Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Posisi Seimbang


__ADS_3

Matteo kembali kekantor dengan suasana hatinya yang tidak mood. "kenapa manusia sialan itu muncul tadi ". Matteo masih tidak terima dengan Rafael yang membubarkan kebahagiaannya.


Ingat tentang Altea apakah dia sudah tiba dirumah ? .


Akhirnya Matteo memberanikan diri untuk menghubungi gadis itu melalui sambungan teleponnya. Awalnya dia ragu dan takut Altea akan mengacuhkannya. Namun ternyata dugaannya salah. Altea menerima panggilannya . "Halo Matteo " suara Altea tampak segar.


Matteo terkesiap mendengar suara indah yang selalu bisa membuat hatinya begitu tenang.


"Halo Matteo " ucap Altea kedua kalinya karena tidak mendapat sapaan.


"Hai Al"


"Ada apa menghubungiku?


"Aku mau tanya apa kamu sudah tiba dirumah?


Matteo berusaha setenang mungkin.


"Oh sudah tadi, maaf tadi aku langsung meninggalkan mu" terdengar suara Altea begitu tulus.


"Tidak apa apa, kamu sedang apa sekarang? Rasanya Matteo tidak mau mengakhiri sambungan telepon itu begitu saja.


"Aku sedang memupuk ulang tanaman strawberry ku" Ucap Altea .


"Oh baiklah "


"Apa ada lagi yang mau kau tanyakan?


"Tidak Al, aku hanya mau memastikan jika kau pulang dengan baik baik saja " ucap Matteo.


"Oke , aku tutup teleponnya "


Tutttt....


Altea memang sengaja tidak mau pulang dengan salah satu antara Rafael atau Matteo.


Awalnya dia sudah pasrah harus pulang diantar oleh Matteo namun, karena Rafael datang dan menawarkan tumpangan juga akhirnya dia memilih naik taksi.


Jika saja dia menerima tawaran Matteo pulang sudah pasti tidak enak hati dengan Rafael, apalagi jika dirinya menerima tawaran Rafael tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan Matteo.


Berhubung karena hari ini mood Altea juga kurang baik akibat desas desus para mahasiswa selama dia di kampus jadi dia tidak mau menambah beban pikirannya sendiri.


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian.


Tampak wajah Matteo kembali murung mengingat dirinya tidak jadi mengantar Altea pulang akibat Rafael.


"Kau kenapa ? Daniel yang melihat Matteo mengusap usap wajahnya merasa penasaran.


"Kau sama dengan sepupu mu itu, selalu datang tiba tiba, menyebalkan" Gerutu Matteo karena terkejut dengan kehadiran Daniel.


"Rafael lagi ??? ucap Daniel dengan tatapan malas. "memangnya kenapa lagi ? tanya Daniel penasaran.


"Tadi dia datang " Ucap Matteo malas.

__ADS_1


"Lalu apa masalahnya ?? Daniel mencabikkan bibirnya.


"Ya jelaslah masalah, gara gara dia aku dan Altea gagal berduaan " ucap Matteo polos.


"Berduaan ??? Daniel mengerutkan dahinya.


"Tadi aku sudah berhasil memeluk Altea".


"Lalu Rafael tiba tiba datang gitu ? Potong Daniel penasaran.


Matteo langsung memalingkan wajahnya, berniat untuk tidak melanjutkan pembahasan ini karena merasa kesal.


" tebakan ku benar bukan ? tanya Daniel lagi seolah mau tau kelanjutan cerita Matteo.


"dia membalas pelukanku tapi dia tidak mau dilihat orang maka dari itu aku mau mengantarnya pulang dan berencana memeluknya lagi di mobil tapi sepupumu itu datang dan Altea memilih naik taksi.... "


Matteo menundukkan wajahnya karena merasa frustasi.


"Hahaha " tawa Daniel pecah memenuhi seluruh ruangan.


"Jadi kau frustasi karena pelukan boy ? Tawa Daniel masih berlanjut seolah mengejek. "Seorang gangster frustasi karena pelukan , luar biasa " Daniel menepuk-nepuk kedua telapak tangannya sambil menekankan kata pelukan.


Melihat Daniel yang menertawainya Matteo langsung melayangkan tatapan tajam.


"oke oke , memangnya kau baru kali ini memeluk gadis cantik itu? " Tanya Daniel polos.


"Ini yang ketiga kali " ucap Matteo datar tanpa ekspresi.


"Yang pertama kapan?


"Malam ketika Alex hendak memerkosa Altea , waktu itu aku memeluknya agar dia tenang "


"Yang kedua sewaktu di mobil aku juga memeluknya sepanjang jalan menuju rumah sakit"


Dia mengingat malam ketika Alex hendak memerkosa Altea, dirinya datang dan menghajar Alex setelah itu dia melihat Altea yang terisak kemudian dia memberanikan diri memeluk Altea. Dia mengurutkan ini sebagai pelukan pertama.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Matteo kembali memeluk erat tubuh Altea agar gadis itu merasa tenang. kemudian ini sebagai pelukan kedua.


"Berarti tadi tetaplah pelukan pertamamu bodoh " ucap Daniel sambil mendudukkan bokongnya di sofa.


"Kau mau menghilangkan yang pertama dan kedua itu? tanya Matteo merasa tidak terima.


"Itu bukan pelukan, tapi dekapan" tutur Daniel sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Memangnya apa perbedaan memeluk dan mendekap? Batin Matteo.


"Jadi bagaimana dengan pertunangan kalian? Daniel memilih berbincang bincang dengan Matteo sambil menunggu jam pulang karena ini sudah jam 16.00, pekerjaan mereka juga sudah kelar untuk hari ini.


"Aku belum bisa membahas pertunangan dengan Altea sekarang"


"Kenapa?


"Aku tidak siap ditolak " Ucap Matteo lirih.


Matteo ingat betul bagaimana Ilham ayah Altea terang terangan mengusir dan juga mengancamnya.


Tanpa diperjelas lagi sudah pastilah kedua orang tua Altea tidak akan merestui pertunangan mereka. Begitulah kira-kira yang ada dipikiran Matteo sekarang.


" Apa kau siap melihat Altea jatuh ke pelukan Rafael??


"Jangan bawa nama pria sialan itu disini!" Matteo yang tadinya malas tiba tiba merasa terpancing mendengar nama Rafael.

__ADS_1


"Mungkin kau lupa jika dirimu sedang bersaing dengan Rafael sepupu ku ,jadi aku mengingatkan?" Daniel kembali memancing reaksi Matteo dengan senyum devil nya.


"Tadi saja Altea tidak memilih antara kau dan Rafael itu artinya posisi kalian berdua masih seimbang dihadapan Altea " Daniel terkekeh sambil menekankan kalimat terakhirnya.


Matteo hanya diam , di dalam hati dia membenarkan ucapan Daniel.


"Tapi kan Rafael belum pernah memeluk Altea " Matteo tidak mau terlihat lemah.


"Dari mana kau tau ? Daniel bertanya seolah menyatakan pernyataan.


Matteo hanya mendengus dingin kemudian menyandarkan punggungnya sambil memijit kening yang mulai berdenyut.


"Berjuanglah, buat posisimu diatas" Daniel menepuk pundak Matteo seorang sekretaris sekaligus sahabat baiknya.


"Caranya ?


"Aku hanya menyarankan agar secepatnya mengikat gadis itu dengan pertunangan kalau bisa pernikahan sekaligus ,dengan begitu Rafael pasti mundur " Daniel memberi dukungan sekaligus semangat untuk Matteo.


"Tapi bagaimana dengan ayahnya apa dia akan merestui kami? Tanya Matteo polos.


"Kalau itu jangan tanya sama ku" Daniel yang tadinya terlihat serius tiba tiba tertawa. Dia adalah pemain wanita diatas ranjang, jadi jika urusannya tentang restu dia tidak berpengalaman.


.


.


"Baiklah ini sudah jam 5, ayo pulang " Daniel berdiri.


"aku bisa pulang sendiri " Matteo.


"Siapa yang mengajakmu pulang dengan ku? "


Matteo hanya berdecak kesal kemudian meraih memasukkan ponsel miliknya kedalam saku dan segera menyusul Daniel menunggu lift terbuka.


"Setelah ini kemana tujuan mu?


Matteo menoleh ke kiri dan ke kanan tidak menemukan siapa siapa selain meraka berdua "Kau bicara dengan ku??


"memangnya siapa lagi yang ada disini?


"Pertanyaan mu aneh " gerutu Matteo pelan tapi masih bisa terdengar.


"tinggal jawab saja apa susah nya?


"Apartemen! jawab Matteo malas.


"Oh apartemen, kupikir kau langsung melamar Altea" goda Daniel. "Tapi aku lihat dirimu sudah ada peningkatan, sepertinya Altea memang bisa mempengaruhi emosi mu"


"Apanya yang meningkat ?


"Ya peningkatan lah itu, biasanya kau mana bisa menahan emosimu jika bertemu dengan Rafael, dan aku dengar anak anak tidak mendapat hukuman dari mu akibat kecolongan mereka mengawasi Altea" Tutur Daniel.


Matteo langsung terkesiap mendengar penuturan Daniel. Dia tidak menyangka jika hal sekecil tadi bisa membuat dirinya terlihat lebih baik.


Kembali mengingat bagaimana dia sekuat tenaga menahan emosinya melihat Rafael tadi siang.


Hasilnya dia baik baik saja dan Altea tetap mau berkomunikasi dengannya melalui sambungan telepon.


Apa Altea akan luluh jika aku bisa menahan emosiku?


Jika iya , maka aku pastikan besok posisiku diatas .

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2