Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Percobaan pemerkosaan


__ADS_3

Altea kemudian duduk ditepi ranjang Matteo, Berada dalam satu ruangan berdua dengan David ayah Matteo membuat perasaan canggung dan segan seolah menyatu.


Tidak berapa lama pintu terbuka. Tampaklah Alexander sepupu Matteo masuk sambil menenteng goodie bag.


Alexander menyapa David dengan ramah sambil menanyakan kabar Matteo. Melihat hal itu jelas saja mengundang banyak pertanyaan didalam hati Altea. "lelaki ini"


Altea seketika teringat dengan pertengkaran Matteo dan Alex beberapa hari yang lalu.


"Altea, ini Alexander sepupu Matteo" David memperkenalkan Alexander kepada Altea.


"sepupu?"


"Hai aku Altea" Altea kemudian menyapa Alex duluan sambil melempar senyum.


Alex menatap Altea sekilas lalu dia tersenyum penuh arti.


Perbincangan Alexander dengan David berlangsung cukup lama hingga ponsel milik Altea berdering.


Ternyata sang ibu menghubungi Altea jika ayahnya sedang baru saja mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit. Mendengar itu Altea langsung shok.


Buru buru dia pamit pulang kepada David.


"Om saya harus pulang"...


"Mengapa mendadak sekali?? tanya David kebingungan.


"Ayah kecelakaan, aku harus pergi ke RSU " ucap Altea sambil meraih tasnya.


Melihat hal itu terlintas dibenak David untuk mengantarkan Altea, namum tidak mungkin dia meninggalkan Matteo.


Setelah berpikir akhirnya David menyuruh Alexander mengantar Altea. Diperjalanan Alex mengeluarkan kalimat kalimat gombalan untuk Altea.


Namun karena Altea sedang dirundung kesedihan, dia tidak menanggapi gombalan Alex. "Apa yang kamu lihat dari seonggok Matteo? tanya Alex.


Altea hanya diam, dia tahu jika Alex sedang berusaha memancing emosi Altea.


Alex yang merasa di cuekin pun seketika geram. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan .


Melihat itu Altea ketakutan, Alex langsung melepas seatbelt yang melingkar ditubuhnya dan menahan tengkuk Altea.


"Mau apa kamu? Altea bertanya sambil memundurkan tubuhnya.


Alex kemudian menahan tubuh Altea, dia semakin mendekat dan menahan kedua tangan Altea.


Namun Altea meronta dan berhasil keluar dari mobil, Tapi Alex berhasil mengejar Altea.


Altea hanya menangis sejadi jadinya. Dirinya benar benar berada di posisi sulit sekarang.


Alex meraih tubuh Altea kemudian menarik paksa kemeja yang digunakan Altea, Namum sebelum kemeja itu lepas dari tubuh Altea.

__ADS_1


Tiba tiba seseorang menarik tubuh Alex dan menghajarnya di atas aspal. "Dasar bajingan !


Rafael mengumpat dan menghajar Alex tanpa ampun.


Pria itu adalah Rafael, sewaktu di lobby rumah sakit Rafael melihat Altea keluar dari lift. Namun dirinya tidak fokus kepada Altea, dia fokus kepada laki laki yang berjalan bersama Altea.


Merasa cemburu Rafael memutuskan untuk mengikuti Altea, namun matanya menangkap Alex sedang tersenyum licik ketika sedang membukakan pintu mobil untuk Altea.


Seketika rasa cemburu itu berubah menjadi rasa curiga, dengan cepat Rafael membuntuti mobil Alex , dia melihat jika Alex melajukan mobilnya dari jalan yang sepi.


Dengan sigap Rafael menambah kecepatan laju mobilnya. Dia merasa jika Altea sedang dalam keadaan bahaya.


Setelah melihat Alex yang tidak berdaya, Rafael membuka jasnya dan membalut tubuh Altea, dan menyuruhnya masuk kedalam mobil.


"Terimakasih kak Rafael" ucap Altea sambil menyingkirkan air matanya .


Diperjalanan Altea lebih banyak membisu, pikirannya benar benar kacau.


Sesekali dia membenarkan posisi jas yang melilit tubuhnya dan menyeka air mata yang masih turun tiada henti.


Dia juga waspada dengan Rafael, jangan sampai hal hal yang tidak di inginkan terjadi lagi. Biar bagaimana pun perkenalannya dengan Rafael sangat singkat.


Jadi wajar dia tetap memposisikan bahwa Rafael tetap orang lain baginya.


"Jangan sesekali menerima tumpangan dari orang yang tidak dikenal" Rafael membuka suara.


"Kenapa kamu tidak menghubungi ku" Rafael bertanya.


"Aku buru buru, ayah sedang masuk IGD" Suara Altea bergetar menahan tangisnya.


Mendengar itu Rafael semakin mengepalkan tangannya, dia berpikir bahwa pukulan nya tadi tidak bisa membayar apa yang Altea rasakan sekarang,bisa bisanya Alex memperlakukan Altea tidak senonoh diwaktu sulit seperti ini.


"Benar benar brengsek" Batin Rafael.


"Kamu bisa menghubungi ku kapan saja kamu butuh, aku sudah pernah mengatakannya bukan? " Rafael mengingatkan Altea tentang perbincangan mereka di hari yang lalu.


Setibanya di rumah sakit , Altea langsung menuju ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat). Dari kejauhan dia melihat ibunya sedang duduk. "ibu gimana keadaan ayah?


"Sabar ya nak... ayahmu masih di tangani dokter" .


Altea hanya menangis diperlukan sang ibu, menumpahkan rasa sakit dihatinya, dirinya benar benar terluka mendengar berita kejadian ayahnya ditambah lagi dengan insiden horor yang dia alami baru saja.


"Siapa dia nak? " Sofi yang menyadari jika Altea tidak datang sendiri akhirnya bertanya.


"Saya Rafael Bu, "Rafael menjabat tangan Sofi.


"Duduk nak... Sofi menunjuk kursi disampingnya.


Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dari ruangan penanganan Ilham.

__ADS_1


"Pasien harus dirawat beberapa hari ke depan, untuk selanjutnya silahkan menyelesaikan administrasi terlebih dahulu" Ucap seorang dokter yang menangani Ilham.


Mendengar itu Rafael yang sedang duduk langsung berdiri lalu pergi ke ruang Administrasi dan menyelesaikan semua prosedur agar Ilham dapat segera dipindahkan keruang rawat inap.


Setelah Ilham dipindahkan Altea mendekati Rafael yang sedang berdiri. " Aku akan mengganti uang kakak".


"Uang apa yang ingin kamu ganti?


"Uang yang kakak gunakan untuk membayar pengobatan ayah di IGD dan untuk ruangan ini" Ucap Altea sambil membuka kedua telapak tangannya.


Ibra hanya tertawa kecil dan mengacak rambut gelombang Altea yang sedikit berantakan.


"Tidak ada yang perlu dibayarkan " Jawab Rafael.


"Nak terimakasih, berikan nomor rekening mu nanti ibu akan transfer uang mu besok pagi" Sofi ibu Altea menyodorkan secarik kertas dan sebuah pulpen.


Rafael hanya tersenyum "apa yang harus dibayar ? hasil pemeriksaan bapak saja belum keluar" Rafael mengalihkan pembicaraan.


"Jangan buat ibu berhutang pada mu nak, ibu tidak enak" Sofi kembali menyodorkan kertas dan pulpen itu.


Rafael tetap menolak secara halus , dan akhirnya Sofi hanya mengucapkan terimakasih.


"Kau baik sekali nak, Terimakasih,"


"Jangan sungkan Bu, jika ada apa apa kabari aku" Rafael tersenyum.


Sofi hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu saya permisi dulu, semoga bapak cepat sembuh " Rafael pamit


Namun sebelum pergi Rafael masih menyempatkan diri untuk mencuri pandang wajah Altea yang sedang mengintip dari kaca pintu.


"Jaga dirimu baik baik, jika ada apa apa segera kabari aku, kamu menyimpan nomor ponsel ku bukan? " Ucap Matteo sambil melonggarkan dasinya.


Altea mengangguk "Terimakasih banyak kak, udah menolong aku tadi " ucap Altea sambil membuka jas yang dia gunakan,tetapi ditahan oleh Rafael.


"Besok aku kesini lagi, aku pulang dulu" Rafael kembali mengacak rambut Altea.


Altea memandangi pintu yang perlahan tertutup tempat dimana Rafael keluar, tidak bisa dipungkiri jika Altea merasa berhutang budi kepada Rafael.


Jika terlambat sedikit saja mungkin sekarang Altea resmi dengan status korban pemerkosaan oleh Alexander Mahaprana.


Dia patut bersyukur Rafael datang disaat yang tepat seperti tadi, "*Dia baik sekali"


Bersambung*.......


Hai reader...


Episode selanjutnya segera ya


bantu komen dan like 🤗

__ADS_1


__ADS_2