Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Matteo Sadar


__ADS_3

Setelah tiga hari dirawat dirumah sakit, akhirnya Ilham ayah Altea diperbolehkan pulang.


Luka yang tidak begitu parah dan penanganan dokter yang intensif mempermudah dirinya langsung sembuh.


Selama tiga hari itu juga Rafael tidak pernah


absen menjenguk Ilham. Menjenguk Ilham atau menjenguk Altea ? Ah entahlah dia yang tau siapa yang dia jenguk.


Kadang dia datang pagi hari membawa sarapan dan sorenya setelah pulang kerja dia datang membawa makan malam.


Bahkan Altea sendiri semakin merasa segan karena kebaikan Rafael.


Rafael juga sering meminta asistennya untuk menghubungi pihak rumah sakit agar mengurus dengan baik segala penanganan Ilham tanpa diketahui Altea.


Sudah tiga hari juga Altea tidak pergi ke rumah sakit dimana Matteo dirawat. Dia juga tidak menghubungi Ibra atau siapa saja yang menyangkut pekerjaannya.


Dia fokus menemani sang ibu mengurus ayahnya selama dirumah sakit dan mengabaikan semua panggilan yang masuk ke nomor ponselnya.


Sesekali Altea menghubungi kakaknya Albert yang bekerja di Malang melalui sambungan video call.


Siang itu tampak para perawat sedang membuka selang infus dari tangan Ilham. Sedangkan Altea memilih membereskan segala barang barang ayahnya yang akan dibawa pulang.


Bersamaan dengan itu Rafael juga datang, karena dia mendapat info dari asistennya bahwa ayah Altea sudah bisa pulang.


Rafael membantu perawat mendorong kursi roda Ilham. "Aku antar bapak pulang" ucap Rafael sambil membantu Ilham masuk kedalam mobilnya.


Ilham dan Sofi sempat menolak namun bukan Rafael namanya jika tidak dapat mengambil hati Sofi.


.


.


.


.


Di sisi lain Matteo yang sudah sadarkan diri setelah beberapa hari tertidur pulas dirumah sakit sedang dibujuk makan oleh ibunya namun di menolak.


Matteo merasa ada yang tidak lengkap dalam jiwanya. Ibunya Ratna sudah membujuk Matteo makan tapi Matteo seolah tidak mendengar.


Bersamaan dengan itu Gio dan Ibra beserta anak anak geng lainnya datang menjenguk Matteo.


"Si bos sudah sadar ternyata,gimana tidurnya bos ? enak? " ucap salah satu anggota geng yang sedang duduk di bad Matteo dengan nada jahilnya.


"Kau ribut sekali! " Ucap Matteo sambil mencari posisi yang enak untuk berbincang.


"Apakah didalam mimpi mu ada bidadari cantik, sehingga kau betah tidur ? " ucap Gio dengan senyum meledek.


"Diam lo sialan ! " Matteo melempar kotak tisu kepada Gio namun buru buru ditepis dengan tangan Gio.


Ibra dan semua di ruangan itu sontak tertawa.

__ADS_1


kapan lagi mereka bisa menjahili bos mereka kalau bukan sekarang.


Jika Matteo sedang normal atau baik baik saja jangankan menjahili, membuka obrolan saja mereka berpikir dua kali.


Berkali kali para anggota geng nya menggoda Matteo namun itu tidak membuat jiwa Matteo senang atau pun terganggu. Dia merasa ada dan tidak adanya kehadiran gengnya sama saja.


Dari dulu jika Matteo dalam keadaan seperti ini kehadiran Daniel, Ibra dan Gio beserta anak anak anggota gengnya sangat membantu mood Matteo.


Dia bahkan menganggap jika gengnya dan kedua sahabatnya adalah jantung dari mood nya.


Namun saat ini berbeda, dia tetap merasa kesepian. Kehadiran geng dan sahabatnya sama sekali tidak bisa mempengaruhi mood Matteo.


Suara ketawa dan saling ejek antar anggota gengnya seperti biasa seolah menghidupkan ruangan yang sepi dari beberapa hari yang lalu.


Tapi tidak dengan penghuninya, Matteo tetap merasa sendiri di keramaian.


Pikirannya selalu tertuju kepada sosok gadis yang mengisi ruang rindunya saat ini. Siapa lagi jika bukan Altea.


Ibunya yang melihat Matteo hanya diam dengan tatapan kosong menyadari jika putranya sedang menutupi sesuatu.


Dia juga meminta Gio untuk membujuk Matteo agar mau makan. Gio dengan senang hati menerima nampan berisi makanan.


Dia menyendok bubur putih dan mengarahkan sendok itu ke mulut Matteo.


"Sayang kamu harus makan yang banyak ya agar kamu cepat sehat "


Gio menggoda Matteo dengan memamerkan suara dramatis bak seorang wanita sedang membujuk makan pacarnya yang sakit.


Sontak semua anggota gengnya tertawa terpingkal. Ratna yang menyaksikan itu juga ikut tertawa.


"Jangan seperti itu honey, aku mau kamu cepat sehat sayang" Gio kembali menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Matteo, Gio tidak habis habisnya menggoda Matteo dengan suara dramatis.


"Apaan sih lo, sana ahh gue mau istirahat ganggu orang aja "


Ucap Matteo sambil berdecak kesal kemudian menurunkan kepalanya mengambil posisi berbaring.


Berbeda dengan Ratna dia menahan tawa nya dari sudut ruangan melihat putranya dikerjai habis habisan.


Gio yang melihat tidak ada respon dari Matteo, akhirnya menyudahi adegan nya dan meletakkan piring itu di atas meja.


"Kau mau makan apa baby? " Gio masih dengan mode jahilnya sambil mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi Go-food.


"Makan hati liat lo semua ada disini, bikin kesal aja, mending lo semua cabut " Ucap Matteo dengan kesal.


"Jangan seperti itu sayang, tidak baik mengusir tamu, aku tidak pernah mengajarimu seperti itu" Gio kembali menggoda Matteo dengan suara dramatis yang pernah dia dengar dari ayah Altea.


Tanpa diduga kalimat itu langsung memancing reaksi Matteo. "Kau suka sekali copy paste kalimat orang, itu kalimat ayah Altea bukan? "


Gio hanya menaikkan kedua bahunya.


"Apa Altea tidak tau aku sakit ? pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Matteo.

__ADS_1


"Altea disini kemarin" terdengar suara Ibra dari sudut ruangan.


"Apa ?Altea kesini? Matteo memperjelas.


Ibra menganggukkan kepalanya dan mengedipkan kedua matanya.


"Kenapa kau tidak membangun kan ku?


Matteo menepuk bad nya yang kosong dan mengusap wajahnya karena merasa frustasi.


Dia berpikir itu adalah saat yang tepat baginya untuk berkomunikasi dengan Altea.


"Apa kebodohan mu semakin bertambah? Bagaimana aku membangunkan mu dalam keadaan kritis bodoh" Ibra mengambil ponsel nya dan segera keluar tanpa aba aba terlebih dahulu.


Sejenak Matteo membaringkan tubuhnya, ingatannya kembali saat terakhir Altea menamparnya dan Altea pergi begitu saja bersama Rafael meninggalkan Matteo didepan klinik.


Ada rasa cemburu melihat Altea lebih membela Rafael ketimbang dirinya. "*sudah sejauh mana h*ubunganmu dengan laki laki sialan itu" Rafael meremas ujung selimut yang dia gunakan menutupi kaki nya.


Satu jam berlalu anggota gengnya memilih golek golek dilantai sambil bermain game bersama kadang mereka saling mengumpat dengan kasar jika sedang lose.


Berbeda dengan Gio dia memilih menempati ujung ranjang kosong milik Matteo, sambil menjahili Matteo dengan memainkan selang infus ketua nya itu, sesekali dia menggoyangkan selang itu dan mengakibatkan darah Matteo naik.


"Tidak bisakah kau diam ! " Matteo memukul kepala Gio menggunakan bantal.


Ratna hanya tersenyum geli melihat tingkah lucu anak anak muda itu. Dia sendiri memilih duduk di pojok ruangan membiarkan anak anak muda itu menghabiskan waktu bersama putranya.


Meskipun dia tahu jika anak anak muda itu adalah salah satu faktor yang menyebabkan kehidupan Matteo buruk namun disaat seperti ini dia tidak boleh melarang mereka.


Tidak berapa lama Ibra kembali lagi kedalam ruangan Matteo , namun dia tidak datang sendiri melainkan bersama Altea.


Matteo yang menyadari jika Altea datang menjenguknya langsung membenarkan posisinya.


"Aish sepertinya bidadari didalam mimpi muncul di dunia nyata " Ucap Guntur salah satu anggota gengnya sambil melirik Matteo dengan seringai licik.


Sontak para anggota geng yang sedang bergelayut dilantai tertawa dan membenarkan posisi masing masing.


"Tidak bisakah suaramu kau kondisikan sialan! aku lagi sakit ! " Umpat Matteo sambil melempar botol infus kosong namun di tangkis oleh Guntur.


"Gimana keadaan mu ?" tanya Altea dengan wajah datar, sambil mendekat kearah Matteo.


Matteo yang melihat Altea mendekat langsung menendang kaki Gio seakan memberi kode agar Gio turun dari ranjangnya dan memberikan tempat untuk Altea.


"Dia sudah lumayan membaik nak" ucap Ratna sambil mendekati Altea. "Syukurlah " Altea hanya menjawab satu kata disertai dengan senyum lesung pipinya yang menghanyutkan.


"Bagaimana keadaan Ayahmu ? Ratna mengusap pundak Altea.


"Sudah sehat tante, ayah sudah pulang dari rumah sakit" Altea menjawab dengan senyuman kecil membingkai wajahnya.


Tepat malam hari ketika Altea pulang ,Ratna datang ke rumah sakit, David kemudian bercerita jika di jam sebelumnya Altea menjenguk Matteo, namun dia langsung pulang karena ayahnya masuk rumah sakit. Kira kira seperti itulah berita yang dia dapatkan dari suaminya.


Bersambung....

__ADS_1


Hai reader...


bantu like dan komen ya 😁


__ADS_2