
Matteo masuk kedalam rumah Altea tanpa peduli bagaimana raut wajah ketakutan gadis itu. Altea tidak bisa membayangkan reaksi ayahnya mengetahui jika Matteo datang kerumahnya lagi.
Jangan ditanya bagaimana keadaan jantung Matteo sekarang, jika dia bisa dengan tenang menghajar siapa pun apalagi jika berurusan dengan ring, maka hal itu tidak berlaku jika bertemu dengan ayah Altea yaitu Ilham.
Entah mengapa jika dia melihat Ilham dia merasa seperti berhadapan dengan kakeknya Raymund Orion ayah dari ibunya Ratna Orion.
"Ayah.... aa aku pulang, Matteo juga ikut" Altea dengan lirih membuka pembicaraan saat melihat ayahnya dengan pandangan datar tak bergeming .
"Kamu bisa membersihkan diri dulu nak setelah itu, makanlah makanan yang disediakan ibu mu di dapur, ajak Matteo barangkali dia juga belum makan " Ilham menjawab sapaan anak gadisnya itu dengan wajah sulit diartikan.
Melihat itu Matteo jelas tertegun "Dia melarang ku dekat dengan Altea namun dia bersikap seperti biasa??? .
Altea tanpa basa basi langsung menarik tangan Matteo ke ruang makan karena dia grogi dengan tatapan ayahny, tanpa sadar dia menggenggam erat pergelangan tangan kekar milik Matteo.
Sambil berjalan, pria itu memandang jari lentik Altea yang mendarat di pergelangan tangannya seperti biasa jika berdekatan dengan gadis itu dia akan kembali senam jantung apalagi jika bersentuhan seperti ini.
Altea langsung menarik kursi dan menyuruh Matteo duduk "kakak tunggu disini" Altea berlalu ke kamarnya dan membersihkan diri sejenak.
"Makanlah duluan jika kamu sudah lapar" Ilham menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Matteo, belum juga jantung Matteo normal sudah kembali lagi berpacu dengan cepat karena melihat ayah Altea.
"Iya pak aku tunggu Altea saja. Dengan tenang Matteo membalas perkataan Ilham . "Apa kamu tadi tidak bekerja ? Ilham bertanya sambil menuang air putih kedalam gelas.
"Sudah pulang pak"...
"Aku tidak melarang Altea berteman dengan mu sama sekali tidak" Dengan tegas Ilham menekankan kalimat terakhirnya. Ilham tau apa yang ada didalam pikiran Matteo, karena dia juga pernah muda jadi gelagat yang ditunjukkan Matteo dari kemarin sudah bisa ia baca .
"Apa itu artinya bapak merestui kami suatu saat nanti? Matteo tanpa sadar bertanya seakan dirinya sedang melamar Altea. Apa yang aku katakan, bodoh.. bodoh ?
"Kalau itu jangan berharap besar " Ilham menenggak air putih miliknya sampai habis.
"Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya"
Ilham menekankan kalimatnya sambil memandang datar kearah Matteo.
Bagaikan ditikam ribuan pedang, Matteo langsung merasa hawa dingin menjalari tubuhnya. "Apa bapak menganggap saya tidak baik? Matteo mencoba bertanya dengan nyali nya yang masih tersisa.
"Setiap orang punya sisi baik dan buruk, tapi sisi baik seseorang akan hilang jika sisi buruk lebih mendominasi " Ilham mencoba merangsang pikiran Matteo. "Sebaliknya juga begitu" sambung Ilham lagi.
"Apa bapak sedang mengatai saya buruk?
__ADS_1
Matteo semakin bingung dengan kalimat kalimat Ilham, kejeniusannya seakan hilang jika berhadapan dengan pria paruh baya yang disegani nya itu.
"Tidak...
Matteo menyatukan kedua alisnya dan menghembuskan nafasnya dengan pelan.
Bersamaan dengan itu terdengar suara langkah kaki Altea sedang menuju meja makan.
"Tinggalkan hal buruk itu nak , jadilah dirimu sendiri aku tau kau orang baik" Ilham menepuk punggung Matteo dan berlalu ke ruang depan membiarkan Altea makan berdua dengan Matteo.
"Ajak Matteo makan, ayah tinggal dulu" Ilham mengusap pundak Altea dengan sayang .
"Apa ayah marah? Altea bertanya sambil menarik kursi dan duduk di samping Matteo.
"Tidak tapi sedikit" Altea mengerutkan keningnya karena dia bingung "maksudnya bagaimana sih?
"Maksudku itu.. eemm" Matteo bingung bagaimana menjelaskan kepada Altea.
"Ayah memang seperti itu kita tidak bisa menebak dia lagi marah atau tidak" Altea sudah paham maksud Matteo.
"Apa bapak juga seperti itu dengan mu? tanya Matteo penasaran.
"Bukan hanya samaku, sama kak Albert juga gitu" balas Altea sambil menyendok nasi kedalam piring Matteo "Mau ayam apa ikan pepes? Altea bertanya karena dia tidak tau selera Matteo. "Terserah" singkat Matteo.
"Apa kau ingin membuat ku gemuk makan sebanyak ini? Matteo memang tidak biasa memakan makanan berat jika malam hari.
"Iya biar kau kuat bertarung nanti" Altea berucap dengan nada menyindir . Matteo langsung tergelak dia tidak bisa berkata apa apa lagi.
"Apa ayahmu tau soal itu? rasanya Matteo sangat penasaran. "Iya,, ayah kan kemarin menonton video mu" Altea berucap sambil menggigit paha ayam kesukaannya.
"Video? kau mengambil video ku kemarin? Matteo bertanya dengan tingkat penasaran tinggi sambil menatap Altea rasanya dia tidak terima.
"tidak... Aku tidak mau merekam adegan kekerasan , itu tidak baik" dengan polos menjelaskan kepada Matteo.
"lalu siapa yang merekam ku?? Matteo membatin, sekarang dia benar benar bingung dan dilanda rasa penasaran.
"Kata ibu, ayah juga melihatmu di tempat tempat ramai gitu sambil mabuk" Altea mengucapkan kalimatnya sambil menarik piring Matteo yang kosong dan berjalan meletakkanya di wastafel.
Mendengar kalimat itu ,rasanya Matteo seperti kehilangan jati dirinya. Dia mengepalkan tangannya dengan raut wajahnya yang sudah memerah menahan gejolak emosi. " Apa Dia membuntuti ku ke club'?
__ADS_1
Sekarang dia mengerti semuanya tanpa penjelasan apa apa lagi. "apa dunia ini begitu sempit? batin matteo
Altea kembali dari wastafel dan merapikan meja tempat mereka makan. Sejenak Matteo menatap gadis itu. "benar kata Ibra kau begitu lugu dan polos"
Matteo tidak lagi mengungkit masalah apa pun karena dia tidak mau membebani pikirannya .
"Apa aku memang seburuk itu??
Dengan penjelasan polos Altea barusan dan kalimat terakhir Ilham, dia menarik kesimpulan jika dia harus meninggalkan keburukannya agar bisa dekat dengan Altea.
Pertanyaannya apakah Matteo sanggup atau tidak ?
.
.
.
Altea dan Matteo melangkah keruangan depan "Aku pulang dulu " Matteo kembali mengenakan jaket yang sempat dia buka tadi, "Kamu hubungi saja ibu mu nak, katakan kau menginap disini" Sofi tiba tiba muncul dari kamar Albert.
Matteo melirik Altea seakan meminta pendapat. Tapi gadis itu tidak memberikan reaksi apa apa.
"Aku pulang saja bu, Matteo memamerkan senyum manis seakan menolak halus ucapan Sofi.
"Ini jam 12.00 ,diluar juga hujan lebat " Sofi kembali meyakinkan Matteo, biar bagaimana pun Sofi juga punya anak lajang yang sedang merantau, dia kembali teringat dengan Albert Anak sulungnya.
Rasanya dia tidak tega jika membiarkan Matteo menembus hujan lebat itu meskipun mengendarai mobil.
Altea kemudian membuka tirai yang menutupi jendela kaca rumahnya untuk memastikan hujan atau tidak , dia melihat jelas hujan lebat dan terdengar suara gemuruh petir. Seketika Altea bergidik ngeri lalu menutup tirai itu.
"Ibu antar kamu ke kamar Albert ayo" ...
Matteo mengikuti Sofi dan Altea berlalu ke kamarnya untuk istirahat.
"aku tidak paham dengan anak itu" dalam hatinya Altea masih bertanya mengapa Matteo tiba tiba datang dalam kehidupannya.
Matteo membaringkan tubuhnya diatas kasur sederhana milik Albert, dia memandang dinding yang dihiasi stiker bela diri . "Apa dia juga seorang petarung? Matteo.
Bersambung...
__ADS_1
Episode selanjutnya ditunggu ya guys...
bantu like dan koment