
Pagi ini Matteo hendak berangkat kerja, dia menghentikan mobilnya di depan lampu merah. Matteo sebenarnya tidak harus bekerja karena Daniel juga memberinya izin beberapa hari untuk masa pemulihan. Namun Matteo bukan bangsa manusia yang cengeng. Dia tidak mau berlama lama diatas tempat tidur.
Sebuah mobil Alphard putih berhenti di samping mobilnya "bedebah sialan! Matteo menggerakkan giginya ketika dia berhasil mengingat jika itu mobil Rafael.
Matteo membiarkan mobil itu melintas mendahului mobilnya hingga mobil itu berhenti di depan kampus Altea.
"Terimakasih kak Rafael, lain kali tidak usah repot-repot kak" ucap Altea
"Tidak apa apa ,kalau kamu buru buru, kamu hubungi saja nomorku, aku sering melintas di daerah sekitaran rumahmu"
"iya kak"
"Tangan mu kenapa? Rafael melihat jari telunjuk Altea dilapisi hansaplast.
"Tidak apa apa kak, kena sayat pisau" ucap Altea cekikikan.
"kena sayat kau bilang tidak apa apa ?
"hehehe sudah tidak terasa " ucap Altea lirih
"Baiklah aku duluan" Rafael mengacak rambut gelombang Altea karena gemas.
"Beraninya kau menyentuh Altea sialan! Matteo melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya karena amarahnya memuncak seketika.
Matteo kemudian meraih pintu hendak membukanya namun dia kembali teringat kembali dengan kejadian di bandara dan di depan restoran.
"Aku harus lebih bersabar...
Akhirnya dengan menahan gemuruh didalam hati dia kembali menutup pintu kemudian melajukan mobilnya agar dia tidak berlama-lama menyaksikan Altea dengan Rafael.
"Apa kau menyukai bedebah sialan itu ? Matteo mengeraskan kepalan tangan sambil menambah kecepatan laju mobilnya.
Di kantor
"Pagi "
"Pagi juga , kau mau bekerja hari ini ? Daniel bertanya
"Memangnya aku mau ngapain lagi ke sini selain bekerja sialan!
"Setidaknya kamu pulih dulu" Ucap Daniel simpati.
"Aku tidak mau makan gaji buta"
"Memang nya siapa yang menggaji mu dengan gaji penuh?
"Kau mau aku bakar habis kantor mu ini tanpa sisa. " ancam Matteo
"Jika kau berani " tantang Daniel.
"Jangan pancing emosiku" ucap Matteo datar.
"Aku tidak perlu memancing emosimu, tanpa dipancing pun sudah datang sendiri " Daniel terkekeh, dia memang senang sekali menjahili Matteo.
Matteo hanya berdecak kemudian dia meraih beberapa map dari dalam lemari khusus.
Sementara Daniel mengitari meja dan mendudukkan bokong di kursi kebesarannya
"Gimana hubunganmu dengan gadis cantik itu ? siapa namanya ? ah Altea "
__ADS_1
"Kau jangan membahas Altea disini " tampak wajah Matteo mengalami perubahan.
"Kenapa ? aku melihat mobilmu tadi berhenti di kampus gadis cantik itu " ucap Daniel datar.
"Iya, sepupu sialan mu itu bermesraan dengan Altea" Matteo kembali mengeraskan rahangnya.
"Rafael maksudmu? ucap Daniel santai. "Aku menduga dia menyukai gadis cantik itu" ucap Daniel terkekeh.
"Apa maksudmu? Matteo bertanya dengan nada tinggi.
"Dia sama sepertimu jarang dekat wanita, jadi aku menyimpulkan kedekatannya dengan gadis cantik itu karena rasa suka " Daniel berbicara sambil tersenyum penuh arti.
Matteo hanya berdecak kesal sambil memutar tubuhnya hendak keluar dari ruangan Matteo.
"Kau bisa menaklukkan 20 harimau diatas ring, tapi tidak bisa menaklukkan satu kucing betina " Daniel menepuk tangannya pelan seakan memberi apresiasi sambil terkekeh kecil.
"Kau bilang apa tadi sialan! kau mengatainya kucing betina ? " Matteo berbalik arah sambil melempar tatapan membunuh.
Daniel hanya mengangkat kedua bahunya seolah menandakan jika dia tidak takut dengan tatapan Matteo. "Itu kiasan ! Daniel menekan kata kiasan.
"Tidak usah campuri urusan ku dengan nya sialan ! Matteo mendengus kesal.
"bisalah sedikit, dia kan calon kakak ipar ku " Daniel tersenyum menyeringai.
"Hentikan sialan ! Altea tidak akan pernah milik lelaki bedebah itu ! " Matteo menaikkan volume suaranya.
"Aku mau lihat sampai mana kau bisa menghalangi Rafael dengan gadis cantik itu" Daniel tertawa licik seolah meledek.
Matteo hanya mendengus kesal kemudian memutarkan tubuhnya dan segera keluar dari ruangan Daniel.
Prang !!!
Matteo melempar vas bunga ke dinding.
"hahaha kau lucu sekali wajarlah dia menyukai memilih Rafael dia memiliki segalanya sedangkan kau hanya lelaki buruk yang tidak pantas bersanding dengannya " gumam Matteo menertawakan dirinya.
Matteo melihat kepalan tangannya kirinya yang masih dililit perban , dia menarik senyum kemudian terkekeh kecil mengingat bagaimana brutalnya tangan itu menghajar mulut orang untuk meluapkan emosinya.
"Cinta akan tumbuh sendirinya jadi,berubah lah untuk dirimu sendiri"
Kata kata Altea terngiang ditelinga Matteo, kemudian dia memejamkan matanya untuk mengingat kembali kalimat kalimat indah Altea.
"NIAT DAN TUJUAN"
"Baiklah Altea sepertinya aku berniat dan akan berusaha mengubah diriku agar mencapai tujuanku " Matteo bergumam kecil setelah merangkai maksud atau arti dari makna kedua kalimat itu kemudian dia memulai pekerjaannya.
"Cinta akan datang sendirinya" Batin Matteo memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Matteo mulai mengerjakan semua pekerjaan nya satu per satu. Akibat mendekap beberapa hari di rumah sakit membuat pekerjaannya kian menumpuk.
Matteo berusaha menyelesaikan semuanya hari ini, karena besok adalah weekend dia juga ingin bertemu dengan Gio dan gengnya.
" Kau tidak makan siang? Daniel membuyarkan kesibukan Matteo didepan komputer.
"Keluarlah kau berisik ! ucap Matteo tanpa memandang Daniel.
"Kenapa sensitif sekali"
"Baiklah, aku duluan " Daniel enggan menjahili Matteo karena dia melihat keseriusan di wajah sekretarisnya itu. "Setidaknya dia masih bertanggung jawab sebagai sekretaris ku" gumam Daniel sambil menutup pintu ruangan Matteo.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Akhirnya selesai juga " Matteo merenggangkan tangan dan jarinya yang mulai terasa kebas.
Dia melirik kembali jam dinding "Sudah jam 10 malam " Matteo segera menyambar jas yang terletak di sandaran kursinya.
Diperjalanan pulang Matteo sekilas melihat mobil Rafael mendahului mobilnya, "Apa tidak ada lagi manusia selain bedebah sialan itu "
"Tunggu, apa dia juga selalu lembur ?
Apa lembur juga adalah sebuah perubahan?
apa dia juga berusaha berubah untuk Altea ?
kita lihat saja sialan siapa yang paling cepat berubah.
Matteo bermonolog dengan dirinya sendiri sambil melirik jam dipergelangan tangannya.
Tanpa sadar dia sebenarnya sudah mengibarkan bendera persaingan.
Sambil menunggu mobil berjalan karena macet, Matteo mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi Altea. "Altea harus tau jika aku mulai berubah" gumamnya.
"Halo Matteo... suara Altea terdengar segar.
" hai Al, Apa kamu belum tidur?
"Jika aku sudah tidur bagaimana mungkin aku mengangkat panggilan darimu" ucap Altea datar.
Mendengar itu dia menelan ludahnya dengar kasar "iya juga ya "batin Matteo.
"iya ,aku baru pulang dari kantor " ucap Matteo dengan bersemangat.
"Lalu apa masalahnya? tanya Altea
Matteo kembali menelan ludahnya...
"Ah tidak, aku hanya memastikan kamu baik baik saja " ucap Matteo terbata.
"Oh aku baik baik saja"
"Baguslah aku tutup teleponnya ,selamat malam Altea" .Matteo memilih mengakhiri sambungan telepon karena dia sudah kehabisan kata kata.
Kemudian melempar ponselnya ke kursi samping. "dia bahkan tidak memuji perubahan ku sial ! "
"jangankan memuji bahkan dia begitu cuek "
"Niat dan tujuan " Matteo kembali membentengi emosinya dengan dua kalimat
keramat yang menjadi pegangannya.
bersambung...
__ADS_1
hai readers bantu like dan komen
episode selanjutnya segera saya liris 🤗