Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Dukungan Altea


__ADS_3

Cerita berlanjut , Matteo dan Altea sudah tiba di kediaman sederhana mereka. Rumah itu tidak terlalu besar dan tidak kecil juga namun desainnya unik dan menarik, Matteo sengaja memilih tinggal dipinggiran kota agar jauh dari keramaian dan kebisingan. Rumah sederhana itu sengaja di beli oleh Matteo sehari sebelum mereka sah menjadi pasangan suami istri.


Awalnya dia berpikir untuk sementara mereka tinggal di apartemen, akan tetapi entah mengapa dirinya begitu sulit kembali ke apartemennya itu.


Setelah mereka masuk kedalam rumah, mata Altea memicing mendapati Ratna dan diva adik iparnya sudah menunggu di ruang tamu.


"Tante kesini ? " tanya Altea sambil mendekat. " ahh mama sama Diva kesini ? " tanya Altea lagi kaku menyadari panggilannya salah.


"Iya sayang kalian habis dari mana siang siang begini " Tanya Ratna keheranan.


"Dari pasar " jawab Matteo ketus .


"Kalian berbelanja sayang ? "


"Bukan ma , Altea minta makan sate di pasar " Jawab Matteo malas.


"Oh sate yang mama kirimkan tadi kurang ya nak ? " Ratna tersenyum kecil.


Altea menggelengkan kepalanya "A.. aku tidak memakannya ma, maaf " lirih Altea merasa bersalah.


"Kenapa tidak dimakan nak? "


"Pas mau makan dia muntah, setelah itu merengek minta beli sate yang sama di pasar sialan itu " gerutu Matteo masih dengan mode kesalnya.


Ratna hanya tersenyum dia menyadari jika menantunya sedang mengidam karena dulu dia juga merasakan hal yang sama ketika dirinya tengah hamil anak anaknya.


"Aku mandi dulu " Matteo berlalu dari ruangan tengah menaiki anak tangga, badannya terasa sangat lengket dan gerah.


"Mama sama diva mau minum apa ? tanya Altea menghangatkan suasana. "tidak sayang tidak usah repot-repot" jawab Ratna santai.


"Nak apa dirimu nyaman tinggal ditempat seperti ini"


"Kenapa mama bertanya seperti itu ma? " Diva kaget mendengar pertanyaan sang ibu seperti meledek tempat tinggal kakak iparnya.


"Disini sangat sepi mama hanya khawatir saja jika dirimu tidak nyaman " ucap Ratna menatap Altea. Dia melihat wajah dan aura Altea belakangan ini berubah dari pertama kali mereka bertemu. Mungkin karena pernikahannya dengan Matteo dalam keadaan terpaksa sehingga tampak wajah Altea murung dan tidak bersemangat.


"Aku senang disini ma" Ucap Altea sambil tersenyum.


"Maksud mama kalau dirimu tidak betah disini jangan sungkan untuk menghubungiku sayang, kita bisa tinggal bersama, kamu harus tau jika dirimu adalah bagian keluarga mahaprana nak " Ucap Ratna.


"Nanti kalau aku rindu mama pasti aku hubungi mama "Ucap Altea memaksa senyumnya meskipun berkhianat dengan perasaannya.


"Mah... lihat deh disitu kayaknya enak mah !" Diva menunjuk pojok luar ruangan yang tertutup pintu kaca. Dia segera berdiri dan berjalan menuju tempat itu. "Unik sekali " Gumam diva. "maaa kemari ma" teriaknya dari luar.


"Ayo ke sana ma " Altea juga tak kala penasaran.


"Lihat tuh dari sini perusahaan papa nampak " Diva menunjuk gedung pencakar langit yang bertulis "M.G" singkatan dari Mahaprana Group.

__ADS_1


"Iya benar " ucap Ratna sambil tersenyum.


"Rumah kak Matteo dan kakak ipar unik sekali " goda Diva menyentuh bahu Altea.


Mereka duduk menikmati pemandangan sambil menikmati cemilan ringan dan minuman segar yang sengaja di sajikan oleh pelayan. Lokasi rumah Matteo memang sedikit tinggi hingga hamparan kota yang di penuhi embun atau asap terlihat cantik.


"Sayang... sebenarnya mama mau minta tolong sesuatu " ucap Ratna menggenggam tangan Altea.


"Apa ma? " Altea meletakkan gelasnya sambil menengadah.


"Tolong mama kali ini sayang, bujuk Matteo menandatangani surat kepemilikan yang diserahkan kakek untuknya, mama yakin dia pasti akan mendengarkan mu " Sorot mata Ratna penuh permohonan.


"Maksudnya gimana ma ? kepemilikan apa ? " Altea tidak paham maksud dari mertuanya.


Ratna akhirnya menceritakan keadaan perusahaan ayahnya yang sedang berada di zona tidak aman.


"Aku tidak yakin bisa membantu mama, tapi aku akan coba bicara dengan Matteo " ucap Altea dingin.


Untuk apa mama membicarakan ini dengan Altea Ach..... gerutu Matteo yang tak sengaja mendengar pembicaraan ketiga perempuan itu.


"Terimakasih sayang " Ratna menggenggam tangan Altea.


"Kak Matteo lebih mendengarkan mu ketimbang mama Al" Imbuh diva sambil tersenyum. " Oia anak mu perempuan atau laki sih ? tanya Diva menunjuk perut rata Altea.


"Kenapa perutmu tidak membesar ? " Tanya Diva lagi dengan polosnya.


"Sssttt kamu ini " Ratna menyikut lengan Diva.


"Oh begitu " ucap Diva menganggukkan kepalanya.


Mereka berjalan mengelilingi rumah baru Matteo, setelah itu mereka kembali menuju ruang tengah setelah puas menelusuri sudut demi sudut.


"Kalau begitu mama pamit dulu ya nak kamu jaga dirimu baik baik " Ucap Ratna menautkan pipinya kepada Altea. " Iya ma "


"Kalau kamu ngidam sesuatu jangan sungkan hubungi mama sayang jangan ditahan ngidamnya ya nak " belai Ratna halus. Dia paham betul bagaimana rasanya hamil selama 9 bulan.


"Iya Al kalau mau makan sesuatu kamu bisa hubungi aku juga aku akan datang, nanti baby mu menangis di dalam " ucap diva dramatis .


"Terimakasih " ucap Altea berkaca kaca. Dia menyadari jika mertua dan adik iparnya begitu peduli dengannya. Benar kata mereka , aku tidak sendirian .


"Dada Al.... Diva melambaikan tangannya sambil membuka pintu mobil.


"Hati hati dijalan ma " Altea membalas lambaian tangan Ratna dan diva.


Altea kemudian berbalik setelah melihat mobil yang dikendarai oleh mertuanya sudah menghilang.


"Mama sudah pergi ? tanya Matteo setelah melihat Altea menutup pintu.

__ADS_1


"Sudah " jawab Altea singkat sambil berjalan menuju tangga.


Melihat Altea kembali bersikap dingin Matteo hanya menghela nafasnya dengan berat.


Apa mau mu Al ?


Matteo menyusul Altea kelantai dua, tampak wanita itu sedang berdiri memandangi kota dari balik jendela kaca. "Altea " panggil Matteo.


Mendengar suara Matteo dia hanya menengadah tanpa menjawab panggilan Matteo.


"Apa yang kalian bicarakan dengan mama tadi, sepertinya kalian serius sekali " selidik Matteo sebenarnya dia sudah tau topik pembahasan ketiga wanita itu.


"Mama tadi membahas soal perusahaan kakek Raymund " Ucap Altea dingin.


"lalu ???


"Mama bilang perusahaan kakek bisa dibantu jika kamu menandatangani surat itu "


"surat ? surat apa ?? " tanya Matteo pura pura.


"mmm surat pengalihan katanya seperti itu sih" Altea mengangkat kedua bahunya.


"Pengalihan seperti apa ??? "


"Aku kurang paham semuanya, cuma mama bilang perusahaan kakek lambat laun tertolong jika surat itu kamu tanda tangan" ucap Altea menatap Matteo.


Apa aku harus terus berpura pura bodoh agar bisa lancar berkomunikasi dengan mu al


"Bagaimana menurut mu Al ? " Matteo membuka percakapan lagi. "Apa aku haruskah aku menandatangi itu ? "gerutu Matteo.


"Mama berharapnya sih begitu "


"Kalau harapan kamu bagaimana ? " tanya Matteo penasaran dengan pendapat wanita itu, dia menarik pelan tangan Altea agar duduk bersamanya.


Altea yang merasa tangannya ditarik perlahan menoleh kepada Matteo.


"Mama memintaku membicarakan itu dengan mu, akan tetapi aku tidak bisa mengatakan apa apa semua tergantung dirimu" Altea mendudukkan bokongnya di samping Matteo kemudian dia sedikit bergeser pelan memberi jarak.


"Hanya saja aku kasihan dengan kakek " tambah Altea lagi.


"Apa kamu mendukung aku menandatangi surat itu ? "


Altea mengangguk, " kamu pertimbangkanlah sendiri, aku selalu mendukung mu untuk hal positif " ucap Altea.


Mendengar kalimat dukungan Altea Matteo menarik senyumnya dengan tipis, sepenggal kalimat indah yang mampu menenangkan jiwa dan menambah semangat nya .


"Baiklah aku akan menandatangani surat itu " .

__ADS_1


Bersambung.....


Bantu like dan vote 🤗👍


__ADS_2