Nanti setelah dia tidur kita bisa pindahkan ke dalam box lagi "ucap Altea di sebelahnya.


"Kau istirahat saja. Biar aku yang gendong dia "Matteo meluruskan tempat duduk pesawat hingga tubuhnya telentang. Bantal kecil dia pakai untuk menahan kepalanya agar tetap nyaman.


"Yakin? " tanya Altea lagi.


"Iya sayang.. sekarang kamu tidurlah..."


Akhirnya Altea juga meluruskan kursi pesawat juga. Keadaan pesawat yang lempang membuat keadaan semakin nyaman untuk istirahat. Ya Mike sudah mengatur semuanya bahkan pesawat itu hanya ditumpangi oleh mereka saja.


Altea tidak memejamkan mata sama sekali. Dia hanya fokus melihat Matteo menidurkan Thiago.


"Kenapa belum tidur ? " menyadari Altea melihatnya sedari tadi.


"Aku tidak bisa memejamkan mataku. " Ucap Altea sambil menggeser tubuhnya agar dekat dengan Matteo. " Karena kau tidak mau memberi tahu kita mau kemana.. " Ucapnya lagi masih penasaran kemana tujuan penerbangan ini.


Matteo samar samar senyum. "Kalau begitu nikmati saja perjalanannya". Matteo masih geser kesana kemari mencari posisi yang enak karena Thiago sudah menempel di dadanya. Bayi itu sama sekali tidak mau pindah dari Matteo.


Penerbangan sudah hampir 3 jam. Altea akhirnya memejamkan matanya. Terlalu lelah dia bertanya kepada suaminya entah kemana mereka toh Matteo tidak berniat memberitahu.


"Sayang aku boleh tidur sebentar ? " Altea sudah mengambil bantal dari sebelahnya.


"Aku bahkan sudah menyuruhmu tidur mulai tadi. " sindir Matteo sambil Menepuk-nepuk bokong thiago.


Hitungan menit Altea sudah mulai masuk ke dalam mimpinya. Sedangkan Matteo masih berusaha menidurkan Thiago. Dari tadi bayi itu tidak berniat menutup mata. Dia terus mengajak Altea dan Matteo bermain main.


Menyusul mommy nya tidur akhirnya baby Thiago yang masih di pangkuan Matteo mulai memejamkan mata. Kantuk menyerang setelah Altea memberinya Asi.


Matteo mengelus lembut punggung Thiago agar bayi itu semakin terlelap. Bayi itu menggenggam erat ibu jari Matteo seolah takut di lepaskan.


Tidur nyenyak anakku sayang. Kebanggaan Daddy dan mommy...


Matteo berkali kali mengecup kepala Thiago.


Daddy akan selalu ada untukmu....


Penerbangan masih panjang. Tadi Matteo sudah bicara dengan salah satu pendampingnya bahwa mereka akan tiba 7 jam lagi.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2