
Pagi telah datang. Sinar matahari memaksa masuk menelusup dibalik tirai tebal disebuah kamar di lantai dua. Matteo menggeliat sebentar kemudian dia menoleh ke arah tempat tidur anaknya namun dia tidak menemukan Thiago disana.
"Al....!!!
"Altea !!!
"Sayang..... "
Setengah berlari menuruni anak tangga. Kepanikan tiba tiba muncul. Bagaimana bisa dia bangun se siang ini. Ah benar benar diluar akal sehatnya.
Langkahnya berhenti kala melihat Altea sedang bercanda canda di lantai dasar tempat dimana Thiago biasa bermain main atau belajar tengkurap.
"Kenapa meninggalkan ku " ucap Matteo mendekat.
Mengecup dahi Altea bergantian dengan Thiago.
"Kau tau hampir saja jantungku copot karena melihatmu tidak ada di sampingku. " Ucap Matteo berjongkok agar bisa meraih Thiago.
"Aku panik tau. Aku pikir kalian pergi.... ucapnya sambil tersenyum menarik Altea kedalam pelukannya.
"Aku hanya membawa Thiago berjemur tadi. Ucap Altea memutar bola matanya.
Matteo melerai dekapannya. "Kenapa tidak membangunkan aku ? "
"Kau tidur seperti mummy " ucap Altea kembali memutar bola matanya. Padahal bukan itu alasannya tidak membanguni Matteo.
"Hahaha..... Maafkan aku " Matteo sudah menciumi kepala Altea dengan lembut. "Apa kau masih marah denganku ? "
Altea sejenak menghela nafasnya. "Jangan usir kak Aurel lagi. Dia sudah seperti kakak kandungku loh " ucap Altea sambil memeluk Matteo lagi. Jujur sebenarnya dia merasa bersalah semalam. Berkali kali Matteo membujuknya dan memohon maaf tapi dia tetap marah.
Matteo yang sudah kehabisan kata kata dan kehabisan akal memilih untuk diam menunggu Altea membuka suara. Namun tidak juga. Wanita itu malah memilih untuk tidur di membelakangi Matteo.
"Baiklah aku janji tidak akan mengecewakan wanita yang aku sayangi " Ucap Matteo seperti biasa dia selalu sabar dan mengalah kepada Altea. "Aku mengizinkannya kesini lagi terserah kapanpun yang dia mau dan kamu mau"
Altea langsung menyambar wajah Matteo dan menghujaninya dengan Banyak ciuman.
Muah! muah ! muah ! tiga kali di bibir matteo membuat pria itu jujur saja sedang kewalahan sekarang.
"Makasih sayang... " "Muah muah muah "Cium lagi dan lagi.
Matteo yang sudah terpancing langsung menggendong Altea naik lagi ke lantai dua. Sebelumnya dia meminta agar perawat Thiago tetap menjaga anaknya dibawah.
"Heii lepaskan aku... ini masih pagi ! " Altea tau kemana arah tujuan Matteo sebentar lagi.
"Memangnya kenapa kalau pagi? " Suara serak Matteo penuh dengan kelicikan. "seperti tidak pernah saja.... " Ucap Matteo sudah melempar kaos miliknya entah dimana nanti kaos malang itu mendarat.
Altea masih memperkuat pertahanannya. Dia sampai harus menggulung tubuh nya menggunakan selimut tebal.
"Sudah kubilang jangan pancing aku."
Matteo mulai mendekati Altea. Sedangkan wanita itu mulai mundur dan mengambil Bantal sebagai perisai untuk memperkuat lini depan nya. Meskipun dia tau bakal kalah melawan Matteo.
Matteo menarik paksa selimut itu dan melemparnya ke lantai.
"Kenapa harus di lama lamakan ? " Ucapnya dengan seringai tipis.
"Lepaskan !" Masih menarik pelan bantal yang di pegang oleh Altea.
"Aku tidak mau..... " menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Matteo langsung menarik paksa bantal itu dan berakhir tragis di lantai bersama dengan nasip selimut dan juga baju piyama Altea yang juga bernasip malang.
Suara Suara halus mulai terdengar. Menandakan ada yang sedang bertempur.
Sampai matahari sudah mulai naik mereka baru selesai dengan urusannya. Matteo menjatuhkan tubuhnya disamping Altea yang juga sudah tidak berdaya. Pertempuran mereka sudah selesai.
Panas gerah yang menyerang sama dengan panas matahari di luar sana. Sebentar mereka saling berpelukan dengan erat. Suara deru nafas keduanya masih saling memburu.
Matteo bangun setelah mendaratkan satu kecupan di dahi Altea.
__ADS_1
Altea juga refleks bangun juga.
Tapi Matteo menahannya. "Tidurlah sebentar lagi.. " dia tau Altea masih sangat kelelahan.
"Aku harus memberi makan Thiago... " Ucap Altea sambil mencari cari dimana baju malangnya teronggok.
"Istirahatlah. Thiago sudah jemput mama tadi.. " Ucap Matteo.
"Apa ?kapan ?? "
"Aku juga tidak tau jam berapa tapi mama mengirimkan pesan" Menunjukkan layar ponselnya.
Silahkan nikmati waktu kalian berdua. Karena kami juga akan menikmati waktu kami bertiga. Begitu isi pesan Ratna. Dia juga mengirim foto Thiago sedang dipangkuan David di rumah kediaman Mahaprana.
"Apa mama kesini pas kita lagi ... aaaaaa " Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malunya diriku pikirnya.
Beberapa menit kemudian tampak Matteo sudah mengenakan seragam kerja dengan rapi.
"Sayang. kamu kerja ? " Altea mengintip dari balik tirai memastikan bahwa sekarang sudah tengah hari.
"Seharusnya tidak. tapi Mike barusan mengabari aku, ada hal penting yang harus aku selesaikan sayang. "
Terlihat wajah Altea sedikit murung.
"Istirahatlah sebentar lagi. Bibi akan membawa sarapanmu kesini". Satu kecupan lagi di dahi altea.
.
.
.
Tit ! Sensor pintu terbuka. Matteo masuk dan mendapati Gio bersama dengan anak anak gengnya sudah menunggu di ruangannya. Mereka tampak berbeda ketika menggunakan seragam bekerja.
"Bos "... seperti biasa anak anak itu menyapa Matteo tetap dengan panggilan mereka dulu dan Matteo tidak melarangnya. Biarkan mereka memanggil dengan senyamannya saja.
"Sepertinya kita bicarakan ini di Tosca Room " Ucap Matteo tidak jadi duduk. Dia sudah bergerak menuju lantai paling atas tempat dimana dia sering berdiskusi dengan para petinggi perusahaan.
"Seperti yang kalian ketahui bahwa aku telah menikah." ucapnya membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Iya kami semua tau bos dirimu sudah menikah " Gio menyela pembicaraan Matteo yang langsung di pelototi oleh Matteo seperti biasa tatapan tajam menghujam.
Guntur yang duduk disebelah gio menyenggol lengan Gio agar dia diam.
"Setelah aku menikah banyak yang berubah dari diriku. Mungkin kalian juga menyadari itu. Benar bukan ? "
"Altea mengajarkan ku arti hidup yang lebih baik."
"Aku tidak tau seperti apa prioritas kalian kedepannya. yang jelas aku yakin kalian ingin jadi pribadi yang lebih baik bukan ? "
Matteo menatap satu persatu wajah geng yang dari dulu dipimpin nya. 9 wajah yang setia di belakangnya selama ini.
"Aku sudah hidup bahagia dengan keluarga kecil ku". Menghela nafas dengan berat.
Tatapan Matteo tidak luput dari wajah mereka satu persatu.
"Lupakan Arena ! "
"Lupakan Klub ! "
"Aku ingin kalian juga bisa menemukan hidup yang lebih baik". Suara Matteo penuh penekanan. Sembilan orang anak anak gengnya merinding. Secepat itukah Matteo lupa dengan apa yang membuatnya tercipta menjadi manusia seperti ini ?. Luar biasa.
"Aku sudah memutuskan untuk mengirim kalian ke daerah yang berbeda Agar kalian bisa lebih mandiri. "
"Lebarkan sayap kalian dan temukan kebahagian kalian masing masing " Matteo berdiri dari tempat duduknya Dia kemudian keluar.
Anak anak itu sudah menghadap kepada Mike. Disana Mike memberikan informasi kapan keberangkatan mereka. Mike sudah mengatur posisi yang mereka duduki nantinya di kantor cabang Orion yang tersebar di berbagai daerah.
Kesembilan orang itu mendapat penempatan yang berbeda.
__ADS_1
Hanya Gio yang tetap berada di kantor pusat dan Matteo sudah menempatkan pria itu sebagai manager support service. Untuk saat ini Posisi Mike sebagai Asisten kepercayaan belum bisa digeser oleh siapa pun. Orang kepercayaan Kakek Raymund itu tetap juga di percaya oleh Matteo.
Mike sungguh bangga ketika dia tetap di pertahankan sebagai Asisten Presdir Orion company. Itu menandakan bahwa pengabdiannya kepada orion tidak lagi di ragukan.
Gio memandang Mike dengan tatapan kesal. sesungguhnya Gio ingin selalu ada di belakang Matteo.
Namun dia juga cukup senang dengan posisinya sekarang.
Dalam hati dia bersyukur karena diluaran sana banyak yang sudah sarjana bahkan memiliki pendidikan yang lebih tinggi tapi belum mendapatkan pekerjaan.
Baiklah semoga aku bisa seperti anda bos. Bertemu dengan wanita cantik seperti altea dan hidup bahagia.
Kenapa harus seperti Altea ya?
Ah terserahlah. Gio tidak mau mengambil pusing lagi. Pokonya hari ini dia sudah mulai deg-degan karena, mulai besok namanya sudah terdaftar di struktur organisasi perusahaan Orion.
.
.
Altea merapikan rambutnya yang menjuntai kemana mana. Barusan dia sedang bergolek golek diatas sofa. Mendengar suara pintu dia segera duduk.
"Kok lama? Tadi bilangnya cepat " Altea dengan gaya sok merajuk bertanya kepada suaminya.
"Maaf sayang. Tadi aku menemui anak anak sebentar. " Matteo mendudukkan bokongnya.
"Anak anak ??? " Tanya Altea menaikkan alisnya.
"Iya sayang. Kami bertemu di kantor kok bukan di arena atau di klub. Kamu jangan langsung mengintimidasiku dengan tatapan mu begitu dong. " Matteo menyentil hidung mungil Altea.
"Apaan sih.. aku tidak mengintimidasi mu tau " Ucap Altea.
"Besok mereka tidak lagi bekerja di kantor" ucap Matteo menghela nafas.
"Mengapa begitu ?? " Altea terkejut. Ada apa ? Bukankah mereka itu adalah orang orang yang baik?. "Memangnya kesalahan apa yang mereka perbuat sampai kamu memecatnya begitu ? " ucap Altea penasaran.
"Aku tidak mengatakan mereka di pecat kok ". Matteo memperbaiki posisinya menghadap Altea.
"Lalu ? "
"Mereka harus belajar mencari jati diri mereka mulai sekarang sama halnya aku dulu" ucap Matteo.
"Lagi pula aku sudah berjanji padamu agar tidak terlibat lagi dengan arena atau klub. Jadi dengan mereka terbang mencari kebahagiaan mereka juga membantuku untuk tidak terpengaruh melakukan kesalahan lagi" Ucap Matteo mengingatkan janjinya.
Altea melihat ada keseriusan di mata Matteo.
Wanita itu menepuk pahanya agar Matteo tidur di pangkuannya.
Ini adalah kebiasaan baru mereka akhir akhir ini.
Pria itu sudah tidur di pangkuan Altea. Tangan Altea mengelus rambutnya.
"Sayang.... ". "Aku tidak mengekangmu dalam hal apapun.
"Aku tetap mencintaimu walau pribadi mu seperti dulu. Mau kamu seperti apa pun,Aku tetap sayang kamu. karena aku mencintai dirimu seutuhnya. Bukan karena kamu sudah baik atau gimana ".
"Terimakasih Al... " Matteo bersyukur melihat Altea memahami dirinya.
"Tapi aku sudah berjanji dengan komitmen ku untuk menjadi pria yang selalu kamu idamkan. Dan aku tidak akan mengkhianati itu semua " Ucap Matteo sambil bangun dari pangkuan Altea.
"Bersiaplah sekarang. Penerbangan kita sebentar lagi"
"Penerbangan ??? " Tanya Altea mengerutkan keningnya. "Kita mau kemana memangnya ? " Altea mengingat sepertinya mereka tidak ada agenda untuk bepergian.
"Ke tempat impian mu " Ucap Matteo melepaskan jasnya. Niatnya sekarang mau mandi air hangat.
"Satu lagi .. Tidak usah bawa banyak barang. " Teriak Matteo sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Memangnya mau kemana sih " gerutu gerutu halus Altea sambil menguncir rambutnya.
__ADS_1
Bersambung....