Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Maafkan Aku


__ADS_3

Altea melangkah menaiki tangga exit, dia sengaja tidak menaiki lift yang tersedia. Diperhadapkan dengan atasan seperti ini,


rasanya dia perlu mengatur deru nafasnya dan mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi.


"Aku ada kesalahan apa lagi ya Tuhan " Batin Altea.


Altea gemetar ketika langkahnya sudah tiba di lantai tiga. Dengan berat hati dia mengetuk pintu dan menyapa atasannya itu.


"Selamat sore pak, saya diarahkan ibu Wulan kesini" Altea mencoba memungut dan mengumpulkan keberaniannya.


"Sore juga Altea, duduklah....


Dengan gemetar Altea duduk sambil meremas jari jemarinya, perasaan sungkan dan deg deg an bercampur aduk menjadi sebuah ketakutan.


"Matteo sedang kritis dirumah sakit, dan tante Ratna memintamu kesana" Ibra merangkai kalimat sebaik mungkin agar Altea dapat memahami.


Ibra mengingat sebelum Ibra menutup pintu ruang rawat Matteo, Ratna memanggilnya kemudian menyodorkan nomor ponsel Altea dan memintanya memberitahu keadaan Matteo sekarang.


"Kritis? Altea menekankan ucapannya seakan memperjelas bahwa pendengarannya tidak salah.


"Benar, jika kamu bersedia aku akan mengantarmu sekarang" Ibra menatap Altea dengan dalam seakan memberikan permohonan.


"Jam kerjaku masih panjang, aku....


"Aku harap dirimu bersedia sekarang Altea" Ibra langsung memotong kalimat Altea.


"Tapi nanti gaji ku hari ini dipotong,terus insentif ku hangus " Altea menampilkan wajah sedih nya sambil membayangkan akhir bulan nanti gajinya kena potongan dan insentif kerajinannya hangus.


Operasional di restoran Ibra memang memberikan insentif berupa uang kerajinan kepada semua karyawan yang memenuhi 26 hari kerja mereka masing masing tanpa absen atau izin sekali pun.


Jika satu hari saja , dalam 26 hari itu tidak terpenuhi maka insentifnya otomatis hangus.


Rasanya Altea tidak rela jika sampai uang kerajinan yang selalu membuat semangatnya bertambah tiba tiba hangus.


Ibra memijat keningnya sejenak, mendengar alasan penolakan Altea membuat kepala Ibra berdenyut.


"Altea , jika gaji mu akhir bulan nanti kena potongan saya pastikan semua operasional disini akan diganti " Ibra mengucapkan kalimatnya dengan sebelah tangan masih menempel di keningnya.


"Kenapa diganti pak? Altea malah melayangkan pertanyaan sambil mengerutkan keningnya.


"Ya Tuhan apa aku sedang berhadapan dengan bocah 5 tahun?" Batin Ibra


Ibra dengan tenang memberikan solusi, dia mengerti di usia Altea yang masih cukup muda terkadang sulit untuk menangkap isi pembicaraan.


Akhirnya Altea menyetujui pergi ke rumah sakit bersama Ibra. Mereka menuruni anak tangga satu persatu.


Disaat itu juga Altea bertemu lagi dengan Rafael , entah secara kebetulan atau memang sebelumnya Rafael berniat untuk menemui Altea entahlah hanya author yang tau.


Rafael langsung mendekati Altea dan menyapanya, Ibra yang melihat itu diam diam mengambil foto Rafael dan mengirim foto itu kepada Daniel dengan tujuan agar Daniel mencari tau identitas Rafael.

__ADS_1


Setelah perbincangan mereka, Altea membalikkan badannya dan mengikuti Rafael ke parkiran.


Diperjalanan tidak ada pembicaraan antara Ibra dan Altea. Ibra sebenarnya ingin menanyakan apa yang terjadi antara Altea dan Matteo. Namum dia merasa ini bukan waktu yang tepat.


Akhirnya mereka tiba sebuah lobby rumah sakit, "sebaiknya kita menggunakan masker pak,disini banyak virus" dengan polos Altea menyodorkan sebuah masker yang masih terbungkus kepada Ibra.


Ibra tertegun dengan perlakuan sederhana gadis itu, akhirnya dia menyadari jika Altea memang berkelakuan baik kepada semua orang.


Jika Altea bukanlah wanita yang disukai oleh Matteo,Ibra sendiri bisa saja salah mengartikan kebaikan dan perhatian Altea.


Ibra berpikir hal ini akan menjadi halangan besar buat Matteo untuk mendapatkan Altea. Sudah pasti di luaran sana banyak pria yang menaruh hati kepada gadis itu.


Mereka tiba di lantai dua puluh tempat dimana Matteo dirawat, kemudian Ibra dan Altea masuk. Tampak didalam ruangan itu hanya ada Diva dan Ratna sedang berjaga.


"Malam tante", Altea menyapa Ratna dan sekilas menundukkan kepalanya. "Malam juga Altea , duduk nak" Ratna menarik senyum sedikit.


"Oh... jadi ini yang namanya Altea, dia cantik ya ma" Diva membuka suara sambil melempar senyum ramah.


Mendengar itu Altea hanya tersenyum malu malu, "Bagaimana keadaan Matteo Tante ?"


"Dia masih tidak sadarkan diri nak, tadi dia memanggil nama mu, makanya tante meminta Ibra membawa mu kesini" ucap Ratna.


"Apa ?memanggil namaku?????


Kemudian Altea mendekat untuk melihat Matteo, jelas saja mata Matteo yang masih terpejam dengan wajah pucat serta luka lebam masih tampak menghiasi wajah Tampan Matteo.


Dia melihat wajah Matteo begitu damai dan manis. Tidak ada wajah sangar dan bringas yang biasa dia lihat ketika Matteo sedang bertengkar.


Altea menyentuh pipi kiri Matteo yang dia tampar semalam. "Maafkan aku" .


Melihat Matteo seperti ini rasa bersalah itu muncul lagi, dia menyesali tamparan itu.


Dia juga melihat selang infus yang menancap ditangan kanan Matteo , tangan yang biasa dia gunakan untuk menghantam wajah atau tubuh orang sekarang tangan itu hanya tergeletak di atas tempat tidur.


Rasa bersalah Altea semakin banyak, biar bagaimana pun Matteo sering mengantarnya pulang ketika larut malam.


Namum terkadang seribu atau bahkan sejuta kebaikan manusia akan hilang karena sebiji keburukan atau kesalahan.


Tapi sebiji keburukan belum tentu bisa ditutupi oleh seribu kebaikan. Benar atau tidak ?


Kebaikan dan keburukan memang tidak pernah bisa disatukan atau dibandingkan.


Kembali ke dalam alur cerita, Altea menghubungi kedua orang tuanya dan meminta izin malam ini dia akan menginap dirumah sakit, dan orangtunya mengizinkan.


"Tante , aku akan disini menjaga Matteo "


Altea membuka suara.


"Apa kamu yakin nak?

__ADS_1


"Aku sudah meminta izin ayah dan ibu"


Ratna hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Diva kamu pulang saja sayang, mama dan Altea yang akan menjaga kakak mu" Ratna membelai rambut Diva.


Akhirnya Ibra mengantar Diva pulang, maka di dalam ruangan itu tersisa Altea dan Ratna yang saling menguatkan.


Altea berniat memesan makan malam dari aplikasi di ponsel nya " Tante mau makan apa ?


Altea mengusap usap layar ponselnya sambil mendekatkan ponsel itu kearah Ratna.


"Terserah makan apa saja nak"


"Nasi sama ikan asam manis mau, atau nasi soto ? Altea menawarkan beberapa menu.


"Nasi soto aja sayang" Ratna tersenyum kecil melihat Altea.


Kemudian mereka berdua menikmati makan malamnya, Ratna sendiri sebenarnya tidak selera makan, namum dia tidak mau mengecewakan anak gadis yang setia membantunya nya itu.


Akhir nya dengan pelan pelan dia menikmati nasi soto sambil memandang manisnya wajah Altea ketika sedang diam.


Tak terasa malam semakin larut, Ratna memilih membaringkan badannya di sebuah sofa panjang didalam ruangan itu, dia juga meminta Altea berbaring di sofa sebelahnya.


Mungkin karena efek lelah menangis Ratna memejamkan matanya dan masuk kedalam mimpi mimpi manis yang menghiasi malamnya.


Altea sama sekali tidak bisa tidur, dia memandang indahnya kota Jakarta yang tembus pandang jendela kaca dari ketinggian gedung rumah sakit.


Dia memutar ingatannya kembali awal bertemu Matteo, dia tidak menyangka pertemuan berjalan sampai sejauh ini.


Setelah puas memandangi kota Jakarta dia menoleh dan mendekat ke arah Matteo. Tak henti hentinya dia memandangi wajah Matteo sesekali dia mengajak Matteo berbicara.


"Kapan kau bangun ? apa kau tidak rindu bertengkar?


"Atau kau tidak punya kekuatan lagi ?


"Tenang aku akan memesan satu ton infus agar kekuatan mu kembali lagi" ucap Altea cekikikan sambil meletakkan tangannya di mulut menahan tawanya.


Sesekali jari tangan Altea dengan jahil membuka paksa mata Matteo, dia juga men towel towel pipi Matteo.


"Kau tampan sekali kalau tidur seperti ini, tapi tangan kekar mu ini suka sekali memukul anak orang"


"Apa aku menyuruh dokter saja untuk memotong tanganmu? " ucap Altea sambil menahan tawanya membayangkan besok pagi Matteo bangun tanpa tangan.


"Apa kau tau ayah mengatai mu lelaki tangguh tapi juga lelaki bodoh?


"Kalau kau tidak percaya tanya saja ayah ku",


Altea tidak hentinya bercoleteh sambil menjahili tubuh Matteo. "Kapan lagi aku bisa menjahili harimau lapar iya kan" Altea kembali cekikikan.


Ratna yang mendengar itu hanya menahan tawanya mendengar coleteh anak gadis itu yang sedang menjahili putranya.

__ADS_1


Dia sengaja menutup matanya agar Altea tidak mengetahui jika dirinya sudah bangun.


Bersambung....


__ADS_2